CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~20


__ADS_3

Mentari berusaha menyetop taksi, ia harus segera pergi dari restoran ini dan menjauh dari Zio maupun Juan. Namun lagi-lagi ia gagal menemukan taksi dan jika ia memesan taksi atau ojek online ia pasti akan menunggu lagi.


Mentari menatap ke arah restoran, disana ada Zio yang keluar dan bergegas masuk ke dalam mobilnya. Mentari dengan cepat bersembunyi di balik semak-semak agar Zio tidak melihatnya. Ia tidak mau bertemu Zio dulu tetapi ia memang harus kembali ke kantor. Ia bekerja dan harus profesional. Setidaknya jika Zio memecatnya nanti, ia harus berada disana dan menerima kejelasan.


Mentari harus berpikir keras untuk mendapatkan pekerjaan baru. Ia harus mencari perusahaan dimana CEO atau atasannya adalah seorang perempuan agar ia tidak digoda atau dilecehkan di tempat yang nantinya ia bekerja setelah Zio memecatnya.


Mobil Zio sudah pergi, disusul mobil Juan pun sudah berlalu. Mentari segera memesan taksi online dan setelah memastikan keadaan aman, ia muncul dari semak-semak tetapi ia tidak menduga begitu ia keluar dari persembunyiannya, seseorang menatap aneh padanya.


"Hei nona, sedang apa kau dibalik semak-semak? Apa kau orang gila? Cantik-cantik kok gila," cibir pria tersebut yang sebenarnya kaget karena melihat Mentari muncul dari semak-semak itu.


Ganteng-ganteng mulutnya pedas juga!


"Gue lagi nyari jangkrik! Gue nggak gila ya," jawab Mentari ketus.


Pria itu mengangkat kedua bahunya cuek, kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan Mentari yang sedang menatap heran padanya.


"Dasar orang aneh!" gumam Mentari..


Tak lama kemudian taksi online pesanan Mentari pun datang, ia kemudian masuk dan berdiam diri di dalam taksi sampai di depan kantor. Dengan malas Mentari keluar dari mobil tersebut lalu mulai berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Sesampainya di dalam perusahaan, Mentari masuk lalu ia menelpon Juan untuk mengabarinya karena sejak tadi ia mengabaikan panggilan dan pesan dari lelaki tersebut.


"Juan, gue udah di kantor. Lu tenang aja oke, nanti kita bicara lagi ya," ucap Mentari ketika Juan menjawab teleponnya.


Juan yang berada di belakang Mentari langsung mendekatinya dan berkata iya yang membuat Mentari terjungkit karena Juan sudah berada di sampingnya.


Mentari mengelus dadanya seraya menyimpan ponselnya ke dalam tas. Ia memang terkejut karena Juan mendadak sudah berada di dekatnya. Ia menghentikan langkahnya dan melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada beberapa menit sebelum jam makan siang berakhir.


"Lu baru datang Mentari? Sorry makan siang kita jadi terganggu," ucap Juan dan Mentari hanya bisa mengangguk lemas.


"Harusnya gue yang minta maaf karena-"

__ADS_1


"Tidak usah diteruskan. Kita akan bicara lagi nanti. Dan satu hal yang harus lu tahu, semua orang punya masa lalu entah itu baik atau buruk. Kita nggak akan bisa menghindar dari masa lalu karena itu sudah terjadi dan kita nggak bisa kembali lagi untuk memperbaiki semuanya. Itulah guna masa depan, Mentari. Masa depan akan membantu kita untuk lebih baik dari masa lalu. Lu yang semangat, gue santai aja kok menghadapi yang tadi," ucap Juan mencoba menyemangati Mentari, ia tahu Mentari pasti merasa tidak enak hati padanya.


Ada rasa lega di hati Mentari mengetahui Juan tidak terpengaruh dengan kelakuan Zio tadi. Ia sudah was-was jika saja Juan sudah tidak lagi mau berteman dengannya.


Kemudian Juan sedikit membungkuk karena tubuh Mentari yang lebih pendek darinya. Ia kemudian berbisik, "Lagi pula siapa yang tidak tahu jika CEO kita itu adalah seorang Casanova. Lu harus hati-hati sama dia Mentari. Bukan cuma lu doang kok yang dia gituin. Udah banyak! Jadi lu harus lebih waspada dan usahain lu bisa jaga diri, oke."


Mentari kembali mengucap syukur dalam hati, Juan begitu baik dan tidak mempermasalahkan tentang Zio yang menciumnya tadi. Ia bahkan tidak memandang rendah pada Mentari, justru pria ini memberinya semangat dan memintanya untuk berhati-hati. Ah ya, memang benar jika rumor CEO adalah seorang Casanova sudah menyebar luas di kantor ini.


"Makasih Juan, lu baik banget. Gue senang banget ada lu di kantor ini. Dan gue harap lu tetap sayang ke gue walaupun lu cuma sebagai teman doang," ucap Mentari, entah mengapa ia takut jika Juan berubah dan tidak lagi menaruh rasa padanya.


"Lu ngomong apa sih Mentari, gue tetap sayang kok sama lu. Sebagai teman dan juga sebagai seorang pria ke wanitanya. Lu harus tahu itu, jangan berpikir kau hal yang terjadi tadi langsung bikin semuanya berubah ya. Lu terlalu rendah menilai sesuatu dan jangan rendahin diri lu lagi," ujar Juan dan Mentari langsung menipiskan bibirnya.


Juan mengajak Mentari untuk kembali berjalan dan masuk ke dalam lift walaupun nanti mereka akan berpisah karena ruangan mereka berada di lantai yang berbeda.


Di belakang mereka, Zio mengepalkan kedua tangannya. Sejak tadi ia menunggu di dalam mobil untuk kedatangan Mentari sebab ia sudah menghubungi Ramon yang sudah di ruangannya dan menanyakan Mentari tetapi kata Ramon, Mentari belum datang sehingga Zio memutuskan untuk menunggu saja di dalam mobilnya.


Ia melihat Mentari turun dari taksi dan sialnya begitu ia berusaha mengejar justru Juan lebih dulu mendekati Mentari dan keduanya terlihat sangat akrab hingga Zio melotot begitu melihat Juan berbungkuk. Pikirnya Juan akan mencium Mentari tetapi begitu ia amati, Juan hanya sedang berbicara sesuatu tanpa mencium Mentari. Tetapi pose seperti itu membuat Zio kesal. Ia akan melampiaskannya nanti ketika sudah berada di ruangannya.


Zio keluar dari lift dan berjalan menuju ke ruangannya. Ia menipiskan bibir saat melihat Mentari sudah memulai pekerjaannya. Ia berhenti di samping Mentari.


Mentari menyadari kedatangan Zio, tetapi ia sedang tidak mood untuk berbicara pada pria menyebalkan ini. Ia memilih cuek dan fokus saja pada pekerjaannya.


Dari tempatnya, Ramon melihat keanehan yang terjadi pada kepadanya. Ramon yakin dan percaya bahwa sebentar lagi pasangan mantan kekasih yang sekarang menjadi bos dan sekretaris itu akan membuat keributan.


"Mentari, kamu ikut saya ke ruangan. Sekarang!" ucap Zio kemudian ia masuk ke dalam ruangannya dengan sedikit membanting pintu itu keras.


Mentari dan Ramon terperanjat, Ramon kemudian menatap Mentari dan gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.


Dia pasti marah sama gue karena tadi gue tampar. Tapi dia bahkan bicara pakai bahasa formal, mungkin memang dia mau memecat gue sekarang. Ya udah, gue hadapi aja.


"Sebenarnya ada apa Mentari?" tanya Ramon.

__ADS_1


"Saya membuat kesalahan Pak Ramon, mungkin bos akan memecat saya," jawab Mentari lirih. "Saya masuk dulu," lanjutnya kemudian ia bergegas masuk ke dalam ruangan Zio.


Mentari berhati-hati begitu ia membuka pintu. Ia tidak mau kejadian tadi dimana Zio menjebaknya dengan menunggu di balik pintu dan berakhir dengan sebuah ciuman.


"Tidak perlu waspada begitu, saya sedang duduk di kursi saya."


Suara lantang tapi terdengar dingin itu membuat Mentari terkesiap. Pergerakannya rupanya dapat dibaca oleh Zio. Mentari pun melanjutkan langkahnya hingga ke hadapan Zio.


"Duduk!"


Mentari pun duduk dan berhadapan dengan Zio. Ia sedikit heran melihat wajah Zio, tidak pernah Mentari melihat Zio seperti ini sebelumnya. Wajahnya datar dan dingin. Begitupun dengan nada bicaranya yang cukup formal dan mengagetkan Mentari. Zio mendadak berubah.


"Baiklah Mentari, saya langsung saja. Saya meminta maaf untuk perlakuan buruk saya tadi dan saya sudah memaafkan kamu yang menampar saya. Kita sekarang impas dan mulai sekarang bekerjalah dengan baik dan lebih profesional. Saya tidak akan lagi bersikap seperti biasanya karena mungkin anda kurang nyaman dengan perilaku saya selama ini. Saya tidak akan memecat anda, dan semoga kejadian hari ini bisa kita lupakan dan tidak akan terulang lagi. Sekarang kembali ke tempatmu dan bekerja lah dengan giat!"


Ucapan Zio tentu saja membuat Mentari terkejut, ia kehilangan kesadaran untuk beberapa saat sebelum ia kembali bisa menguasai dirinya.


"Oh baiklah Pak, terima kasih. Saya permisi dulu," ucap Mentari dan Zio hanya menjawab dengan anggukan.


Mentari pun bergegas keluar dari ruangan tersebut, namun ketika ia menarik pintu, Zio kembali memangilnya.


"Mentari!"


Mentari berbalik dan berkata, "Ya?"


Zio menggeleng, "Tidak ada." Bibir Zio tersenyum tipis.


Merasa aneh, Mentari lalu pergi dari ruangan Zio dengan membawa begitu banyak tanda tanya dengan sikap Zio.


Di dalam ruangannya, Zio menghembuskan napas dengan kasar. Rasanya begitu sesak setelah berbicara dengan begitu formal pada Mentari.


"Gue harus bisa. Cara ini sepetinya lebih baik agar bisa mempertahankan Mentari di dekat gue. Seenggaknya gue masih bisa lihat dia setiap hari," gumam Zio.

__ADS_1


__ADS_2