
Panik, sudah pasti. Mentari tidak menyangka kedatangan Zio malam ini justru membawa petaka dimana mendadak sudah ada banyak warga yang berkumpul untuk menggerebek mereka. Bukan hanya diluar jendela, bahkan di dalam rumahnya juga sudah ada hansip dan juga ketua RT yang turut menyaksikan malam ini Zio dan dirinya ditangkap basah berdua di dalam kamar.
"Ternyata benar mereka berduaan di kamar. Ayo kita nikahkan saja mereka," ucap pak RT dan disetujui oleh semua orang.
Mentari menatap semua yang ada di rumahnya, Zio terlihat tenang-tenang saja dan ia mencari sosok mamanya yang mungkin saat ini sangat kecewa padanya. Mentari bisa melihat mamanya sedang duduk bersama ibu-ibu lainnya dan terlihat eoertu sedang ditenangkan. Ia segera berlari menuju ke tempat mamanya duduk.
"Ma, sumpah Ma ... Tari sama Zio nggak ngapa-ngapain di dalam kamar. Itu juga Zio baru datang, Ma," ucap Mentari mencoba menjelaskan. Ia tidak ingin mamanya sampai salah paham dan meragukan didikannya selama ini.
Maya memalingkan wajahnya namun tiada duka disana. Ia terlihat biasa saja namun enggan banyak bicara. Apalagi mendengar suara-suara sumbang dari warga yang berkumpul di rumahnya membuat Mentari semakin kesal. Ia ingin berteriak marah dan mencoba meminta Zio untuk menjelaskan, tetapi yang ada kekasihnya itu justru sedang berbincang-bincang dengan beberapa warga seolah ia tidak sedang dalam masalah.
"Menikahlah Nak, semua akan jadi lebih baik daripada kalian jadi omongan para warga," ucap Maya yang membuat Mentari semakin meradang.
Mentari memang sangat ingin menikah dengan Zio, namun bukan dengan cara seperti ini. Ia memalingkan wajahnya dan terlihat jelas seseorang datang ke arahnya lalu memanggilnya untuk masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian karena ia harus di dandani sebelum acara ijab kabul.
Awalnya Mentari menolak, tetapi karena tidak sanggup mendengar suara-suar sumbang dari para warga akhirnya dengan berat hati Mentari pun menurut. Ia hanya ingin hidup mamanya baik-baik saja.
Beberapa menit setelah Mentari selesai di dandani, ia keluar dari kamar dan terkejut karena melihat ruang tamu rumahnya sudah disulap bagaikan akan merayakan pesta pernikahan. Mulai dari kudapan, ada tempat duduk untuk ijab kabul dan ia baru memperhatikan kalau ternyata para warga yang datang untuk menggrebeknya tadi, mereka semua memang mengenakan pakaian formal khusus untuk acara pernikahan.
"Ini sebenarnya ada apa?" gumam Mentari yang masih berdiri di ambang pintu.
Sebenanrya ia juga merasa heran karena ia mendapatkan kebaya yang begitu cantik padahal mereka hanya akan menikah dibawah tangan, alias menikah siri saja karena tuduhan melakukan hubungan terlarang. Belum lagi mamanya yang juga terlihat cantik dengan dandanan serta pakaiannya yang begitu bagus.
Sudut mata Mentari tak sengaja melihat Zio yang sedang berbincang dengan pak RT, disana juga ada Ramon yang entah sejak kapan ada di rumahnya. Zio terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya serta peci di kepalanya. Mentari sempat terpesona beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali dikejutkan dengan kedatangan Juan dan Mawar.
"Mentari ... akhirnya lu nikah juga. Selamat ya," ucap Mawar yang berlari ke arah Mentari dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kok lu tahu gue mau nikah?" tanya Mentari heran.
"Ya jelas tahu dong, tadi siang Zio sendiri hubungi gue katanya malam ini kalian bakalan nikah. Gue sebagai sahabat yang baik tentu harus datang dong," jawab Mawar.
Mentari melepaskan pelukan Mawar, ia yang sedari tadi dibuat pusing kini mulai mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Ia segera mendekati Zio namun baru saja ia hendak memanggil Zio untuk bicara empat mata, pak RT sudah lebih dulu meminta mereka untuk bersiap-siap dinikahkan.
Dengan santainya Zio melenggang ke arah tempat di mana mereka akan melangsungkan ijab kabul. Ia melirik Mentari sembari melemparkan senyuman manis namun yang terjadi justru Mentari membalasnya dengan wajah garang hingga membuat Zio terkejut.
"Sayang senyumlah sedikit, ini kita udah mau nikah lho. Jangan malu-maluin," tegur Zio.
Ingin rasanya Mentari memberikan pukulan di perut atau menyentil bibir Zio, ia yakin sekali dibalik acara pernikahan mereka malam ini dan di balik penggerebekan yang terjadi di dalam kamarnya, pasti semua sudah ada campur tangan Zio.
Tidak mungkin hal seperti ini terjadi secara tiba-tiba, dimana mereka belum ada satu jam setelah digerebek tetapi makanan serta minuman dan juga seserahan yang tertata rapi, serta tamu yang sudah berdatangan dengan menggunakan pakaian ala pesta pernikahan sudah berkumpul di rumahnya.
Belum lagi memikirkan tentang mamanya yang sama sekali tidak marah ataupun menangis dengan kejadian ini, sementara Mentari adalah anak satu-satunya dan akan dinikahkan karena kedapatan sedang berduaan dalam kamar dengan seorang pria. Hal yang seharusnya mamanya lakukan saat ini adalah memarahinya dan juga menangis.
Nggak salah lagi, ini pasti kerjaan Zio, keluh Mentari dalam hati.
Mau tidak mau Mentari harus melaksanakan ijab kabul malam ini karena jika ia mengajukan protes maka bukan tidak mungkin para warga akan kembali menyerangnya. Ia hanya ingin semuanya selesai malam ini karena entah malam ini atau malam selanjutnya Zio pasti akan terus menerornya dengan pernikahan.
Penghulu mulai membacakan khutbah nikah kemudian beberapa saat kemudian ia sudah meminta Zio untuk menjabat tangannya dan melakukan ijab Kabul.
"Wahai Dimas Ezio Rasyid binti Danuarta Ar-Rasyid, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan seorang perempuan yang bernama Mentari Ramdhani binti Ramadhan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat set perhiasan emas dibayar tunai, terima."
"Saya terima nikah dan kawinnya Mentari Ramadhani binti Ramadan dengan mahar tersebut dibayar tunai."
__ADS_1
"Bagaimana para saksi?"
"Saahh!!"
Suara para saksi pernikahan Mentari dan Zio menggema di rumah itu padahal waktu sudah hampir tengah malam namun mereka justru terlihat begitu senang dan sangat menikmati acara ini.
Mentari diminta untuk mencium tangan Zio. Ia memang melakukannya tapi dengan wajah yang masih terlihat garang hingga membuat Zio sedikit tertekan sebab istrinya ini tidak terlihat bahagia sedangkan ia sendiri sangat bahagia malam ini.
Dengan senang hati Zio mengecup dahi Mentari setelah punggung tangannya dicium dengan tidak ikhlas oleh Mentari. Ia tidak peduli apakah setelah ini akan terjadi perang dunia ke tiga atau negara api akan kembali menyerang, yang terpenting adalah Mentari sudah sah menjadi miliknya. Dan ia tidak peduli sekalipun Mentari memanggil Kurama untuk bangkit kembali dan menyerangnya dengan jutsu Ultra Big Ball Rasenshuriken, Zio tidak akan takut.
Maya datang untuk memberi ucapan selamat dan juga memeluk anaknya yang kini telah resmi menjadi istri dari Zio. Ia juga memeluk Zio dan memberikan banyak pesan agar Zio terus membahagiakan Mentari sepanjang hidupnya.
"Dia ... anaknya sangat bawel, keras kepala, meledak-ledak dan juga ceplas-ceplos. Kau harus bisa tahan menghadapinya karena memang seperti itulah sifatnya. Dan mungkin saja kau juga sudah tahu tentang semua itu. Mama tidak meminta banyak darimu Zio, cukup dengan membahagiakannya dan jangan pernah menyakitinya sedikitpun, karena mama dan Papa tidak pernah sekalipun menyakiti fisik Mentari. Mama merestui pernikahan kalian karena mama yakin kau adalah orang yang tepat untuk membahagiakan anak mama dunia dan akhirat."
Zio menganggukkan kepalanya seraya berkata, "Pasti Ma. Zio pasti akan menjaga dan mencintai serta menyayangi Tari seumur hidup Zio. Zio juga punya banyak kekurangan Ma, kami akan saling melengkapi. Restu mama adalah yang terpenting untuk rumah tangga kami kedepannya, Ma. Terima kasih karena telah melahirkan Mentari, Ma."
"Mama ..." Mata Mentari berkaca-kaca, ucapan mamanya membuat hatinya terharu dan juga begitu bersedih seolah ia dan mamanya akan segera berpisah sedangkan sesuai kesepakatannya dengan Zio kemarin, ia akan tetap tinggal bersama mamanya di rumah ini.
Mereka bertiga berpelukan, semua itu diabadikan oleh Juan dan juga Mawar, sedangkan Ramon mempersilahkan para tamu undangan untuk mencicipi hidangan yang sudah mereka sediakan.
Suasana pun mulai berubah menjadi begitu riuh saat para warga menyantap hidangan sambil berbincang-bincang. Maya sudah turut bergabung sedangkan Mentari sedang duduk di ruang keluarga bersama Zio, Mawar dan Juan.
Tatapan tajam Mentari membuat nyali Zio menjadi ciut padahal tadi ia begitu percaya diri bahkan jika negara api kembali menyerang.
"Oke, oke. Aku jelasin ... jadi memang semua ini rencana aku. Semuanya termasuk mama udah tahu kalau aku sama kamu bakalan nikah malam ini. Cara ini adalah ideku sendiri tapi dibantu oleh para hansip kemarin. Aku juga minta bantuan para warga dan juga Ramon. Juan nggak tahu apa-apa karena aku mengatakan padanya saat aku hendak datang ke rumahmu tadi. Maaf sayang, tapi ini semua aku lakukan agar kita bisa terikat ..."
__ADS_1
"Aku sangat senang waktu kamu bilang mau nikah sama aku. Aku tahu kamu kadang suka berubah pikiran, jadi aku langsung aja nikahin kamu setelah kejadian kemarin itu yang memberikan inspirasi padaku. Jangan marah lho ya, kita udah sah."