CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~93


__ADS_3

Pagi kembali menjelang, pasangan pengantin baru yang seharusnya sudah melakukan ritual malam pertama itu kini justru terlihat sedang bersitegang karena Zio menolak untuk pergi bekerja sedangkan Mentari harus pergi bekerja karena ia memiliki rapat penting pagi ini. Dengan santainya Zio berkata bahwa Mentari tidak perlu lagi bekerja karena mulai detik ini ia yang akan menanggung seluruh kebutuhan Mentari dan juga mama Maya.


Namun dengan keras kepalanya Mentari menolak semua itu, ia tidak ingin pekerjaannya terhenti hanya karena ia sudah menikah dengan Zio. Akan sangat berisiko, karena pernikahan mereka tidak diketahui oleh kedua orang tua Zio dan belum lagi masalah perjodohan tersebut yang masih mengambang. Mentari tidak ingin kehilangan mata pencahariannya ketika kelak keluarga Zio menuntutnya untuk meninggalkan Zio.


Maya sendiri hanya bisa mengalah napas melihat perdebatan anak dan menantunya itu. Dalam hati sebenarnya Maya membenarkan ucapan Mentari, karena pernikahan mereka ini memang sangatlah berisiko tinggi. Namun kembali lagi kepada status dimana Mentari adalah seorang istri yang harus menuruti keinginan suaminya, Maya lebih memilih diam dari pada ia harus turut campur dalam urusan rumah tangga anaknya.


"Sayang jangan gini dong, please dengar aku. Kamu sebaiknya di rumah aja, biar aku yang bekerja mencari nafkah untukmu dan juga mama," bujuk Zio sekali lagi ketika mereka telah selesai sarapan.


"Nggak bisa sayang, aku tetap harus bekerja dan lagi pula aku tidak pernah meminta izin cuti menikah kepada Mawar karena pernikahan ini juga dadakan dan semua adalah rencana ekstrem kamu ya," ucap tegas Mentari.


Zio menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekeraskepalaan Mentari. Sudah semalam Ia tidur di luar dan kali ini ia harus ditinggal pergi bekerja oleh istrinya. Harusnya saat ini mereka masih berada di dalam kamar, sedang proses pembuatan adonan anak mereka, atau sedang merencanakan kemana mereka akan berbulan madu dan setidaknya jika tidak ingin di rumah maka mereka bisa pergi ke hotel pagi ini juga, atau di apartemen milik Zio.


Namun sayang, Mentari tetaplah Mentari yang punya sejuta alasan untuk menolak segala keinginan Zio. Ia bisa apa, istrinya memegang kendali atas hatinya. Dia tidak akan mampu berdebat dengannya lagi karena ia tidak ingin ada hal-hal lagi yang menjadi alasan Mentari untuk tidak mengizinkannya tidur sekamar malam ini.


"Ya udah aku anterin ke kantor," ucap Zio mengalah.


Mentari tersenyum lebar, ia tahu Zio pasti tidak akan pernah menolak segala keinginannya. Bukannya merasa egois, tetapi Mentari lebih berpikir realistis. Ia memang sangat mencintai Zio dan memang ingin bertekad mempertahankan rumah tangga mereka, tetapi siapa yang akan tahu ke depannya jika badai itu terlalu besar dan bisa menghempaskannya begitu jauh, maka Mentari tentu tidak akan sanggup bertahan.


Zio dan Mentari berpamitan kepada Maya, keduanya akan berangkat kerja namun hanya Mentari yang akan bekerja hari ini sebab Zio sudah mengatakan bahwa ia akan mengambil cuti. Akan sangat memalukan jika di hari pertama ketika ia sah menjadi pasangan suami-istri dengan Mentari, ia justru pergi bekerja. Akan ada tanda tanya di benak Ramon dan juga Juan terhadapnya nanti.


Zio mencebikkan bibirnya ketika Mentari begitu bersemangat masuk ke dalam mobilnya untuk pergi bekerja. Sekali lagi ia a berusaha membujuk agar Mentari tidak usah pergi bekerja dulu hari ini dan harus menemaninya sepanjang hari, namun lagi dan lagi Mentari menolak dengan alasan bahwa hari ini ada rapat yang tidak bisa ia tunda.


"Baiklah, tapi nanti jam makan siang aku akan datang menjemputmu dan kau tidak boleh menolak ya. Ingatlah surga istri itu dari telapak kaki suaminya, jadi jangan coba-coba mencari neraka ya!" ancam Zio yang membuat Mentari sedikit bergidik ngeri.

__ADS_1


Mentari memutar bola matanya dengan malas, ia tahu tentang hal tersebut akan tetapi apa ia salah jika menahan hak suaminya dan juga hal yang merupakan kewajibannya sebagai seorang istri? Ia belum sanggup membuat penyatuan dengan Zio karena mereka masih memiliki masalah yang begitu besar yang tengah membelit suaminya tersebut.


Mentari mencium punggung tangan Zio ketika ia hendak turun dari mobil, begitu pun sio yang tak lupa mengambil kecupan di seluruh inci wajah Mentari. Tak lupa juga ia melu-mat sedikit bibir Mentari sebagai penutup sebelum ia melepaskan istrinya itu pergi bekerja.


Namun yang ada, karena Mentari merasa bersalah kepada Zio, ia kembali menarik tengkuk Zio dan memperdalam ciuman mereka berdua. Hal tersebut tentu disambut dengan senang hati dan riang gembira oleh Dimas Ezio Rasyid. Mereka berciuman untuk beberapa saat hingga akhirnya pasokan udara di paru-paru Mentari berkurang.


"Apakah ini sebuah sogokan?" tanya Zio ketika ia mengusap sisa salivanya yang ada di bibir istrinya tersebut.


Mentari tertawa. "Bukan, tetapi ini tanda cinta untuk suamiku," jawab Mentari kemudian dengan secepat kilat ia mencuri kecupan di bibir Zio lalu ia segera turun dari mobil dan berlari menuju ke gedung kantor.


Zio senyum sambil memegang bibirnya yang baru saja dikecup oleh Mentari. Ada rasa yang membuncah dalam hatinya mendapat perlakuan manis dari istrinya tersebut. Semangat Zio langsung naik seketika namun mendadak langsung turun ketika menerima panggilan dari kakeknya.


Zio selalu tahu jika kakeknya menghubunginya pasti tidak lain dan tidak bukan akan membahas masalah perjodohannya dengan Dini. Sebenarnya ia begitu malas mengangkat panggilan tersebut, akan tetapi ia harus tetap menghargai sang kakek, walau bagaimanapun pria tua itu adalah orang tua yang harus ia hormati dan masih sangat ia sayangi sampai detik ini.


"Bisakah kau datang ke rumah saat ini? Tinggalkan dulu pekerjaanmu karena masih ada Ramon dan Juan yang menghandelnya," ucap kakek Rasyid tanpa basa-basi ketika dia menjawab panggilan tersebut.


Zio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia berharap ia akan segera sampai di rumah utama. Dalam beberapa menit Zio akhirnya memarkirkan mobilnya di garasi mobil, ia kemudian turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke kamar kakeknya.


Zio membuka pintu kamar tersebut, dan dilihatnya sang kakek sedang duduk sambil membaca majalah bisnis favoritnya. Zio pun melangkah dengan lebar menuju ke sofa dimana kakeknya duduk dan ia langsung bergabung.


kakek Rasyid yang melihat Zio datang dengan tidak mengenakan setelan kerja pun tersenyum. Ia bisa melihat bahwa ternyata cucunya ini masih begitu muda dan ia sudah memberikan beban pikiran dengan perjodohan yang sangat menyiksa batin sang cucu.


"Kau sangat tampan jika tidak mengenakan setelan jas, kakek sudah sangat lama tidak melihatmu dengan pakaian sesantai ini. Apakah belum berangkat bekerja?" tanya kakek Rasyid. Bukan sekedar basa-basi, tetapi itu memang ungkapan perasaan dari seorang kakek terhadap cucunya.

__ADS_1


Zio tersenyum. Tadinya baru akan, tetapi kakak meminta untuk segera datang dan aku memenuhi panggilan kakek. Lagi pula seperti yang kakak bilang, di sana ada Juan dan Ramon, aku bisa datang nanti setelah berbicara dengan kakek," jawab Zio


"Kakek sendiri bagaimana keadaannya?" tanya Zio, ia melihat kakeknya begitu tulus tersenyum padanya dan interaksi keduanya saat ini sudah lama tidak pernah mereka lakukan lebih tepatnya sejak dimana menjodohkan menjodohkan ia dengan Dini.


Kakek Rasyid mengangguk-anggukkan kepalanya, ia juga mengatakan bahwa kabarnya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Lalu ia mengutarakan maksudnya mengundang Zio untuk datang, ia ingin mengajak cucunya itu bicara dari hati ke hati tentang perjodohan tersebut. Ia tahu sifatnya yang begitu keras kepala dan menekan Zio untuk menerima perjodohan tersebut sangatlah berdampak pada hubungan mereka sebagai kakek dan cucu.


Kakek Rasyid juga mengatakan kepada Zio, apabila ia menemukan sebuah fakta baru tentang Dini dan keluarganya maka kakek Rasyid akan menghentikan percojodohan tersebut.


Mendengar ucapan kakeknya itu Zio menjadi bersemangat. Ia kemudian menceritakan kepada kakeknya bahwa ia sebenarnya sudah menemukan fakta bahwa keluarga Vindex saat ini tengah mengalami keterpurukan dalam bidang usaha mereka, di mana perusahaan keluarga Vindex hampir gulung tikar.


Kakek Rasyid yang mendengarnya justru dibuat kejut bukan main, karena selama ini yang ia ketahui bahwa sahabatnya itu selalu mengatakan tentang keberhasilan anaknya dan juga cucunya dalam mengelola perusahaan mereka. Sebenarnya semua ini ditutupi oleh Harun Vindex, dengan sepandai-pandainya mereka mengelabui banyak orang dengan tetap bergaya elit, padahal saat ini begitu banyak hutang-piutang yang tengah mereka tanggung akibat dari kecerobohan mereka dalam mengelola keuangan.


"Sebenarnya Zio tidak ingin mengatakan ini kepada kakek karena pasti nanti kakek akan semakin merasa berhutang budi kepada mereka dan ingin membantu mereka. Zio bisa saja mau menanamkan modal kepada mereka, akan tetapi itu hanya akan sia-sia saja," ucap setelah ia menceritakan semuanya.


Kakek Rasyid menautkan kedua alisnya, ia cukup bingung dengan ucapan Zio yang mengatakan hanya merugikan saja jika bekerja sama dengan keluarga Vindex. "Apa yang salah dengan menanamkan modal pada mereka? Bukankah itu juga turut membantu sahabat kakek?" tanya kakak Rasyid penasaran karena ia tentu tahu sepak terjang Zio dalam dunia bisnis yang tidak kaleng-kaleng. Cucunya itu sangat pandai memilah dan memilih kolega bisnisnya.


Zio tersenyum kecu, ia kemudian kembali menjelaskan kepada kakeknya jika anak kakek Harun tersebut yang tidak lain adalah ayah Dini memiliki kebiasaan buruk yang suka berjudi dan suka bermain wanita. Uang hanya ia hambur-hamburkan dalam kegiatan negatifnya dan juga penyalahgunaan uang tersebut membuat perusahaan mereka terpuruk.


Zio tidak ingin menyia-nyiakan uangnya untuk investasikan pada pengusaha yang tidak berbobot seperti mereka. Akan sangat sia-sia dan membawa kerugian kepada perusahaan Zio apabila sampai ia menjalin kerjasama dengan keluarga Harun Vindex.


Kakek Rasyid hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejujurnya ia sangat setuju dengan pendapat Zio barusan, namun janjinya kepada Harun untuk menjodohkan Zio dan Dini sepertinya akan ia ganti dengan memberikan beberapa suntikan dana kepada mereka.


"Bagaimana kalau perjodohanmu kita tukar saja dengan memberikan suntikan dana besar-besaran kepada Harun?" tanya kakak Rasyid yang ibarat oase yang ditemukan Zio di tengah gurun pasir.

__ADS_1


"Apakah kakek serius?" tanya Zio dengan mata yang berbinar-binar.


Kakek Rasyid mengangguk. "Tentu saja kakek akan memilih menyerahkan sebagian harta kakek asalkan cucu kakek tetap bahagia dan tidak merasa tertekam," jawab kakek Rasyid dan Zio langsung melompat ke dalam pelukan kakeknya tersebut.


__ADS_2