
Akan segera jadian ya? Jadi mereka sudah sedekat itu padahal Mentari baru kerja sehari?
Zio bergumam dalam hati. Ada rasa kesal mendera hatinya mendengar jawaban Mentari seolah anak panah yang mengena telak di jantungnya. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya hingga Mentari meringis kesakitan.
"Pak, saya salah apa?" pekik Mentari sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Zio.
Sadar bahwa ia masih menggenggam tangan Mentari, dengan cepat Zio mengusap tangan mungil itu, meniup-niup lalu mengecupnya bertepatan dengan pintu lift yang terbuka serta tatapan beberapa karyawan yang sedang berdiri di depan lift tersebut.
Zio dan Mentari melongo ketika tatapan terpusat pada mereka. Dengan cepat Mentari menarik tangannya dari genggaman Zio lalu berjalan lebih dulu dengan kepala tertunduk. Zio sendiri memasang tampang cool, ia bosnya dan siapa yang berani menghujatnya di kantornya sendiri.
"Mentari Ramadhani binti Ramadhan jangan tinggalin gue!" pekik Zio begitu melihat Mentari sudah cukup jauh dari arahnya. "Lu mau kemana? Emang lu tahu ruang rapatnya dimana?" ejek Zio yang sudah berada di samping Mentari.
Mentari menatap Zio dengan senyuman terpaksa lalu ia menggeleng. Dengan cepat Zio meraih tangan Mentari untuk mengajaknya ke ruang rapat. Mentari bergeming, Zio menjadi heran karena sekretaris merangkap mantan atau mantan merangkap sekretaris ini tidak juga melangkahkan kakinya.
"Why Mentari?" tanya Zio heran.
Mentari menatap datar pada Zio kemudian ia menatap tangannya yang digenggam Zio. "Modus lu ya memang tangan gue. Lu sengaja 'kan tadi remas kuat tangan gue biar bisa lu genggam, lu tiup eh ujung-ujungnya lu cium. Dasar brengsek! Mesum! Modus!" umpat Mentari yang mengundang perhatian beberapa karyawan yang sedang berlalu lalang di tempat tersebut.
Mata Zio melotot dengan mulut terbuka lebar mendengar umpatan Mentari barusan. Dengan cepat ia menutup mulut Mentari lalu menyeretnya menuju ke ruang rapat. Ia tidak peduli dengan pandangan para karyawannya sedangkan Mentari terus meminta tolong pada mereka. Zio memelototkan matanya pada beberapa karyawannya sehingga mereka tidak ada yang berani mendekat.
"Awww … sakit bego!" ringis Zio ketika Mentari menggigit jarinya.
Mentari menatap Zio dengan napas memburu. Matanya melotot serta tatapannya seolah ingin memangsa Zio. "Makanya jangan modus sama gue. Awas aja lu sampai berani curi kesempatan buat nyentuh gue. Habis lu ditangan gue," ancam Mentari dan dengan dongkolnya Zio langsung mengangguk patuh. "Bagus, anak pintar," ucap Mentari kemudian ia menepuk kepala Zio walau harus berjinjit.
Zio dengan cepat menangkap tangan Mentari, "Nah, sekarang lu yang modus. Bilang aja pingin megang rambut bagus gue. Dasar modus lu!" balas Zio namun Mentari tidak peduli dan ia memilih masuk ke dalam ruang rapat.
Mata Mentari membulat sempurna dengan tubuh yang seolah terpaku di bumi melihat klien yang duduk di ruang rapat.
__ADS_1
"Pak Santoso?" gumam Mentari. Mendadak ia ingin kabur karena tidak ingin bertemu dengan pria bangkotan yang pernah memintanya jadi istri ke empat.
Hal yang sama pula terjadi pada pak Santoso, ia tak percaya akan bertemu dengan mantan sekretaris yang ia sukai itu. Dengan cepat ia berdiri dan menghampiri Mentari.
"Wah ternyata kamu kerja di perusahaan pak Dimas ya Mentari. Apa kabar kamu?" sapa pak Santoso sambil menepuk lengan Mentari.
Mentari menatap lengannya yang baru saja disentuh oleh mantan bosnya. Mentari hanya bisa tersenyum paksa karena mengingat pria ini pernah memberinya pekerjaan juga adalah klien mereka.
"Kabar saya baik, Pak. Anda sendiri bagaimana?" tanya Mentari basa-basi.
Pak Santoso merapihkan jasnya juga menyugar rambutnya ke belakang, agar terlihat tampan dan keren di hadapan Mentari.
Ini si bangkotan melakukan itu supaya apa coba? Biar gue terkesan? Oh my God! Jijik gue!
"Saya selalu baik, hanya saja hari-hari saya menjadi kurang berwarna semenjak kamu resign dari kantor saya Mentari, saya merasa seperti ada yang hampa tanpa kamu disisiku," ucap pak Santoso dengan wajah dibuat ngenes dan sesedih mungkin.
"Pak, jangan seperti itu. Anda sudah memiliki istri," ujar Mentari, ia sebenarnya sangat ingin memberi bogeman di wajah tua itu tetapi ia ingat bahwa ia tidak boleh berlaku bar-bar pada kliennya.
"Istri pertama saya sudah meninggal, Mentari. Tinggal dua saja dan kalau kamu masih berminat maka saya masih bersedia melamar kamu. Kamu tidak perlu repot bekerja dan bersenang-senanglah dengan seluruh harta saya," bujuk Pak Santoso.
Jika saja bisa dilihat maka dari atas kepala Mentari sudah muncul dua tanduk dan dari kedua telinganya sudah keluar asap. Wajah Mentari merah padam, namun ia harus bisa menjaga kewarasannya. Ia tidak mau berkelahi dengan pak Santoso yang nantinya bisa merugikan perusahaan dan dirinya jadi tersangka utama.
Zio yang sedari tadi mendengar karena berdiri di belakang Mentari mati-matian menahan tawanya. Rupanya alasan Mentari saat masuk ke kantor ini benar adanya. Zio bisa melihat sendiri bagaimana mantan kekasihnya itu dilamar oleh pria bangkotan untuk dijadikan istri keempat.
Namun Zio tidak suka dengan cara pak Santoso menyentuh lengan Mentari, menatapnya dengan tatapan mendamba, Zio tidak suka semua itu. Ia pun memilih masuk dan satu tangannya langsung memeluk pinggang Mentari dari samping. Ia juga mengecup pelipis Mentari.
"Maaf Pak, tapi wanita cantik ini adalah kekasih saya. Kami sudah berpacaran hampir enam tahun. Anda salah jika mau menjadikan dia istri," ucap Zio dengan ramah dan senyuman itu … oh … oh … Mentari bisa melihat senyuman itu adalah senyuman paling menyebalkan dimana Zio pasti merasa menang karena berhasil mencium dan memeluknya dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
Dan lagi, pria itu sekarang semakin mengeratkan pelukannya hingga Mentari menempel bak prangko di tubuh Zio.
"Iya 'kan sayang?" ucapnya sambil menatap Mentari sembari tersenyum manis namun senyuman itu terlihat mengejek di mata Mentari.
Dengan pasrah Mentari mengangguk, "Iya sayang. Maaf ya Pak Santoso, sebenarnya saya memang sudah menjalin hubungan dengan Pak Dimas saat kami masih kuliah dulu. Dia juga yang memaksa saya untuk bekerja di kantornya jadi saya resign dari kantor bapak," ucap Mentari yang langsung mengutuk dirinya dalam hati karena berhasil bersandiwara dengan apik.
Wajah pak Santoso merah padam, ia langsung meminta maaf karena tidak tahu tentang hubungan mereka. Zio hanya mengangguk kemudian ia mengajak mereka semua untuk duduk kembali dan memulai rapatnya.
Rapat tersebut berlangsung dengan lancar, Mentari sangat pandai menjalankan perannya dan Zio cukup kagum karena sekretaris sekaligus mantan kekasihnya itu memang tidak diragukan lagi kecerdasannya.
Kesepakatan telah dicapai dan kini rombongan pak Santoso pamit dan tinggallah Mentari dan Zio di dalam ruangan tersebut. Mentari sibuk menata berkas, sedangkan Zio sibuk menatap Mentari.
"Jadi itu pria yang melamarmu? Lu bilang bakalan jadian sama Juan eh ternyata lu mau nikah sama pria bangkotan. Ck, kalau nggak ada gue mungkin lu udah diseret paksa sama pak Santoso. Bilang terima kasih kek," celetuk Zio sambil tersenyum mengejek kearah Mentari.
Mentari mendengus, "Makasih! Tapi sorry gue nggak butuh!" sarkas Mentari.
"Oih … itu yang dinamakan ucapan terima kasih? Berterima kasihlah dengan benar, hemm. Lu belum lupa 'kan caranya berterima kasih sama gue seperti waktu kita pacaran dulu," ucap Zio sambil menatap Mentari dengan senyum yang terus menghiasi wajah tampannya.
Mentari mengangguk-anggukan kepalanya, ia kemudian menatap Zio sambil tersenyum manis. Ia berdiri dan mendekati Zio yang masih duduk manis sambil menatap Mentari. Mentari pun membungkuk menatap Zio dengan wajah yang ia dekatkan dan kemudian …
Cletakk …
Zio langsung meringis memegangi bibirnya yang baru saja disentil oleh Mentari.
"Itu ucapan terima kasih dari gue. Dasar modus! Casanova sialan! Berani ya lu cium dan peluk gue kayak tadi. Makan tuh, ucapan terima kasih dari gue, bye!"
"Mentariiiii!!!!"
__ADS_1