CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 113


__ADS_3

Juan tidak meneruskan kata-katanya karena baginya itu tidak penting untuk dibahas. Ia akan mengajukan protes pada kakaknya karena sudah menjadikannya sopir dadakan. Setelah misi Mentari selesai, Juan akan pergi ke luar negeri saja untuk melanjutkan studinya. Ia juga ingin bisa seperti Zio agar kelak wanita yang menjadi istrinya bisa ia berikan kenyamanan hidup.


Mentari yang mengerti akan sifat dan sikap Juan pun tidak lagi mempermasalahkannya. Ia tahu seperti apa seorang Juan,dingin dan tidak banyak bicara. Ia tidak ingin membuat adik iparnya itu tidak merasa nyaman. Apalagi Juan sudah mengabaikan pekerjaannya dan lebih memilih menemaninya, Mentari tidak ingin apapun lagi.


Nanti biar gue yang berikan Lidya pengertian, dia jangan sampai jatuh cinta kepada Juan, gumam Mentari dalam hati.


Acara jalan-jalan hari ini telah selesai dan mereka kembali ke rumah ketika senja hampir berlalu. Juan langsung berpamitan pulang dan Lidya sedari tadi hanya terus memikirkan ketampanan Juan serta sikap dinginnya.


Mentari mengajak Lidya masuk. karena rumah Mentari memiliki tiga kamar, Lidya bisa menempati kamar tamu selama yang ia inginkan. Barang-barang Lidya juga sudah berada disana karena tadi saat Mentari meninggalkannya untuk pergi ke kantor Bright, Lidya sudah sempat beristirahat di kamar tersebut.


Mentari mengajak Lidya duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan wajah adiknya ini yang sebenarnya sangat cantik, hanya saja penampilan Lidya terlalu unik dan mungkin ini yang membuat Juan tak nyaman dengannya.


"Dya, kamu suka beneran sama Juan?" tanya Mentari memastikan.


Lidya tersenyum malu sambil mengangguk pelan kepalanya. Hal tersebut membuat Mentari sedikit frustrasi dan juga kasihan pada adiknya ini. Juan jelas sekali tidak menyukainya dan ia tidak akan membiarkan adiknya ini patah hati.


"Jangan menyukainya, sayang. Dia sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah. Apakah adik kakak ini ingin menjadi pelakor?"


Terpaksa Mentari berbohong, ia harus membuat Lidya melupakan perasaannya agar adiknya itu tidak semakin tertarik pada Juan seperti dirinya waktu itu. Juan belum memiliki kekasih dan tidak mungkin menjadikan Lidya sebagai kekasihnya. Mentari tidak ingin kedatangan adiknya ke kota ini justru membuatnya patah hati.


"Oh ya, Kak? Wah ternyata sopir kakak sudah mau sold out ya," ucap Lidya dengan suara lirih. Ia langsung patah hati pada sopir tampan sang kakak.


"Sopir?"


Mentari sempat bingung hingga akhirnya ia tertawa karena teringat ia mengenalkan Juan sebagai sopirnya. Lidya yang melihat kakaknya ini tertawa justru merasa heran.

__ADS_1


"Ada yang lucu, Kak?"


Mentari menghentikan tawanya, ia tidak ingin membuat Lidya kebingungan tapi juga ia tidak ingin menjelaskan kepada adiknya jika Juan itu bukanlah seorang sopir melainkan adik iparnya yang sedang cosplay menjadi bodyguard.


"Kakak cuma lagi teringat sama film yang tadi kakak nonton. Lucu banget deh, makanya kakak teringat terus," jawab Mentari yang dalam hatinya berharap semoga Lidya bisa menerima jawabannya yang terkesan ambigu.


Lidya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia kemudian memasang kembali tampang sedihnya. Ia teringat akan Juan yang sudah membuat hatinya berdesir, jantung yang berdebar-debar, namun sayang sekali pria itu sudah dimiliki oleh seseorang dan dia datang terlambat.


Melihat wajah murung adiknya semakin membuat Mentari merasa bersalah. Akan tetapi jauh lebih baik jika saat ini Lidya merasakan sakitnya patah hati di awal pertemuan, daripada nanti ketika ia sudah semakin berharap pada Juan lalu harapannya itu dipupuskan oleh pria yang terkesan begitu dingin dan sangat tertutup itu.


Mentari menepuk pelan bahu Lidya, ia kemudian berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Malam ini Zio akan datang karena rencana keluar kota itu hanyalah alasan saja untuk mengelabui Dini. Mentari harus bersiap menyambut kepulangan suaminya itu.


Setelah Mentari keluar, Lidya kemudian berdiri dan duduk di depan meja rias kecil. Ia lalu membuka kacamatanya dan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Apa karena penampilanku?" gumamnya kemudian ia mencari handuknya untuk segera mandi.


Mentari dan Maya sudah menunggu kedatangan Lidya untuk makan malam bersama. Gadis itu keluar dengan pakaian santai dan tak lupa rambutnya di kepang dua dengan kacamata yang masih setia membingkai wajahnya.


"Ayo sini sayang, kita makan bersama," ajak Maya.


Dengan senang hati Lidya ikut duduk dan menikmati makan malam bersama. Ketiganya terlibat perbincangan hingga akhirnya Lidya menanyakan tentang suami Mentari. Ia sangat penasaran dengan sosok pria yang menikahi kakak sepupunya ini tanpa acara resepsi dan mereka bahkan tidak bisa menghadiri.


Mendengar kabar sang kakak sudah menikah tentu membuat Lidya dan orang tuanya sangat syok. Mereka hendak mendatangi Maya dan Mentari akan tetapi keduanya sangat sibuk di kampung untuk mengurus sawah dan ladang.


"Dia orangnya baik, kok. Nanti juga akan pulang. Dia sangat sibuk sehingga pulangnya larut malam," ucap Mentari menjelaskan pada Lidya dan adiknya itu hanya menganggukkan kepalanya saja.

__ADS_1


Setelah makan malam bersama, Mentari langsung memberikan peralatan makan mereka sedangkan Maya langsung ke ruang makan dan Lidya membantu Mentari. Keduanya mengerjakan dengan cepat dan setelah semuanya beres, Mentari kembali ke kamarnya untuk memeriksa pekerjaannya dan juga mencaritahu kabar suaminya.


Lidya kembali ke kamarnya dan hanya bermain ponsel saja tanpa ada kegiatan yang berarti.


Ketika malam semakin larut dan Zio tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang serta pesannya yang tidak dibalas itu membuat Mentari semakin mengantuk saja. Ia mencoba menahan kantuknya tetapi ia gagal hingga ia tertidur lelap sambil memeluk ponselnya.


Pukul dua belas malam, Lidya terbangun dan merasakan sangat haus. Ia keluar hanya dengan mengenakan gaun tidur yang cukup tipis serta rambutnya terurai indah dengan tanpa kacamata yang melengkapi penampilannya.


Bertepatan dengan itu, Zio baru saja sampai dan masuk ke dalam rumah. Ia tidak sengaja menangkap selulit Mentari yang terlihat sangat seksi malam ini. Dengan mengendap-endap Zio berjalan ke arah dapur dan ketika wanita itu sedang meneguk air minumnya, Zio pun segera memeluknya dari belakang.


"I miss you honey," ucapnya.


"Huaaaaa ... toloongg!!"


Zio terkejut karena ternyata wanita yang ia peluk bukanlah Mentari dan sialnya wanita ini justru menangis kencang hingga membuat Mentari keluar dari kamar dalam keadaan masih mengumpulkan kesadarannya. Ia bergegas ke arah sumber suara yang menurutnya datang dari dapur


"Ada apa? Loh Lidya, Zio ...."


Zio kebingungan entah harus menjelaskan apa sedangkan Lidya masih menangis karena dipeluk sembarangan. Zio hanya bisa berkata jika dia tidak melakukan apapun pada Lidya karena ia salah mengira.


Lidya menatap Zio yang terlihat sedih karena Mentari justru fokus pada Lidya daripada dirinya.


"Aku pikir tadi itu kamu," ucap Zio memberi alasan.


Mentari hanya menatapnya sekilas kemudian ia beralih pada penampilan Lidya yang benar-benar berbeda.

__ADS_1


"Lidya, pakaian apa yang kamu kenakan ini?" pekik Mentari yang tidak suka melihat adiknya berpakaian seperti ini karena ia tahu betul gaun tidur ini adalah pakaian yang bisa memancing syahwat para pria ketika memandangnya.


"I-ini ...."


__ADS_2