CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~43


__ADS_3

Dini yang merasa kesal karena panggilannya diabaikan oleh Zio pun tak putus asa, ia kembali menelepon Zio dan Mentari lagi-lagi memperlihatkan pada Zio jika Dini kembali menelepon.


Ya udah angkat aja yang dari pada ribut atau sekalian nikmatin aja revansanya daripada dia benar-benar tidak ingin barusan dengan dini.


Mentari pun memberanikan diri untuk menjawab panggilan tersebut ia mengaktifkan loudspeaker ponsel Zio.


"Halo beb, lu dimana? Ketemuan yuk!" ucap Dini begitu girang saat tahun shio mengangkat panggilannya.


"Ini bukan beb!" jawab Mentari dengan wajah datar, sebenarnya ia tidak marah pada Zio melainkan marah kepada Dini. Hanya saja karena ia sedang menatap Zio, kekasihnya itu justru merasa jika saat ini Mentari sedang marah padanya.


Dini mengerutkan dahinya, ua kemudian memeriksa kembali ponselnya dan memang benar di sana ia menelepon Zio dia tidak salah menekan nomor telepon.


"Lu siapa? Kenapa lu angkat telepon Zio? Kemana Zio, kasih ponselnya ke dia. Gue mau bicara!" cecar Dini, ia merasa kesal karena tahu yang mengangkat teleponnya bukan Zio melainkan seorang wanita.


"Gue di sini. Lu nggak perlu nyari gue, lagian yang lagi jawab telepon lu itu cewek gue. Lu mau kenalan nggak sama dia atau lu pengen ketemuan gitu sama cewek gue? Sekalian biar kalian saling ketemu biar lu sadar kalau gue itu nggak suka sama lu!" tandas Zio yang membuat Dini merasa tertohok.


"Tapi Zio, lu nggak bisa giniin gue dong. Gue juga cinta sama lu dan --"


"Kalau orangnya udah nggak mau ya jangan diganggu. Jadi perempuan malam dikit!" ucap Mentari kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.


Mentari menatap jengah kepada Zio, sedangkan Zio hanya bisa menatap memelas pada Mentari yang saat ini sedang marah.


Harusnya tari nggak usah suruh Mentari yang angkat biar gue nggak kena dampaknya. Dasar Dini sialan! Awas saja kalau ketemu, gue bakalan kasih pelajaran bia tobat dan nggak gangguin gue lagi.


Mentari terus mendiamkan Zio, bahkan sampai di kantor tetap saja Mentari tidak ingin membuka suara pada Zio walaupun sudah berbagai macam gombalan yang ia berikan kepada kekasihnya itu. Mentari tetap saja sama, dingin seperti kulkas sepuluh pintu.


"Salah lagi, salah lagi. Jujur salah, gak jujur salah. Nurut diomelin, nggak nurut dianya merajuk. Hadehh ... nasib jadi laki-laki yang selalu saja serba salah!" oceh Zio yang membuat bibir Mentari berkedut hampir tertawa namun masih bisa ia tahan.


Ramon yang tak sengaja mendengar ucapan Zio, dalam hati ia membetulkan. Walaupun ia tidak mengalami masalah percintaan seperti Zio, tetapi memang yang dikatakan tuannya ini memang benar.


"Ya udah deh Yang, lu semangat kerja deh. Nanti jangan lupa kita makan siang. Lu ada bawa 'kan bekalnya?" tanya Zio sambil mengusap rambut Mentari.


"Iya ada. Mendingan sekarang masuk ke ruangan lu sekaran. Gue lagi nggak mood lihat muka lu. Suara ocehan lu bikin gue pusing dan enek juga lihat lu cengar-cengir kayak gitu. Bawaannya gue pingin makan orang!"


Mata Zio terbelalak mendengar ucapan Mentari barusan. Dan beberapa saat kemudian ia langsung menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Ia pun berlalu masuk ke dalam ruangannya agar tidak semakin terkena dampak amukan Mentari.


Saat ini Mentari dan Zio masing-masing sedang mengerjakan pekerjaan mereka dengan serius, sesekali Zio menghubungi Mentari untuk membawakan beberapa berkas yang ia butuhkan.


Mentari memang akan selalu bersikap profesional dalam masalah apapun jika itu mengenai pekerjaan, ia mengantarkan dokumen yang dibutuhkan Zio dan bersikap biasa saja seolah mereka tadi tidak sedang marahan.


Zio sendiri tersenyum, ia salut dengan Mentari yang mampu bersikap profesional saat mereka sedang bekerja. Hanya ia saja yang kadang-kadang tidak bisa mengontrol dirinya walaupun di jam kerja Ia tetap menganggap Mentari sebagai pasangannya bukan sekretarisnya.


Jam makan siang pun tiba, Zio langsung menelepon Mentari dan memintanya untuk masuk ke dalam ruangannya dan mereka akan makan siang bersama.


Mentari yang saat ini sudah tidak lagi marah kepada Zio langsung menuruti keinginan kekasihnya itu. Lagi pula ini hari pertama mereka jadian, tidak mungkin mereka lalui dengan drama pertengkaran seperti yang sudah-sudah.


Zio tersenyum manis begitu Mentari memasuki ruangannya. Ia kemudian berpindah duduk di sofa dan mengajak Mentari untuk duduk bersama di sana. Tak lupa Ia menyiapkan air minum untuk Mentari karena memang Zio adalah orang yang selalu menyediakan air mineral kemasan di dalam ruangannya.


"Hmm ... sepertinya enak," ucap Zio begitu Mentari membuka bekal makanannya.


Mentari hanga tersenyum kecil menanggapi ucapan Zio, kemudian dengan telaten ia memindahkan makanan tersebut ke salah satu wadah yang memang sengaja ia bawa. Zio sendiri langsung protes begitu Mentari memberikannya makanan terpisah.


"No sayang! Kita makan di wadah yang sama, lu suapin gue nanti gue gantian suapin lu," ucap Zio dan Mentari hanya bisa memutar bola matanya jengah.


Walau begitu, Mentari menurut saja dengan keinginan kekasihnya ini. Zio begitu manja padanya, dan kali ini menunjukkan Zio yang sama sejak dulu mereka berpacaran. Zio yang selalu manja dan bersikap kekanak-kanakan setiap kali bersamanya.

__ADS_1


Saat keduanya tengah menikmati makanan, kembali ponsel Zio berdering dan di sana tertera nama Dini yang meneleponnya.


"Sialan nih cewek, mending blokir aja deh!" ucap Zio kemudian dia menolak panggilan dari Dini lalu ia mencari kontaknya dan langsung ia blokir di hadapan Mentari.


"Kenapa nggak sama dia aja? Kayaknya dia cinta mati sama lu. Harusnya lu senang dong ada cewek yang tergila-gila sama lu," celetuk Mentari yang sebenarnya dalam hati ia merasa menang karena Zio mengabaikan wanita lain demi dirinya.


"Ya itu karena gue udah punya pilihan gue sendiri. Dari dulu dan sampai nanti hanya lu yang gue mau Mentari Ramadhani binti Ramadan," ucap Zio yang kemudian membuat Mentari mengerucutkan bibirnya.


Keduanya pun kembali melanjutkan acara makan siang mereka, Zio begitu lahap menyantap makanannya karena makan langsung disuapi oleh Mentari.


"Kalau begini tiap hari, bisa-bisa gue gendut," ucap Zio setelah ia merasa benar-benar kenyang menghabiskan makanan yang dibawa oleh Mentari sedangkan Mentari hanya bisa makan sedikit.


"Lu kenyang gue kelaparan," celetuk Mentari namun Ia hanya sekadar bercanda saja. Ia sudah sangat senang melihat Zio begitu lahap menyantap makanannya. Ada sensasi berbeda ketika melihat orang yang ia cintai menyukai masakannya.


"Hehehe masakan lu enak banget Yang, bikin gue nagih dan nggak sadar udah ngabisin banyak makanan sampai lu cuma dapat sedikit doang," ucap Zio sedikit merasa bersalah.


Seperti itulah keseharian keduanya selama jam makan siang. gara-gara pacar yang membawakan makan siang dan kadang-kadang boleh shio yang membawa makanan yang ia pesan dari restoran favoritnya.


.


.


Tak terasa waktu yang Mentari butuhkan untuk pindah ke perusahaan Mawar itu hampir sampai, bahkan Mawar sudah beberapa kali menghubunginya untuk menanyakan kejelasan apakah Mentari benar-benar akan jadi pindah ke perusahaannya atau tidak.


Namun Mentari yang sedang sayang-sayangnya dan mesra-mesranya dengan Zio jadi tidak tahu harus beralasan apa kepada Mawar selain ia berkata surat resign-nya belum diterima dan ia masih memiliki pekerjaan yang harusnya selesaikan sebelum ia keluar dari perusahaan lamanya.


"Siapa yang menelepon?" tanya Zio mengagetkan Mentari.


"Teman gue, mau ngajakin nonton bareng," jawab Mentari asal.


"Pantas saja dari tadi gue tungguin buat makan siang di dalam tapi lu nggak datang-datang, ternyata lagi sibuk teleponan. Cewek atau cowok tuh?" tanya Zio dengan mata yang menatap tajam kepada Mentari.


Zio terkekeh, ia kemudian mengajak Mentari untuk masuk ke dalam ruangannya karena dirinya sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu makan siang bersama Mentari.


Baru saja Mentari akan masuk bersama Zio, di belakang mereka ada dua orang wanita dengan usia mereka yang berbeda memanggil nama Zio.


"Zio."


"Beb."


Zio dan Mentari sama-sama berbalik badanku, Zio terkejut karena melihat kedatangan maminya dan juga Dini di perusahaan ini.


"Mami!"


Zio yang memanggil wanita itu dengan sebutan mami sontak membuat Mentari menjadi gugup sendiri. Ia bahkan lupa memperhatikan wanita cantik dan modis di samping wanita yang disebut mami itu.


Jadi ini calon mertua gue? Cantik banget ya, dan walaupun usianya kayaknya lebih tua dari mama, tapi penampilannya masih kayak ibu-ibu muda.


Zio mencium tangan maminya, kemudian wanita itu menatap Mentai dan Mentari yang disikut pelan oleh Zio pun langsung mencium punggung tangan wanita itu.


"Selamat siang nyonya," sapa Mentari.


Nyonya Lolita membalas sapaan Mentari, ia tersenyum hangat kepada Mentari. "Sekretaris baru ya?" tanya Lolita.


Mentari kemudian mengangguk, "Iya Nyonya, baru satu bulan," jawabnya.

__ADS_1


"Zio memang tidak salah memilih sekretaris, selalu saja semuanya berwajah cantik. Tapi yang ini kayaknya cantik alami, di mana sih Zio menemukan kamu?" goda nyonya Lolita.


Mentari menundukkan wajahnya mencoba untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Mi, kok malah muji sekretarisnya ini? Aku aja calon istrinya Zio nggak dipuji-puji," protes Dini yang langsung membuat Zii mengepalkan tangannya dan menatap tajam kepada Dini, sedangkan Mentari langsung mendongakkan kepalanya menatap Dini.


"Lu jangan sembarangan ngomong!" bentak Zio.


"Ya emang benar, 'kan? Kita sebentar lagi bakalan nikah karena kita berdua itu udah dijodohin sama kakek Rasyid. Iya 'kan Mi?" ucap Dini tak mau kalah dan iya mencari pembenaran dari Lolita.


"Iya, ini juga kita datang mau bahas tentang pertunangan kalian," sahut Lolita yang membuat hati Mentari terasa panas.


Zio langsung mencari-cari tangan Mentari untuk ia genggam tetapi ternyata wanita itu sudah menyembunyikan tangannya jauh dari Zio.


"Mi! Zio nggak mau dijodohin ya! Zio udah punya Mi, udah punya gadis pilihan Zio sendiri," protes Zio. "Zio nggak mau pokoknya dijodohin sama Dini," imbuhnya.


"Kenapa tidak mau?"


Suara menggelegar itu membuat Zio menatap ke depan dan ia melihat sosok kakeknya sedang berjalan sambil dipapah oleh Juan.


Mentari yang menyaksikan pertemuan keluarga yang tengah membahas pertunangan kekasihnya itu merasa dongkol. Ia berada di tengah-tengah keluarga Rasyid dan ia adalah kekasih Zio tetapi mereka justru membawa wanita lain yang hendak ditunagkan dengan Zio.


Ramon hanya bisa menatap iba pada Mentari yang saat ini sedang berusaha menguatkan dirinya. Ia tahu jika Mentari dan Zio sudah kembali bersama namun karena Zio sudah dijodohkan, sepertinya nasib kisah cinta mereka tidak akan berjalan lancar.


Juan pun menatap iba pada Mentari, ia tahu pasti saat ini hati Mentari sangat hancur. Ia tahu Mentari sangat mencintai Zio begitupun sebaliknya. Tetapi tidak ada yang bisa membantah ucapan kakek Rasyid selama ini sehingga Zio hanya bisa pasrah saja menghadapi keputusan pria tua itu.


"Sebaiknya kita masuk dan berbicara di dalam," ucap kakek Rasyid.


Mentari berusaha menyingkir namun dengan cepat Zio menarik tangannya. "Dia Mentari, kekasih Zio dan juga calon istri Zio. Zio nggak mau dijodohin karena Zio udah punya pilihan sendiri!" ucap Zio dengan berani, sedangkan Mentari hanya bisa menundukkan kepalanya merasa takut dengan tanggapan seperti apa yang akan diberikan oleh keluarga Mentari.


Lolita, kakek Rasyid dan Dini begitu terkejut mendengar pengakuan Zio. Tak ingin perdebatan mereka ini dilihat oleh orang luar, kakek Rasyid meminta mereka untuk masuk ke dalam ruangan Zio. Tangan Zio menggenggam erat tangan Mentari hingga akhirnya kakek Rasyid setuju untuk memasukkan Mentari ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan kini mereka saling memandang. Hanya Mentari yang terus menundukkan kepalanya. Ia benar-benar gugup dan takut mendapat penolakan. Jika hanya ditolak itu tidak masalah, yang ia khawatirkan adalah pandangan buruk dari keluarga Zio terhadapnya.


"Kenapa kau menyukai cucuku?" tanya Rasyid to the point.


"Pertanyaan seperti apa itu kakek?" sergah Zio.


"Aku tidak bertanya padamu! Kau diam saja!" sentak kakek Rasyid.


Zio membuang muka dengan perasaan kesal, ia sangat tidak suka dengan pertanyaan kakeknya yang seperti itu kepada Mentari. Harusnya yang ditanyakan adalah dirinya karena selama ini ia yang mengejar-ngejar Mentari bukan sebaliknya.


"Saya mencintainya," jawab Mentari memberanikan diri.


"Apa yang membuatmu mencintainya?" tanya kakek Rasyid lagi.


untuk beberapa saat Mentari tidak paham dengan maksud pertanyaan kakek Rasyid namun setelah ia memikirkannya perlahan akhirnya ia tahu ke mana arah dan tujuan pertanyaan tersebut.


"Apakah Anda mengatakan jika saya mencintai Zio karena dia adalah atasan saya dan dia memiliki banyak harta?" tandas Mentari.


Kakek Rasid tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Kau adalah sekretaris baru dan tidak mungkin Zio akan langsung jatuh cinta kepadamu jika saja kalian berdua tidak ada sesuatu dibalik sesuatu. Dan aku sangat mengenal cucuku. Dia adalah seorang pemain wanita yang handal dan bukan tidak mungkin kau sudah menjadi salah satu korbannya," ucap kakek Rasyid begitu pedas di telinga Mentari.


Mentari tersenyum kecut, "Saya pikir anda adalah orang besar tapi ternyata saya salah. Anda adalah orang yang sangat dituakan dan anda memiliki derajat yang cukup tinggi di mata masyarakat, tetapi ternyata pikiran anda sempit. Tidak selamanya cinta itu tentang harta dan tidak selamanya ketika kita mencintai seseorang itu karena sesuatu dibalik sesuatu," ucap Mentari tak mau kalah.


Seperti sebelum-sebelumnya, Mentari adalah orang yang tidak ingin harga dirinya diinjak-injak oleh seseorang sekalipun orang itu adalah presiden.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan tersebut tentu saja terkejut dengan ucapan Mentari barusan, apalagi itu langsung sarkas kepada sang kakek yang sangat mereka segani.


"Permisi, sepertinya saya sudah tidak dibutuhkan lagi di ruangan ini. Dan ya, semua manusia di bumi ini membutuhkan sesuatu untuk bisa bertahan hidup tetapi bukan berarti itu menjadi prioritas mereka dalam mendapatkan sesuatu. Terkadang kita perlu melihat ke bawah untuk tahu jika kebanyakan orang-orang yang berstatus rendah dibawa anda memiliki hati yang murni. Berbeda dengan orang-orang yang memiliki status sosial tinggi, kebanyakan lingkungan persahabatan mereka dan kekerabatan mereka hanya berputar tentang harta dan tahta saja. Permisi!"


__ADS_2