CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~92


__ADS_3

Mentari tidak jadi mengeluarkan amarahnya. Ingin protes dan membatalkan tapi sudah terlambat karena sekarang ia sudah berstatus sebagai istri dari Dimas Ezio Rasyid. Sebenarnya ini adalah hal yang membuat Mentari senang akan tetapi cara Zio itu begitu ekstrim dan Mentari tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Zio bahkan tidak melamarnya secara pribadi dan mungkin sudah melamar langsung kepada mamanya. Tetapi semua ini benar-benar membuat Mentari hilang akal.


Biarlah, nanti akan aku balas setelah acara ini selesai, gumam Mentari dalam hati.


Setelah satu jam berlalu, para tamu undangan pun sudah bergegas kembali ke rumah mereka dan ada beberapa ibu-ibu yang tinggal untuk membantu membereskan rumah namun semua itu tentu tidak gratis karena Zio sudah memberikan mereka bayaran untuk pekerjaan mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Mereka dengan senang hati melakukannya sebab bayaran yang Zio berikan sangat besar.


Di dalam kamar, Mentari baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah selesai berganti pakaian. Zio pun sudah membuka jasnya dan kini hanya memakai kaos oblong berwarna putih serta celana selutut. Ia tersenyum manis pada Mentari sebab sejak tadi otaknya sudah bekerja dan terus berfantasi liar dengan malam pertama mereka.


Mentari duduk di depan meja rias, ia menatap Zio dari pantulan cermin. "Kenapa senyam-senyum? Jangan harap ya kalau malam ini bisa tidur bareng aku. Sekarang kamu keluar dan ikut sama bapak-bapak hansip buat patroli," ucap Mentari yang kemudian berjalan mendekati Zio di tempat tidur. "Tadi aku udah bilang sama mereka buat nungguin kamu. Dan kalau kamu menolak maka aku nggak akan pernah mau disentuh sama kamu, titik!"


Glukk ...


Zio menatap ke arah bawah tepat di mana juniornya berada, membayangkan tidak akan diberikan jatah oleh Mentari jika ia tidak menuruti keinginan istrinya itu, langsung membuat Zio panik. Ia sudah sangat lama menjaga Mentari walaupun dia sangat ingin menyentuhnya sejak mereka pacaran dulu, sejak masih di bangku kuliah dan ketika sudah sah menjadi suami istri lalu ia tidak diizinkan untuk menyentuh, tentu saja Zio tidak mau!


Akan lebih baik menurutnya jika ia mengikuti keinginan Mentari untuk ikut patroli malam ini. Toh hanya sampai jam dua malam saja dan setelah itu ia akan segera kembali ke rumah.


Eh bukannya jam begitu si boy lebih sering bangun sendiri ya? Wah ... Tari sepertinya udah tahu kapan gue on fire. Baiklah, malam ini patroli dulu dan pulangnya dapat bonus unboxing istri. Ah ... senangnya. Nikmat mana lagi yang gue dustakan. Dalam masalah yang membelit ini justru hikmahnya gue nikah sama Tari. Gue emang beruntung dan kayaknya gue harus sedekah banyak-banyak nih sebagai bentuk rasa syukur gue.


Melihat Zio yang justru senyam senyum membuat Mentari bergidik ngeri. Ia yakin sekali pasti saat ini Zio sedang memikirkan hal mesum. Ia harus siaga, malam ini akan harus memperjuangkan gelar keperawanannya karena ia tidak siap disentuh Zio selagi masih ada masalah bersam Dini yang membelitnya.


"Nggak usah ngerencanain hal yang aneh-aneh, sekarang mendingan kamu keluar karena nggak enak juga sama mereka yang udah nungguin kamu dari tadi," ucap Mentari dengan ketus.

__ADS_1


"Iya istriku," sahut Zio yang membuat pipi Mentari memerah dan secepat kilat Zio mengambil satu kecupan di pipi Mentari kemudian ia menyodorkan tangannya untuk dicium oleh sang istri tercinta.


Setelah Zio menutup pintu kamar, Mentari tersenyum puas. Ia segera mengunci pintu kamar dan juga jendela. Ia tidak ingin kecolongan dan sebagai hukuman untuk Zio karena sudah merencakan pernikahan dadakan yang luar biasa ekstrem ini, Zio harus bersedia ikut patroli dan satu hal yang lelaki itu tidak tahu, Mentari menginginkan agar ia tidur di luar saja.


.


.


Empat hansip ditambah Pak Sahril dan juga Zio saat ini sedang berkeliling perumahan untuk menjalankan tugas mereka. Zio merasa senang karena ini adalah pengalaman pertamanya dan sekaligus ia bisa ikut membaur bersama masyarakat di lingkungan Mentari. Bagi Zio, ini adalah satu bukti bahwa ia tidak memikirkan tentang strata sosial dan juga untuk menunjukkan pada Mentari bahwa ia bisa menjadi pria dari kalangan biasa saja seperti yang selama ini Mentari harapkan.


Ada berbagai hal yang mereka bicarakan saat berkeliling, terutama tentang pernikahan Mentari dan Zio tadi. Terdengar gelak tawa pak Sahrul ketika mendengar cerita dari Zio dan juga keempat hansip itu bagaimana Zio memaksa dinikahkan.


Zio dan yang lainnya juga kembali ikut tertawa, ia sendiri memang merasa rencananya ini begitu menyimpang dari yang lainnya. Bahkan tadi Ramon yang ia mintai tolong untuk mengurus semuanya berkali-kali mengatakan jika ini adalah rencana paling aneh yang pernah Ramon lihat dan dengar.


"Anda sudah gila ya, Tuan? Saya baru pertama kali melihat orang minta digrebek hansip buat nikah. Saya yakin nona Mentari pasti akan marah besar jika tahu Anda menikahinya dengan cara yang tidak wajar."


Seperti itulah tadi Ramon mengemukakan pendapatnya terhadap rencana Zio. Namun karena ia sudah kebelet nikah, Zio tidak peduli dan membiarkan saja orang lain akan berkata apa.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di pos hansip dimana biasanya banyak warga yang datang berkumpul untuk ikut meronda. Enam orang tersebut pun duduk sambil menunggu Pak Hajar menyeduh kopi.


"Pak Zio akan tidur disini bersama kami atau pulang nih?" tanya pak Rudi.

__ADS_1


"Ya tentu saja dia akan segera pulang, Pak. Ini 'kan malam pertamanya dan mana mungkin dibiarkan berlalu begitu saja. Harusnya Pak Zio tidak ikut kami meronda malam ini. Ini 'kan malam pengantin Anda, jika bisa segeralah pulang. Kasihan neng Tari pasti nungguin," timpal Pak Sahar.


Andai mereka tahu ini tuh hukuman buat gue. Tari mana mungkin nungguin gue. Tapi yang mereka bilang tuh ada benarnya, gue harus pulang dan malam pertama yang sakral ini nggak boleh gue lewatin begitu aja.


"Tidak masalah, Pak. Lagi pula Tari itu pasti belum siap karena saya cium saja eh malah kena tampar. Gimana mau di nina-ninu, Pak. Jangan-jangan punya saja ditendang," curhat Zio.


Kelima pria paruh baya itu terkejut mendengar ucapan Zio. Mereka sama-sama langsung membayangkan bagaimana milik Zio yang sedang tegang mendapatkan tendangan dari Mentari. Mereka kesulitan menelan salivanya dan mereka memberikan berbagai saran pada Zio agar Mentari tidak melakukan perlawanan saat Zio hendak mengambil haknya.


Mereka belum tahu saja kalau gue ini udah banyak pengalaman dan udah khatam sama dunia peranjangan dibandingkan mereka. Hanya saja gue sangsi bisa naklukin Mentari malam ini.


Setelah hampir setengah jam berbincang-bincang di pos ronda, Zio pun berpamitan pulang. Dengan perasaan yang begitu senang Zio masuk ke dalam rumah dan wajahnya yang tadinya penuh dengan kebahagiaan itu langsung datar cenderung murung karena ia mendapati pintu kamar Mentari terkunci dari dalam.


"Jangan bilang Tari sengaja kunci pintunya biar gue nggak bisa masuk dan unboxing dia ..."


Mata Zio membulat sempurna, ini tidak sesuai dengan harapannya karena malam pertama yang harusnya dilewati dengan begitu panas dan banyaknya peluh bercucuran hanya tinggal kenangan. Zio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan berniat untuk tidur di sofa.


"What? Bahkan Tari emang udah berencana buat bikin gue tidur di luar," pekik Zio saat ia mendapati bantal dan juga selimut yang berada di sofa.


Sedangkan di dalam kamarnya, Mentari yang memang masih belum tertidur kini tengah tersenyum puas. Rasanya ia ingin tertawa akan tetapi ia takut didengar oleh Zio.


"Rasain. Makanya jangan gila kayak gini dong. Tapi ya mau bagaimana lagi, gue sama dia udah sah. Nggak bisa lagi di batalin dan kita udah terikat pernikahan. Besok atau lusa gue emang harus tetap memberikan hak Zio dari tubuh gue. Hahh ... maafin aku Zio, malam ini aku belum siap menjadi milik kamu seutuhnya," lirih Mentari sambil menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2