CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~56


__ADS_3

Zio nampak sangat tampan malam ini, ia tidak kembali ke rumahnya melainkan pulang ke apartemennya. Ia masih belum siap bertemu sang kakek apalagi harus membahas perjodohannya bersama Dini. Ia menolak keras dan berharap dengan keputusannya yang tidak pulang akan membuat sang kakek sadar jika ia benar-benar tidak ingin dijodohkan.


Zio mengedipkan sebelah matanya di depan cermin, tersenyum manis menatap pantulan dirinya yang sangat tampan mempesona.


"Ck! Pantas banyak cewek-cewek berbaris teratur buat jadi pacar gue ataupun pasangan one night stand, ternyata gue setampan ini," ucapnya pada pantulan dirinya di depan cermin. Sungguh sangat parah tingkat kepercayaan diri pria ini.



Setelah selesai bersiap, Zio pun bergegas keluar dari kamar dan menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas meja ruang tamu.


Mata Zio membulat sempurna saat ia membuka pintu dan yang pertama kali ia lihat adalah wanita yang sedang ia hindari. Entah darimana ia menemukan alamat apartemen Zio. Yang pasti saat ini Zio yakin ia akan terlambat datang ke rumah Mentari.


Sial! Merusak mood saja!


Zio mengumpat dalam hati, ia menghela napas kasar saat melihat Dini tersenyum manis padanya. Bahkan wanita itu tak tanggung-tanggung langsung menyentuh dada bidang Zio.


"Lu tahu aja gue mau datang. Yuk jalan, gue udah dikasih tahu sih sama kakek Rasyid kalau kita bakalan dinner malam ini," ucap Dini sambil tersenyum menggoda namun sialnya Zio sama sekali tidak tergoda.


Zio kini paham, Dini bisa berada disini karena sang kakek. Ingin mengutuk pria tua itu namun sayang sekali dia adalah kakek Zio.


"Jangan mimpi! Mending lu pergi dari sini atau gue perlu pakai kekerasan buat nyuruh lu pergi?" ancam Zio, ia muak dan tidak ingin bersikap manis pada Dini. Lebih baik ia bersikap kasar dan blak-blakan seperti Mentari agar Dini tahu jika ia tidak menginginkan kehadirannya ataupun acara dinner mereka yang diatur oleh sang kakek.

__ADS_1


Zio langsung menutup pintu apartemennya, ia tidak peduli dengan Dini ataupun sang kakek. Zio bahkan sudah keluar dari rumah dan menunjukkan kepada sang kakek kalau ia benar-benar melakukan protes namun sayang sekali bukannya paham dengan tindakan Zio tersebut, sang kakek justru semakin gencar menjodohkannya dengan Dini.


Dini terus mengikuti Zio bahkan sampai ke dalam lift. Sumpah demi Tuhan, ingin sekali Zio mematahkan kaki wanita ini agar tidak bisa berjalan dan berhenti mengejarnya. Zio masih mengingat bahwa Dini adalah seorang wanita terlebih dia adalah cucu dari sahabat kakeknya. Zio tidak akan bertindak gegabah kecuali ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Zio, lu nggak bakalan bisa lari dari perjodohan kita. Kakek lu bakalan coret nama lu dari kartu keluarga dan bakalan bikin lu jadi gelandangan kalau sampai lu tetap keukeuh nolak gue," ucap Dini membuka percakapan lagi karena sejak tadi Zio tidak mengeluarkan suara ataupun bergerak.


Zio menatap horor pada Dini, "Lu nggak lihat bahkan gue udah keluar dari rumah dan tinggal di tempat gue sendiri. Lu pikir gue peduli sekalipun gue nggak punya harta, enggak!! Gue mending nggak punya apa-apa daripada harus nikah sama lu!" tandas Zio.


Dini terbelalak, ia tahu dari cerita kakek jika Zio tidak tinggal bersama mereka melainkan di apartemen. Hanya saja ia tidak tahu ternyata Zio tinggal di apartemen karen menolak keras perjodohan mereka. Bahkan, Zio tidak ragu jika saja semua aset miliknya diambil kembali oleh sang kakek.


Ini tidak bisa dibiarkan, Zio harus mau dijodohkan sama gue. Gue masih suka sama dia, gue masih cinta dan yang pasti di negara ini cuma Zio yang pantas jadi suami gue. Gue nggak peduli dia cinta atau enggak sama gue. Asalkan kita menikah, bodoh amat sama cinta Zio. Gue hanya mau dia jadi suami gue.


"Zio, jangan ngomong gitu. Emang rasa cinta lu yang dulu itu nggak bersisa sedikitpun?" tanya Dini, ia sedari awal bertemu Zio merasa sangat optimis jika cinta Zio masih ada untuknya mengingat mereka dulu adalah best couple di sekolah dan ia bahkan walaupun sudah punya banyak pria yang silih berganti masuk ke kehidupannya akan tetapi ia masih punya sisa rasa untuk Zio.


Dini sudah memiliki rencana untuk menjebak Zio, bisa hancur semua usahanya jika malam ini ia gagal mengajak Zio pergi bersama.


Zio tidak sempat mencegat Dini yang turut masuk ke dalam mobilnya. Wajah Zio terlihat datar dan Dini yang takut dengan tatapan tajam Zio saat ia masuk ke dalam mobil tadi mendadak nyalinya ciut dan akhirnya ia memilih diam saja.


Gue kenal lu Dini. Bukan sehari dua hari dan bukan juga gue orang bodoh yang nggak tahu lu itu seperti apa. Lu sudah salah berurusan sama gue, tapi gue nggak nyangka lu tetap keras kepala walau udah gue tolak mentah-mentah. Dasar sampah!


Dini terus menerka-nerka kemana Zio membawa mobilnya. Ia berharap Zio akan mengajaknya ke tempat romantis atau setidaknya Zio tidak menurunkannya di pinggir jalan.

__ADS_1


Hampir setengah jam barulah Zio menghentikan mobilnya di depan rumah sederhana. Bibirnya tersenyum tipis sedangkan Dini bertanya-tanya dalam hati siapa pemilik rumah tersebut.


Melihat Zio yang turun dari mobil, dengan cepat dini mengekorinya. Ia tidak ingin ditinggal sendirian di dalam mobil atau paling tidak ia harus tahu Zio ingin menemui siapa dengan dandanannya yang rapi dan wajahnya yang terlihat semakin tampan itu.


Zio mengetuk pintu rumah, tak lama kemudian sosok yang membuat Zio melebarkan senyumannya dan membuat Dini melebarkan matanya muncul dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum sayang."


Mentari tersipu, wajah Zio sangat tampan dan sikapnya sangat manis. "Wa'alaikum salam," jawab Mentari.


Ia kemudian menangkap sosok yang berdiri di belakang Zio. Keduanya saling bertatapan. Jika Mentari menatapnya penuh tanya, lain halnya dengan Dini yang menatap sengit padanya.


"Maaf Yang, dia sengaja ikut. Katanya mau jadi nyamuk saat kita kencan. Nggak apa-apa ya, anggap aja dia makhluk tak kasat mata," ucap Zio yang mengerti arah pandang Mentari.


Dini kembali terbelalak mendengar ucapan Zio, ia ingin protes namun Zio dan Mentari lebih dulu bergandengan tangan dan duduk di kursi teras.


"Ya udah, nggak masalah. Tapi apa dia sanggup lihat kita bermesraan? Padahal kita malam ini udah rencanain nyobain gaya bercinta yang baru 'kan Yang? Apa dia sanggup ngelihatin kita bermain?" tanya Mentari, ia sangat sengaja berkata demikian agar Dini segera pergi dari rumahnya dan juga pergi dari hubungan mereka.


Zio dan Dini sama-sama tersentak mendengar ucapan Mentari. Namun Zio tahu jika semua itu hanya akal-akalan Mentari saja untuk mengusir ataupun membuat Dini kesal secara tidak langsung. Jika pun benar, tentu saja Zio akan senang sekali.


"Iya ya, gue sampai lupa. Ya udah, ayo kita ke apartemen gue sekarang deh, biar nanti nggak larut malam gue antar lu pulang. Atau lu nginap aja disana, besok 'kan libur," ucap Zio menimpali.

__ADS_1


Merasa geram dengan percakapan pasangan kekasih itu, Dini pun menghentakkan kakinya kesal. "Kalian!"


__ADS_2