
Mentari masuk ke dalam rumahnya dan menuju ke dalam kamar dengan wajah yang terus ditekuk. Tadinya ia mengira jika malam ini kekesalannya akan hilang, karena tidak ada Zio dan pria menyebalkan itu. Tetapi apalah daya. rupanya mantan kekasihnya yang tidak bisa ia lupakan itu menyambangi rumahnya dan kembali membuatnya kesal.
Mentari duduk di depan meja riasnya, ia menatap pantulan wajahnya kemudian ia mengingat wajah Bella.
"Gue ini memang nggak secantik Bella, tapi wajah gue nggak dibawah standar bahkan di atas rata-rata. Buktinya Zio dulu mau jadi pacar gue. Tapi gue yakin, setelah ini gue pasti akan dapat pasangan yang lebih baik dari Zio. Kelebihan Bella itu cuma satu, dia kelebihan montok!" ujar Mentari sambil menatap sengit bayangan dirinya di depan cermin seolah yang ia tatap adalah Bella–kekasih dari mantan kekasihnya yang juga merupakan CEO-nya.
Wajah mengkerut itu semakin cemberut, rupanya dia masih belum bisa menghilangkan kecemburuannya ketika tadi tak sengaja melihat Zio dan Bella berciuman. Rasanya Mentari ingin melempar kedua pasangan itu dengan sandal jepit yang ia gunakan, atau melempar mereka dengan kopi dan camilan yang ia bawa agar mereka berhenti melakukan itu di kantor. Tetapi Mentari bisa apa jika ruangan dan kantor itu adalah milik Dimas Ezio Rasyid.
Mentari menghembuskan napas dengan kasar, ia kemudian kembali ke tempat tidurnya dan merebahkan diri untuk bisa memejamkan matanya. Ia sudah sangat lelah hari ini, ia ingin tidur dan tidak ingin bermimpi buruk agar hal itu tidak semakin menambah daftar kesalahannya dari pagi hingga pagi.
Beberapa mil jauhnya, dua pria yang masuk dalam list kekesalan dan kesialan Mentari hari ini justru baru tiba di rumah utama. Zio dan Oliver langsung masuk ke dalam rumah tetapi keduanya sempat berhenti karena bertemu dengan satu saudaranya lagi. Jika Oliver masih menyapa walau hanya sekadar menyapa, berbanding terbalik dengan Zio yang langsung melenggang masuk begitu saja.
"Dia masih begitu sama lu?" tanya Oliver dan saudaranya itu hanya menjawab dengan anggukan. Oliver menepuk pundak sepupunya itu, "Sabar aja. Dia itu sebenarnya baik tapi ya gitu kalau udah marah pasti bakalan sulit ngelupain dan memaafkan. Gue masuk dulu," imbuh Oliver.
Oliver menyusul Zio, ia meninggalkan satu sepupunya yang memang selalu diasingkan oleh Ezio.
.
.
Pagi kembali menjelang, Mentari sudah siap dengan pakaian kerjanya dan hari ini ia harus lebih berhati-hati agar motornya tidak mogok karena baru kemarin ia masukkan ke bengkel. Dan ia juga tidak ingin ketiban sial dan harus menghindari orang-orang yang kecelakaan agar tidak mendapatkan tumpangan gratis darinya. Bukannya ia tidak peduli, tetapi ia hanya tidak ingin terlambat pergi ke kantor dan mendapat masalah dari bosnya itu.
Rasanya kepala Mentari ingin meledak mengingat di hari pertamanya ia sudah mendapatkan kesialan dengan dipotong gaji dan mendapat SP1. Namun di balik itu semua Mentari mengambil hikmah bahwa ia kembali bertemu dengan pria yang akan ia jadikan kekasihnya yaitu seorang Juan Mahendra.
Berada di dekat Juan bisa Mentari merasa nyaman. Gadis bawel ini merasa menemukan sosok baru yang ia yakini akan mengganti hari-hari penuh kesedihannya menjadi penuh dengan kebahagiaan melalui sosok Juan.
__ADS_1
"Rasanya aku tidak sabar untuk segera sampai ke kantor. Oh bukan, gue udah nggak sabar buat bertemu Juan. Se-enggaknya sebelum mulai kerja gue harus bisa melihat wajah dan senyumnya agar gue bisa semangat walau harus berhadapan dengan bos lucknut seperti Zio," ucap Mentari sambil tersenyum menatap wajahnya yang sudah cantik di depan cermin.
Mentari keluar dari kamarnya kemudian ia ikut bergabung sarapan bersama kedua orang tuanya. Mama dan papanya saling menatap, semalam nereka melihat anak mereka ini cemberut tetapi pagi ini sudah terlihat kembali segar dan wajahnya berseri-seri.
"Sepertinya ibu tidak salah memberikan nama padamu Mentari," celetuk mama Maya.
Mentari yang baru duduk dan mengambil nasi goreng langsung menatap mamanya dengan penuh tanya.
"Lho, emang kenapa ma?"
Maya tersenyum, "Soalnya kamu tiap pagi selalu terlihat tersenyum dan berseri-seri seperti mentari pagi yang menyinari bumi. Seperti sinar mentari pagi yang begitu indah, seperti–"
"Alah udah, nggak usah berpujangga pagi-pagi begini. Makan ya makan," sambar Rama, papah Mentari.
Maya berdecak, suaminya ini selalu saja menginterupsi setiap kali ia mengeluarkan puisi dadakannya. Dengan wajah cemberut mama Maya melahap makannya.
Seperti gue sama Zio gitu ya?
Mentari tersedak nasi goreng ketika ia menyadari apa yang baru saja ia pikirkan. Dengan cepat mama Maya memberikan Mentari segelas air putih.
"Pelan-pelan dong makannya sayang," ujar mama Maya.
Mentari merutuki Zio dalam hati karena hanya dengan mengingatnya saja sudah membuat Mentari tersedak makanan.
Zio brengsek! Kenapa hanya mengingat lu aja udah bikin gue sial sih!
__ADS_1
Sedangkan di ruang makan yang luas dan megah saat ini Zio yang sedang menikmati sarapan kesukaannya mendadak tersedak. Dengan cepat maminya memberikan air minum pada putra kesayangannya itu.
Kenapa gue bisa tersedak sedangkan gue makan dengan benar? Sial! Siapa yang sedang mengumpati gue sih?!
"Kamu kalau makan pelan-pelan saja Zio. Tidak akan ada yang merebut makananmu itu Nak. Apakah masakan mami terlalu enak sampai kau selahap itu makannya? Seperti tidak makan seminggu aja," tegur Mami Lolita.
Zio yang sudah tidak batuk lagi langsung menatap datar ke arah maminya. Wanita cantik itu selalu saja begitu, memberikan perhatian dan berujung ledekan atau ejekan padanya.
"Aku udah kenyang, mau berangkat kerja. Dan lu bang Oli, lu kalau mau ke kantor gue bisa bareng gue sekarang," ucap Zio, ia kemudian tak sengaja saling menatap dengan satu saudaranya, dengan cepat Zio memalingkan wajahnya, ia segera meninggalkan ruang makan dan hal itu membuat semua yang ada di ruang makan menghela napas pelan.
"Oke, gue ikut sama lu. Semuanya, Oliver ganteng pamit ke kantor dulu ya," ucap Oliver.
Opa Rasyid menatap sendu pada ketiga cucunya, ia tidak pernah membayangkan nasib dua cucunya yang harus saling membenci seperti ini. Lebih tepatnya Zio yang menaruh dendam pada saudaranya. Opa Rasyid sadar jika Zio memang terluka dan ia tidak bisa memaksakan cucunya itu untuk kembali bersikap normal.
.
.
Mentari memarkirkan motornya di parkiran kantor, ia celingak-celinguk mencari keberadaan mobil Juan tetapi sayangnya ia tidak menemukannya. Dengan perasaan kecewa Mentari pun masuk ke dalam kantor. Ia sebenarnya ingin menunggu tapi ia juga belum melihat mobil Zio, sehingga ia memutuskan untuk segera ke ruangannya agar tidak mendapat siraman rohani dari bosnya itu.
Tak berselang lama ketika Mentari masuk ke dalam lift, mobil Zio pun sampai di kantor. Ia yang mendapat telepon penting tak langsung turun sedangkan Oliver langsung masuk dan menuju ke ruangan Zio.
Mata Oliver membulat sempurna begitu ia melewati meja sekretaris Zio.
"Oh my God! You are my destiny. Halo Rama, apa kabar? Masih ingat gue, 'kan?"
__ADS_1
Mentari yang terkejut karena suara yang menyapanya itu cukup dikenali oleh indera pendengarannya langsung menatap ke arah sumber suara.
"Lu! Kenapa lu bisa disini? Kenapa ada orang gila di kantor ini?" pekik Mentari.