CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 137


__ADS_3

Mentari terkejut begitu melihat di depan pintu kamar sudah ada anggota keluarga Ar-Rasyid yang sedang menatapnya. Ia menjadi canggung dan salah tingkah lalu ia mendekat ke arah Zio dan mencium punggung tangannya diikuti satu per satu keluarga Zio tak luput dari perlakuan santun Mentari tersebut.


Kakek Rasyid langsung memeluknya. Di rumah ini anggota keluarga yang aktif beribadah hanya ia, Lolita saja namun saat ini nyonya ruang itu sedang datang bulan dan para asisten rumah tangga, Danu kadang-kadang dan Juan entahlah, apalagi Zio. Mungkin jika hari Jumat itu bukan wajib bagi lelaki Zio tidak akan menunaikannya.


Kakek Rasyid sangat senang melihat sikap Mentari, ia yakin cucu menantunya ini akan membawa perubahan besar bagi Zio walaupun tidak secepat kilat.


"Terima kasih Bi sudah mau meminjamkan saya," ucap Mentari setelah kakek Rasyid melepaskan pelukannya.


"Sama-sama Nyonya," jawabnya dengan malu-malu.


"Lalu, mengapa kalian semua berada di sini?" tanya Mentari saat mereka mulai melangkah meninggalkan kamar tersebut. "Bahkan kamu nggak pakai baju loh," tegur Mentari pada Zio.


Zio kemudian menjelaskan permasalahannya yang membuat Mentari merasa malu dan canggung terhadap mertuanya. Zio berlebihan sekali syukur karena kedua mertuanya tidak ada yang mengadilinya.


Mereka semua kembali ke kamar masing-masing, Mentari harus mengurus keperluan Zio sebelum berangkat ke kantor dan kini Zio sedang mandi.


Sebab begitu lama menantikan Zio selesai mandi, Mentari berinisiatif untuk turun lagi ke lantai bawah untuk mengecek dapur. Ia ingin ikut memasak tetapi tidak diperbolehkan oleh para ART. Mentari hanya belajar apa saja makanan kesukaan dari masing-masing anggota keluarga agar nanti ia bisa membuatkannya. Mentari sendiri sudah tahu makanan kesukaan Zio dan Juan, hanya tinggal sisanya lagi yang harus ia pelajari.

__ADS_1


Mentari ingin menjadi menantu perempuan pertama di keluarga ini yang dinilai baik dan mampu membuat keluarga merasa senang terhadapnya. Ia tidak membutuhkan apapun lagi selain mendapatkan keluarga yang juga menyayanginya. Sebisa mungkin ia tidak mencari masalah dengan ibu mertuanya yang ia nilai begitu lemah lembut dan penyayang. Buktinya pada Juan pun ia tidak membeda-bedakan.


Setelah hidangan sarapan pagi itu tersajikan di atas meja Mentari pun bergegas menuju ke kamarnya untuk memanggil suaminya dan memastikan Zio sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


Mentari tersenyum saat melihat Zio yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin. Zio membalasnya lewat pantulan cermin dan ia langsung memanggil Mentari mendekat padanya.


"Dari mana saja, hem? Mengapa sudah mulai meninggalkanku di pagi hari seperti ini? Bukankah semalam kamu begitu khawatir bagaimana nasibmu di rumah ini, mengapa di pagi hari kamu sudah begitu lincah?" goda Zio yang kini sudah memeluk istrinya dari samping.


Mentari terkekeh, ia ingat betul bagaimana semalam dirinya begitu panik dan terus aja berpikir negatif tentang apa yang akan terjadi esok hari. Tetapi, tidak seperti yang ia pikirkan, semua berjalan bahkan sangat lancar dan baik-baik saja. Ia tidak mendapat omelan dari mertua, tidak mendapat hinaan atau apapun itu yang menurutnya akan berdampak buruk pada perasaannya.


"Aku hanya ingin mengenal seluruh isi rumah ini dengan baik karena seperti yang diinginkan oleh keluargamu, kita harus tinggal di rumah ini maka aku pun harus mengenali rumah ini dengan baik agar aku bisa mengurusnya kelak. Aku juga pergi ke dapur untuk melihat masakan dari para koki sebab aku ingin tahu makanan apa saja yang menjadi favorit keluargamu. Aku ingin menjadi menantu pertama yang baik, ya nggak?"


"Ini baru istriku! Kamu yang terbaik, I love you Mentari Ramadhani binti Ramadan," ucap Zio yang langsung membuat Mentari kesal.


Zio tertawa melihat wajah kesal Mentari, ia sangat tahu dengan benar jika Mentari tidak suka disebut namanya secara lengkap. Akan tetapi, ada kerinduan yang terselip di hatinya mengingat sang pemilik nama yang tersemat sebagian di nama lengkap Mentari.


"Sayang bolehkah aku pergi berziarah ke makam papa? Mendadak aku merindukannya. Aku tidak mengunjunginya bahkan terakhir kali kita menemuinya ketika hari pertama menikah. Aku sangat merindukannya apalagi melihat Papi aku seperti melihat sosok papaku," pinta Mentari dengan suara yang sedikit lirih.

__ADS_1


"Mengapa tidak, kita akan mengunjunginya sebelum aku berangkat ke kantor," ucap Zio mengabulkan keinginan sang istri. Apapun itu asalkan membuat Mentari bahagia maka dia akan melakukannya.


Visi hidup Zio saat ini adalah membuat sang istri bahagia dan misinya adalah ia yang akan melakukan apapun itu yang bisa membuat istrinya bahagia. Apapun perintah Mentari, apapun keinginan Mentari, pasti akan ia turuti kecuali Mentari menginginkan perpisahan darinya tentu itu tidak akan pernah ia kabulkan.


"Ya udah kamu udah sangat tampan, sekarang sudah siap pergi bekerja. Ayo kita keluar eh tapi bagaimana denganku? Aku masih menggunakan kaos dan juga celanamu. Ini sungguh sangat tidak lucu bukan? Aku harus mengganti pakaianku di rumah dulu dan ya, aku memang harus kembali ke rumah dulu karena keluargamu akan datang melamar nanti malam untuk melamar yang kedua kalinya ... eh bukannya untuk yang pertama kalinya karena dulu 'kan nggak ada acara lamaran, langsung main nikah aja," ucap Mentari yang diiringi sindiran kepada Zio yang kini terkekeh.


Zio mengangguk dia juga menjadi semakin gemas melihat penampilan Mentari yang mengenakan kaosnya juga celana trainingnya.


'Setelah ini bakalan gue beliin deh dia pakaian, nggak usah bawa pakaian dari rumah biar surprise aja. Supaya nanti tahu-tahu di dalam lemari udah ada barang-barang miliknya. Lagi pula gue udah tahu semua ukuran Mentari,' gumam Zio dalam hati sembari tersenyum seringai yang membuat Mentari bertanya-tanya apa yang ada di pikiran suami mesumnya ini.


Begitu mereka keluar dari kamar, keduanya berpapasan dengan anggota keluarga yang lainnya. Mereka saling menyapa dan turun bersama-sama menuju ke meja makan.


Tidak ada pembahasan di sana karena Kakek Rasyid sangat menginginkan acara makan mereka selalu dalam keadaan tenang, agar makanan tersebut bisa dicerna dengan baik dan juga tidak akan ada kejadian seseorang tersebut walaupun itu sangat minim terjadi. Tetapi begitulah peraturan yang dibuat oleh seorang kakek Harun Ar-Rasyid yang mencintai mencintai Magdalena Bagaspati — istrinya yang sudah bertahun-tahun meninggalkannya tetapi ia tidak pernah mencoba untuk mencari penggantinya.


Setelah sarapan Juan terburu-buru berpamitan pada keluarganya, akan tetapi langkahnya kembali dicegat oleh papinya yang keheranan melihat Juan terus semangat setiap paginya.


"Akhir-akhir ini kamu selalu berangkat lebih awal dan terlihat ceria. Apa memang benar kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Danu dan Juan pun hanya mengangguk tetapi anggukannya begitu tegas dan diiringi oleh senyuman yang begitu manis.

__ADS_1


"Juan pergi dulu Pi, kasihan nanti kekasih Juan terlambat pergi ke kampus,"ucapnya berpamitan dan tanpa memedulikan teriakan papinya yang sangat penasaran terhadapnya namun Juan langsung berlari ke arah garasi mobil dan memasuki mobilnya.


"Nanti akan aku perkenalkan kepada Papi dan Mami juga kepada Kakek. Dia adalah gadis yang sangat cantik tetapi berpenampilan unik. Semoga saja kalian menyukai semua penampilannya ... ah tidak, aku lebih suka mereka mengenal sosok Lidya dengan penampilannya yang buruk rupa itu. Tentu akan sangat menggemparkan ketika mereka tahu jika kekasihku memiliki wajah yang tak kalah cantiknya dari kakak ipar!"


__ADS_2