
Bright mengepalkan tangannya. Ia tahu tentu saja semua yang terjadi di hadapannya itu hanyalah sebuah siasat saja. Bright tersenyum miring, ia sudah mendapatkan ide bagaimana cara membalikkan keadaan. Ia sudah jatuh cinta dan cintanya egois. Mungkin juga sudah berubah jadi obsesi, Bright tidak bisa membedakan.
Di dalam mobil keduanya hanya saling diam. Biasanya Bright akan selalu mengajak Mentari berbicara, mengobrol apa saja dan juga memberikan perhatian. Tapi kali ini berbeda, dia lebih banyak diam dan itu membuat Mentari merasa heran.
Dia kenapa diam saja? Tadi saja dia sangat aktif berbicara dan selalu mengajakku mengobrol. Apakah ada sesuatu yang tidak gue ketahui?
Mentari bertanya-tanya dalam hati, ingin rasanya ia bertanya langsung akan tetapi ia tidak ingin Bright sampai curiga jika ia terlalu penasaran dengan urusannya. Mentari juga merasa lega karena ia tidak harus berpura-pura baik pada pria yang tidak dia sukai ini.
Tak lama kemudian mobil tersebut sampai di halaman parkir rumah sakit. Mentari dengan cepat turun dan meninggalkan Bright karena ia sudah sangat khawatir dengan keadaan Lidya. Juan tidak menjelaskan secara detail, akan tetapi Mentari tahu jika kecelakaan yang terjadi pada Lidya itu bukanlah kecelakaan yang ringan.
Mentari berlari menuju ke ruang IGD akan tetapi suster mengatakan jika pasien sudah dipindahkan ke ruang ICU, semakin bertambahlah kepanikan Mentari. Dan ketika ia sampai di depan ruang ICU, ia melihat Juan yang sedang duduk tertunduk.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Lidya? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Mentari dengan air matanya yang sudah membasahi pipi.
Juan pun menceritakan apa yang terjadi. Ia bahkan terlihat menahan air matanya. Suaranya terdengar begitu serak dan bergetar. Mentari lalu menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Lidya. Semua karena dirinya yang meminta Juan untuk memberikan Lidya uang, jika tidak semua ydiak akan jadi seperti ini.
"Tidak Tari, ini bukan kesalahan lu. Lidya sudah melewati masa kritisnya dan untung saja golongan darah kami sama sehingga gue nggak nunggu pendonor untuknya," ucap Juan yang sudah merangkul kakak iparnya yang terlihat sangat terpukul.
Mentari menyugar rambutnya ke belakang. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Juan dan pria itu tadinya ingin menahan napas karena khawatir tidak bisa mengontrol perasaannya. Akan tetapi ini sungguh aneh, ia tidak merasakan desiran seperti biasanya dan rasanya ia hanya seperti prihatin selayaknya adik kepada kakak.
Juan mengusap rambut Mentari. Sekali lagi ia mencoba mencari rasa yang pernah ada, akan tetapi semua tidak lagi terasa sama. Rasa itu pergi entah kemana.
"Biar gue yang bertanggung jawab untuk itu. Gue akan datang ke rumahnya langsung dan sekalian gue jemput mereka. Lu tenang aja, gue akan membuat mereka mengerti. Dan untuk kakak ipar gue yang cantik ini, jangan bersedih lagi ya ... gue bisa habis di tangan kak Zio jika dia sampai tahu istrinya ini menangis. Gue nggak mau berdebat dengan kakak gue yang nggak mau mengalah itu."
__ADS_1
Juan memang sudah bertekad jika ia akan mendatangi orang tua Lidya untuk menjelaskan semuanya. Ia merasa sangat bertanggung jawab untuk kejadian yang menimpa Lidya.
Dari arah yang tak jauh dari sana, Bright mengepalkan tangannya. Ia sangat tidak menyangka jika bodyguard yang selama ini juga merangkap menjadi sopir Mentari itu adalah adik iparnya — adik dari Dimas Ezio Rasyid.
"Mereka benar-benar sudah membohongi gue. Awas saja kalian, setelah ini gue bakalan balas dan lu Mentari, lu bakalan tetap jadi milik gue. Kalau lu nggak mau, bakalan gue paksa. Sekalian gue bisa bunuh si Zio demi bisa mendapatkan lu, amor. Milik gue selamanya akan menjadi milik gue. Tunggu saja tanggal mainnya."
Bright berjalan meninggalkan rumah sakit. Jujur saja saat ini sebenarnya ia sedang patah hati berat. Ia pikir Mentari benar-benar mau dekat dengannya dan ia pikir memang benar rumah tangga mereka sedang bermasalah. Tapi ternyata semuanya itu adalah kebohongan. Bright tidak bisa menerima dan ia berniat akan membalikkan permainan tersebut.
Tak berselang lama setelah kepergian Bright, polisi datang dan mengabarkan tentang pelaku tabrak lari tersebut. Ia meminta Juan untuk ikut ke kantor polisi untuk ditanyakan keterangan lebih lanjut.
Mentari pun mengiyakan karena ia bisa menunggui Lidya sendiri. Ketika Juan pergi bersama polisi, Mentari baru merasa ada yang kurang tetapi ia tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Oh, bukankah tadi gue datang sama si Terang? Kok dia nggak ada ya? Kemana? Eh by the way, dia Terang gue Mentari. Sepertinya cocok ... uuiihh gue mikirin apa sih!" pekik Mentari kesal dengan apa yang baru saja terlintas di pikirannya.