CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~109


__ADS_3

Glukk ...


Dini kesulitan menalan salivanya begitu mendengar ucapan Oliver yang benar-benar sangat mirip dengan seorang pembunuh berdarah dingin. Ia tidak ingin mati konyol di sini akan tetapi juga tidak ingin membuka mulutnya dan menceritakan segalanya kepada mereka.


"Gue nggak bohong! Sekali lagi gue tegasin, anak ini adalah anak Zio. Kalau kalian nggak percaya ya nggak masalah, bukannya kita sudah melakukan pemeriksaan juga dan dokter itu mengatakan usia kandungan ini sesuai dengan waktu dimana kita melakukan hubungan malam itu!" teriak Dini tidak mau mengalah.


Zio dan Oliver tersenyum kecut, mereka cukup salut dengan keberanian Dini yang terus menegaskan jika ia tengah mengandung anak dari Zio, sedangkan Zio sama sekali tidak merasakan apapun dan tidak ada getaran atau desiran apapun terhadap bayi yang berada di dalam kandungan Dini.


"Bagaimana kalau ternyata dokternya lu sogok?" tuding Zio yang membuat Dini membelalakkan matanya.


Dari reaksi Dini tersebut, mereka sudah bisa menebak jika ada sesuatu yang tidak beres dengan pemeriksaan waktu itu. Terbukti dari Dini yang terlihat begitu tegang, seolah semua rahasianya telah terbongkar.


"Mana ada seperti itu!" bantah Dini.


Zio menyeringai. "Ya sudah, kalau begitu mari kita melakukan pemeriksaan kedua. Apa kau setuju? Tapi setuju tidak setuju gue akan tetap bawa lu ke dokter kandungan," ucap Zio yang semakin membuat Dini merasa tegang.


Gawat, gue nggak mau kalau sampai diperiksa ulang. Bisa-bisa rahasia gue bakalan ketahuan, gumam Dini dalam hati.


Dini menanti, akan tetapi tidak ada pergerakan dari Zio maupun Oliver. Keduanya sama-sama duduk sambil menatapnya sesekali, padahal tadi keduanya begitu menggebu-gebu ingin membawa dirinya pergi ke rumah sakit, akan tetapi mendadak niat mereka sepertinya diurungkan.


Sebenarnya Oliver dan Zio bukan sedang mengulur waktu, akan tetapi mereka sedang memikirkan rencana kedua sebelum mereka membawa Dini ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Mereka harus bisa mendapatkan lebih dulu video tersebut, sepertinya Dini tidak bisa diancam saja, mereka harus melakukan sebuah pembuktian kepada wanita ini untuk membuatnya takut.


"Jon, bagaimana dimulai darimu? Sepertinya wanita ini tidak ingin memberikan salah satu pilihan dari opsi yang tadi gue berikan padanya. Sepertinya ly bisa bermain-main dengannya lebih dulu, lakukan pemanasan!" ucap Oliver yang membuat Dini yang tadinya sedang merasa tenang mendadak dibuat tegang kembali.


Pria yang bernama Jono — lelaki yang paling sangar di antara ketiga temannya langsung tertawa, ia kemudian berjalan mendekati Dini hingga membuat gadis itu merasa ketakutan.


"Jangan mendekat atau lu akan tahu apa yang akan terjadi sama lu kedepannya!" ancam Dini.


Bukannya takut, semua yang ada di ruangan tersebut langsung tertawa mengejek padanya. Dini memalingkan wajahnya, jelas saja mereka tidak akan takut sedangkan dirinya di sini hanya sendirian dan mereka berenam. Apalagi ia hanya seorang wanita yang lemah yang selama ini berlindung dibawa ketiak Bright, tentu tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini.


"Dia sangat ganas, Bos. Sepertinya dia juga pemain yang cukup handal dan sangat ganas di ranjang," ucap Jono yang kemudian disambut dengan gelak tawa oleh teman-temannya dan juga Oliver.

__ADS_1


Zio sendiri tidak bereaksi mendengar candaan yang dilemparkan oleh Jono karena ia teringat pernah menghabiskan malam bersama wanita ini walau dalam pengaruh obat. Zio sangat menyesali malam itu, jika bisa ia memutar kembali waktu maka ia tidak akan pergi keluar kota untuk melakukan peninjauan terhadap proyek yang tertunda.


Zio lebih baik kehilangan uang dibandingkan kehilangan kepercayaan Mentari.


Melihat Zio yang terbungkam, Dini langsunh senyum seringai. "Ya tentu saja, bukankah Zio sudah pernah merasakan seperti apa kehebatanku di ranjang?" ucapnya dengan bangga.


Mendengar namanya disebut, Zio langsung mengepalkan tangannya. Ia kemudian berdiri dan mendekati Dini dengan langkah yang begitu lebar serta wajah yang begitu sangar. Dini yang tadinya merasa berada di atas awan karena berhasil memojokkan Zio, kini dirinya yang merasa terpojokan. Apalagi tatapan Zio yang seakan membunuhnya, Dini semakin menjadi ketakutan dan nyalinya langsung ciut seketika.


"Oh ya, apakah benar seperti itu?" tanya Zio dengan penuh penekanan serta auranya yang begitu menakutkan.


Mulut Dini terbuka, tetapi kemudian tertutup kembali karena ia tidak tahu harus berkata apa. Ia sudah sangat takut karena saat ini Zio sudah berjongkok di hadapannya dan pria itu seakan ingin melakukan sesuatu yang berbahaya padanya.


"Kenapa mendadak diam, hee? Takut?" tanya Zio yang kemudian meletakkan tangannya di leher Dini secara perlahan hingga kemudian ia mencengkram kuat leher tersebut dan Dini menjadi kesulitan bernapas.


Dini ingin berusaha untuk memukul tangan Zio atau menendangnya, akan tetapi semua sia-sia karena kedua tangan dan kakinya sedang terikat kuat. Napasnya hampir habis jika saja Zio tidak melepaskan cengkraman kuatnya di leher.


Dini terbatuk-batuk ketika Zio melepaskannya, ia berusaha meraup udara sebanyak-banyaknya karena merasa pasokan udara di paru-parunya telah habis tak tersisa.


"Harusnya lu mati! Gue bisa aja bunuh lu detik ini juga, tapi gue kasihan sama bayi yang ada di dalam kandungan lu. Dia nggak seharusnya menderita karena menanggung kejahatan dari ibunya. Entah bagaimana nasib anak itu nanti kedepannya ketika lahir dengan memiliki seorang ibu yang jahat dan juga liar seperti dirimu," ucap Zio dengan suara yang begitu dingin, ia kemudian berdiri dan kembali bersama Oliver.


Dini hanya bisa pasrah, baru saja lepas dari maut karena Zio mencekiknya, kini keempat pria itu sudah menamparnya dengan pipi yang terasa begitu perih dan juga lebam. Ia ingin cepat pingsan akan tetapi tidak juga pingsan, yang terjadi hanyalah ia yang terus merasakan kesakitan karena tamparan yang begitu kuat dan berkali-kali ia terima.


Di detik berikutnya akhirnya Dini tak bisa menahan lagi dan kesadarannya pun perlahan menghilang.


"Gila! Lu kenapa sampai seperti itu? Kalau dia mati, kita bisa dipenjara!"pekik Oliver yang sebenarnya tadi sudah ketakutan ketika Zio mencekik leher Dini.


"Gue kelepasan," jawab Zio kesal.


Oliver hanya bisa menghela napas, sepupunya ini benar-benar terlihat seperti orang yang frustrasi, dengan banyak masalah yang begitu besar hingga tak sadar melakukan hal yang bisa mengancam keselamatannya sendiri dan juga kenyamanan hidupnya.


"Kita harus bisa mendapatkan ponselnya dan juga kita harus tahu apakah dia sudah menyalin video tersebut kemana saja. Itu yang paling penting. Masalah kehamilan Dini dan pemeriksaan itu nomor dua, yang penting lu selamat dulu dari perkara urusan video asusila," ujar Oliver dan langsung diangguki oleh Zio.

__ADS_1


....


Juan menjemput Mentari seperti yang diinginkan oleh kakak iparnya tersebut. Mentari tidak ingin mengambil risiko tinggi dengan beristirahat di rumah sedangkan Mawar membutuhkan dirinya untuk menyelesaikan proyek bersama Bright.


Lagi pula saat ini Mentari sudah bisa berjalan dengan cukup normal dan tubuhnya sudah tidak terasa pegal seperti tadi pagi. Ia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya dan bekerja. Ia tidak perlu meminta persetujuan Zio lagi karena saat ini suaminya itu sedang bersama dengan wanita lain walaupun dalam konteks yang berbeda.


"Apakah kak Zio menghabisimu semalam? Mengapa jalanmu agak aneh?" ledek Juan.


Mentari mendengus, ia kemudian berjalan memutar arah menuju ke pintu mobil dan langsung masuk di jok samping pengemudi. Tanpa menunggu lama, Juan pun mengikutinya karena ia yakin sekali kakak iparnya saat ini sedang terburu-buru dan tidak ingin membuang-buang waktu.


Baru saja Juan hendak menghidupkan mesin mobilnya, seseorang sudah menghadang di depan. Juan kaget karena ia tidak mengenali wanita yang berada di depannya itu, dandanannya saja begitu aneh — rambutnya dikepang dua serta kacamata tebal bertengger di hidungnya. Sangat aneh bin ajaib menurut Juan.


Berbeda dengan Mentari, ia langsung tersenyum dan bergegas keluar dari mobil lalu menghampiri gadis tersebut yang terlihat masih begitu muda.


"Lidya kok nggak bilang-bilang sama kakak mau datang ke sini," ucap Mentari dengan begitu senangnya melihat adiknya ini datang.


Lidya pun langsung masuk ke dalam pelukan Mentari untuk beberapa saat, kemudian keduanya saling melepaskan pelukan.


"Kan udah kasih tahu sama tante Maya dan juga ini biar kejutan buat Kak Tari. Lidya lulus lho di perguruan tinggi X tempat Kak Tari dulu kuliah. Jadi kata tante Maya aku boleh tinggal di sini selama aku kuliah," ucap Lidya dan Mentari langsung mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui keinginan sepupunya tersebut.


Mentari pun mengajaknya masuk dan melupakan Juan yang sedang menatap aneh pada kedua wanita itu. Padahal tadi Mentari yang sudah begitu terburu-buru tetapi ketika gadis yang menurut Juan adalah 'manusia planet' itu datang, Mentari justru lupa dengan keinginannya untuk pergi menemui Bright dengan sesegera mungkin.


Di dalam Mentari meminta Lidya untuk berbincang dulu bersama mamanya karena ia memiliki pekerjaan yang sangat penting. Sedangkan Juan sedang berdiri di depan pintu dan memperhatikan bagaimana gadis itu begitu manja kepada Mentari dan tingkahnya terlihat luar biasa lebaynya.


Semoga gue tidak pernah mendapatkan jodoh seperti itu. Amit-amit, amit-amit! gumam Juan dalam hati melihat tingkah Lidya yang terlihat sangat lebay dan juga terlihat begitu manja kepada Mentari dan Maya.


Mentari pun mengajak Juan untuk segera pergi, ia bahkan tidak meminta maaf karena sudah mengundur waktu dan membuat adik iparnya ini menunggu serta meninggalkan pekerjaan yang begitu banyak di kantor.


Kalau bukan kakak ipar, udah gue protes dan gue tendang keluar dari mobil, gumam Juan dalam hati yang melihat Mentari duduk tenang di sampingnya sambil memainkan ponselnya.


"Tadi itu adik gue, sepupu dari mama sih. Dia bakalan kuliah di sini. Nanti sekalian kita temani dia ya pergi melihat-lihat kampus. Tapi nggak usah hari ini, besok aja karena mungkin urusan kita bakalan lama dengan Bright. Lu bisa, 'kan?" tanya Mentari dan Juan langsung berwajah masam.

__ADS_1


Ingin menolak, takut karena amuk dari kakak ipar dan juga dari kakaknya — Zio. Ingin menyetujui, tetapi ia harus mengorbankan waktunya dan juga pekerjaannya walaupun saat ini memang pekerjaannya adalah menjadi bodyguard Mentari. Akan tetapi, jika ditambah lagi melihat gadis yang membuat mata Juan sakit dengan gayanya dan juga sikapnya itu ... Juan akan memilih mengerjakan banyak pekerjaan di kantor.


"Gimana, mau nggak?" tanya Mentari.


__ADS_2