CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~32


__ADS_3

Zio merasa dongkol begitu mendengar jawaban Mentari, sedangkan Juan terlihat sedikit ketakutan begitu ditatap oleh Zio dan Oliver bersamaan. Juan memalingkan wajahnya, ia tidak bermaksud untuk menjadi pengganggu antara Mentari dan Zio begitupun antara Mentari dan Oliver, tetapi disini Mentari sendiri yang mengajak Juan dan menerima kedatangannya. Apakah ini salah Juan?


Mentari yang melihat Zio mengintimidasi Juan melalui tatapannya langsung menatap Zio dengan wajah garang sehingga membuat Zio mengalihkan pandangannya lalu ia berpamitan untuk pulang.


Mentari sebenarnya tidak tega pada Zio tetapi ia hanya ingin menjaga perasaannya agar ia tidak terbawa perasaan dan gagal move on lagi dari Zio.


Sorry Zio, gue nggak bermaksud untuk mengusir lu atau tidak menganggap lu ada disini dan peduli sama gue. Sumpah, gue cuma nggak mau salah mengartikan perhatian lu dan akhirnya gue patah hati lagi. Gue saja belum sepenuhnya move on dari lu padahal sudah bertahun-tahun, jangan bikin gue ditampar kenyataan lagi.


"Eh, gue salah datang ya? Lu kenapa nggak bilang kalau ada Pak Zio dan Pak Oliver disini? Gue nggak ganggu, 'kan?" tanya Juan merasa tidak enak hati ketika melihat wajah Zio yang terlihat kesal begitupun dengan Oliver.


"Ya!"


"Enggak!"


Jawaban yang berbeda dan keluar bersamaan dari mulut Mentari dan Oliver, sedangkan Zio memilih bungkam saja. Tidak ada gunanya lagi berdebat karena Mentari jelas terlihat tidak mengharapkan kedatangannya di tempat ini lagi.


Tanpa sepatah katapun Zio bergegas pergi dan disusul oleh Oliver yang tahu diri kalau saat ini Mentari belum menyambut perasaannya. Mungkin ia harus berusaha lagi dan lagi. Oliver merasa jika Mentari ini sangat sulit untuk didekati, terlihat dari cara Zio menyayanginya dan menjaganya, bukti bahwa Mentari adalah sosok wanita yang sangat diinginkan tetapi tidak mudah untuk didapatkan.


Bahkan sekelas Zio pun bisa dibuat luluh oleh gadis yang selalu blak-blakan dan selalu terlihat kesal ini. Oliver tentu harus menyusun rencana dengan baik agar ia bisa mendekati dan mendapatkan hati Mentari. Oliver sangat berambisi mendapatkan Mentari karena gadis ini adalah satu-satunya gadis yang tidak pernah diajak bercinta oleh Zio walaupun Zio begitu menyayanginya. Oliver yakin jika ia mendapatkan Mentari maka hidupnya akan menjadi lebih berwarna dan akan menyayangi Mentari selamanya jika saja Mentari mau menerima dirinya sebagai pendamping hidup.

__ADS_1


Melihat Oliver dan Zio sudah tidak ada lagi di halaman rumahnya dan mobil mereka pun sudah meninggalkan jauh kompleks perumahan Mentari, dia langsung mengajak Juan untuk segera masuk ke dalam rumahnya.


Zio memukul setir mobilnya berkali-kali karena merasa kesal dengan Mentari yang mengacuhkannya dan lebih memilih bersama Juan, padahal dia sudah mati-matian untuk bisa berada di sisi Mentari hingga besok pagi tetapi semua itu justru tidak terwujud dengan kehadiran Juan.


"Kenapa dia selalu saja membuatku merasa ingin membunuhnya. Dia selalu saja menjadi orang ketiga dalam kehidupan gue. Sial! Apa hebatnya dia sampai Mentari justru memilihnya dibandingkan gue? Awas saja dia, gue pasti akan membalas rasa sakit hati dan juga penghinaan ini. Anak pelakor sepertinya tidak pantas bersaing dengan seorang Dimas Ezio Rasyid," keluh Zio, ia bahkan mencengkram erat setir mobilnya seolah ingin menunjukkan jika saat ini ia sedang dalam keadaan sangat marah.


Zio menghentikan mobilnya di parkiran apartemennya, dia belum turun dari mobil karena masih menimbang-nimbang apakah ia harus kembali menghubungi Helena atau tidak. Zio mengumpat kasar begitu hati dan pikirannya menolak untuk membawa perempuan apartemennya. Dia kembali mengingat wajah Mentari, harusnya selama mereka pacaran ia tidak lagi main belakang karena dia sudah main hati bersama Mentari. Tetapi apalah daya, dia hanya ingin melakukan save the best for the last, tetapi berujung dengan Mentari yang tidak menerima kelakuan Zio dan mengakhir hubungan mereka.


Mentari bahkan tidak tahu seberapa galaunya Zio ketika Ia memutuskan hubungan mereka dan tidak lagi ingin menemuinya. Zio sendiri bukan tidak ingin mencoba untuk menjelaskan pada Mentari, karena apapun yang ia jelaskan tetap saja apa yang terlihat adalah kenyataannya.


Zio bermain wanita di belakang Mentari, lantas ia tidak menyentuh Mentari, itu semua ia lakukan karena ia ingin melindungi Mentari dan menyiapkan yang terbaik untuk yang terakhir dalam hidupnya. Zio masih ingin bermain-main di luar sana, tetapi dia juga sudah memiliki kekasih yang ia targetkan akan menjadi istrinya. Sayang sekali, Mentari justru mendapati dirinya yang tengah berselingkuh dan bukan hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali hingga membuat gadis itu memutuskan hubungan mereka dan tidak ingin lagi ditemui oleh Zio.


Kala itu Zio merasa hidupnya kacau balau ketika tidak ada lagi perhatian Mentari, tidak ada lagi kasih sayang dari Mentari dan juga tidak ada lagi wanita yang ia buat kesal lalu ia ciumi sampai puas. Waktu itu Zio benar-benar terpuruk dan akhirnya ia memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri namun ia tetap mengungkap Mentari untuk menjadi istrinya.


Mengenai Bella dan Helena, kedua wanita itu memang kekasih Zio tetapi bukan dalam lingkup mereka menjalin hubungan asmara. Mereka hanya sebatas teman ranjang saja untuk mencari kepuasan semata. Namun Zio tetap menjamin hidup mereka karena walau bagaimanapun kedua wanita itu selalu ada di saat ia membutuhkan mereka.


Mungkin cara yang Zio lakukan ini memang salah. Ia bermain dengan banyak wanita lalu menginginkan wanita baik-baik untuk menjadi pendampingnya. Ini sangat lucu sekali, tetapi itulah yang diharapkan oleh Zio.


hingga akhirnya waktu mempertemukan mereka kembali pada pagi itu dengan kejadian yang tidak baik dan meninggalkan kesan yang buruk tetapi sangat senang apalagi begitu ia tahu sekretaris barunya adalah sangat dari kekasih karena diam-diam semua rasa begitu senang dan untuk membuat Mentari cemburu dengan dua kekasihnya itu silih berganti untuk datang ke perusahaan.

__ADS_1


Semua itu semata-mata Zio lakukan untuk membuat Mentari cemburu padanya. Namun justru yang ia lihat Mentari sama sekali tidak merasakan getaran apapun seperti menunjukkan gelagat jika ia cemburu pada kekasihnya dan malah dengan lantang ia mengatakan jika ia memiliki calon belahan jiwa yang tidak lain tidak bukan adalah Juan.


"Awalnya gue pikir gue cuma iseng bikin lu cemburu dan membuat lu baper sama gue. Siapa sangka semua itu justru berbalik ke gue. Gue yang cemburui dan gue yang sakit hati. Apa Mentari tidak bisa merasakan perasaan gue dan semua gelagat yang gue tunjukkan sama dia? Kalau benar begitu, apakah Mentari sekarang emang udah benar-benar move on dari gue? Gue nggak bisa terima!"


Zio kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam apartemennya, ia butuh istirahat dan juga menenangkan pikirannya agar besok ketika ia bekerja semua diawali dengan perasaan tenang. Bukan rahasia lagi jika Zio berangkat ke kantor dengan mood-nya yang kurang bagus maka semua yang ada di perusahaan akan menjadi pelampiasannya.


Zio merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. "Besok Mentari belum masuk kerja dan gue kembali galau kalau dia nggak ada. Gue udah terbiasa dengan kehadiran Mentari di sekitar gue. Tapi nggak mungkin juga gue paksa dia buat bekerja dalam suasana berkabung. Gue bukan bos jahat dan bukan mantan yang sadis. Besok juga gue bakalan datang ke rumahnya buat mengantarkan Om Rama ke pekuburan. Gue bakalan jaga jarak dari dia," tutur Zio kemudian ia memejamkan matanya.


.


.


Pagi ini suasana haru menyelimuti pemakaman dimana terlihat Mentari dan mamanya sedang berjongkok di samping pusara. Keduanya mengusap-usap batu nisan itu sambil meneteskan air mata. Para pelayat pun sudah mulai kembali ke rumah mereka masing-masing dan hanya menyisakan Mentari dan juga mamanya di sana.


Sosok pria dengan setelan jas hitam dan juga kacamata hitam yang menutup sebagian wajahnya sedang mengamati keduanya dari jauh. Dia ingin sekali mendekat, tetapi ia harus mengurungkan niatnya karena ia tidak ingin mengganggu kesedihan Mentari.


Namun tiba-tiba saja ia melihat Mentari yang jatuh pingsan dan terbaring di atas makam papanya. Dengan cepat Zio berlari mendekati mereka dan melihat jika Tante Maya sedang kesulitan membangunkan Mentari. Ia semakin menangis histeris karena di pemakaman sudah tidak ada lagi orang yang bisa ia mintai bantuan. Untung saja ada Zio yang dengan sigap menolongnya dan menggendongnya.


"Nak Zio, tolong bawa Mentari. Ayo kita pulang Nak, sebentar lagi akan turun hujan," ucap Maya dengan masih menyisakan tangisan di bibirnya.

__ADS_1


Zio menatap langit yang tiba-tiba saja menjadi mendung. Dengan cepat ia mengajak Maya untuk membuka pintu mobil dan membantu Mentari masuk dengan direbahkan di pangkuan mamanya.


Tari, lu kenapa bisa pingsan sih? Yang gue tahu lu itu cewek yang paling kuat. Lu jangan kenapa-napa ya, gue nggak mau lu sakit. Gue sayang sama lu.


__ADS_2