CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~38


__ADS_3

Pagi ini Mentari bangun terlalu pagi dan ia kembali bersemangat masuk kerja, ia harus bekerja sebagai mungkin karena pada saat jam makan siang ia akan mengantar surat lamaran kerjanya ke perusahaan-perusahaan yang sudah ia tandai sebelumnya.


Hari ini Mentari bertekad untuk memulai hidupnya yang baru, ia tidak masalah dengan gaji kecil atau perusahaan yang baru berkembang karena di sana ia pasti akan mendapatkan kebahagiaan tersendiri dan juga rezeki pasti sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa sehingga Mentari tidak perlu takut untuk tidak bisa makan.


Daripada ia bertahan di perusahaan Zio dan terus bertemu dengan pria yang sangat suka menciumnya sembarangan itu, lebih baik Mentari mundur. Ia juga akan memberikan surat resign-nya diam-diam supaya Zio tidak tahu dan ia akan meminta Pak Frits untuk merahasiakannya. Nanti ketika Zio mencarinya baru pak Frits akan mengatakannya, itu pun jika pak Frits bisa diajak kerja sama.


Mentari tersenyum mengendarai motornya, sudah cukup paginya selama ini dirundung kesedihan karena Zio. Ia harus menghadapi semua kenyataan pahit manis dengan senyuman. Mentari juga merasa bersyukur jika Oliver dan Juan sudah berhenti mengejarnya, itu artinya dia tidak akan ada hubungan lagi dengan keluarga Zio.


Sesampainya di kantor, Mentari berpapasan dengan Juan. Pria itu menatapnya sembari mengembangkan senyuman sedangkan Mentari hanya menatap sekilas kemudian ia melangkah dengan congkak membuat Juan terheran-heran melihat Mentari.


Sesampainya Mentari di ruang kerjanya, ia bertemu dengan Ramon yang baru saja keluar dari ruangan Zio.


"Hai Ramon, apa kabar? Semoga harimu menyenangkan ya," sapa Mentari yang membuat Ramon pun terheran-heran karena Mentari sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.


"Wah, apakah nona Mentari Ramadhani binti Ramadan ini sedang dalam suasana hati yang berbahagia?" tanya Ramon yang membuat Mentari tertawa.


"Iya, bahkan sangat bahagia!" jawab Mentari menimpali ucapan Ramon.


"Oh ya? Apakah Anda baru saja mendapatkan sesuatu yang besar?" tanya Ramon penasaran.


"Lebih besar dari itu, aku baru saja membebaskan diriku. A tidak, lebih tepatnya aku baru saja terbebas dari belenggu kehidupan yang begitu menyakitkan dan kini aku sudah menjadi Mentari Ramadhani binti Ramadan yang baru. Beri selamat padaku cepat!"


Ramon tertawa mendengar ucapan Mentari tersebut, gadis ceria ini semakin menjadi ceria saja padahal beberapa hari lalu ia perhatikan Mentari terlihat suntuk, murung dan juga tidak bersemangat.


Mungkinkah Mentari sudah menemukan jalan hidupnya yang baru, pikir Ramon.


Ramon pun memberikan ucapan selamat kepada Mentari walaupun ia tidak tahu untuk apa hal tersebut diucapkan karena Mentari hanya mengatakan ia terbebas dan Ramon pun hanya menuruti Mentari saja. Kemudian ia kembali ke ruangannya karena masih ada begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Oh ya Mentari, tadi tuan Zio memesan padaku jika kau sudah datang maka kau diminta untuk masuk ke ruangannya," ucap Ramon dari dalam ruangannya.


Mentari mengangkat sebelah sudut alisnya, dalam hati ia bertanya-tanya.


Ada apa lagi dia memanggil gue?


Mentari pun mengetik pintu ruangan Zio dan dari dalam terdengar suara Zio memintanya untuk masuk.


Dengan perasaan santai Mentari masuk ke ruangan tersebut dan duduk di kursi yang ada di depan Zio.


"Apa kabar Yang? Beberapa hari ini kita tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku?" tanya Zio sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dasar buaya buntung!


"Ah ya, tentu saja gue sangat merindukan lu. Kenapa pergi begitu lama dan tidak memberikan kabar? Lu tahu, gue bisa-bisa diculik sama brondong ganteng tahu!" celetuk Mentari, ia mencoba masuk ke dalam permainan Zio.

__ADS_1


Ya udah ya lah, nikmati aja alurnya. 'Kan sebentar lagi gue bakalan terbebas dari pria ini dengan gue yang keluar dari perusahaannya.


Kemudian Zio menepuk pahanya mengisyaratkan agar Mentari berpindah duduk di sana.


Mentari pun dengan senang hati menuruti keinginan Zio, padahal dalam hatinya begitu muak tetapi untuk bisa lebih masuk ke dalam permainan Zio maka ia pun harus memerankan perannya dengan sebaik mungkin.


Zio kemudian berusaha untuk mencium bibir Mentari, tetapi Mentari justru meletakkan jari telunjuknya di bibir Zio.


"No! Gue lagi puasa," ucap Mentari menolak.


"Puasa? Ini 'kan bukan bulan Ramadhan?" tanya Zio terheran-heran.


Mentari pun menjelaskan pada Zio tentang mengganti puasa, dimana ketika bulan Ramadhan ia datang bulan hingga akhirnya tidak berpuasa dan puasa yang batal tersebut bisa diganti di hari lain.


Zio mengangguk-anggukkan kepalanya paham, karena ibunya pun melakukan hal yang sama.


Akhirnya Zio hanya bisa mengusap-usap rambut Mentari tanpa bisa mencium wanita yang sangat ia rindukan berhari-hari.


Ya ampun Gue bohong lagi soal puasa. Tapi nggak masalah deh. Terima kasih puasa karena lu udah menyelamatin gue dari buaya buntung ini.


Zio menatap lekat mata Mentari, Mentari membalasnya tetapi Mentari berusaha untuk tidak terbawa perasaan melihat binar di mata Zio yang melihatnya penuh damba. Mentari tahu semua itu hanyalah sebuah ilusi semata karena Zio tidak benar-benar mencintainya


"Ya udah, sekarang lu balik lanjutin lagi pekerjaannya tadinya. Gue mau ngajakin lu makan siang tapi karena lu lagi puasa, nggak mungkin lah 'kan gue makan siang bareng lu," ucap Zio, sebenarnya ia masih belum ingin Mentari keluar tetapi jika berlama-lama bersama Mentari mungkin saja ia akan membatalkan puasa gadis itu.


"Besok-besok kalau udah nggak puasa, bersikap manis kayak gini terus ya ke gue," ucap Zio yang membuat Mentari terkekeh.


Iya dalam tujuh hari ini gue pasti bakalan bersikap manis, lu tenang aja.


Mentari kemudian keluar, di depan pintu ia langsung mengubah raut wajahnya menjadi begitu datar. Ia pun kembali duduk di kursinya dan mengerjakan pekerjaannya agar supaya lebih cepat selesai dan ia bisa mengantar lamaran pekerjaannya ke beberapa perusahaan.


.


.


Oliver melewati Mentari yang sedang sibuk bekerja dengan disampingnya ia menggandeng tangan seorang wanita cantik. Oliver menyapa Mentari sesaat sebelum ia masuk ke dalam ruangan Zio.


Mentari sedikit merasa lucu karena biasanya Oliver begitu bersemangat bertemu dengannya namun kali ini Oliver sudah bersikap biasa saja.


Katanya calon jodoh gue tapi secepat itu punya gandengan baru, hahaha dasar keluarga Casanova.


Mentari mencibir dalam hati, kemudian ia segera keluar karena ini saatnya untuk pergi mengantar surat lamaran pekerjaannya agar ia tidak diketahui oleh Zio. Dengan datangnya Oliver ke dalam ruangan Zio maka tentu saja Zio tidak akan cepat keluar dan ia tidak akan mendapati Mentari pergi keluar perusahaan.


"Mentari, lu mau ke mana?" panggil Juan yang berjalan di belakang Mentari, sepertinya dia akan pergi ke kantin.

__ADS_1


"Gue ada urusan sebentar di luar. Lu mau keluar juga?" tanya Mentari basa-basi padahal dalam hatinya ingin buru-buru sekali pergi.


"Oh, gue sih mau ke kantin aja. Tadinya gue kira lu juga mau ke kantin, makanya gue panggil biar makan bareng," jawab Juan.


Dasar mereka ini keluarga aneh! Yang satu mengaku cinta lalu selingkuh yang satu katanya calon jodoh tapi baru digertak dikit sama Zio eh udah bawa gandengan baru. Dan yang satu ini setelah kejadian itu justru menjauh dan kini tiba-tiba mencoba mengakrabkan diri seperti dulu. Dasar aneh!


Mentari pun mengatakan pada Juan jika ia sedang terburu-buru dan Juan pun mengerti dengan maksud Mentari sehingga ia menyuruh Mentari untuk segera pergi.


Berbekal semangat dan tekad walaupun saat ini matahari bersinar begitu teriknya, Mentari tetap melajukan motornya di atas aspal.


Nama gue Mentari, se-panas apapun matahari di atas, nggak bakalan bisa ngelunturin semangat gue karena kita sesama matahari. Bukan begitu?


Sambil bersenandung ia melajukan motornya. Satu per satu perusahaan sudah Ia datang dan ketika ia melihat jam tangannya, ternyata waktu istirahat tersisa tinggal dua puluh menit lagi. Jarak dari tempatnya saat ini menuju ke kantor membutuhkan waktu lima belas menit dan Mentari sudah tidak sempat lagi untuk mengisi perutnya.


Mending gue beli roti deh atau gue singgah aja makan di warteg, lima menit pasti cukuplah buat makan.


Mentari pun menepikan motornya di depan sebuah warteg karena tepat berhenti di depannya. Dengan terburu-buru Mentari masuk dan memesan makanan seadanya saja karena ia tidak bisa berlama-lama berada di situ dan menikmati makanannya. Dia harus segera kembali ke kantor karena tidak ingin terlambat.


Mentari tersedak makanannya ketika seseorang menggebrak meja makan.


"Yoo ... kita lihat siapa yang lagi makan di sini, Mentari Ramadhani binti Ramadan. Kok bisa jauh banget?"


Mentari yang baru saja meneguk air minumnya kemudian menatap ke arah depan karena ia begitu mengenali suara tersebut.


"Lu Mawar 'kan? Mawar berduri harum sepanjang hari!" pekik Mentari tak percaya melihat sahabatnya sejak SMA itu kini berada di hadapannya.


"Ya iyalah bego, ini gue Mawar berduri yang harum sepanjang hari, sahabat baik Mentari Ramadhani binti Ramadhan," ucapnya kemudian ia duduk di hadapan Mentari.


Keduanya pun saling bertanya kabar, kemudian bertukar nomor ponsel karena Mentari mengatakan ia harus segera kembali sebab waktu istirahat sudah akan habis.


"Lagian kenapa lu bisa di sini? Yang gue dengar lu ngantor lu jauh dari sini. Ngapain sih?" tanya Mawar sebelum Mentari pergi.


"Gue memang ada rencana mau keluar dari kantor gue dan tadi terakhir gue ngantar lamaran pekerjaan ke perusahaan depan noh," jawab Mentari.


"Ya udah ya, lu langsung masuk aja, orang perusahaannya punya gue. Tentu gue senang banget orang secerdas lu mau bergabung dengan gue. Kapan nih lu mau masuk? Langsung terima deh," ucap mawar yang membuat Mentari terbelalak kemudian ia kegirangan.


"Seriusan beneran itu punya lu?' tanya Mentari memastikan.


Mawar langsung menoyor kepala Mentari. "Ya iyalah bego! Itu perusahaan gue, ngapain juga gue ngaku-ngaku. Lu lupa sahabat lu ini horang kaya walaupun kaya-kaya monyet sih," ucap Mawar kemudian dia tertawa terbahak-bahak.


"Fix, itu perusahaan lu dan tunggu aja minggu depanz gue bakal masuk karena gue harus nyelesain dulu pekerjaan gue di sana. Tungguin gue, awas lu kalau lu nggak mau terima gue di perusahaan lu!" ancam Mentari pada sahabatnya itu.


"Pasti, tenang aja."

__ADS_1


__ADS_2