CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~19


__ADS_3

Beberapa menit sebelumnya …


Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Mentari nggak boleh jadian sama Juan. Lu boleh jadian sama siapapun tapi bukan dia. Gue harus bisa menghalangi mereka agar tidak semakin dekat!


Zio memutar otak, sambil digandeng Helena menuju ke mobil ia terus saja memikirkan cara agar Mentari tidak jadian dengan Juan. Padahal itu semua bukan lagi urusannya karena ia dan Mentari sudah lama berakhir. Tapi Zio tidak bisa, segala yang berurusan dengan Mentari harus ia ketahui. Entah sejak kapan ia menjadi kepo dengan urusan Mentari dan mungkin sejak mereka kembali bertemu atau sejak tadi ia mencium bibir Mentari.


Rasanya masih sama dan saat mengingat kejadian tadi, Zio ingin lagi mengulangnya tetapi lawannya tidak ada disini.


"Zio, kenapa kamu melamun terus dari tadi? Jadi nggak kita kencan?" tanya Helena yang memperhatikan Zio justru hanya diam di samping mobilnya. Ia tadinya hendak masuk tetapi ia justru melihat Zio hanya diam saja sehingga ia menegurnya.


Eh?


Zio sedikit tersentak ditegur oleh Helena, karena terus melamunkan Mentari, ia jadi tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di mobil. Zio menggeleng lantas melempar senyuman tampannya yang membuat para wanita meleyot menatapnya.


"Ah enggak, tadi aku sedang mengingat kalau aku melupakan janji temu dengan klien sekaligus sahabatku dari Barcelona. Kalau kencan kita ditunda dulu nggak apa-apa, 'kan? Aku sungguh lupa jika Lionel datang menemuiku hari ini," tanya Zio dengan wajah dibuat memelas dan tak lupa ia mengimut-imutkan wajahnya agar Helena segera mengiyakan keinginannya.


Helena menghela napas, sedikit kecewa tetapi ia tidak mungkin mengekang Zio sebab mereka tidak pernah saling mengekang dan saling membebaskan melakukan apapun.


"Baiklah, tapi tolong antar aku ke butik ya," ucap Helena akhirnya mengalah.


Zio tersenyum, "Pasti dong sayang. Sekali lagi maaf ya," ucap Zio kemudian dengan bersemangat ia langsung masuk ke dalam mobilnya.


Namun sepanjang perjalanan Zio menjadi kesal karena ia justru kehilangan jejak Mentari. Tak habis akal, setelah mengantarkan Helena ke butik, Zio langsung meminta salah satu manager divisi di kantornya untuk mencari tahu keberadaan Juan. Berkat bantuannya, Zio akhirnya tahu dimana Juan berada dan ia segera menyusul.


Sampai di restoran yang dimaksud, Zio berjalan dan mencari keberadaan mereka. Ia sempat melihat mobil milik Juan, itu artinya ia tidak salah alamat. Restoran ini cukup ramai dan ia kesulitan menemukan mereka sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti beberapa orang yang keluar dari pintu samping menuju ke arah belakang restoran dan akhirnya ia melihat Mentari dan Juan sedang berbicara serius.


Zio tidak ingin terlambat, ia tidak mau Mentari jadian dengan Juan dan dengan cepat ia mendekati mereka dan meraih kursi untuk duduk bersama di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Saat ini ….


Suasana menjadi begitu canggung saat kehadiran Zio di tengah-tengah mereka. Mentari dan Juan saling bertatapan, jika Mentari merasa risih binti kesal dengan kedatangan Zio, maka Juan justru merasa canggung.


Tak lama kemudian pesanan makanan Mentari dan Juan datang. Mereka lalu menatap Zio yang belum memesan makanan. Juan sendiri tidak berani bertanya pada atasannya ini.


"Pak Zio, anda ingin dipesankan makanan?" tanya Mentari basa-basi. Akan sangat tidak etis juga jika mereka makan sedangkan Zio menjadi penonton.


Zio mengusap-usap dagunya, ia nampak sedang berpikir padahal ia sama sekali tidak sedang memikirkan apapun.


Melihat tingkah Juan, Mentari menjadi kesal sendiri. Ia sudah lapar tetapi Zio justru membuatnya harus bersabar untuk menyantap makanan yang sudah ada.


"Juan, sebaiknya kita segera makan dan biar Pak Zio memikirkan makanan yang hendak ia pesan. Jika harus menunggu nanti makanan kita menjadi dingin. Pak Zio sekarang anda silahkan memesan makanan. Bukan salah kami lho jika kami makan duluan, kami sudah dari tadi disini," ucap Mentari. Ia bisa saja tidak memperdulikan keberadaan Zio disini, tetapi ia melihat sikap Juan yang begitu canggung Mentari jadi tidak enak hati dan segera meminta Juan untuk makan saja.


Melihat Juan masih canggung, Mentari berinisiatif untuk makan lebih dulu. Melihat Mentari yang begitu lahap memakan makanannya membuat Juan ikut bernafsu untuk segera menyantap makanannya. Sedangkan Zio, ia seperti tidak dianggap oleh kedua orang ini. Ia tidak memiliki makanan dan jika menunggu pesanan makan kemungkinan Mentari dan Juan sudah hampir selesai. Tapi jika tidak memesan maka ia hanya akan menjadi penonton.


Zio kesal dan dengan cepat ia menarik piring Mentari juga sendok yang baru saja masuk ke dalam mulut Mentari. Juan dan Mentari dibuat kaget, terutama Mentari yang kini menatap Zio kesal karena atasan merangkap mantan kekasihnya itu sedang menikmati makanannya.


"Pak, itu makanan saya lho," tegur Mentari setengah jengkel.


Dengan mulut yang masih penuh dengan makanan Zio pun berkata, "Yaelah makanan doang Tar, dulu juga waktu kita masih pacaran udah biasa 'kan kita makan sepiring berdua, berbagi makanan. Kok sekarang lu sewot sih? Udah biasa juga, 'kan?"


Wajah Mentari memerah mendengar ucapan Zio, ia melirik Juan yang juga sedang meliriknya. Sangat jelas tatapan Juan itu penuh tanya dan penasaran dengan maksud dari ucapan Zio barusan.


"Ya udah, Pak Zio makan saja," ucap Mentari mengalah, ia lebih peduli dengan perasaan Juan saat ini dibandingkan dengan makanannya. Mendadak Mentari kehilangan selera makan setelah Zio mengatakan tentang masa lalu mereka.


Dasar Zio brengsek! Dia itu kenapa sih? Selera makan gue jadi hilang sekarang dan kenapa juga dia harus bilang soal masa lalu kami. Dia sengaja atau apa sih?

__ADS_1


Mentari hanya bisa menggerutu dalam hati. Ia memperhatikan Zio yang sedang asyik menyantap makanan dan Juan yang terlihat seperti tidak berselera lagi pada makanannya.


Mentari menghela napas, sepertinya Juan semakin merasa canggung pada Zio. Ia khawatir jika Juan akan menjauh darinya jika tahu ia dan Zio adalah sepasang mantan kekasih. Mentari tidak ingin jika kedekatannya dengan Juan akan merenggang karena Zio.


Di tengah suasana sunyi itu, pelayan datang mengantarkan makanan Zio. Zio hanya menatap makanan itu dengan malas. Ia sudah mendapatkan makanan Mentari dan ia yakin dengan pasti Juan pasti kaget saat mengetahui ia dan Mentari pernah menjalin hubungan pacaran.


Melihat Mentari yang baru saja meletakkan gelas minum berisi air yang tinggal setengah, dengan cepat Zio mengambil gelas itu dan meneguk airnya hingga habis. Mentari dan Juan kembali melongo.


"Hei! Kenapa Pak Zio sangat suka mengambil milik saya sih? Apakah makanan dan minuman yang anda pesan ini tidak enak? Lalu kenapa dipesan? Anda tahu tidak, makan menggunakan sendok yang sama dan minum di gelas yang sama itu sama saja dengan berciuman secara tidak langsung lho Pak! Saya tidak mau jika kita berdua ber–"


"Ck! Kenapa lu suka sekali bernyanyi sih Tari? Lu lupa, bukannya tadi pagi kita juga berciuman di ruangan gue. Lu lupa atau mau gue ingatin lagi?"


Mentari berdiri dan dengan tanpa diduga ia melayangkan tamparan di pipi Zio. Bunyi keras hingga membuat beberapa pengunjung restoran menatap mereka. Juan pun tak kalah terkejutnya dengan tindakan Mentari barusan.


Zio tersenyum kecut, ia menggigit bagian dalam pipinya tanpa melirik ke arah Mentari. Zio tahu ia sudah keterlaluan tetapi ia juga tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat Mentari dan Juan bersama.


"Anda benar-benar keterlaluan. Jika anda ingin memecat saya karena saya menampar anda, silahkan dan saya tidak peduli. Akan lebih baik jika saya menjadi pengangguran daripada bekerja lagi bersama CEO seperti anda. Dasar brengsek!"


Mentari segera berlalu dari tempat itu, ia sempat berhenti untuk membayar makanan dan minumannya kemudian ia kembali pergi dengan membawa tangisannya.


Sedangkan di meja makan itu, Zio menatap tak suka pada Juan sedangkan Juan hanya menatap datar padanya.


"Lu! Jangan pernah dekati dia lagi. Dia itu milik gue, dan lu jangan jadi perebut seperti–"


Zio menggantung ucapannya, akan lebih baik ia pergi dan menyusul Mentari untuk meminta maaf daripada berurusan dengan Juan.


Juan menatap punggung Zio yang mulai menjauh. Ia tersenyum kecut seraya berkata, "Sorry, tapi gue juga suka sama dia dan lu cuma mantannya, Zio. Gue pastiin Mentari bakalan jadi milik gue. Lu nggak pantas bersanding dengan Mentari yang begitu baik sedangkan lu tidak lebih dari seorang bajingan!" gumam Juan, kemudian ia berdiri dari kursinya hendak meninggalkan restoran tersebut.

__ADS_1


__ADS_2