CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~114


__ADS_3

Mentari meminta Zio untuk masuk ke dalam kamar sedangkan ia membawa Lidya masuk ke dalam kamarnya. Mentari benar-benar dibuat kaget dengan penampilan Lidya yang sangat jauh berbeda. Entah apa yang sedang ada di pikiran adiknya itu sehingga tiba-tiba mengenakan pakaian seminim ini dan membuat Zio menyangka jika itu adalah dirinya. Padahal pun Mentari tidak pernah berpakaian seminim itu selama ini.


Mentari dan Lidya duduk di tepi ranjang dengan Lidya yang terus menundukkan kepalanya. Terdengar isak tangis dari gadis itu hingga Mentari semakin kebingungan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuatmu sampai berpakaian seperti ini?" tanya Mentari.


Lidya menggelengkan kepalanya, dengan perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya dan nampaklah pipinya yang basah dengan air mata.


"Kak maaf, sebenarnya aku tidak berniat untuk mendandani diriku seperti ini. Tetapi ... aku merasa lelah, Kak. Selama ini aku selalu mendapat bully-an hanya karena penampilanku yang terlalu cupu. Ayah dan ibu selalu melarangku untuk memperlihatkan kecantikanku, padahal aku ini sangat cantik loh Kak. Ini sebenarnya ada apa?"


Sebuah ungkapan hati Lidya langsung membuat Mentari menjadi paham. Adiknya ini menanggung beban mental dari perundungan yang ia alami karena penampilannya yang terlihat begitu cupu dan terkesan udik. Mentari sendiri tahu sejak kecil Lidya adalah gadis yang sangat cantik, akan tetapi kedua orang tuanya mencoba untuk menutupi kecantikannya tersebut.


Mentari membawa Lidya ke dalam pelukannya, adiknya itu menangis di dada Mentari dengan suara yang terdengar begitu lirih.


"Mungkin kau tidak tahu, tetapi ini adalah rahasia kelam yang coba untuk ditutupi oleh kedua orang tuamu. Dulu kau memiliki seorang kakak, apakah kau tidak mengingat kakakmu itu? Dia seusia Kak Tari loh," tanya Mentari ia penasaran apakah kedua orang tua Lidya mau menceritakan kakaknya tersebut.


Lidya langsung melepaskan pelukan dan menatap bingung pada Mentari. Samar-samar Lidya teringat akan sosok perempuan yang dulunya sering bermain dengannya ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar.


"Aku hanya mengingat satu kakak yaitu Kak Mentari saja. Tapi aku tiba-tiba ingat dulu pernah bermain juga dengan satu kakak cantik, apakah dia kakakku?" jawab Lidya dan kembali melemparkan pertanyaan.

__ADS_1


Mentari tahu jika dulu Lidya sempat mengalami kecelakaan dan merasa trauma. Ia tidak amnesia, hanya saja traumanya itu dihilangkan dengan terapi hipnotis oleh seorang psikiater dan membuat Lidya melupakan sebagian besar kisah masa lalunya.


Mentari pun menarik kembali Lidya ke dalam pelukannya. Tidak ada suara karena jika ia melanjutkannya saat ini, ia khawatir Lidya akan mengalami sakit kepala jika memaksa mengingatnya. Ia pun melepaskan pelukannya dan berdiri lalu mengambil kacamata serta sisir dan ikat rambut milik Lidya.


"Kamu tahu sayang, ada kecantikan yang memang lebih baik disembunyikan daripada dipertontonkan. Ada kecantikan yang membawa kebahagiaan dan juga ada yang membawa kesengsaraan," ucap Mentari sambil menyisir rambut Lidya.


Lidya yang tidak paham hanya bisa diam mendengarkan. Ia tahu kakaknya ini pasti akan memberikan hal-hal baik padanya.


"Dulu di desa kita, ada seorang perempuan seusia kakak. Dulu dia sangat akrab dengan kita sehingga kamu menganggapnya kakak juga. Dia sangat cantik, persis seperti kamu. Hanya saja banyaknya orang yang memuji kecantikannya itu membuatnya lupa diri dan ketika masa remaja — tepatnya dia duduk di bangku kelas dua SMA, kecantikannya itu membuat banyak pria menginginkannya.


"Dia sangat menikmati semua pujian yang datang padanya hingga akhirnya dia menjalin hubungan dan ternyata hubungan mereka itu bahkan sampai membuatnya kehilangan kesucian. Dia digilir dan dijadikan seorang pemuas nafsu para pria hidung belang di usianya yang masih muda. Semua berawal dari kecantikan lalu pujian dan pergaulan bebas. Dan akhirnya dia memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menanggung malu serta cacian dari semua orang di desa."


Zio yang sedari tadi mendengarkan dari balik pintu merasa semakin mencintai Mentari. Mungkin ini adalah alasan Mentari sangat menjaga dirinya dan sempat membenci pria yang suka bermain perempuan seperti dirinya.


Aku bersyukur karena Tuhan mendukung rencanaku dan menjadikan wanita baik itu sebagai istriku. Betapa beruntungnya aku memilikimu, Mentari.


Zio kemudian kembali ke kamarnya, ia tidak ingin menguping lebih banyak pembicaraan kakak beradik itu. Ada hal penting yang harus ia selesaikan.


"Jadi, apakah mungkin ini alasan ayah dan ibu menyembunyikan kecantikanku, Kak? Mendengarnya saja sudah membuatku merinding. Aku takut, Kak. Apa aku pulang kampung saja? Kata orang, kehidupan di kota itu sangat keras dan menakutkan. Banyak pergaulan bebasnya, aku takut Kak. Tapi aku juga ingin melanjutkan pendidikan biar jadi sarjana kayak Kak Tari," tanya Lidya yang mulai merasa resah, gadis lugu dan masih sangat polos sepertinya — apalagi dia berasal dari desa, pasti akan sangat resah menghadapi situasi seperti itu.

__ADS_1


Mentari tersenyum, ia tahu benar adiknya ini masihlah sepolos dan semurni itu. Mungkin karena lelahnya selama ini mendapat perundungan, membuat Lidya merasa penampilannya itu tidak boleh lagi disembunyikan.


"Jangan gitu, yang penting mantapkan tujuanmu untuk belajar dan meraih gelar sarjana. Jangan pusing dengan omongan orang karena mereka tidak akan ada habisnya membicarakan hidup orang lain. Kau punya dua tangan yang tidak mampu menutup semua mulut mereka, tapi bisa kau gunakan untuk menutup kedua telingamu. Yakinlah, berlian tersembunyi sepertimu ini hanya orang terbaik yang akan mendapatkannya," ucap Mentari memberi nasihat dan juga penghiburan untuk adiknya ini.


"Sudah selesai!" seru Mentari setelah selesai mengepang rambut Lidya. "Adik kakak harus bisa terlihat cantik karena hatinya saja dan pasti nanti orang yang akan mendapatkanmu akan sangat bangga karena hatimu cantik dan kejutannya adalah kau memiliki paras yang sangat cantik," imbuhnya kemudian ia mencium puncak kepala adik kecilnya ini.


Lidya tersenyum senang, ucapan Mentari kembali membuatnya termotivasi dan ia sangat membenarkan ucapan tersebut. Lidya kemudian berbalik badan dan memeluk Mentari. Ia sangat bersyukur memiliki saudara sebaik Mentari, kakak yang sangat baik untuk adiknya dan selalu berusaha menjaganya.


"Terima kasih, Kak. Aku sangat sayang sama kakak. Sekarang aku paham dan sebaiknya kakak segera kembali ke kamar karena suami kakak sudah menunggu," ucap Lidya setelah ia melepaskan pelukannya.


Mentari tersenyum, ia sangat senang dengan keceriaan Lidya seperti ini. Timbul dalam benaknya untuk membuat Juan jatuh cinta pada adik cantiknya ini. Bagi Mentari, hanya sosok seperti Juan yang sangat pantas untuk mencintai adiknya. Juan memiliki cinta yang murni begitupun dengan Lidya.


Aku akan membahasnya dengan Zio, mungkin saja dia setuju, gumam Mentari kemudian ia keluar dari kamar Lidya dan bergegas mencari Zio.


Di dalam kamar, Mentari melihat Zio yang sudah tertidur lelap. Ia pun naik ke tempat tidurnya yang hanya muat untuk dua orang itu. Untuk beberapa saat ia memandangi wajah Zio kemudian ia mendekatkan wajahnya hendak mencium dahi Zio namun yang ada ia justru dibuat kaget karena mendadak Zio menarik tengkuknya dan jadinya mereka berciuman.


Cukup lama hingga Mentari menepuk dada Zio karena ia sudah merasa kehabisan stok udara. Wajah Mentari memerah, ia merasa dicurangi oleh Zio namun belum sempat ia memberikan protes, Zio langsung membalikkan keadaan dan kini Mentari berada di bawah kungkungannya.


"Zioo!!"

__ADS_1


Zio meletakkan jari telunjuknya di bibir Mentari seraya berkata, "Diam dan nikmatilah!"


__ADS_2