CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK ~ 136


__ADS_3

"Sayang mau kemana?" tanya Zio dengan suara seraknya, matanya saja masih terpejam. Ia menahan tubuh Mentari dengan satu tangannya memeluk pinggang dan keduanya saat ini masih berada di dalam selimut.


"Sayang aku harus bangun pagi, ini pagi pertamaku di rumah mertua, aku tidak ingin jadi menantu durhaka dan tidak ingin ada drama antara mertua dan menantu seperti di sinetron atau di cerita novel ya," ucap Mentari yang berusaha untuk bangun tetapi Zio tetap saja menahannya.


"Tidak perlu sayang, mereka pasti akan paham apa yang kita lakukan di kamar karena kita ini adalah suami istri. Anggap saja ini bulan madu kita atau anggap ini malam pertama kita. Ini baru pukul lima, tidur lagi," ucap Zio tak ingin dibantah.


Mentari bercak, Zio benar-benar tidak paham dengan keresahannya. Bukan Zio yang merasakan bagaimana pertama kalinya menantu perempuan berada di rumah suaminya. Ini momen yang sangat mendebarkan dan Mentari berusaha untuk terlihat baik di mata orang tua Zio dan seluruh keluarganya, bukan untuk cari muka atau untuk mendapat sanjungan, ia hanya ingin memantaskan diri.


"Aku harus bersuci sebelum waktunya berakhir," ucap Mentari dan Zio mau tidak mau harus melepaskan istrinya sebab ini adalah hal yang wajib dan Mentari memang selalu melaksanakannya sedangkan ia masih belum terbiasa.


Zio mengecup pipi Mentari kemudian membiarkan istrinya itu bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Niat hati ingin menunggui tapi apalah daya Zio yang kelelahan sebab semalam ia berhasil menggempur Mentari berkali-kali tanpa takut suara-suara aneh mereka terdengar oleh tetangga kamar karena di kamar Zio kedap suara tidak seperti di kamar Mentari.


Selesai mandi Mentari baru sadar jika ia tidak membawa pakaian ganti. Ia memakai ********** dan mencai baju kaos Zio dan ia akan mengenakan celana Zio yang mungkin ada salah satu yang pas dengannya.


Mentari menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat penampilan dirinya di depan cermin. Ia mengenakan kaos Zio yang berwarna hitam dan itu terlihat seperti kaos oversize di tubuh Mentari. Ia juga mengenakan celana training Zio yang kedodoran tetapi untung saja bisa ia sesuaikan hanya saja terlalu panjang hingga ia harus menggulungnya.


"Aku harus meminjam kepada siapa? Aku bahkan lupa membawanya," gumam Mentari, ia menatap jam di dinding kamar Zio dan waktunya akan segera berlalu.


Mentari memberanikan diri untuk turun ke dapur karena ia yakin para koki dan asisten rumah tangga di rumah ini pasti sudah bangun.


Zio yang sempat tertidur langsung terbangun dan mencari keberadaan istrinya tetapi ia tidak menemukannya.


"Harusnya jika ingin beribadah dia ada di sana," tunjuk Zio pada tempat kosong di dalam kamarnya.

__ADS_1


Zio pun bangun dan mencari celana pendeknya lalu ia berjalan ke arah kamar mandi.


Kosong, ia tidak menemukan keberadaan Mentari di sana. Ia tidak menemukan istrinya di setiap sudut di dalam kamar ini hingga ia menjadi panik, ia teringat ucapan Mentari jika mungkin saja maminya akan memarahi istrinya sebab bangun terlambat. Ia pun segera keluar dari kamar tanpa mengenakan pakaiannya dan ia berlari ke kamar orang tuanya untuk mencari keberadaan Mentari.


"Mi, Pi, buka pintunya!" pinta Zio dengan terus mengetuk-ngetuk pintu kamar itu dengan sedikit brutal.


Pintu terbuka dan nampaklah kedua orang tuanya yang masih dengan wajah mengantuk keluar menemui Zio. Tanpa banyak bicara Zio langsung masuk dan mencari keberadaan Mentari. Bingung dengan kelakuan putranya di pagi ini, Lolita pun berinisiatif untuk bertanya.


"Sebenarnya kamu kenapa sih, Nak? Mencari apa dan mengapa tidak mengenakan pakaian?"


Zio menghentikan aksinya dn ia mendekati tersangka utama menghilangkannya Mentari di pagi ini.


"Tari nggak ada di kamar, Zio pikir dia ada di kamar ini lagi diomelin Mami karena nggak bangun pagi lalu beres-beres rumah dan memasak," ucap Zio tanpa sadar membeberkan kekhawatiran Mentari.


"Berani sekali lu berpikiran seburuk itu tentang Mami! Memangnya selama ini Mami tuh suka marahin atau omelin orang?" sungut Lolita tanpa berniat melepaskan tangannya dari telinga Zio.


Zio meringis meminta dilepaskan tetapi maminya sama sekali tidak mendengarkannya dan justru ia membawa Zio sampai di depan pintu kamarnya.


"Sekarang coba jelaskan bagaimana bisa kamu bilang kalau Mentari hilang?" tanya Danu yang tidak ingin masalah ini semakin panjang.


Zio pun menceritakan jika tadi Mentari hendak menunaikan perintah Sang Pencipta tetapi ia ketiduran sebentar lalu ketika ia bangun ia sudah tidak menemukan keberadaan Mentari.


Ia sangat resah memikirkan keberadaan Mentari, begitupun dengan kedua orang tuanya. Mereka memutuskan untuk mencari keberadaan Mentari hingga mereka berpapasan dengan kakek Rasyid di tangga yang sepertinya ia baru pulang dari melaksanakan perinta Tuhan di rumah ibadah.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya kakek Rasyid.


"Tari hilang, Kek!" jawab Zio.


Untuk sepersekian detik kakek Rasyid terdiam lalu ia tertawa terbahak-bahak hingga membuat yang lainnya keheranan dan bertanya-tanya.


"Jangan-jangan dia meninggalkanmu setelah sadar kalau kamu itu tidak pantas untuk menjadi suaminya atau karena kamu terlalu ganas di ranjang," ucap kakek Rasyid yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Danu sejak tadi.


Wajah Zio semakin cemberut saja dan ia menatap kesal pada kakeknya.


"Nanti dulu, pasti ada di rumah kok," ucap Lolita mencoba untuk menenangkan putranya dan ia juga yakin Mentari tidak mungkin kabur dari rumah.


Saat mereka sedang berpikir, salah satu ART mereka menghampiri dan mengatakan bahwa nyonya muda sedang berada di dalam kamarnya. Mereka terheran-heran mengapa Mentari bisa berada di sana namun setelah ART yang biasa di sapa Bi Yayan itu mengatakan apa yang dilakukan Mentari, mereka menjadi lega.


"Nyonya muda mencari mukena dan saya sebenarnya tidak enak mau meminjamkan karena takut nyonya tidak nyaman, tetapi beliau memaksa dan akhirnya nyonya juga meminta untuk dipinjamkan kamar karena tidak ingin bolak-balik hingga melewatkan waktu," papar Bi Yayan.


Mereka pun berjalan menuju ke tempat di mana Mentari berada. Mata Zio dan kakek Rasyid berkaca-kaca saat melihat Mentari masih asyik dengan ibadahnya dan sepertinya ia sudah selesai namun masih meneruskan dengan dzikir pagi.


"Dia memang seperti ini. Sejak Zio nikah sama dia, setiap pagi Zio pasti akan melihat pemandangan ini," ucap Zio yang merasa bangga pada istrinya.


"Pertahankan!" ucap kakek Rasyid.


Lolita dan Danu saling menatap lalu keduanya tersenyum bersama. Satu pemikiran, mereka sependapat jika istri Zio ini adalah pilihan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2