CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~55


__ADS_3

Zio kebingungan karena menemukan Mentari masih sibuk bekerja sedangkan jam kerja sudah selesai. Ia yang tadinya mengirim pesan pada Mentari untuk pulang bersama namun tidak mendapat balasan justru menemukan kekasihnya itu sedang serius menyelesaikan dokumen yang menumpuk di sampingnya. Padahal menurut Zio, pekerjaan itu bisa dirampungkan di minggu berikutnya. Mendadak perasaan Zio menjadi aneh, Mentari seolah sedang ingin melakukan sesuatu yang entah apa tetapi Zio merasa ada yang aneh dengannya.


Mentari belum menyadari keberadaan Zio, ia begitu serius karena tekadnya yang kuat untuk menyelesaikan pekerjaannya apalagi tadi notif gaji sudah masuk di ponselnya. Mentari harus kejar target untuk bisa selesai hari ini juga atau jika tidak maka besok ia akan datang kembali ke kantor untuk lembur.


Zio mengangkat sebelah alisnya. Gumaman kecil dari mulut Mentari membuatnya penasaran. Ia pun mendekati kekasihnya tersebut, sebenarnya ia masih curiga akan tetapi nanti saja ia pertanyaan saat mereka sudah berada di jalan pulang.


"Sayang, kenapa masih bekerja?" tanya Zio yang membuat Mentari terkejut.


"Zio, lu dari tadi disini?" tanya Mentari balik, ia memaksakan sebuah senyuman.


Zio mengangguk, "Kenapa masih sibuk sih, kayak nggak ada hari lain aja. Ini udah waktunya pulang dan Ramon bahkan sudah pulang," ucap Zio kemudian Mentari melirik jam di pergelangan tangannya.


Mentari menepuk jidat, sebenarnya ia berpura-pura agar Zio tidak curiga. "Ya ampun gue serius banget kerjanya sampai nggak sadar," ucapnya sambil terkekeh.


Zio tidak bodoh, jelas saja ia melihat tingkah Mentari seperti dibuat-buat. Apalagi ketika tadi ia mengatakan seperti tidak ada hari lain, ia melihat wajah Mentari mendadak kaget cenderung salah tingkah. Ia yakin ada sesuatu dan ia harus tahu apa yang sedang Mentari sembunyikan.


"Ayo pulang, udah mau malam," ajak Zio dan Mentari mau tidak mau harus menuruti keinginan Zio. Ia akan menyambung pekerjaannya besok pagi.


Mentari kemudian menonaktifkan perangkat komputernya kemudian ia mengambil tas lalu berjalan beriringan bersama Zio. Pria tampan itu bahkan terus menggenggam tangan Mentari seolah gadisnya itu akan hilang dari genggamannya.


Mentari bahkan meledek sikap Zio seperti orang yang akan menyebrang namun Zio masa bodoh karena ia sedang menunjukkan rasa cintanya pada Mentari dan memberikan kepastian bahwa ia memang menginginkan gadis itu tanpa peduli masih ada beberapa pasang mata di kantor yang melihat kedekatan mereka.


"Zio ih, malu tahu. Nanti apa kata mereka kalau lu terus megang tangan gue kayak gini," bisik Mentari yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan Zio.


Zio berdecak, bukannya melepaskan ia justru menautkan jari-jari mereka. Mentari menjadi malu sendiri dibuat kekasih--atasannya--pemilik perusahaan.


"Apa yang gue genggam nggak bakalan gue lepasin. Lu pernah lepas dan kali ini nggak lagi," jawab Zio sambil menatap lekat kedua netra Mentari yang saat ini membulat sempurna karena kaget dengan ucapan Zio yang begitu lantang, ia yakin pasti para karyawan mendengar ucapan Zio barusan.

__ADS_1


Tidak ingin berdebat, Mentari memilih mengiyakan saja ucapan Zio. Ia kemudian menunduk, malu sekali memperlihatkan wajahnya yang memerah di hadapan rekan-rekan kerjanya.


Mentari merasa karma itu memang lebih cepat datangnya. Tadi ia dengan sengaja membuat Zio tersipu malu dan kini gilirannya, bahkan Zio melakukannya di hadapan banyak orang.


Sesampainya di parkiran, Mentari langsung melepas tautan tangan mereka dan ia bergegas menuju ke motornya. Zio sedikit heran, ia pikir Mentari akan pulang bersamanya akan tetapi ternyata Mentari justru langsung naik ke atas motornya.


"Yang, pulang bareng gue. Motonya di simpan aja disini, nanti ada yang bakalan bawain," cegat Zio.


Mentari yang sedang memakai helm meneruskannya, ia kemudian menggelengkan kepalanya. "Gue pulang naik motor. Lu naik mobil aja, nggak mau ngerepotin orang juga buat bawa motor gue," ujarnya.


Zio berdecak, ia kemudian mengambil kunci motor Mentari lalu meminta kekasihnya itu untuk mundur karena ia yang akan menyetir. Mentari diam-diam tersenyum, ia senang karena Zio lebih memilih naik motor bersamanya dan meninggalkan mobilnya tersebut.


"Tapi lu nggak pakai helm," cegat Mentari.


"Gampang. Kalau ditilang nanti gue bayar. Kalau lu nggak mau kena tilang nanti kita mampir ke toko helm," ujar Zio yang membuat Mentari mencebikkan bibirnya.


Zio kemudian menarik tangan Mentari, ia melingkarkan di pinggang dan Mentari dengan senang hati memeluk Zio. Ia ingin membangun kedekatan mereka sebelum ia menjauh.


Zio memang masih bisa menemuinya di rumah, akan tetapi pasti tidak akan sesering mereka bertemu di kantor.


Kenapa berat banget hanya untuk menyatakan perpisahan. Kenapa gue susah banget buat jujur ke Zio kalau gue akan keluar dari perusahaan. Cepat atau lambat gue emang harus sadar diri, cinta emang kuat tapi restu orang tua itu yang utama. Dimas Ezio Rasyid, gue cinta sama lu dan ketika lu tahu kebenaran gue, tolong maafin gue ya.


Mentari mengeratkan pelukannya, ia menyandarkan dagunya di bahu Zio. "Zio, lu mau nggak kencan sama gue malam ini?" tanya Mentari, entah mengapa mendadak rasa cinta itu semakin menggebu-gebu dan ia sudah merasakan kerinduan padahal Zio masih berada di dekatnya.


"Tentu saja," jawab Zio dengan senang hati padahal ia saat ini sedang menerka-nerka apa yang membuat Mentari bersikap aneh seperti ini.


Tari, lu nggak lagi ngerencanain sesuatu yang buruk, 'kan? Gue harap lu nggak sedang dalam misi apapun yang bikin gue sakit nantinya. Gue cinta banget sama lu Tari.

__ADS_1


"Zio awass!!" pekik Mentari.


Zio kemudian menghentikan motor dengan mendadak hingga Mentari terdorong ke depan dan kaca helm Mentari membentur kepala Zio.


Mentari mengusap kepala Zio yang sakit karena Zio sempat meringis dan mengeluh sambil memegangi kepalanya.


"Permisi Pak, boleh lihat SIM sama STNK?" tanya polisi lalulintas.


Mentari langsung membuang muka, ia sudah yakin ada kejadian seperti ini.


Zio sempat kaget, ia pikir mereka akan menabrak sesuatu hingga Mentari berteriak, ternyata ada polisi lalulintas yang sudah menghentikan mereka. Zio yang tadinya melamun pun tak melihat ke arah depan.


Pria tampan itu tersenyum, ia dengan santainya mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu SIM pada pak polisi.


Polisi itu mengernyit, "Ini SIM A pak, yang saya tanya itu SIM C," ucapnya seraya mengembalikan SIM tersebut. Ia tadinya sempat kaget karena melihat nama Zio, namun karena tugasnya adalah menegakkan keadilan maka ia tidak akan pandang bulu.


Mentari menggeleng, kekasihnya ini lagi dan lagi membuatnya malu. Sedangkan tersangka saat ini tengah cengengesan menatap polisi.


"Anda kami tilang, tidak memiliki SIM dan juga tidak memakai helm," ucap polisi tersebut.


Mentari yang tidak ingin memperpanjang masalah kemudian ia mengeluarkan SIM dan juga STNK dari dalam dompet. Ia meminta polisi tersebut cukup menilang Zio karena tidak mengenakan helm saja.


Setelah atur damai dan membayar denda, Zio dan Mentari pun melanjutkan perjalanan dengan Mentari yang mengemudikan motor.


"Kalau tahu kayak gini, kita gagal kencan malam ini. Udah nggak mood gue jalan sama lu malam ini."


"What?!"

__ADS_1


__ADS_2