
"Zio kenapa seperti ini?" tanya Damian.
Zio tidak menjawab pertanyaan tersebut, tetapi ia terus melangkah mendekati Damian lalu menarik kerah jasnya dan mengangkatnya hingga berdiri tepat menghadapnya. Satu pukulan juga Zio berikan kepadanya sedangkan Oliver langsung maju dan memegangi Tuan Damian Vindex.
"Apa-apaan kalian! Jangan bersikap tidak sopan ya. Jangan mentang-mentang kalian adalah orang yang sudah menyuntikan dana ke perusahaan ini, kalian bisa berbuat sesukanya kepadaku!" teriak Damian tidak suka, apalagi ia dikeroyok oleh dua bersaudara ini.
Zio tidak menjawab, ia meminta Oliver untuk menyeret Damian menuju ke ruangan kakek Harun Vindex, mereka akan sekalian melaporkan pada pria tua itu yang saat ini tengah digalaukan olehnya. Masalah perusahaan yang sama sekali tidak memperoleh keuntungan melainkan merugi padahal dana baru disuntikkan belum seminggu.
Kakek Harun terkejut, ia benar-benar tidak menyangka Zio datang bersama Oliver sambil menahan anaknya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, akan tetapi wajah Zio tidak mencerminkan hal yang baik-baik saja.
"Ada apa ini Nak Zio, bukankah kamu sedang berlibur bersama dengan Dini? Ah ya, mengapa Dini tidak memberi kabar ya?" tanya kakek Harun yang langsung berdiri menyambut tamunya itu.
"Saya datang bukan untuk berbasa-basi Kakek, tapi saya ingin menangkap orang ini. Anak Anda ini yang sudah melakukan kecurangan, dia kembali melakukan money laundry dan juga seluruh uang yang disuntikan ke perusahaan ini tidaklah masuk ke rekening perusahaan tetapi sudah diambil alih oleh Tuan Damian untuk kepentingannya pribadi," ucap Zio kemudian ia memperlihatkan rekaman dan juga bukti-bukti di mana Damian menggelapkan uang yang ia suntikan tersebut.
Kakek Harun benar-benar terkejut, pantas saja ia selama ini malah mendapatkan kerugian bukannya keuntungan besar karena sudah bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Ar-Rasyid. Belum lagi dana yang diberikan begitu banyak, rupanya anaknya sendiri yang sudah menggelapkannya dan Damian memang benar-benar tidak bisa mengubah sifatnya tersebut.
"Ayah benar-benar tidak menyangka Damian, kau melakukan ini pada ayah. Bagaimana bisa kau menghancurkan perusahaan kita padahal Zio sudah dengan baik hati ingin membantu perusahaan ini untuk bangkit lagi," teriak kakek Harun begitu marah. Bagaimana tidak marah, anaknya ini benar-benar sudah terlalu kelewatan batas.
"Aku bisa menjelaskannya, Yah," ucap Damian berusaha lepas dari cengkraman Oliver, semakin ia bergerak semakin Oliver mencengkram kedua lengannya dengan erat.
Kakek Harun menggeleng, ia tidak membutuhkan penjelasan lagi karena memang selama ini ia tahu anaknya tersebut yang sudah membuat perusahaan semakin hancur. Jika bukan bermain wanita, Damian pasti akan berjudi dan semua uang perusahaan dihabiskan untuk hobi buruknya tersebut.
"Tidak perlu memberi penjelasan dan tidak ada toleransi lagi. Sekarang kamu harus mendekam dipenjara karena ayah sendiri benar-benar kecewa padamu dan tidak menyangka kamu adalah dalang dibalik pailitnya perusahaan kita. Damian, ayah benar-benar kecewa padamu, ayah harusnya mengandalkanmu untuk memajukan perusahaan kita, tapi justru kamu yang menghancurkannya seperti ini ayah—"
Kakek Harun jatuh dan untung saja Zio bisa menahannya. Kakek tua itu memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak, dengan cepat Zio membantunya untuk berbaring di sofa.
Damian sangat terkejut melihat ayahnya yang hampir pingsan. Ia tahu jika ayahnya memiliki penyakit jantung dan sepertinya ayahnya mendapat serangan jantung lagi. Damian tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong ayahnya, sebab ia masih berada dalam cengkraman Oliver.
"Bawa anak kurang ajar itu ke penjara, laporkan pada polisi dan berikan hukuman seberat-beratnya!" ucap kakek Harun sebelum akhirnya ia pingsan.
__ADS_1
Zio kemudian memanggil sekretaris kakek Harun dan memintanya untuk menghubungi petugas keamanan agar membantu Oliver membawa Damian ke kantor polisi, sedangkan ia akan menemani kakek Harun menuju ke rumah sakit. Walau bagaimanapun Zio masih memiliki hati untuk menolong pria tua ini.
Keduanya pun berpisah jalur, Oliver membawa mobil milik Zio sedangkan Zio masuk ke dalam ambulans yang sudah datang untuk menjemput kakek Harun yang dihubungi oleh sekretarisnya.
Tak lupa Zio mengabarkan kakeknya tentang kondisi kakek Harun dan juga tentang ia yang sudah membawa semua bukti kecurangan Damian serta Oliver yang membawa Damian ke kantor polisi.
Sesampainya di rumah sakit dokter segera memberikan pertolongan kepada kakek Harun, akan tetapi dokter tersebut menyerah dan menggelengkan kepalanya. Ia kemudian keluar dan memberitahukan kepada Zio jika kakek Harun sudah meninggal sejak dalam perjalanan ke rumah sakit.
Zio benar-benar terkejut, apalagi ketika ia mendapat kabar bahwa Damian berusaha melarikan diri dari kantor polisi dan mendapat tembakan di kaki sebanyak dua kali.
Bersama dengan kakek Rasyid, Zio menemani jenazah kakek Harun dibawa ke kediamannya untuk dilakukan prosesi pemakaman. Zio mengabari rumah sakit yang merawat Dini, ia meminta mereka untuk membawa Dini pada prosesi terakhir untuk pemakaman kakeknya agar wanita itu masih bisa melihat orang tua ini untuk yang terakhir kalinya.
Sekali lagi Zio masih punya hati dan empati pada keluarga ini, pada Dini yang walaupun sudah menjebaknya berkali-kali tapi dia masih memiliki rasa kemanusiaan. Memang benar kata Oliver jika Zio masih memiliki sisi lemah lembut dan juga mudah tersentuh oleh sesuatu hal yang bersifat sensitif.
Inilah akhirnya yang terjadi pada keluarga Vindex, dimana mereka berusaha untuk mengelabui keluarga Ar-Rasyid dengan melakukan perjodohan serta perhitungan tentang balas budi di masa lalu, yang akhirnya membuat keluarga mereka terpecah belah.
....
Dini berlari dan langsung bersimpuh di depan jenazah kakeknya, ia menangis meraung-raung dan masih tidak percaya jika pria tua yang selama ini selalu menjaganya lebih baik daripada ayah kandungnya dan juga selalu mendukung semua keputusannya serta selalu memanjakannya kini sudah tiada lagi.
Dini berdiri kemudian ia memukul-mukul dada Zio. "Ini semua karena kamu Zio! Coba saja kamu tidak melakukan hal buruk padaku dan pada keluargaku, ini semua pasti tidak akan terjadi. Semua karena dirimu. Aku bersumpah akan membuat hidupmu sengsara di kemudian hari. Aku bersumpah!" teriak Dini yang membuat para pelayat mengalihkan atensi mereka pada keduanya.
"Jika kamu masih menyalahkanku untuk yang terjadi pada keluargamu, kamu salah besar. Semua ini terjadi karena ayahmu, jangan menyalahkan kami dan asal kau tahu ayahmu yang menyebabkan kakekmu terkena serangan jantung hingga tiada seperti ini. Aku hanya menolongnya dari keterpurukan dan membawanya ke rumah sakit. Itu saja dan selebihnya kau bisa mempertanyakan kepada ayahmu yang sekarang mendekam di penjara," ucap Zio yang membuat Dini semakin mengamuk.
Dini tahu selama ini ayahnya memang yang selalu menyusahkan kakeknya. Ia juga tahu jika selama ini ayahnya yang membuat perusahaan menjadi bangkrut. Dini menjadi beberapa kali pasangan one night stand para pengusaha hanya untuk membuat hidupnya tetap berada di circle-nya, menjadi wanita sosialita memiliki barang-barang yang dia inginkan, dompetnya tidak pernah kosong dan semua itu terjadi karena ayahnya yang sudah membuat perusahaan mereka menjadi bangkrut.
Sampai pada akhirnya Dini bertemu dengan Bright, lelaki itu yang sudah mencintai Dini dengan sepenuh hati akan tetapi karena ambisi keluarga Dini untuk kembali membangun perusahaan dan mendapatkan keuntungan lebih besar, ia harus melepaskan cintanya itu. Lelaki yang benar-benar mencintainya dengan tulus tanpa peduli masa lalunya, namun sepertinya Dini akan kembali kehilangannya karena pria itu sudah menjaga jarak dengannya.
Dini jatuh pingsan dan Zio segera membantunya untuk di bawa ke sofa. Dini sedang hamil dan pasti tidak boleh terlalu banyak tekanan. Oliver, kakek Rasyid dan papi Danuarta saling membantu menyambut para pelayat dan juga mengatur segala prosesi sampai pemakaman.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian prosesi pemakaman telah selesai dan Dini masih berada di makan tersebut sambil menangis meminta kakeknya untuk kembali hidup. Ayahnya hanya datang sebentar lalu dibawa kembali ke sel tahanan. Zio dan Oliver masih berada di sana untuk menjaga Dini. Mereka akan kembali membawa Dini ke rumah sakit bersama dengan petugas dari rumah sakit yang tadi sudah membawa Dini datang.
"Ada telepon dari Mentari," ucap Zio yang kemudian mengambil jarak untuk menerima panggilan tersebut.
Oliver mencebikkan bibirnya. Ia merasa iri karena Mawar tidak menghubunginya sedangkan Mentari selalu memberi kabar pada Zio.
Tak lama kemudian ponsel Oliver juga berdering. Dengan senang hati ia langsung menjawab panggilan tersebut. "Halo sayang, apakah merindukanku?" tanya Oliver dengan suara yang sengaja ia besarkan agar Zio juga tahu kalau kekasihnya sama perhatiannya seperti Mentari.
"Kak ini aku Juan," ucap Juan yang merasa geli saat Oliver memangilnya dengan sebutan sayang.
Oliver langsung menjauhkan ponselnya dan melihat nama pemanggil yang tertera di ponselnya.
Sial!
Wajah Oliver langsung merah padam, kesal pada Juan tapi ini bukan salah adik sepupunya itu. Dirinya yang terlalu bersemangat dan terlampau iri pada Zio membuatnya langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Ada apa?" tanya Oliver yang sudah berhasil menghilangkan rasa kesalnya.
"Kak, tadi aku hampir ditabrak mobil dan pengendaranya bernama Dwine. Aku harus membuat laporan dan bisakah kamu membantuku?" tanya Juan dan Oliver langsung terkejut karena bontot mereka itu hampir saja celaka.
"Tunggu disana dan gue akan segera datang," ucap Oliver yang langsung memanggil Zio.
Oliver menceritakan apa yang tadi Juan katakan dan tak lupa ia memberitahukan nama pelakunya. Zio sempat terlihat bingung lalu ia tersenyum seringai.
Dwine, sekarang giliranmu. Akan gue buat lu mengaku dan mempertanggungjawabkan perbuatan lu ke gue. Tapi, kenapa dia hampir mencelakai Juan?
Zio bertanya-tanya dalam hati hingga akhirnya lamunannya itu buyar ketika salah satu petugas rumah sakit berteriak.
"Tuan, nyonya Dini kabur!"
__ADS_1