
Dini kaget saat melihat arah yang dituju justru berbeda dengan tempat yang Zio katakan sebelumnya. Zio mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Bogor akan tetapi justru arah mobil Zio tidak menunjukkan tanda-tanda mereka akan ke sana walaupun lewat jalan lain dan memutar-mutar arah.
"Zio kita mau kemana dulu nih? Kamu emang ada planning tempat lain dulu ya sebelum pergi ke Bogor?" tanya Dini mulai resah, namun ia tetap mempertahankan sikap manis dan juga rasa bahagianya karena bisa berduaan dengan Zio.
Zio tersenyum seringai, ia hanya menatap Dini sekilas kemudian ia kembali fokus menyetir.
Tentu saja gue tidak akan bawa lu ke sana. Dasar bodoh! Lu pikir gue bener-bener mau ngajak lu jalan dan temani gue perjalanan bisnis? Mimpi! ucap Zio dalam hati.
Melihat sikap Zio yang agak berbeda membuat Dini merasa aneh dan juga bingung. Tadinya Zio begitu hangat dan begitu ramah padanya, namun saat ini pria itu justru terlihat misterius.
"Zio lu nggak lagi ngibulin gue, 'kan? Lu nggak lagi ngerjain gue, atau lu emang nggak lagi sandiwara 'kan kalau lu mau tanggung jawab sama gue dan anak kita?" cecar Dini, ia mulai dihinggapi perasaan-perasaan tidak enak melihat perubahan sikap Zio yang begitu drastis.
__ADS_1
Zio menepikan mobilnya, ia kemudian menatap Dini dengan begitu tajam. "Kalau iya kenapa?" tanya Zio yang membuat Dini kesulitan menelan salivanya.
Meskipun takut dengan aura yang dipancarkan oleh Zio, Dini tetap berusaha senang dan berpikir positif. Ia yakin sekali saat ini Zio hanya sedang ingin mengerjainya saja.
"Bercandanya nggak lucu, baby. Ayo lanjutin lagi perjalanan kita, aku tahu kamu pasti ada hal yang penting di tempat lain sehingga kamu menunda pekerjaanmu di Bogor. Aku tetap setia kok menunggu di sini, nggak masalah!" ujar Dini berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Jujur saja ia hampir saja merinding ketakutan begitu melihat tatapan Zio yang begitu tajam seolah menusuk tepat di jantungnya.
Melihat reaksi Zio yang tertawa kemudian kembali menyetir mobil, Dini menghela napas lega. Dalam hati ia begitu senang karena ternyata Zio hanya sedang mengujinya saja dan ia sendiri yang terlalu paranoid.
Gue terlalu parno sampai-sampai mikir kalau Zio itu mau ngelakuin hal buruk ke gue. Padahal udah jelas-jelas dia datang dan menyesali semua perbuatannya ke gue. Bahkan dia ninggalin Mentari demi gue, harusnya gue nggak kayak gini. Harusnya gue tetap mikir positif. Dasar pikiran, kamu membuatku hampir saja kehilangan Zio.
__ADS_1
Dini mengomel dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri. Ia kemudian melirik sekilas Zio yang sedang fokus menyetir. Wajah tampan Zio semakin membuatnya tergila-gila dan ia tidak sabar untuk kembali bisa bercinta dengan Zio di tempat nanti mereka akan menginap.
"Apakah nanti kita akan tidur sekamar? Atau pisah kamar?" tanya Dini memastikan fantasi liar sudah mulai merasuki pikirannya saat ini.
Zio langsung tahu kemana arah pembicaraan Dini, ia kemudian menghubungi Oliver mengenai rencana mereka menghadap dua orang sekaligus.
Ciiitttt ...
Zio menghentikan mobil secara mendadak, ia menatap Dini dengan tatapan yang sulit diartikan sehingga membuat Dini merasa ketakutan.
"Bagaimana kalau ...."
__ADS_1