
Mentari berlari keluar dari dalam ruangan Zio bahkan langsung mengambil tasnya dan pergi begitu saja dari perusahaan sambil membawa air matanya. Iya bahkan tidak peduli dengan tatapan pada karyawan yang melihatnya berlari sambil meneteskan air mata.
Mentari memang tidak peduli karena tidak banyak yang ia kenal di kantor itu sebabnya ia bekerja di lantai yang hanya khusus untuk dirinya Zio dan juga Ramon saja.
Mentari menyetup taksi, sebab Ia tidak membawa motornya karena selama dia pacaran dengan shio mazio selalu mengantar jemputnya. Mentari tidak tahu ia harus pergi ke mana, ia tidak memiliki arah dan tujuan hingga akhirnya ia hanya berdiam diri di dalam mobil taksi sambil memikirkan ke mana langkah yang selanjutnya yang akan ia ambil.
Mentari bahkan mematikan ponsel yang begitu melihat ada banyak panggilan dari Zio. Hatinya masih belum siap untuk berbicara dengan Zio, dadanya terlalu sesak melihat kenyataan di mana keluarga Zio justru memandangnya sebagai gadis yang hanya mengejar sesuatu dari Zio semata.
Mentari kemudian menyimpan ponselnya di dalam tas, ia kemudian menyebutkan alamat kepada sopir taksi tersebut.
Setalah sampai di alamat yang sudah Mentari sebutkan tadi, ia turun dan masuk ke dalam warteg lalu ia memesan makanan dan menelepon Mawar. Tak lupa sebelum itu ia mematikan data selulernya agar Zio tidak bisa melacak keberadaannya yang entah Zio mencarinya atau tidak.
Tak lama kemudian setelah Mentari menelepon Mawar, ponselnya kembali berdering dan itu panggilan dari Zio tetapi Mentari langsung mematikan lagi ponselnya bahkan ia mencabut sim card agar Zio tidak lagi bisa menghubunginya.
Mentari saat ini masih lelah hatinya, ia belum siap untuk berbicara dan membahas hubungannya bersama Zio. Ia bahkan tidak tahu apakah ia harus pulang ke rumah tepat waktu ataukah ia tinggal dulu bersama Mawar karena ia yakin Zio mungkin akan mencarinya di rumah. Mentari tidak ingin bertatap muka dengan Zio dalam waktu dekat ini.
Makanan yang dipesan Mentari pun sudah tersedia di atas meja, tak lama kemudian pun Mawar datang dan ia juga turut memesan makanan. Mawar yang melihat keadaan sahabat baiknya ini sedang tidak baik-baik saja, ia mengurungkan niat untuk bertanya atau mengomeli Mentari yang tiba-tiba menyuruhnya untuk datang ke warteg sedangkan ia sedang mengurus pekerjaan yang begitu banyak.
"Nanti gue bantuin buat ngerjain pekerjaan lu, tenang aja," ucap Mentari di sela-sela makannya.
Mawar tentu saja langsung tersenyum senang, tanpa ia minta pun Mentari sudah mengerti dengan maksudnya.
"Aduh ... senangnya punya teman perhatian dan pengertian. Ya udah deh yuk kita makan, nanti gue yang traktir," ucap Mawar kemudian ia menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Berbeda dengan Zio yang saat ini sedang merasa frustrasi, ia bahkan tidak peduli dengan kehadiran keluarganya di dalam ruangan itu. Ia terus berusaha menghubungi Mentari walaupun kenyataannya sampai detik ini Mentari terus menghindar darinya.
"Dimas Ezio Rasyid! Hargai Kakek di sini," ucapnya dengan suara lantang hingga membuat Zio melepaskan ponselnya dan duduk pasrah menatap malas sang kakek.
"Jadi benar dia kekasihmu, apa dia yang membuatmu menolak Dini?" tanya kakek Rasyid dengan penuh intimidasi.
"Ya dia pacar Zio, calon istri Zio tentu saja, karena Zio tidak mau yang lain. Lagi pula kakek tidak tahu dan belum kenal dengan Mentari. Dia bukan memandang status Zio atau mencari keuntungan atau seperti yang kakek bilang mencari sesuatu di balik sesuatu. Zio yang maksa dia buat di pacar dan asal kakek tahu dan asal kalian semua tahu, Zio itu udah pacaran lama sama Mentari, sejak kami masih duduk di bangku kuliah, dimana tidak ada yang tahu kalau aku itu adalah seorang Dimas Ezio Rasyid cucu dari kakek Rasyid yang merupakan konglomerat di negara ini!" pekik Zio yang membuat mami dan kakeknya terdiam.
Sedangkan Dini, wanita itu tidak peduli dengan pembelaan Zio karena yang ia tahu ia harus bisa menikah dengan Zio dengan memanfaatkan Mami dan kakek Zio.
Mami sendiri menatap iba pada putranya, ia sejujurnya tidak setuju jika Zio dijodohkan seperti ini karena ia yakin anaknya masih bisa memilih sendiri wanita yang ia inginkan. Namun karena mereka semua berada di bawah telunjuk sang kakek, tidak akan ada yang bisa membantahnya dan mami Lolita hanya bisa pasrah melihat nasib anaknya.
"Lagi pula cucu kakek itu bukan cuma Zio, masih ada Juan. Kenapa tidak Juan saja," imbuh Zio sambil menatap tajam kepada Juan sedangkan yang tengah ditatap langsung menundukkan kepalanya.
Kakek Rasyid nampak hanya terdiam sambil mengusap-usap dagunya, sejujurnya ia sedang memikirkan ucapan Zio tadi, ia berencana untuk mencari tahu siapa Mentari dan seperti apa hubungannya dengan Zio selama ini.
__ADS_1
"Dan asal kakek tahu, Mentari itu memang tahu seperti apa sepak terjang Zio dalam mengencani wanita. Dan asal kakek tahu lagi Mentari itu satu-satunya wanita yang Zio cintai dan sampai saat ini tidak pernah Zio apa-apakan. Mentari itu masih murni karena Zio menjaganya bertahun-tahun. Karena apa? Itu karena Zio hanya ingin menjadikannya istri dan ingin menjaga kesucian cinta Zio kepada Mentari dengan cara menjaga kesucian Tari. Harusnya kakek tanya dulu kepada Zio dan harusnya kakek kenal dulu dengan Mentari sebelum menjatuhkan tuduhan seperti tadi. Zio kecewa sama kakek!"
Mendengar ucapan dan semua keluhan Zio, kakak Rasyid hanya bisa terdiam. Tak lama kemudian Ia memutuskan untuk pergi mengajak serta Dini dan Lolita. Namun sebelum itu ia kembali menegaskan kepada Zio jika ia tidak menerima penolakan dan Zio akan tetap bertunangan dengan Dini secepatnya.
Zio berteriak frustrasi, ia menarik rambutnya, menjambak sekuat tenaga dan ia kemudian memukul dinding hingga tangannya berdarah.
"Dasar kakek tua egois!" umpat Zio.
Ramon masuk ke dalam ruangan tersebut, ia melihat dengan Tuan mudanya ini terluka kemudian ia dengan cepat mencarikan kotak obat dan membalut luka tersebut.
"Ramon cepat cari keberadaan Mentari, aku tidak ingin dia kenapa-napa dan aku tidak ingin dia berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku ini sangat mencintainya dan akan memperjuangkannya. Jangan sampai dia mengira bahwa aku setuju dengan perjodohan ini dan memilih mengabaikannya."
Ramon pun mengiyakan keinginan Zio, ia meminta orangnya untuk mencari keberadaan Mentari.
Tari lu di mana? Gue kangen. Lu jangan gini dong sama gue, ayo kita berjuang sama-sama untuk cinta kita. Tapi walaupun lu nggak mau berjuang, gue bakalan berjuang sendiri buat lu. Gue tahu kata-kata Kakek udah nyakitin banget makanya gue yang akan bertanggung jawab untuk itu semua.
"Ramon kalau menurut kamu saya dan Mentari kawin lari saja bagaimana? Apakah itu ide yang baik? Tapi aku rasa itu juga tidak terlalu buruk."
.
.
Mentari dan Mawar saat ini sedang sibuk mengerjakan pekerjaan Mawar yang begitu banyak, ternyata benar pekerjaan wanita ini begitu bertumpuk-tumpuk dan Mentari harus rela mengorbankan waktunya setengah hari untuk membantu Mawar menyelesaikan semuanya.
Mawar yang sudah khatam dengan sifat Mentari, Ia tahu jika sahabatnya ini bekerja banyak maka akan terselesaikan dengan segera jika di tengah-tengahnya ada banyak makanan.
Mawar tentu saya tidak keberatan untuk merogoh koceknya demi membelanjakan camilan kesukaan Mentari asalkan seluruh pekerjaannya bisa terselesaikan.
"Lu emangnya nggak balik ke kantor lu?" tanya Mawar di sela-sela keduanya sedang sibuk.
"'Kan gue udah bilang gue mau resign dan hari ini tuh hari terakhir gue. Tinggal tunggu pesangon aja gitu sekaligus itu 'kan gaji satu bulan gue kerja di sana," jawab Mentari.
Mawar hanya membentuk mulutnya mencari huruf O, ia sebenarnya tahu jika masalah Mentari di kantor itu tidak semudah itu, hanya saja ia tidak ingin mengganggu dan membebani pikiran sahabatnya dengan menanyakan hal ini dan hal itu.
Mentari dan Mawar akhirnya selesai merampungkan ke pekerjaan milik Mawar, Ia pun meminjam ponsel Mawar untuk menelepon mamanya yang kebetulan ia sangat menghafal nomor ponsel tersebut.
Ia mengatakan kepada mamanya jika ia tidak pulang cepat malam ini dan masih ada urusan bersama Mawar. Maya yang begitu mengenal Mawar, Ia tidak permasalahan keinginan Mentari yang ingin menghabiskan waktu bersama Mawar malam ini. Lagi pula kata Maya, tetangga mereka sedang melakukan hajatan sehingga ia akan sibuk membantu di rumah tetangganya.
Seperti yang sudah diduga Mentari, Zio datang ke rumahnya untuk mencarinya tetapi pintu rumah itu tertutup dan Zio yang sudah menunggu lama sampai mengetuk-ngetuk pintu tersebut tidak mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Ia memilih untuk menunggu saja, dan hingga dua jam berlalu Zio sama sekali tidak menemukan orang yang datang atau yang keluar dari dalam rumah tersebut. Ia merasa frustrasi, pikirannya mulai berkecamuk, ia khawatir jika saja Mentari mengajak ibunya pindah dari rumah ini dan pergi entah kemana tanpa memberitahukannya.
Namun buru-buru Zio membuang pikirannya tersebut, karena sangat tidak mungkin Mentari meninggalkan rumahnya ini hanya karena menghindarinya.
Ponsel Zio berdering, panggilan dari maminya yang mengatakan jika ia diminta untuk segera pulang oleh kakeknya dan jika tidak mereka semuanya akan terkena imbas dari kemarahan kakek sehingga Zio harus pulang.
Zio lagi-lagi berteriak frustrasi. Dia sangat tidak suka dengan kehidupan di mana ia dikekang oleh aturan sang kakek padahal Ia sendiri sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus diatur dan diminta melakukan ini dan itu dan dilarang melakukan ini dan itu. Ia sudah bisa memilih dan menentukan jalan mana yang harus diambil dan apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak harus dia lakukan.
Sesampainya di rumah utama, Zio menatap heran karena seluruh keluarganya sedang berkumpul di ruang tamu. Tanpa menunggu Zio berganti pakaian, maminya langsung memintanya untuk duduk bergabung.
"Ada apa ini?" tanya Zio dengan raut wajah tidak bersahabat.
"Duduk dulu, dasar tidak sopan!" sambar kakek Rasyid.
Zio dengan malas menuruti keinginan kakeknya. Saat ini ia masih marah dan masih protes terhadap kakeknya sehingga ia tidak ingin menuruti apapun keinginan sang kakek. Namun karena melihat mata sang Mami yang berkaca-kaca dan menatap iba padanya, Zio pun akhirnya menurut saja
"Semua untuk Mami," bisiknya pada wanita yang sangat ia cintai selain Mentari.
"Karena kami tadi sudah membicarakan tentang hubungan kamu dan Dini, tidak lama lagi pesta pertunangan kalian akan segera digelar karena kedua orang tua Dini tidak akan lama berada di Indonesia. Sebelum mereka pergi, kalian sudah harus memastikan pertunangan kalian."
Zio tertawa sarkas mendengar ucapan sang kakek, ia pikir kakeknya akan berubah pikiran setelah Ia menjelaskan tentang hubungannya dengan Mentari. Namun ternyata ia salah, tidak semudah itu untuk membalikkan telapak tangan seorang Ar-Rasyid.
"Kakek ini sungguh lucu. Jika Kakek sangat ingin bertunangan dengan Dini, kenapa bukan kakek saja? Aku menolak! Aku tidak mau dan kalian boleh mencoret namaku dari daftar kartu keluarga jika kalian masih ingin aku bertunangan dengan wanita itu."
Kakek Rasyid kali ini membalas tawa Zio dengan tawa yang tak kalah menggelegar. "Lalu kau pikir dengan keluar dari keluarga ini maka kekasihmu itu akan menerimamu dengan lapang dada dan menerima semua kekuranganmu yang menjadi pria pengangguran tanpa harta benda sedikitpun? Apa kau yakin?"
"Lalu apakah kakek yakin jika Dini akan menerima Zio dengan segala kekurangan Zio apabila Zio bukan seorang Rasyid?" sarkas Zio membalikkan pertanyaan sang kakek hingga membuat mulut tua itu terbungkam.
Zio tersenyum kecut, "Kakek tidak bisa jawab 'kan. Tapi aku bisa menjawab pertanyaan kakek, Mentari itu bukan wanita yang seperti kakak pikirkan sekalipun Zio hanyalah seorang karyawan biasa, dia pasti tetap mau menerima Zio. Justru dia tidak ingin menerima Zio selama ini karena Zio seorang Rasyid, dia tidak ingin memiliki kekasih dari golongan orang berada, dia hanya ingin punya suami yang berasal dari golongan biasa-biasa saja, sama seperti dirinya. Hanya saja karena Zio begitu mencintainya, aku memilihnya dan memaksakan kehendak Zio terhadapnya."
"Harusnya kalian mendukung cinta Zio, bukan malah mengekang seperti ini! Kenapa kalian begitu egois!"
"Dimas Ezio Rasyid, hentikan omong kosongmu, jangan pernah menyela di saat Kakek sedang berbicara!" tegasnya.
"Maaf kakek, tapi Zio sudah selesai berbicara dan keputusan Zio sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Jika kakek ingin Dini menjadi bagian dari keluarga ini, maka silahkan kakek menikahkannya dengan Juan atau Oliver atau dengan kakek sendiri. Itu tidak masalah, tapi bukan dengan Zio, permisi!"
"Sekali kau melangkah dari rumah ini maka selamanya kau akan keluar dari rumah ini, begitupun dengan orang tuamu. Apa kau tidak sayang kepada mereka?" ancam kakek Rasyid yang benar-benar mengena telak di dada Zio.
Dengan terduduk lemas Zio menggenggam tangan maminya. Dia mencoba untuk mencari semangat dan kekuatan dari tangan yang sudah membesarkannya itu.
__ADS_1
Mami Lolita sendiri tidak bisa berbuat apa-apa terhadap anaknya. Ia sejujurnya sangat ingin melihat Zio bahagia tetapi apa daya, dia tidak punya kuasa untuk itu. Padahal sesungguhnya dia yang paling berkuasa atas anak lelaki satu-satunya itu karena dia adalah ibunya.
"Ayah, tidak seharusnya ayah melakukan itu kepada anak saya. Sebenarnya apa mau ayah, apa ayah ingin melihat anak saya menderita dengan kedok ayah membuat dia bertunangan dengan salah satu anak rekan kerja ayah? Zio itu sudah dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri," tegas Mami Lolita, ia sangat tidak tega dengan keadaan anaknya yang sangat terpuruk karena cintanya yang harus terputus dan kandas karena kehendak sang kakek.