
"Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai Lolita, kalian boleh kembali ke kamar kalian masing-masing,"ucap kakek Rasyid yang sebenarnya kepalanya sudah sangat pusing menghadapi Zio. Ia selalu tidak bisa menang melawan protes Zio, tetapi karena ia tidak ingin menunjukkan kekalahan maka ia menyudahi pertemuan mereka ini dan ia menyuruh mereka untuk pergi.
Di dalam kamarnya, Zio bertekad untuk kabur dari rumah dan ia sudah menyiapkan pakaiannya. Namun ia kembali mengurungkan niatnya tersebut karena akan lebih baik jika ia mencari Mentari dulu dan memastikan apakah gadis itu mau menikah dengannya atau tidak. Jika saja Mentari berkata iya, maka Zio rela meninggalkan semuanya dan ia akan mencari pekerjaan baru agar Mentari bisa ia hidupi.
"Gue yakin Mentari pasti mau gue ajak kawin. Tapi masalahnya, apa dia mau terima gue yang pengangguran?" Zio kembali berpikir, ia tidak mungkin mengajak Mentari menikah sedangkan ia tidak memiliki harta benda untuk menghidupi Mentari.
Zio berdiam diri di dalam kamar, ia bahkan tidak membukakan pintu untuk maminya yang sedari tadi memanggilnya untuk makan malam. Zio terlalu malas untuk melihat wajah sang kakek. Zio seolah ingin mencekiknya jika ia melihatnya. Dan untuk menghindari ia yang melakukan hal itu, Zio memilih diam saja di dalam kamar.
Zio kembali mencoba menghubungi Mentari, tetapi nihil. Mentari tetap belum bisa dihubungi dan Ramon pun mengatakan ia tidak berhasil mendapatkan jejak Mentari. Zio semakin merasa frustrasi.
"Tari, lu dimana sih Yang?" gumam Zio.
Zio kemudian memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan pergi mencari Mentari. Mungkin saja Mentari sudah pulang dan Zio akan menunggu lagi di depan rumahnya.
Zio melewati keluarganya yang sedang makan malam begitu saja, ia bahkan tidak menoleh saat namanya dipanggil untuk ikut bergabung. Zio memilih berjalan dengan cepat dan menatap lurus ke depan agar mereka tahu jika saat ini ia sedang kecewa.
"Anak itu benar-benar menjadi pembangkang!" geram kakek Rasyid.
"Dia bukan pembangkang Yah, dia hanya sedang menegaskan kalau dia bisa memilih wanitanya sendiri," sambar Lolita.
"Sebaiknya kau jangan memanjakannya," ujar kakek Rasyid dan mami Lolita hanya mendengus saja.
"Aku sudah selesai," ucap Lolita kemudian ia bergegas pergi meninggalkan meja makan dengan makanan yang masih tersisa di piring makannya.
Kakek Rasyid menghela napas, kali ini menantunya yang melakukan protes padanya. Ia sebenarnya sadar jika dirinya salah dalam memaksakan kehendak. Tetapi, ia sudah berjanji pada sahabatnya itu untuk menjodohkan cucu mereka. Kebetulan Dini sangat menyukai Zio, sehingga kakek Rasyid sangat senang dan ia akan berusaha untuk menyatukan keduanya walau dengan cara memaksa.
Di meja makan tertinggal ia dan Juan yang sedang menghabiskan makan malam mereka, ia melihat Juan dan cucunya itu membalas tatapannya.
"Mentari itu gadis yang baik Kek. Dan memang benar kalau kak Zio yang memaksanya untuk kembali berpacaran. Bahkan kak Oliver juga jatuh cinta padanya tetapi karena kak Zio yang bergerak cepat maka Mentari akhirnya jatuh ke pelukannya. Juan cukup dekat dengan Mentari karena kami bersahabat. Kakek tidak seharusnya mengatakan hal itu pada Mentari sebelum kakek mengenalinya. Bukankah kakek yang selalu mengajarkan kepada kami semua untuk jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja? Lalu, kenapa justru kakek mengingkari pengajaran itu sendiri?"
Kakek Rasyid terdiam, kini bertambah lagi pasukan yang hendak mengajukan protes padanya. Ia hanya bisa menghela napas, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia terikat janji.
.
.
Zio sudah sampai di depan rumah Mentari, ia yang hanya menaiki mobil taksi karena ingin membuktikan pada kakeknya jika ia tidak menggunakan fasilitas miliknya itu.
Zio duduk di teras, ia menunggu kedatangan Mentari dan ia bisa melihat sebuah mobil taksi berhenti di depan pagar rumah Mentari.
Mata Zio menjadi sendu ketika melihat gadis yang sedari tadi ia khawatirkan keluar dari dalam mobil tersebut. Dengan cepat Zio berdiri hendak menyambut Mentari.
Mentari yang tidak siap dengan kedatangan Zio tersebut tak bisa berbuat apa-apa saat Zio langsung mendekapnya erat. Ia tidak membalasnya juga tidak menolaknya. Mentari hanya mencoba untuk menahan dirinya agar tidak menangis di hadapan pria ini.
Zio kemudian melepaskan pelukannya, ia menyatukan dahinya dengan dahi Mentari. Samar-samar terdengar suara lirih dari mulut Zio, Mentari menyadari jika kekasihnya itu sedang menahan tangisannya.
"Zio, duduk dulu," ajak Mentari yang tidak tega melihat keadaan Zio yang kacau. Ia juga tidak menyangka dengan kehadiran Zio di rumahnya karena tidak ada mobil milik pria itu di sekitar sini.
__ADS_1
Mentari kemudian membuka pintu rumahnya, ia mengajak Zio untuk masuk sedangkan ia membuatkan Zio minuman.
Zio menyesap minuman yang diberikan Mentari padanya, ia baru merasa lapar ketika sampai di rumah Mentari padahal ia bahkan sudah melewatkan makan siang dan makan malam.
Suara genderang perang dari perut Zio membuat Mentari menahan tawanya.
"Hehe, gue nggak sempat makan dari siang," ucap Zio merasa malu dengan pipinya yang memerah.
Mentari terkekeh pelan, "Tunggu disini, gue buatin makanan," ucap Mentari kemudian ia masuk ke dapur.
Tak lama kemudian Zio memutuskan untuk menyusul Mentari ke dapur, ia tidak mungkin membiarkan Mentari memasak sendiri. Ia bisa membantu memasak atau mengacau di dapur asalkan ia bisa dekat dengan Mentari.
Zio memperhatikan Mentari yang begitu cekatan saat mengolah bahan makanan, diam-diam Zio merekamnya dan akan menjadikan kenang-kenangan yang akan ia abadikan bersama Mentari nanti.
"Sepertinya hidup menjadi orang biasa itu cukup menarik ya," celetuk Zio tiba-tiba, sebenarnya ia hanya sedang ingin bertukar pendapat dengan Mentari tengah nasibnya yang berkemungkinan akan jatuh miskin jika memilih cintanya.
Mentari yang sedang mengaduk sayur pun menoleh, "Ya, gue merasa jadi orang biasa-biasa itu jauh lebih baik dibandingkan menjadi orang kaya raya," jawab Mentari. "Walaupun menjadi kaya dan memiliki segalanya itu juga adalah impian setiap orang," imbuhnya.
"Terus kalau gue memilih jadi orang biasa-biasa saja, lu masih mau nggak sama gue?" tanya Zio, ia kemudian menggigit bibir bawahnya.
"Maksud lu?" tanya Mentari bingung. Ia kemudian mematikan kompornya dan menyajikan masakannya. "Yuk makan dulu," ajaknya ke meja makan.
Zio pun menurut saja dan mengekor di belakang Mentari bagai anaknya. Mentari menyajikan makanan di piring Zio, ia berusaha mengesampingkan rasa sakit yang tadi ia rasakan karena ucapan keluarga Zio.
Mentari memangku dagunya menikmati pemandangan dimana Zio sedang menyantap dengan lahap semua makanan yang ia masak. Air mata Mentari tanpa sadar meleleh begitu saja, ada rasa sesak dan haru yang datang bersamaan.
"Kok lu nggak makan?" tanya Zio pada Mentari.
"Suapin," ucap Mentari kemudian ia merutuki dirinya yang entah mengapa tiba-tiba saja berkata demikian.
Zio tersenyum, dengan senang hati ia segera menyuapi Mentari makan. Zio benar-benar merasa sangat bahagia sebab Mentari masih mau bersama dengannya terlepas dari kejadian tadi yang sangat menguras emosi.
Setiap satu suapan yang masuk di mulut Mentari, Zio mengambil kesempatan untuk bisa mengecup pelipis Mentari. Ia sangat takut kehilangan wanita ini dan ia tidak mau membayangkannya.
"Kebiasaan deh," keluh Mentari dengan mulutnya yang masih sibuk mengunyah.
Zio hanya terkekeh, ia memang sangat suka mencium Mentari setiap ada kesempatan. Rasanya tanpa melakukan kesenangannya itu, ada yang kurang dalam hidupnya.
Makan malam pun selesai, Zio dan mentari sama-sama sudah kenyang. Dan kini keduanya sedang duduk di depan rumah karena tidak ada Maya di rumah sehingga Mentari membawa Zio untuk duduk di teras saja untuk menghindari fitnah dari para tetangga.
"Lu datang ke sini jalan kaki?" tanya Mentari membuka pembicaraan.
"Ya enggaklah Yang, emang gue udah gila jalan kaki dari rumah gue ke sini. Paling juga besok baru sampai," jawab Zio yang kemudian keduanya sama-sama tergelak.
"Ya kali aja, soalnya gue nggak lihat mobil lu di sini," jawab Mentari.
Zio menghela napas, "Gue udah jatuh bangkrut semenjak gue memilih cinta ah tidak lebih tepatnya semenjak gue jatuh cinta," ucap Zio yang membuat Mentari menatap tajam kepadanya.
__ADS_1
"Maksud lu apa sih? Jangan bilang --"
"Kalau gue udah nggak punya apa-apa, lu mau nggak tetap bersama gue dan bertahan dengan gue sampai gue bisa jadi orang hebat lagi. Andai lu berkata Ya maka detik ini juga gue bakalan tinggalin semua yang ada di diri gue termasuk semua kemewahan dari kakek gue karena gue jatuh cinta sama lu Mentari," ucap Zio sambil menggenggam tangan Mentari, matanya memancarkan keseriusan hingga membuat Mentari meleleh di dalamnya.
Mentari menggeleng, "Lu jangan kayak gitu dong, mereka itu keluarga lu sedangkan gue ini hanya seorang gadis biasa. Gue nggak mau jadi penyebab lu dan keluarga lu berpisah. Jangan Zio, gue nggak mau jadi orang yang disalahkan dalam hal ini," cegah Mentari walaupun sebenarnya saat ini ia sudah begitu senang karena Zio memilihnya tetapi Mentari pun tidak tega memisahkan Zio dengan keluarganya karena ia tahu betapa sakitnya kehilangan sosok keluarga yang selama ini selalu menemani dan selalu bersama.
"Tapi gue nggak bisa Tari, gue nggak mau dipaksa di jodohkan dengan dia. Gue cuma cinta sama lu, nggak mau yang lain. Please Mentari, jawab gue. Lu mau 'kan tetap sama gue dan bertahan dengan gue walaupun gue udah nggak punya apa-apa?"
Mentari sangat bingung untuk menjawab apa pada pertanyaan Zio, jika ia mengatakan iya maka kemungkinan terbesarnya adalah Zio yang akan meninggalkan keluarganya tetapi jika ia mengatakan tidak maka Zio akan kecewa dan akan meninggalkannya. Mentari menjadi semakin dilema.
"Gue nggak tahu Zio, gue bingung!" jawab Mentari.
"Kenapa harus bingung Tari? Lu tinggal jawab aja," ucap Zio berharap Mentari akan segera berkata jika dia memilihnya.
"Ini sulit Zio, gue nggak mungkin bisa jauhin lu dari orang tua lu dan gue juga nggak bisa dari lu. Harusnya lu tahu ini adalah pilihan yang sulit dan pasti lu juga ngerasain hal yang sama 'kan?" ucap Mentari mencoba memberi Zio pengertian.
Mentari melihat Zio terlihat kecewa, tetapi ia bisa apa jika seandainya ia hanya ingin yang terbaik untuk Zio.
"Gimana kalau kita jalani aja dulu seperti apa rencana Tuhan terhadap kita, jika memang dia menakdirkan kita berjodoh maka pasti kita akan berjodoh Zio. Lu percaya 'kan dengan kekuatan cinta?" ucap Mentari memberi jawaban yang diplomatis, agar Zio tidak kecewa dengan apa yang ia putuskan.
"Asalkan lu percaya sama gue Tari, gue pasti bakalan ngelakuin apapun dan menjalaninya seperti yang lu mau. Gue hanya butuh lu percaya sama gue," ucap Zio mencoba untuk meyakinkan Mentari.
"Tentu, gue tentu percaya sama lu. Gue yakin lu nggak bakalan ngecewain gue. Tapi kembali lagi jika memang kita tidak berjodoh sekeras apapun kita berusaha maka kita tidak akan pernah bisa bersatu. Gue hanya sedang berusaha untuk mengikhlaskan semua takdir Tuhan tetapi yang harus lu tahu juga gue tetap cinta kok sama lu. Mari kita berjuang bersama," ucap Mentari sambil menggenggam tangan Zio dengan erat, ia berusaha memberitahukan kepada Zio jika ia percaya kepada pria ini.
Zio kemudian menarik kepala Mentari untuk ia rebahkan di dada bidangnya. Ia mengecup puncak kepala Mentari berulang kali.
"Terima kasih karena lu udah mau percaya sama gue ue Tari. Gue nggak bakalan ngecewain lu, kalaupun suatu saat nanti gue sampai melakukannya percayalah itu bukan keinginan gue tapi takdir dan keadaan yang maksa gue untuk melakukannya."
Mentari mengangguk, ia kemudian memeluk Zio dengan inisiatifnya sendiri karena selama ini hanya Zio yang selalu berinisiatif untuk memeluknya. Mendapat pelukan hangat dari Mentari tentu saja semakin membuat Zio bersemangat untuk memperjuangkan cinta mereka di hadapan sang kakek.
"Gue cinta sama lu Tari, gue cinta," bisik Zio dengan lirih.
.
.
Saat ini di kediaman Vindex.
Dini sedang mengamuk kepada sang kakek, Ia menceritakan kepada kakeknya jika ternyata Zio tidak mau menerima perjodohan ini dan justru Ia memiliki kekasih. Dini tidak terima, ia mengatakan kepada kakeknya jika ia begitu mencintai Zio akan tetapi ada wanita pengganggu yang sudah merusak hubungan mereka. Hingga Zio berpaling darinya dan mencoba untuk membatalkan pertunangan mereka hanya karena tergoda oleh seorang wanita yang merupakan sekretarisnya itu. Dini juga berusaha memprovokasi kakeknya agar tetap berada di pihaknya dan menyalahkan pihak Zio lalu menuntut mereka untuk tetap melaksanakan pertunangan tersebut.
"Kau tenang saja, Zio pasti hanya tergoda sesaat dengan wanita itu. Jika dibandingkan dengan dirimu, dia tidak ada apa-apanya. Kau adalah cucu seorang Harun Vindex, tentu saja kau yang akan menjadi pemenangnya. Kakek pastikan itu untukmu," hibur kakak Harun, ia sangat tidak suka melihat cucunya ini merasa kesal apalagi marah dan bersedih.
"Dini nggak mau tahu kek, Zio harus mau tunangan sama Dini dan jauhkan wanita itu dari Zio karena dia membawa pengaruh buruk terhadap Zio," bujuk Dini semakin melebih-lebihkan ceritanya.
Ia juga menceritakan bagaimana Mentari membantah kakek Rasyid padahal itu sama sekali tidak benar, begitupun dengan Zio yang diceritakan oleh Dini jika ia membangkang pada sang kakek hanya karena pengaruh dari wanita tersebut. Kakek Harun tentu saja merasa geram dan ia berjanji kepada Dini untuk mencari wanita yang bernama Mentari itu dan berusaha untuk menjauhkannya dari Zio.
"Kakek harus melakukannya dengan baik, kasihan Zio dan keluarganya jika harus terjebak dengan wanita itu. Sepertinya dia hanya wanita yang ingin memanfaatkan Zio saja karena Zio itu orang kaya, sama seperti kita," imbuh Dini, ia semakin menyiram bensin kepada api yang sedang menyala.
__ADS_1
Kakek Harun mengangguk, "Tentu saja kakek akan segera menghubungi Rasyid untuk membicarakan tentang pertunangan kalian dan kau tenang saja karena hanya kau yang akan menjadi Nyonya Zio satu-satunya."