CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~40


__ADS_3

Zio adalah orang yang sangat posesif, Ia tidak akan segan-segan melakukan apa pun yang membuatnya sakit hati atau merasa terancam. Seperti saat ini, ia mengatakan jika akan menghilangkan atau menyingkirkan orang yang akan mendekati Mentari, hal tersebut tidak akan diragukan lagi oleh Mentari karena ketika mereka pacaran dulu di masa kuliah, Zio sudah melakukan hal seperti itu berulang kali. Mentari jadi khawatir ia tidak akan bisa mendapatkan kekasih jika masih berdekatan dengan Zio.


Gue juga mau punya pacar, mau kawin tapi nggak sama dia. Gue harus bisa jauh-jauh dari dia, biar hidup gue jadi lebih aman dan nyaman seperti sebelum ada dia kembali ke kehidupan gue.


"Kenapa diam aja? Lu keberatan diposesifin sama gu?"tanya Zio yang melihat Mentari hanyamelamun.


Dengan cepat Mentari mengangguk, "Ya, sebenarnya gue nggak suka kalau orang terlalu posesif sama gue. Kesannya gue dikekang gitu, nggak bebas gitu. Apalagi lu lu bukan siapa-siapa gue, pacar bukan suami bukan. Nggak boleh ngatur-ngatur gue seenaknya!" jawab Mentari yang membuat Zio merasa tertohok.


Dia ini sebenarnya kenapa sih? Gue udah nunjukin kalau gue itu sayang dan cinta sama dia, tapi kenapa dia selalu menganggap gue bukan siapa-siapa? Apa sebenarnya dia mempunyai kekasih di luar sana? Gue bahkan udah mutusin semua pacar-pacar gue, tapi kok dia yang kesannya kayak nggak suka sama gue sih, kayak nggak mau kita sama-sama lagi. Ada apa sih sama dia?


Jika Zio terheran-heran dengan kelakuan Mentari terhadapnya yang seolah tidak menghargai usahanya dan juga tidak menghargai dirinya yang berusaha untuk mendapatkan hatinya dan menjadikannya satu-satunya dalam hidupnya, sedangkan Mentari justru dibuat bingung dengan sikap Zio yang seolah hanya mencintainya padahal sana-sini menggandeng wanita lain.


Jika saja Mentari tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri Zio bersama dengan wanita lain, maka dia tidak akan bersikap menghindar seperti ini. Ia tidak akan mungkin menjauh dari Zio dan tidak akan mungkin membatasi dirinya dari pria ini.


Mentari sudah cukup kecewa dibuat Zio berkali-kali, ia tidak ingin lagi merasakan kecewa untuk yang kesekian kalinya. Ia harus memagari dirinya dari sakit hati yang disebabkan oleh Zio.


"Kok kita diam-diaman sih?" tanya Mentari yang menyadari keduanya saat ini hanya bisa melamun walaupun mereka duduk bersama.

__ADS_1


Zio kemudian memeluk erat tubuh Mentari yang berada di pangkuannya, lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Mentari.


"Lu harus tahu kalau gue memang serius sama lu. Gue benar-benar sayang sama lu dan nggak mau kalau ada yang miliki lu selain gue. Lu harusnya percaya Tari, gue cinta sama lu!" tandas Zio dengan suaranya yang terdengar lirih.


Gue juga pengen percaya Zio, tapi apalah daya, gue lihat sendiri lu ciuman sama cewek di mobil. Gimana gue mau percaya sama lu kalau udah kayak gitu?


"Iya, gue percaya sama lu. Tenang aja, gue juga nggak akan dekat dengan cowok lain selain lu. Gimana mau dekat dengan cowok lain, lu aja seposesif ini? Cowok-cowok pasti bakalan takut deketin gue kalau tahu cowok gue segarang ini, hehe."


Zio tergelak dengan ucapan Mentari yang mengatakan jika dirinya begitu garang tapi memang jika itu menyangkut Mentari, Zio akan bersikap seperti itu. Zio kemudian mendekap tubuh Mentari dengan erat seolah ia menyampaikan bahwa ia takut kehilangannya gadis ini.


Zio menarik wajah Mentari yang ada di pelukannya dan masih duduk di pangkuan mendekat ke wajahnya. Mentari sudah takut setengah mati karena khawatir Zio akan kembali menciumnya sembarangan. Tetapi ketika ia menutup mata yang terjadi justru Zio hanya menempelkan dahi mereka dan juga hidung mereka dan Zio menutup matanya.


Mentari tidak bisa menolak, ia hanya bisa diam saja dengan air matanya yang sudah meleleh di pipi. Ia merasa menjadi wanita yang paling rendahan karena selalu saja Zio berhasil menciumnya sesuka hati.


Apapun yang terjadi, lu harus jadi milik gue Tari. Gue udah cinta banget sama lu. Gue rela deh ngelakuin apapun untuk bisa jadiin lu milik gue.


Zio melepaskan pagutannya setelah ia puas menyesap bibir manis Mentari, rasa manis dari sana selalu membuatnya ketagihan hingga ia tak kenal waktu dan tempat untuk terus bisa mencium Mentari.

__ADS_1


"Hah ... gue bisa gila, Tari! Ayo kita menikah, gue nggak sanggup nahan diri gue kalau terus-terusan diuji dengan lu yang belum jadi istri gue," ucap Zio sambil mengusap pipi Mentari yang basah karena air mata. "Lu kenapa nangis? Lu nggak suka gue cium?" tanya Zio dengan suara lembut. Ia memang menyadari Mentari menangis, tapi ia masih sulit mengontrol dirinya yang sudah candu pada Mentari.


"Gue nggak suka sama siapa lu yang selalu suka cium gue sembarangan. Itu aja, gue nggak mau terlihat seperti cewek murahan Zio, lu harusnya paham!" pekik halus Mentari.


Zio menatap Mentari dengan tatapan yang sulit dibaca oleh Mentari. Ia menghela napas kemudian ia menurunkan Mentari dari pangkuannya. Mentari memalingkan wajahnya, ia berusaha untuk tidak menangis lagi, namun tiba-tiba Zio sudah duduk di lantai dan berlutut padanya.


"Lu kenapa selalu mikir gitu? Gue nggak ada ya mikir lu itu cewek rendahan. Justru lu itu cewek termahal bagi gue dan gue berjuang keras buat dapatin lu. Gue benar-benar cinta sama lu Mentari, gue benar-benar ingin lu jadi milik gue!" ucap Zio yang tidak peduli Mentari memintanya untuk kembali duduk di kursi, ia bertahan duduk di lantai dan memohon di kaki Mentari.


"Harusnya lu jangan kayak gini Zio, masih banyak perempuan diluar sana yang bisa lu perjuangin dan itu bukan gue. Gue nggak bisa percaya sama lu!" ucap Mentari yang akhirnya mengungkapkan perasaannya.


Zio menatap Mentari lekat, "Kenapa lu nggak bisa percaya sama gue? kenapa?" tanya Zio dengan bibir bergetar dan suaranya terdengarkan lirih.


Mentari tidak menjawab, ia menimbang-nimbang apakah harus ia katakan alasan mengapa ia tidak percaya pada Zio.


"Gue sebenarnya bingung sama lu, Tari. Gue itu udah nembak lu dan lu maunya di tempat romantis. Oke, gue siapin. Tapi apa bedanya itu dengan sekarang dan apa pengaruhnya sama hubungan kita? Besok atau saat ini, gue tetap sama, gue cinta sama lu. Cuma masalah tempat Tari, dulu lu nggak kayak gini. Ini bukan Mentari yang dulu gue kenal. Mentari gue orangnya sederhana dan nggak tega lihat gue berlutut kayak gini tanpa dijawab iya dari semua yang gue minta," ucap Zio sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Mentari.


Mentari yang dulu udah mati bersama dusta lu kasih.

__ADS_1


"Zio jangan kayak gini. Duduk di samping gue nggak. Lu jangan gini dong, entar mama keluar dikiranya gue apa-apain lu." Bukannya menjawab, Mentari justru mengatakan hal lain.


Apa dia emang udah punya cowok lain? Atau emang dia udah nggak punya rasa ke gue? Tapi hati gue yakin kalau Tari masih cinta ke gue? Apa yang salah dengan gue dan dia? Perasaan hubungan kami baik-baik aja sampai gue balik dari luar kota?


__ADS_2