CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~60


__ADS_3

Zio berlari keluar dari apartemennya, ia bahkan tidak mempedulikan teriakan dari keluarganya yang terus memanggil-manggil namanya. Ia menekankan tombol lift agar segera terbuka, begitu pintunya terbuka ia langsung masuk dan berharap lift dalam satu detik sudah sampai di lantai dasar. Pikiran Zio kacau, ia memikirkan kemana perginya Mentari karena bisa jadi Mentari pasti tidak akan langsung pulang ke rumahnya.


Begitu sampai di bawah, ia bertemu dengan Juan yang berada di parkiran namun terlihat linglung. Zio pun langsung menghampiri adiknya tersebut dan menanyakan keberadaan Mentari tetapi Juan hanya menggeleng dan mengatakan jika ia tidak sempat menyusul Mentari.


Zio mengumpat, ia kemudian bergegas meminta kunci mobil Juan dan adiknya yang tidak tahu kemana arah tujuan Zio pun langsung memberikannya dan meninggalkan dirinya berada di parkiran seorang diri.


"Oh sial! Harusnya gue ikut Kak Zio tadi!" umpatnya.


Zio mengemudikan mobil dengan begitu cepat, tempat pertama yang akan dia temui adalah rumah Mentari. Walaupun dia tahu Mentari tidak berada di sana karena perasaannya mengatakan seperti itu, tetapi dia ingin mengecek terlebih dahulu.


Sesampainya di depan gerbang rumah Mentari, ia bisa melihat jika di teras tersebut tidak ada motor Mentari di tempat dimana biasanya gadis itu menyimpan motornya.


Zio memukul setir mobil, ia mengumpati dirinya sendiri dan juga mengumpati Dini yang sudah merusak suasana bahagianya bersama Mentari dan juga seluruh keluarganya kini sudah termakan hasutan dari Dini.


"Tari ... kamu dimana sayang? Jangan ngilang kayak gini dong," lirih Zio, ia kemudian mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Mentari akan tetapi panggilannya tidak dapat terhubung.


Sial!

__ADS_1


Zio melajukan kembali mobilnya, entah kemana arah dan tujuannya karena ia tidak tahu siapa saja yang menjadi teman Mentari dan dimana saja kekasihnya itu bisa pergi saat mengalami berbagai masalah. Zio merutuki dirinya sendiri yang sama sekali tidak pernah menanyakan siapa-siapa saja sahabat Mentari selama ini karena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan juga terlalu sibuk membangun keharmonisan hubungannya bersama Mentari.


Ia sampai lupa jika suatu saat hubungan mereka itu pasti akan didera konflik yang hebat sehingga Mentari akan lari dan membutuhkan seseorang yang akan menghiburnya yang tidak lain adalah sosok seorang sahabat.


Zio mengumpat, beberapa kali ia mengusap wajahnya untuk menetralkan perasaannya. Saat ini rasanya ia ingin berteriak ataupun membuat pengumuman untuk siapa saja yang bisa menemukan Mentari akan dia berikan hadiah, akan tetapi jelas hal tersebut hanya akan membuatnya terlihat bodoh dan gila.


"Tari di manapun lu, gue harap lu baik-baik aja sekarang. Lu tenang aja karena gue bakalan selalu memperjuangkan hubungan kita ini. Gue yakin lu pasti bakalan tetap terima gue dalam keadaan gue susah sekalipun, dalam keadaan gue berada di titik terendah sekalipun. Gue yakin lu nggak bakalan ninggalin gue karena gue tahu lu bukan cewek seperti itu," lirih Zio, ia menatap lampu yang kini sudah berubah menjadi warna merah dan ia harus menunggu sampai lampu tersebut berubah menjadi hijau kemudian ia melanjutkan perjalanannya untuk mencari Mentari yang entah berada di mana.


Sementara itu di parkiran apartemen Zio, kakek dan papinya sedang menanyai Juan kemana kakaknya itu pergi sedangkan Juan sama sekali tidak tahu. Mata pria tampan itu menetap ke arah Dini dengan sengit. Ia yakin sekali semua sudah direncanakan oleh Dini dan ia tentu saja menjadi salah satu orang yang tidak percaya tentang keburukan Mentari yang diceritakan oleh Dini.


"Tapi maaf Kek, Tari bukan orang yang seperti itu. Aku sudah sangat lama berteman dengannya jadi aku lebih tahu seperti apa sifat Mentari. Dan kau -" Juan menunjuk pada Dini - "Berhenti menjelekkan Mentari. Kau baru mengenalnya akan tetapi kau sudah lupa dengan pepatah 'Never judge a book by its cover' lu jangan sembarangan menuduh seseorang yang lu baru kenal!" hardik Juan, ia tidak melepaskan tatapannya dari Dini.


Dini yang mendapat perlakuan tersebut dari Juan mendadak langsung pias. Ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun karena takut salah bicara.


"Apa kau baru saja mengintimidasi Dini?" sentak kakek Rasyid.


"Menurut kakek? Tadi kita semua datang ke tempat ini karena mengira Zio dan Mentari sedang berbuat mesum dan itu adalah ulah dari calon cucu menantu kesayangan kakek. Mentari bukan gadis seperti itu, Kek. Aku sebagai sahabatnya tidak terima jika ada yang menghina sahabatku. Kak Zio benar, Mentari bukan orang yang seharusnya mendapatkan penghinaan. Jangan halangi cinta mereka, Mentari adalah pendamping paling sempurna untuk kak Zio," ucap Juan panjang lebar.

__ADS_1


Butuh keberanian bagi Juan untuk mengatakan hal ini sebab ia juga sangat berharap akan menjadi kekasih Mentari, akan tetapi ia tahu hal tersebut sangat mustahil baginya.


Mendengar ucapan Juan yang jarang bicara itu membuat keluarganya tertegun dengan bagaimana cara Juan membela sang sahabat dan berhasil menjatuhkan mental Dini.


"Kau ngomong apa sih Juan? Kau masih kecil jadi tidak tahu apa-apa tentang pendamping hidup!" ucap kakek Rasyid, sebenarnya ia tadi sedikit goyah dengan mendengar dan melihat cara Juan meyakinkan mereka tentang Mentari. Namun gengsi kakek tua ini menahan segalanya.


"Kau sedang menuduhku?" tanya Dini mencoba memberanikan diri, ia yakin jika dirinya pasti akan mendapatkan pembelaan dari seluruh keluarga Rasyid.


Juan tersenyum miring, ia tidak menjawab akan tetapi ia langsung mengulurkan tangannya dan meminta kunci mobil Zio. Ia juga berkata bahwa ia yang akan mengantar Dini pulang dengan alasan Zio yang memintanya segera mengantar Dini dan menyusulnya untuk mencari Mentari.


Apakah aku tadi sudah keterlaluan pada Mentari? Juan pun sangat membelanya, Juan bukan anak yang mudah menceritakan ataupun mengetahui kepribadian orang lain. Jika ia sudah membelanya seperti itu berarti Mentari memang benar bukan wanita murahan seperti yang tadi aku tuduhkan padanya.


Mendadak Lolita menyesali sikapnya tadi terhadap Mentari. Harusnya ia yang sudah mendukung Zio tidak sampai terpengaruh oleh ucapan dan juga bualan Dini. Melihat sikap Zio yang sangat serius terhadap hubungannya dengan Mentari pun itu sudah cukup untuk membuktikan jika Zio sudah mendapatkan wanita yang tepat untuk ia jadikan pendamping.


Kakek Rasyid menyentak dan juga mengomeli Juan karena sudah bersikap tidak sopan pada Dini, namun baik Juan maupun yang lainnya tidak memperdulikan Dini dan juga Kakek Rasyid.


"Maaf kek, selama ini memang Juan dan kak Zio tidak pernah akur dan dia cendengrung membenci Juan. Akan tetapi sebagai adiknya, Juan sudah merasa jika pilihan kak Zio memang sangat tepat. Lihatlah dia yang memilih untuk meninggalkan semua kemewahannya demi hidup bahagia dengan pilihannya. Harusnya kakek mikirin itu dong!" sentak Juan yang membuat sang kakek diam seribu bahasa.

__ADS_1


__ADS_2