CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~96


__ADS_3

Semua mata kini tertuju pada Dini yang sedang berjalan menapaki anak tangga untuk turun dan bergabung bersama dengan mereka. Ia terlihat sendu, sepertinya dia baru saja menangis. Oh tidak, akan tetapi dia baru saja menaruh obat tetes mata di matanya agar ia terlihat baru saja menangis agar terlihat lebih meyakinkan.


Wajah Zio terlihat geram menahan amarah, tangannya bahkan terkepal kuat. Dini membuat rencananya berubah diakhir, padahal selangkah lagi Zio bisa berhasil mengganti perjodohan tersebut dengan suntikan dana, akan tetapi ia tidak perhitungkan keberadaan Dini di rumah ini.


 Zio lupa mengecek keberadaan wanita ular ini, andaikan dia tahu jika Dini berada di rumah maka ia akan mengajak Harun Vindex untuk bertemu di luar saja.


Dibi duduk di samping ayahnya, ia kemudian mulai berakting menangis sesungguhkan sambil menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi, dan apakah yang kau katakan itu barusan benar?" tanya kakek Harun.


Dengan terisak-isak Dini mengiyakan sebagai jawaban untuk pertanyaan kakeknya tersebut. Kakek Harun lalu meneacar Dini, ia mempertanyakan siapa yang sudah menghamili Dini agar ia bisa menuntut pertanggungjawaban.


Dini mengangkat wajahnya, ia kemudian menatap Zio dengan tetapan ketakutan, Dini mencoba memberi isyarat bahwa saat ini ia merasa tertekan kepada Zio agar semua langsung tahu siapa yang sudah menanam benih dalam rahimnya.


Zio tersenyum kecut, ia sendiri tidak yakin apakah Dini saat ini tengah mengandung atau tidak karena kejadian itu belum berlangsung lebih dari dua minggu, namun sekarang Dini justru sudah mengumbar kehamilannya. Sangat tidak masuk akal menurut Zio.


"Maaf Zio, tapi aku tidak bisa lagi menahan semua rahasia ini sedangkan kau berniat membatalkan perjodohan kita dengan memberikan suntikan dana pada perusahaan kami. Lalu bagaimana dengan aku yang sudah kau suntikan benihmu itu, mengapa kau lempar batu sembunyi tangan? Apakah kau tidak kasihan padaku dan benih yang sudah semai dalam rahimku ini?" tutur Dini yang sudah kembali berderai air mata.


Baiklah Zio, mari kita lihat apakah kau akan mampu bertahan untuk tidak menerima perjodohan ini, lanjut Dini dalam hati.


Mereka semua terkejut mendengar penuturan Dini apalagi kakek Rasyid yang hampir saja terkena serangan jantung mendengar kabar tersebut. Ia tidak menyangka jika Zio yang selama ini bersikeras menolak kehadiran Dini disampingnya lalu mengapa tiba-tiba Dini mengabarkan bahwa ia tengah mengandung dan anak tersebut adalah milik Zio.


"Kau jangan bercanda Dini!" sentak Zio yang tidak suka dengan cara Dini mengakui bahwa dirinya tengah hamil padahal Zio yakin sekali bahwa itu tidak benar-benar terjadi.


Dunia Zio seakan runtuh, sebenarnya saat ini ia mati-matian menahan rasa untuk tidak berteriak karena ia baru saja menikah dengan Mentari, akan tetapi kabar buruk datang menerpanya dan ia tidak tahu bagaimana reaksi istrinya itu ketika tahu tentang hal ini.


"Aku tidak asal bicara! Apakah kau ingin aku membuktikannya? Kalau begitu mari kita mengecek kandungan sekali lagi di rumah sakit. Kau tahu, aku hampir gila ketika tahu aku sedang hamil karena kau sendiri tidak ingin bertanggung jawab padaku sedangkan kau mencintai wanita lain. Lalu bagaimana dengan aku, bagaimana dengan anak kita ini?


"Aku tahu kau tidak menginginkannya, tapi aku tidak ingin menghilangkannya dari rahimku karena aku sudah mencintainya seperti aku mencintaimu!" teriak Dini merasa frustrasi dan ia benar-benar sangat memuji dirinya karena pandai berakting.

__ADS_1


"Dimas Ezio Rasyid! Jelaskan apa yang sudah terjadi kepada Kakek, jangan membuat kakek malu dan jadilah lelaki yang bertanggung jawab. Jangan menjadi seorang pecundang lagi pengecut!" bentak kakek Rasyid sambil memegangi dadanya yang terasa begitu sakit.


Zio menggeleng, ia kemudian merangkul kakeknya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan ia bersedia untuk melakukan tes terhadap kehamilan Dini jika memang terbukti ia sudah menghamili wanita ular tersebut.


"Jika kau terbukti hamil dan itu adalah benihku, maka aku akan menikahimu detik itu juga. Akan tetapi jika kenyataannya tidak seperti itu, maka bersiaplah aku akan melaporkanmu kepada polisi dengan tuduhan pencemaran nama," baik ucap Zio dengan berani memberi ancaman kepada Dini.


Sebenarnya Zio tidak sungguh-sungguh dengan kata-katanya tersebut, dan saat ini ia benar-benar merasa ketakutan jika benar hal itu sampai terjadi. Zio hanya mencoba untuk mengancam saja namun yang sebenarnya ia sangat takut jika nanti ia harus menikahi Dini sedangkan ia sudah beristrikan Mentari.


Tanpa Zio ketahui, sebenarnya saat ini Dini sedang ketar-ketir karena ia takut memeriksakan kembali kandungannya. Apalagi jika itu dokter yang dipilihkan langsung oleh Zio, ia tidak ingin rahasianya terbongkar. Namun jika ia menolak, sama saja ia menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang karena tadi ia yang begitu percaya diri mengatakan bahwa ia siap diperiksa kandungan untuk membuktikan kehamilannya tersebut.


"Zio ... saya benar-benar tidak percaya kalau kau melakukan ini kepada putriku, saya sangat kecewa!" ucap Damian merasa kecewa padahal sesungguhnya itu hanyalah sebuah sandiwara saja karena ia juga tahu seperti apa sepak terjang putrinya tersebut di luar sana.


"Kau membuatku kecewa, Zio. Cucuku itu adalah gadis yang baik-baik dan kau sudah menghancurkan masa depannya sedangkan selama ini kau selalu menolaknya dengan keras. Apakah sebenarnya kau diam-diam menyukainya hanya saja kau enggan mengakui di depan keluargamu? Tapi bukan seperti ini cara mainnya!" hardik kakek Harun.


Di rumah itu hanya Harun Vindex yang tidak mengetahui seperti apa perangai Dini sesungguhnya. Harun memang tahu jika cucunya ini memiliki kekasih luar sana. Akan tetapi, ia tidak tahu jika sesungguhnya di Dini itu merupakan salah satu wanita yang sangat suka berpetualang di ranjang panas para pria. Andaikan ia tahu mungkin ia akan malu mengatakan hal tersebut, namun Dini begitu pandai berakting hingga membuat kakeknya tersebut menjadi begitu marah kepada Zio.


Zio kembali tersenyum kecut. Zio benar-benar merasa risih berada diantara orang-orang yang menurutnya sangat munafik. Padahal dia sendiri besar di keluarga yang tidak sepenuhnya baik-baik saja karena ayahnya pernah melakukan perselingkuhan hingga menghasilkan Juan. serta ia dan juga Oliver yang memang adalah casanova kelas kakap.


"Baiklah, kau tentukan saja kapan kita akan melakukan pemeriksaan kandungan di rumah sakit dan nanti aku akan menjemputmu untuk pergi bersama," ucap Zio dengan suara yang terdengar begitu dingin. Tatapannya menatap Dini dengan begitu tajam hingga Dini merasa tertusuk.


Dini tidak tahu harus menjawab dengan kata apa karena saat ini ia benar-benar khawatir jika seandainya Zio mengetahui yang sebenarnya. Dini juga tidak tahu apakah benar ia sedang mengandung benih Zio atau tidak. Ia hanya tidak ingin Zio membatalkan perjodohan tersebut karena tadi ia bisa mendengar bahwa ayahnya sendiri sudah sangat berniat untuk mendapatkan suntikan dana dari Zio dibandingkan menjodohkan mereka.


"Benar, kau atur saja, nanti kami akan datang untuk menjemputmu," timpal kakek Rasyid.


Dini mengangguk. "Baik Kek, nanti aku akan mengabari Zio kapan aku siap untuk periksa. Akan tetapi besok pun tak masalah jika kalian memiliki banyak waktu luang," jawab Dini dengan terbata-bata.


Dan aku berharap waktu luang itu tidak pernah ada sebelum aku bisa memastikan sendiri tentang kehamilanku ini adalah benar anak Zio atau bukan, lanjut ini dalam hati.


Zio dan Kakek Rasyid pun berpamitan pulang. Sepanjang jalan keduanya sama-sama terdiam. Zio terus memikirkan nasib pernikahannya dengan Mentari sambil menyetir mobil. Ia sangat yakin sekali jika Dini sebenarnya tidak sedang hamil, hanya sedang berpura-pura saja atau mungkin memang Dini sedang hamil tetapi benih itu bukan miliknya. Dan jika benar Dini sedang mengandung benihnya, maka Zio akan mendiskusikannya dulu dengan Mentari.

__ADS_1


Walaupun berat, ia harus tetap memberitahu kepada istrinya tersebut agar nantinya Mentari tidak begitu kecewa padanya, walaupun ia tidak bisa memungkiri pasti Mentari akan sangat kecewa berat terhadapnya.


"Kakek aku ingin membuat sebuah pengakuan ..." Zio sebenarnya sangat ingin jujur kepada kakeknya jika ia sudah menikahi Mentari.


.


.


Dini melangkah dengan langkah yang begitu cepat menuju ke apartemen milik Bright. Ia memang sangat terburu-buru karena sangat membutuhkan pria itu sekarang. Baginya, hanya Bright yang mampu menyelesaikan masalahnya, walaupun dia yakin pria itu tidak akan memberi secara gratis, Dini sudah sangat siap yang penting ia bisa dibantu untuk keluar dari masalah yang membelitnya saat ini.


Berulang kali Dini mau mencet bel apartemen Bright hingga akhirnya pria itu keluar untuk membukakan pintu. Satu alis Bright terangkat, ia menatap Dini dengan beribu pertanyaan karena wanita ini sudah menjauhinya selama beberapa hari dan tidak pernah membalas satupun pesan darinya, namun kini sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


Dalam hati Bright mencibir, ia tahu Dini datang menemuinya karena memiliki niat terselubung. Heran saja, karena dulunya mereka adalah dua orang yang saling mencintai namun kini terasa bagai dua orang asing. Dan bahkan kegiatan mereka bertukar kelenjar juga berkeringat bersama pun terasa seperti sebuah pekerjaan saja, dimana ia adalah pembeli jasa sedangkan Dini adalah penjual jasanya.


"Apakah kau tidak ingin mempersilahkan aku ku masuk?" tanya Dini dengan bersikap begitu manis.


Bright memasang tampang datar, biasanya Dini akan ber-lu-gue, namun kali ini ia datang dengan begitu sopannya dan terlihat begitu manis. Bright langsung tanggap, pasti wanita ini sedang dalam masalah besar, pikirnya.


"Masuklah!" ucap Bright dengan begitu dingin.


Dini langsung merasa tertohok karena Bright justru menyambutnya dengan sikap dingin. Biasanya pria itu akan sangat memanjakannya dan juga terus saja membuatnya merasa dicintai, namun kali ini sosok Bright sudah berubah. Dan andaikan Dini tahu Bright sebenarnya sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya karena saat ini ia hanya ingin menjadikan Mentari sebagai kekasihnya dan jika bisa menjadi pendamping hidupnya.


Rasanya Bright ingin berterima kasih juga kepada Dini karena kalau bukan dirinya yang memintanya untuk mendekati Mentari, maka ia tidak akan menemukan wanita se-spesial itu. Bahkan Bright tidak pernah merasa begitu jatuh ketika bersama Dini, dia tidak pernah bisa merendahkan dirinya namun berbeda halnya dengan Mentari. Ia bahkan mampu bertingkah bodoh hanya demi bisa merebut perhatian wanita itu.


Dini langsung duduk di samping Bright. Ia pun mulai menceritakan rangkaian kejadian yang terjadi di rumahnya tadi sore. Bright tersenyum tipis karena sejujurnya ia sudah akan menduga hal ini pasti akan terjadi.


"Berikan padaku videonya maka aku yang akan mengurus Mentari," ucap Bright melenceng jauh dari keinginan Dini.


"Ini bukan masalah Mentari, Bright! Ini masalahku dengan Zio. Kau tentu sudah tahu kalau aku tengah mengandung benihmu saat ini, dan aku mengatakan ini di depan keluargaku bahwa benih yang kukandungan adalah milik Zio. Aku harus bagaimana?"

__ADS_1


Bright senyum kecut. Kemarin-kemarin Dini selalu berusaha untuk menyembunyikan kehamilannya, dan kini ia dengan terang-terangan mengatakan bahwa janin tersebut adalah miliknya. Sebenarnya Bright sangat ingin bertanggung jawab, namun sayang sekali wanita yang tengah mengandung benihnya ini justru menolak pertanggungjawaban darinya dan memilih pria lain. Sungguh sangat disayangkan.


"Akan sangat fatal jika Zio yang memilih rumah sakitnya, tapi aku bisa membantumu ..." Bright menggantung ucapannya, ia kemudian menyeringai karena sudah terbesit sebuah ide di pikirannya.


__ADS_2