CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~98


__ADS_3

Mobil Zio berhenti di depan pagar rumah Mentari, ia melihat istrinya juga baru saja keluar dari taksi yang berada di depan mobilnya. Dengan cepat Zio turun dari mobil dan langsung memeluk Mentari dan mengucapkan beribu kata maaf karena ia datang terlambat untuk menjemputnya. Mentari tersenyum, ia mengatakan bahwa tidak masalah jika Zio telat menjemputnya karena ia maklum dengan pekerjaan suaminya tersebut.


Dan kali ini justru Zio yang dibuat tertohok karena dari tadi dia memang sibuk, tapi bukan dengan pekerjaan kantor melainkan dengan urusan pribadi.


"Masuk yuk, malu tahu dilihatin orang kita pelukan di pinggir jalan kayak gini," ajak Mentari.


"Bukan masalah. Yang. Mereka juga tahu kita udah nikah dan masih pengantin baru. Umbar kemesraan di hadapan mereka juga nggak ada yang larang dan nggak dosa juga," ucap Zio menggoda Mentari.


Mentari mendelik, ia kemudian melangkah meninggalkan Zio lebih dulu daripada ia harus meladeni gombalan-gombalan rwveh Zio yang membuatnya tersipu malu. Akan tetapi, baru dua langkah ia berjalan, Mentari langsung merasakan tubuhnya seakan melayang di udara. Hal itu karena Zio langsung mengangkat tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam rumah ala bridal style.


Mentari memekik meminta untuk diturunkan, akan tetapi Zio sama sekali tidak mendengarkan keinginan istrinya tersebut. Bahkan Maya yang sedang menonton dibuat tertawa melihat tingkah pengantin baru tersebut, dalam hati ia berharap semoga pernikahan anaknya itu selalu langgeng hingga akhir hayat mereka nanti.


Sesampainya di kamar, Zio langsung memeluk Mentari dengan begitu erat, dengan posisi mereka yang masih berdiri. Merasakan pelukan Zio cukup aneh, Mentari langsung bisa menebak jika suaminya ini sedang berada di dalam masalah. Entah mengapa ia selalu saja peka terhadap apa yang terjadi pada Zio.


"Kamu lagi dalam masalah ... mengenai Dini atau mengenai perusahaan? Mari kita bicara," ucap Mentari yang masih berada di dalam dekapan Zio.


"Kau selalu tahu tentang aku, sayang. Itulah sebabnya aku semakin hari semakin mencintaimu. Tapi kau baru saja sampai, sebaiknya kau mandi dulu lalu kita istirahat bersama. Nanti malam aku ingin mengajakmu pergi dan kita akan membahasnya di luar. Apakah kau setuju?" tanya Zio dan Mentari langsung ngangguk.


Zio mengecuo puncak kepala Mentari sebanyak tiga kali kemudian ia melepaskan pelukannya dan tanpa ia duga, Mentari langsung mencium pipinya dan mengajak Zio untuk duduk di tepi ranjang sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Mentari meraih tangan Zio lalu ia genggam dengan erat. "Aku tahu masalahmu sangat berat dan aku pun sangat kecewa padamu, tapi kau harus tahu hatiku yang brengsek ini tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku akan selalu menunggu kebenarannya karena aku percaya kau hanya mencintaiku. Akan tetapi jika takdir tidak menginginkan kita untuk bersama lebih lama, aku akan ikhlas melepasmu."


Entah mengapa memang sejak tadi di kantor Mentari merasa begitu sedih, padahal tidak ada hal yang membuatnya bersedih ada perasaan takut kehilangan Zio padahal ia baru saja memilikinya secara sah dan resmi.


Bohong jika Mentari tidak marah pada dirinya sendiri yang begitu menginginkan Zio, padahal lelaki ini sangat tidak pantas untuknya karena sudah banyak wanita yang sudah ditidurinya, sedangkan Mentari masih tersegel hingga detik ini.


Namun hatinya yang brengsek ini terus saja menginginkan Zio untuk menempati ruangan kosong itu. Padahal ada Juan ataupun ia bisa kembali menemukan pria lain, bukan yang seperti Zio. Namun sayang, hatinya begitu terpaut pada pria ini.


Mungkin benar cinta yang sejak lama ada di hatinya belum juga kadaluarsa padahal Zio sudah meninggalkannya selama beberapa tahun lamanya dan mungkin cinta untuk Zio di hatinya memang tidak memiliki tanggal expired.


"Sayang berjanjilah untuk terus bersamaku apapun yang terjadi. Jika pun benar masalah besar akan menimpaku, aku berharap kau akan selalu mendukungku karena hanya kau satu-satu harapan dan semangat dalam hidupku. Aku sangat mencintaimu Mentari, aku sangat mencintaimu!"


Keduanya pun saling berpelukan erat hingga beberapa saat kemudian Mentari perpamitan untuk pergi ke kamar mandi membersihkan dirinya.


.


.

__ADS_1


Air mata Mentari tumpah begitu Zio selesai menceritakan masalah yang terjadi tadi siang di rumah keluarga Vindex. Ia tidak bisa berkata-kata. Kali ini ia bukan lagi marah, bukan lagi kecewa, akan tetapi ia tidak bisa mengekspresikan apa yang ada di hati dan pikirannya dan juga apa yang tengah ia rasakan saat ini.


Air mata itu mengalir begitu saja bersama dengan terbungkamnya mulut Mentari. Zio sendiri saat ini sedang duduk berlutut di kaki Mentari dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


Keduanya sama-sama menangis dalam diam, tanpa suara dan hanya air mata yang terus saja keluar tiada hentinya. Mentari bingung harus menanggapi seperti apa masalah Zio kali ini. Jika Dini sudah mengakui kehamilannya, maka tamatlah kisahnya bersama Zio karena ia tidak mungkin menghalangi seorang wanita dan calon anaknya untuk bersama dengan sang ayah.


"Sayang bicaralah, aku mohon ..." pinta Zio dengan suara yang begitu lirih.


Mentari memalingkan wajahnya, ia menyeka air mata yang masih tersisa di pipinya. Ia tidak sanggup untuk menatap mata Zio saat ini, rasanya hatinya membeku. Kabar yang memang sudah lama ia pikirkan dan persiapkan dirinya untuk mendengarnya, akan tetapi ketika berita itu sampai langsung di telinganya, Mentari mendadak speechless.


"Sayang, aku tidak ingin menikah dengannya dan aku yakin benih yang ada di dalam kandungannya itu bukanlah milikku, Apakah kau ingin ikut denganku untuk memeriksakan kehamilannya besok? Kita akan mengetahui hasilnya bersama, bagaimana?"


Pertanyaan Zio tersebut langsung membuat Mentari menatapnya dengan tajam. "Apakah sudah gila? Apa kau ingin aku menyaksikan bagaimana perbuatanmu pada wanita itu membuahkan hasil?!" bentak Mentari.


Zio langsung terdiam. Ia tidak menyangka kata-katanya barusan justru melukai hati Mentari. Ia kemudian memukuli kepalanya sendiri yang begitu bodoh dan juga mulutnya yang begitu tidak bisa disaring untuk memilah dan memilih kata yang tepat untuk berbicara dengan istrinya dalam situasi dan kondisi yang serumit ini.


"Maafkan aku sayang Aku tidak bermaksud untuk itu, sungguh ..." lirih Zio.


Ya Tuhan aku harus apa? Aku tidak punya solusi untuk suamiku dan juga untuk perasaanku sendiri. Bahkan aku tidak tahu perasaan seperti apa yang kurasakan saat ini. Aku ingin berteriak. Aku ingin marah, bahkan aku ingin membunuh Zio detik ini juga. Akan tetapi di sisi lain aku juga ingin memberikan semangat dan dukungan kepada suamiku ini, aku percaya bahwa dia tidak sepenuhnya bersalah walaupun memang apa yang dia lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Aku harus bagaimana ya Tuhan ...


Zio memukuli dinding hingga tangannya berdarah dan Mentari sama sekali tak bergeming dari duduknya. Ia membiarkan Zio meluapkan kekesalannya pada tembok tersebut.


"Sial! Sial! Sial!" umpat Zio seiring dengan tangannya yang terluka dengan terus menghujami tembok itu dengan pukulannya.


"Kenapa ini semua terjadi padaku? Aku membenci situasi ini. Dasar brengsek!" Kembali Zio mengumpat dan kali ini pukulannya tidak mengenai tembok karena sudah ada tangan Mentari yang menghalanginya.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri Zio, tidak ada gunanya juga kecuali kau membunuh dirimu sendiri lalu kau akan selesai dengan kisahmu bersama Dini. Kau tidak perlu bertanggung jawab dan pastinya juga kau akan mengakhiri kisahmu denganku," ucap Mentari sarkas.


Zio kembali tertohok, istrinya ini memang selalu mengucapkan kata yang membuatnya merasa tertekan.


"Jika memang kau ingin melakukan pemeriksaannya besok maka lakukanlah, dan berdoalah semoga apa yang kau harapkan itu adalah hasilnya. Dan jika tidak kau harus bertanggung jawab seperti apa yang sudah kau janjikan pada keluarga Dini," ucap Mentari, kali ini wajahnya terlihat begitu datar dan dingin seiring dengan ucapannya tersebut.


"Lalu bagaimana dengan kita? Aku tidak ingin mengusaikan kita ya. Aku pasti akan bertanggung jawab kepada Dini tetapi hanya untuk menikahinya, bukan untuk membawanya tinggal bersamaku. Hanya murni demi kandungannya tersebut dan setelah itu aku akan menceraikannya," ucap Zio tak ingin dibantah.


"Dan kau Mentari, jangan coba-coba untuk meninggalkanku karena aku sampai kapanpun tidak akan pernah menjatuhkan talak kepadamu, ingat itu!" imbuhnya.


Zio membalas Mentari dengan tak kalah dinginnya. Ia sudah tahu saat ini mengapa Mentari bersikap sedemikian rupa padanya, dia mengerti karena itulah cara Mentari untuk membuatnya kembali bersemangat dan tidak putus asa. Jika Mentari sudah bersikap dingin padanya, itu tandanya dia tidak ingin Zio terlarut dalam kesedihannya dan juga masalahnya. Zio harus bangkit dan terus kuat untuk bisa segera keluar dari masalah yang membelenggunya.

__ADS_1


"Kau jangan egois Tuan Dimas Ezio Rasyid!" bentak Mentari tak suka dengan ucapan Zio, namun dalam hati ia merasa lega karena suaminya itu sudah bangkit dari keterpurukannya.


Kalaupun kita tidak bisa bersama, setidaknya kita pernah bersatu, Zio. Mungkin saja setelah mengetahui faktanya aku akan memberikan sebuah kenang-kenangan padamu sebelum kita berpisah nanti. Walaupun berat berpisah denganmu, tapi jika sudah begitu jalan takdir kita, aku bisa apa? Gumam Mentari dalam hati.


"Sebaiknya kita pulang ini, sudah larut. Aku besok akan pergi bekerja dan kau juga akan bekerja," ajak Mentari.


.


.


Dini begitu gugup ketika ia sudah berada di dalam mobil bersama dengan Zio dan kakek Rasyid. Pagi-pagi sekali ia sudah menghubungi Bright dan mengatakan jam berapa ia akan pergi bersama Zio. Kembali Dini memastikan apakah Bright benar-benar akan membantunya keluar dari masalah ini atau tidak dan Bright meyakinkannya jika kali ini rencananya pasti berhasil.


Mereka sampai di rumah sakit dan kini sudah berada di ruang dokter kandungan. Setelah beberapa sesi tanya jawab seputar gejala yang dialami Dini, dokter tersebut langsung mengajak Dini untuk naik ke atas ranjang pasien agar ia bisa memeriksanya.


Setelah rangkaian USG selesai, dokter tersebut kemudian mengajak Zio dan Dini untuk kembali duduk.


"Selamat ya Pak, saat ini ibu tengah mengandung dan usia kandungannya menginjak satu bulan," ucap dokter tersebut yang membuat dunia Zio seakan hancur.


"Hamil Dok? Satu bulan? Bagaimana bisa, kami baru melakukannya dua minggu yang lalu," tanya Zio, sebenarnya dalam relung hatinya yang terdalam ia berharap bahwa anak itu bukanlah benihnya karena perhitungan usia kandungan dan hari ketika mereka melakukan hubungan intim tersebut berjarak dua minggu sebelumnya.


Dokter tersebut tersenyum, ia kemudian menjelaskan bahwa perhitungan kehamilan bukan dihitung berdasarkan kapan pasangan melakukan hubungan intim melainkan kapan hari pertama terakhir kali sang calon ibu menstruasi.


Setelah dokter tersebut menjelaskan dengan panjang lebar, Zio merasa ingin mati saja karena ia tidak sanggup untuk bertanggung jawab dan menikahi Dini detik ini juga.


Kemudian keduanya berpamitan pada dokter tersebut setelah sesi pemeriksaan berakhir. Zio nampak begitu lemas, sedangkan Dini tersenyum senang. Bagaimana tidak, usia kandungannya sebenarnya sudah menginjak tiga bulan akan tetapi mengapa tiba-tiba dokter tersebut mengatakan bahwa usia kandungannya baru masuk satu bulan.


Flashback beberapa saat yang lalu ....


Setelah mengetahui dari Dini jika ia sedang bergerak ke rumah sakit bersama Zio, Bright yang sudah dari tadi memantau pergerakan mereka dari dekat rumah Dini pun langsung mengikutinya dan ketika melihat kemana arah mobil Zio bergerak, Bright langsung tahu rumah sakit mana yang dituju.


Dengan kecepatan tinggi Bright mengemudikan mobilnya hingga ia sampai lebih dulu di rumah sakit. Saat Zio tengah mendaftarkan pemeriksaan untuk Dini, Bright masuk ke dalam ruangan tersebut dan meminta dokter tersebut untuk melakukan perintahnya, dan jika tidak maka dokter itu akan kehilangan pekerjaannya detik itu juga. Bright juga mengancam akan membunuhnya jika sampai tidak menuruti keinginannya.


Flashback off ....


"Bagaimana Zio, apakah kita akan segera menikah hari ini juga?" tanya Dini dengan senyumannya yang mengembang.


Zio menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap sangar kepada Dini dengan sebelah alisnya yang terangkat. "Menikah hari ini? Tentu saja tidak! Asal kau tahu saja, aku sudah memiliki istri sah di mata hukum dan agama dan diakui oleh Negara. Dan jika aku ingin menikah denganmu alias aku ingin berpoligami, maka aku harus mendapatkan izin dari istri pertamaku dan jika dia tidak mengizinkannya maka kita tidak akan pernah menikah Dini," ucap Zio tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2