CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CLBK~99


__ADS_3

Ucapan Zio tersebut langsung membuat Dini merasa seolah disambar petir di pagi ini. Bagaimana tidak, ia benar-benar melewatkan berita tentang Zio yang sudah menikah. Awalnya ia menuding Zio hanya sengaja mengatakan itu untuk membodohinya, akan tetapi Zio menunjukkan bukti bahwa ia sudah menikah dengan Mentari dan ketika itu juga dunia Dini terasa begitu hancur dan berputar-putar.


Hampir saja Dini pingsan, namun karena Zio enggan untuk menangkap tubuhnya maka ini mengurungkan niatnya untuk pura-pura pingsan.


"Kau sungguh curang, kau sangat licik!" bentak Dini namun Zio tidak memperdulikannya sama sekali.


Zio melangkah meninggalkan Dini yang berada di rumah sakit, kemudian ia bersama kakeknya masuk ke dalam mobil. Zio tidak peduli pada Dini yang terus berteriak memanggilnya agar bisa ikut bersama. Zio seakan menulihkan telinganya dan dengan kecepatan penuh ia meninggalkan rumah sakit itu dengan Dini yang terus berteriak dan mengumpat di belakangnya.


"Apakah kau melakukan apa yang kakek katakan?" tanya kakek Rasyid.


Sebenarnya tadi sebelum ke rumah sakit, kakek Rasyid sudah memberikan Zio saran yaitu dengan mengatakan bahwa ia sudah menikah dan jika ingin menikahi Dini maka Mentari harus menyetujuinya. Zio tadinya tidak bersemangat mendadak begitu bersemangat setelah mendapatkan usul dari kakeknya tersebut. Dan terbukti caranya tersebut berhasil membuat Dini tak bisa berkata-kata lagi.


Kakek Rasyid sendiri merasa bahwa benih tersebut bukan memiliki Zio, sehingga ia juga semalaman berpikir keras bagaimana caranya agar Zio bisa menunda pernikahan tersebut, sampai mereka berhasil membuktikan bahwa benih itu memang bukanlah milik Zio. Namun jika benar benih itu adalah benih milik Zio, maka kakek Rasyid pasti akan menerimanya.


"Berhasil, Kek. Tapi apakah cara ini cukup efektif? Aku khawatir jika Dini datang menemui Mentari. Mentari itu sangat mudah luluh pada orang yang meminta belas kasihnya. Aku takut Mentari nanti justru akan memberikan izin," ucap Zio dilema.


Kakek Rasyid menepuk pundak Zio. "Kau harus yakin dengan cintamu dan yakinlah pada dirimu sendiri, serta serahkan semua pada Yang Maha Kuasa," ucap kakek Rasyid memberikan semangat kepada cucunya.


Zio pun tersenyum. Ia merasa sangat bersyukur karena bisa berbagi cerita dengan kakeknya padahal pria ini yang dulu ia hindari karena terus saja menekannya untuk menikah dengan Dini, namun justru pria tua ini yang menjadi rekannya dalam menyelesaikan masalah.


"Maafkan Zio yang dulu pernah marah pada kakek," ucapannya.


Zio kemudian menepikan mobilnya. Dia membuka Seatbelt kemudian dengan cepat Zio masuk ke dalam pelukan sang kakek. Terbayang kembali bagaimana ia membentak kakeknya ketika ia dipaksa untuk meninggalkan Mentari dan menikah dengan Dini, sungguh Zio merasa menyesal pernah melakukan hal tersebut pada pria tua ini yang padahal ia adalah sosok yang ada di saat Zio dalam masalah besar seperti sekarang ini.


Kakek Rasyid tersenyum. Kakek juga mengatakan bahwa semua ini bukan hanya kesalahan Zio karena ia juga turut andil dalam sikap yang Zio ditunjukkan pada saat itu. Jika saja ia tidak mengekang Zio untuk menikah dengan Dini, maka semua ini tidak akan terjadi.


Mereka tidak akan pernah merasakan kerenggangan hubungan antara cucu dan sang kakek, namun semua itu menjadi pelajaran bagi mereka karena sejauh apapun jarak mereka dan sehebat apapun masalah yang membuat mereka terpisah, keduanya tetap memiliki rasa kasih sayang satu sama lain.


.


.

__ADS_1


Mentari menatap Bright yang sudah berada di depan kantor ketika ia baru saja kembali dari makan siang bersama Zio. Untung saja suaminya itu tidak melihat kehadiran Bright atau mungkin Bright yang sudah tahu jika Zio akan datang, maka ia bersembunyi di tempat yang lebih aman terlebih dahulu agar tidak terlibat perkelahian dengan Zio.


"Tuan Bright," sapa Mentari pada pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis namun hal tersebut membuat Mentari merasa begitu risih.


"Halo nona Mentari. Maaf karena saya datang secara tiba-tiba, akan tetapi memang ada hal yang harus saya sampaikan kepada Anda dan juga Bu Mawar mengenai proyek kita," ucap Bright yang terlihat serius membahas tentang pekerjaan sehingga Mentari mulai larut dalam pembicaraan.


Bright sudah hafal dengan Mentari, gadis ini tidak akan mau berbicara masalah lain selain masalah pekerjaan dengannya, sehingga Bright membuka pembicaraan dengan membahas mengenai proyek tersebut agar Mentari mau membalas obrolannya.


"Oh ya? Apa ada kendala? Bukankah proyek itu akan dimulai minggu depan?" tanya Mentari merasa heran karena sebelumnya mereka sudah mendapatkan kesepakatan dan itu baru saja terjadi kemarin, lalu mengapa mendadak Bright datang dan mengatakan akan membahasnya lagi.


Bright menggeleng, ia kemudian mengatakan jika ia akan membahas ini di ruangan saja dan Mentari memohon maaf karena sudah tidak sopan sebab mengajak kliennya berbicara sambil berjalan, namun Bright langsung mengibaskan tangan dan mengatakan bahwa tidak masalah karena mereka sudah saling mengenal dan cukup akrab.


Sesampainya di ruangan Mawar, ternyata wanita itu tidak berada di sana dan sebenarnya Bright sudah tahu karena tadi mata-matanya di kantor mengatakan bahwa Mawar sedang keluar dan belum juga kembali karena ada urusan bisnis dadakan, sedangkan Mentari yang pergi bersama Zio tidak tahu-menahu masalah tersebut, hingga jadilah mereka hanya berdua di dalam ruangan Mawar.


"Akan sangat tidak baik jika kita masih berdua disini, bagaimana kalau kita duduk di meja saya saja?" ajak Mentari.


Bright tersenyum kemudian ia menggeleng. "Sepertinya tidak bisa, karena ini adalah masalah proyek kita sebaiknya kita harus menunggu Bu Mawar. Atau bagaimana jika kita merencanakan pertemuan di lain waktu saja, akan tetapi harus hari ini juga. Bagaimana kalau pulang kerja atau nanti malam?" usul Bright.


"Nanti akan saya bicarakan dulu dengan Bu Mawar ketika dia sudah kembali, dan akan segera saya kabari kepada Anda kapan waktu kami bisa menemui Anda," ucap Mentari dengan sopan karena menganggap Bright saat ini adalah klien yang harus dihormati.


Bright mengangguk. "Baiklah jika memang begitu, saya harus panit karena masih ada pekerjaan lain. Jangan lupa untuk memberi saya kabar secepatnya agar kita bisa sama-sama menyesuaikan waktu," ucap Bright kemudian ia segera pergi.


Namun baru beberapa langkah, Bright langsung menghentikan kakinya sambil memegangi perutnya yang terlihat begitu sakit. Dengan cepat Mentari mendekati Bright dan langsung menanyakan apa yang terjadi.


"Maaf nona Mentari tetapi ini sangat memalukan, tidak apa-apa," ucap Bright mencoba menutupinya.


Mentari sebenarnya tidak peduli namun karena pria ini merupakan kliennya dan hal ini juga terjadi di dalam kantor, maka Mentari mau tidak mau harus tetap memperlihatkan kepeduliannya kepada Bright.


"Apa Anda tidak kenapa-napa Pak? Bisa beritahu saya apa yang terjadi, atau jika tidak saya akan membantu bapak berjalan keluar dan akan memesankan taksi untuk Anda jika Anda tidak sanggup untuk menyetir," ucap Mentari.


Bright tertawa. "Kau sedang mengejekku? Aku ini masih kuat dan masih sanggup hanya untuk menyetir, tetapi jika boleh tolong bantu antar aku untuk sampai ke mobil."

__ADS_1


Mentari dengan cepat mengangguk. Ia kemudian membantu memapah Bright, sedangkan pria yang baru saja berakting sakit itu langsung tersenyum puas karena berhasil mendapatkan jarak sedekat ini dengan Mentari.


Dia memang wanita yang baik dan sangat peduli akan sangat beruntung siapapun yang memilikinya dan semoga itu adalah aku, ucap Bright dalam hati.


Di dalam lift, Mentari mulai menanyakan kepada Bright sebenarnya apa yang terjadi. Dengan malu-malu Bright berkata bahwa ia sebenarnya belum sempat makan siang dan tak sempat sarapan karena saking banyaknya pekerjaan yang harus ia kerjakan.


Bagaikan seorang ibu, Mentari kemudian mengomeli Bright dan mengatakan bahwa sesibuk apapun seseorang ia harus menyempatkan diri untuk mengisi perutnya, karena bekerja dalam keadaan perut kosong itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri.


"Anda harus ingat Pak, logika tanpa logistik itu anarkis!" Ucap Mentari lagi dengan sarkas hingga membuat mereka tertawa.


"Ya, ya, kau sudah mulai pandai menasehatiku. Tapi terima kasih karena sudah menolongku dan aku akan mengingat kembali ucapanmu ini. Sekali lagi terima kasih Mentari," ucap Bright ketika mereka baru saja keluar dari dalam lift.


Mentari tersenyum kemudian ia memalingkan wajahnya. Sejujurnya jika mengenal dengan baik pria ini, maka Bright bukanlah orang yang begitu menyebalkan. Dia mempunyai sisi yang mengasyikkan juga, akan tetapi karena hati Mentari sudah terpaut pada seorang Dimas Ezio Rasyid, maka ia tidak akan memandang laki-laki lain lagi dengan pandangan yang berbeda. Semuanya terlihat sama di mata Mentari, dan hanya ada satu makhluk spesial yaitu Zio.


Bright sebenarnya orangnya baik, hanya saja pertemuan kami memang kurang mengesankan dan cenderung menyebalkan. Tetapi karena aku ini adalah istri seseorang, maka aku tidak boleh mengambil jarak sedekat ini dengannya. Cukup dijadikan rekan bisnis saja, gumam Mentari dalam hati.


Sesampainya di mobil, Bright menawarkan untuk mengajak Mentari makan siang menemaninya, akan tetapi Mentari menolak karena ini sudah masuk jam kerja. Dan tak seperti biasanya, Bright tidak memaksa Mentari melainkan ia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Seandainya kau masih menjadi karyawan di kantor Daddy, kau pasti akan diangkat menjadi karyawan teladan. Teruslah semangat bekerja, karena jika tidak bekerja kita tidak akan makan. Uang tidak akan datang dengan sendirinya dari langit, dan aku menyukai semangat kerjamu."


Ucapan Bright tersebut ditanggapi dengan senyuman lebar oleh Mentari. Prinsip yang selama ini Mentari selalu pegang yaitu ia harus semangat bekerja, karena jika ia tidak bekerja, ia tidak akan bisa membeli kebutuhan untuk dirinya sendiri. Dan memang uang itu tidak akan datang dengan sendirinya, seperti hujan yang turun dari langit dan seperti daun-daun yang berguguran dari pohonnya saat mulai kering.


Mentari menatap mobil Bright yang sudah pergi dan di belakangnya seseorang berdehem keras sehingga membuat Mentari memegangi dadanya karena terkejut.


"Mawar, lu ngagetin aja," ucap Mentari sedikit kesal.


Mawar tertawa, ia kemudian mengatakan bahwa sedari tadi ia memantau Mentari dan juga Bright dari dalam mobil. Sebenarnya Mawar sudah sampai hanya saja ia masih meladeni Oliver yang meneleponnya.


"Sepertinya dia nggak mau ngelepasin lu, Tari. Buktinya dia terus saja datang buat bertemu sama lu. Hati-hati, lu udah nikah," ucap Mawar menasihati.


Mentari mengangguk. "Gue tahu dan tadi juga dia datang buat bicarain soal proyek, cuma karena lu nggak ada jadi dia balik," ujar Mentari.

__ADS_1


Mawar ber-oh ria dan mengajak Mentari untuk masuk, sedangkan seseorang yang dari tadi tengah mengamati mereka langsung menghubungi seseorang.


__ADS_2