CINTA LAMA BELUM KADALUARSA

CINTA LAMA BELUM KADALUARSA
CL K ~ 133


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ...


"Maya ...! Buka pintunya Maya ...!"


Di dalam rumah yang kebetulan hanya ada Maya saja yang tengah beristirahat dibuat terkejut karena suara gedoran pintu yang begitu keras seakan pintu tersebut akan rusak. Dengan cepat Maya keluar dari kamarnya dan melihat siapa yang sudah mengganggu istirahatnya.


"Siapa ...." Maya tidak melanjutkan ucapannya sebab ia sangat terkejut melihat siapa yang datang bertamu dengan tidak sopan ke rumahnya bersama dengan iring-iringannya.


"Keluar juga kau akhirnya!"


"Juragan Banyu ...," lirih Maya terbata. Ia tidak menyangka pria yang dulu pernah ia mintai tolong dipinjamkan uang untuk kesembuhan suaminya itu akhirnya datang juga.


Tuan Banyu atau yang lebih akrab disapa juragan Banyu itu menyeringai. Ia menatap Maya dengan tajam dan itu membuat Maya ketakutan. Ia hanya sendiri di rumah sedangkan anak dan menantunya sedang berada di tempat kerja mereka masing-masing. Begitupun dengan Lidya yang berada di kampusnya, Maya tidak memiliki seorang pun yang hendak melindunginya jika terjadi sesuatu.


"Kalian menipuku! Bayar utangmu sekarang Maya atau aku akan memenjarakan kalian semua," ucap juragan Banyu tak ada toleransi lagi.


"Maaf Juragan, bukankah Anda sendiri yang mengatakan jatuh temponya di bulan ke lima. Itu masih bulan depan dan Anda sendiri yang menolak pembayaran kami setiap bulannya," ujar Maya yang merasa keberatan dengan tuntutan juragan Banyu.


Juragan Banyu mendengus, ia sangat kesal dengan berita yang ia dengar kalau ternyata Mentari sudah menikah. Ia sengaja menunda waktu pembayaran sebab nantinya ia akan menjerat mereka dan memaksa agar Mentari menikah dengannya. Namun ternyata tanpa ia ketahui Mentari telah menikah dan pada saat itu ia memang sedang tidak berada di kota ini. Ia baru datang beberapa hari yang lalu dan mendengar kabar buruk ini, tentu ia mengamuk.


"Aku ingin uangku sekarang! Dua jam dari sekarang, jika tidak maka kalian akan aku penjarakan. Kau, Mentari dan menantumu itu akan aku masukkan ke dalam penjara!" ancam juragan Banyu dengan begitu kesalnya.


Merasa sangat kesal dan tidak terima, juragan Banyu hendak menarik rambut Maya tetapi tangannya terhalang dan tidak bisa digerakkan. Ia menatap ke belakang dan ternyata di sana sudah ada Zio.


"Mau memenjarakan kami?" gertak Zio kemudian ia menghempaskan tangan juragan Banyu dengan kasar.

__ADS_1


Tiga pengawal juragan Banyu langsung pasang badan melihat tuannya bersitegang dengan Zio. Namun tatapan mata Zio seakan mengintimidasi merasa dan mereka merasa seolah ditelan hidup-hidup hanya dengan lirikan mata Zio.


"Oh jadi ini menantumu Maya. Dia bisa apa? Apakah mampu membayar utang kalian yang banyak? Gayanya sok kaya, coba bayar utang kalau bisa," cibir juragan Banyu.


Zio tertawa sarkas. Ia kemudian menatap satu per satu orang yang datang merusuh di rumah mertuanya, bahkan juragan Banyu pun mulai merasa gelisah dengan air muka Zio yang sudah terlihat datar dan dingin.


Aura CEO mulai terpancar dan Zio sudah sangat jarang menunjukkannya semenjak ia mendapatkan hati Mentari kembali. Hanya situasi dan kondisi tertentu saja Zio akan memasang tampang mengerikan seperti itu.


"Berapa nominalnya?" tanya Zio dengan suara berat penuh penekanan.


"Se-seratus lima puluh juta!" jawab juragan Banyu.


"Apa?!" pekik Maya, ia benar-benar syok karena mendadak utangnya yang bernilai lima puluh juta langsung naik sebesar itu. "Anda benar-benar pemerasan juragan. Utang saya tidak sampai sebanyak itu dan bunganya pun tidak sebesar itu. Anda yang menipu saya," hardik Maya yang tidak terima ia diminta melunasi utang yang jumlahnya tidak masuk akal.


Juragan Banyu menyeringai. Ia yakin sekali keluarga ini tidak akan mampu membayar nominalnya. Ia memiliki rencana lain dan ia yakin pasti kali ini akan berhasil. Mereka tidak punya pilihan lain kecuali mereka memang mampu membayar atau mau mendekam di penjara.


"Memang benar seharusnya kalian hanya membayar tujuh puluh lima juta saja, tetapi kalian curang. Mentari itu harusnya menjadi istriku tetapi tanpa seizinku kalian menikahkannya dengan pria ini. Jumlah yang aku sebutkan adalah biaya ganti rugi untuk kesabaranku menunggu selama ini. Jadi ... bayar sekarang atau masuk penjara. Ah ya, bisa juga tidak melakukan keduanya asalkan Mentari menjadi janda dari pria ini lalu menikah denganku —"


Bughhhh ...


Satu pukulan diterima juragan Banyu dan pelakunya adalah Zio. Ia tidak terima istrinya dijadikan fantasi oleh pria bangkotan ini, apalagi ucapannya yang menginginkan Mentari menjadi janda, Zio sangat tidak terima.


"Berani sekali kau mengatakan hal itu, cari mati?!" sungut Zio dan kini ia kembali menyerang juragan Banyu tanpa ampun.


"Hei, apa yang kalian lakukan? Cepat bantu aku dan jauhkan orang ini dariku!" pekik juragan Banyu, ia sudah kesakitan mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari Zio tetapi anak buahnya justru hanya menjadi penonton saja.

__ADS_1


Baru saja tiga orang itu akan menyerang Zio, mereka dipukul mundur dengan tatapan serta gertakan Zio yang mengancam mereka akan langsung ke kuburan jika berani menyentuhnya. Aura Zio yang mendominasi membuat mereka tidak berani mengambil langkah, pelan-pelan tapi pasti mereka mengundurkan diri dan hanya bisa memohon agar bos mereka dilepaskan.


Zio tertawa, ia menatap penuh ejekan pada juragan Banyu yang wajahnya kini sudah dipenuhi luka lebam.


"Dasar anak buah sialan. Bantu aku berdiri!" umpat juragan Banyu saat Zio sudah tidak lagi menghajarnya. Dengan cepat ketiga anak buahnya memapah bosnya dan mereka langsung mendapatkan pukulan di masing-masing kepala mereka.


"Berikan nomor rekeningmu sekarang juga," ucap Zio yang sudah memegang ponselnya. Sebelumnya ia meminta mertuanya untuk menenangkan diri sebab semua masalah akan segera teratasi.


Maya sebenarnya tidak enak jika Zio melunasi utang mereka yang begitu banyak, tetapi ia juga tidak mungkin mampu membayar semua itu. Uangnya ada pada Mentari sebab ia yang mengumpulkannya. Nanti setelah Mentari pulang baru Maya akan membicarakannya dengan anaknya itu.


"Aku hanya menerima uang tunai," ucap juragan Banyu sambil meringis karena bibirnya terasa perih.


"Mau kuhajar lagi biar sekalian sekarat di rumah sakit?" ancam Zio dan dengan cepat juragan Banyu menggeleng lalu ia meminta anak buahnya untuk memberikan nomor rekeningnya.


Juragan Banyu melotot melihat nominal uang yang baru saja masuk ke rekeningnya. Jumlahnya sebesar 200 juta padahal harga seharusnya yang dibayarkan oleh mereka adalah 75 juta saja.


"Itu sisanya sedekah. Aku terlalu kaya dan uangku begitu banyak. Aku akan memberikannya pada orang tidak mampu seperti kalian. Sekarang atau akan kubuat kalian berempat sekarat!" ucap Zio dengan songongnnya hingga keempat orang itu langsung lari terbirit-birit bahkan juragan Banyu yang jalannya pincang pun mendadak menjadi kuat berlari.


Zio tertawa terpingkal-pingkal melihat bagaimana lucunya tingkah para rentenir tersebut. Ia mengira anak buah serta bosnya adalah orang yang sangar, ternyata mereka cukup lemah dan mungkin warga takut karena juragan Banyu memiliki banyak anak buah dan berani menggertak pada orang kecil saja.


Maya pun turut tertawa, ia merasa lucu sama seperti Zio. Tetapi setelah itu merasa menjadi tidak enak lagi pada Zio sebab sudah membayar utang yang tidak seharusnya Zio bayarkan.


"Bukan masalah mama mertuaku sayang, anggap saja itu adalah tanda terima kasih karena sudah melahirkan Mentari untukku. Aku sangat mencintai putri mama dan berjanji tidak akan menyakitinya. Itu bukan tanda aku membeli Tari, Ma. Jangan sampai mama mengira aku memberikan uang itu dengan maksud terselubung. Itu murni Ma sebagai tanda terima kasih karena mama sudah mau memberikan putri mama untuk aku nikahi," ucap Zio panjang lebar dan hal itu membuat Maya terharu.


Maya menggelengkan kepalanya sembari menyeka air matanya. Ia memeluk Zio dan mengucapkan banyak terima kasih sebab Zio sudah membantunya dan juga mencintai putrinya dengan luar biasa.

__ADS_1


"Oh ya Ma, aku berniat menyampaikan pernikahanku ini pada keluarga besarku. Sebenarnya beberapa dari mereka sudah tahu, tetapi Zio ingin meminta izin mama untuk membawa Mentari ke rumah utama dan menjelaskan semuanya. Mungkin akan ada acara lamaran kedua, Ma. Bolehkah?"


__ADS_2