
Mentari keluar dari ruangan Zio dan meminta Bella untuk masuk. Setelah wanita cantik dan seksi itu masuk, Mentari memegangi dadanya yang terasa sesak. Selama ini ia bertahan dan tidak sakit hati karena setelah putus dari Zio, mereka sudah tidak bertemu lagi selam lima tahun. Mentari tidak perlu tahu apa yang dilakukan oleh mantan kekasihnya itu di luar sana.
Tapi hari ini, ia kembali ditampar kenyataan kalau dirinya memang masih belum bisa move on. Nyatanya walau ia berusaha menutupi rasa sakitnya dengan terus mengingat Juan, semua itu tidak bekerja. Mentari hanya bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk meminimalisir rasa sakit di hatinya.
Lu itu udah jadi mantan tapi masih aja ngejajah hati gue. Harusnya lu udah jadi fosil karena lu bukan tulang rusuk gue! Pergi nggak lu dari hati dan pikiran gue.
Mentari menyugar rambutnya ke belakang, ia harus menguatkan hati dan mentalnya selama bekerja di kantor Zio. Mungkin ia harus mengatur rencana kedapnnya jika saja ia tidak berhasil move on. Ia tidak bisa bekerja lebih lama di kantor ini dan membuatnya terus tertekan oleh perasaan.
Dari ruangannya Ramon diam-diam mengamati Mentari. Ia tersenyum tipis melihat bagaimana gadis itu berusaha untuk menutupi perasaannya. Tergambar jelas jika Mentari masih memiliki perasaan terhadap Zio namun keduanya tidak ditakdirkan untuk bersama.
Telepon di atas meja Mentari berbunyi,bisa langsung tahu siapa yang meneleponnya. Dengan menguat-kuatkan hatinya Mentari mengangkat telepon tersebut.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mentari.
Zio sedikit heran karena Mentari langsung menggunakan bahasa formal padanya padahal tadi mereka baru saja bicara non formal.
"Mentari tolong lu buatin Bella minuman di bawah. Atau lu telepon saja bagian dapur dan minta untuk mengantarkan makanan dan minuman ke ruangan gue," ucap Zio yang saat ini sedang menahan hasratnya karena Bella terus saja menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuhnya.
"Baik Pak, akan segera saya kerjakan," sahut Mentari kemudian ia segera menutup telepon tersebut tanpa menunggu Zio melanjutkan ucapannya.
Biar deh, sekalian gue hilangin rasa sesak ini. Pekerjaan juga udah kelar, gue bisa nyantai sambil jalan-jalan lihatin kantor ini.
Mentari memutuskan untuk turun ke bagian dapur sekalian jalan-jalan. Jika ia terus berada disana bisa-bisa ia tidak bisa mengendalikan perasaannya dan akan membuatnya malu sendiri. Mungkin dengan menjauh sebentar akan membuatnya merasa lega.
Lift yang membawa Mentari menuju ke lantai satu pun berhenti. Saat pintu lift terbuka, Mentari yang masih melamun dan pria yang hendak masuk namun sedang sibuk dengan ponselnya pun saling bertabrakan. Kopi panas itu terjatuh dan tumpah di kaki Mentari yang tidak mengenakan kaos kaki. Mentari menjerit kesakitan karena merasa kakinya melepuh.
"Ya ampun kaki gue," pekik Mentari yang hampir menangis di dalam lift tersebut.
"Maaf ya, gue nggak sengaja," ucap Juan.
Mentari yang mengenali suara itu pun langsung terdiam. Namun rasa perih di kakinya tidak bisa diajak kompromi.
__ADS_1
"Lu bisa nggak tolongin gue keluar dari lift. Bawa gue duduk dulu dan kalau boleh tolong cariin gue salep," pinta Mentari yang sedang berusaha menahan air matanya. Ia tidak ingin kelihatan manja tetapi apalah daya ia justru menangis kejer entah karena kakinya yang perih ataukah hatinya.
"Oh, oh, tentu saja. Sini gue bantu keluar," ucap Juan panik begitu Mentari menangis.
Juan langsung menahan pintu lift yang hampir tertutup itu kemudian ia memapah Mentari dan mencari tempat untuk duduk. Setelah memastikan Mentari tenang, Juan segera pergi entah kemana dan tak lama kemudian ia kembali lagi dengan membawa kotak obat di tangannya.
Mentari bisa melihat jika Juan tergesa-gesa dari deru napasnya yang tersengal-sengal. Mentari tersenyum, pria ini rupanya memang bertanggung jawab. Tidak sengaja menjatuhkan kopi saja Juan sangat bertanggung jawab, bagaimana jika nanti Mentari menjatuhkan hati, tentu Juan pasti akan melakukan hal yang sama.
Memikirkannya saja sudah membuat Mentari senang. Namun kesenangannya harus diusir dulu karena Juan kini membuka sepatu heels Mentari dan mengoleskan salep tersebut.
"Masih ada yang sakit nggak?" tanya Juan, wajahnya nampak bersalah.
Mentari menggeleng, "Cuma kaki doang kok. Makasih ya," jawab Mentari.
Ingin sekali Mentari berteriak, "Hati gue juga lagi sakit banget, jleb banget nih bukan cuma kaki gue doang! Lu mau nggak obatin hati gue juga?" tapi itu tidak mungkin ia lakukan.
Saat Mentari kembali melamun, Juna berpamitan sebentar dan ia meminta Mentari untuk tetap menunggunya. Entah dia pergi kemana lagi dia Mentari tentu akan menunggunya.
Tak lama kemudian Juan datang lagi dengan membawa sepasang sandal jepit. Pria tampan itu berjongkok lalu membuka sepatu Mentari yang satunya lagi dan memasangkan sandal itu di kakinya.
Juan kemudian duduk di samping Mentari, "Kenalin, gue Juan. Gue kerja di bagian Humas. Nama lu siapa?"
Akhirnya setelah sekian purnama Juan menanyakan juga nama Mentari. Apakah gadis bawel ini senang, sangat!
"Mentari, nama gue Mentari," jawabnya dengan antusias.
Juan mengangguk, keduanya pun terlibat obrolan hingga akhirnya Juan meminta agar ia mengantarkan Mentari ke ruangannya dan seketika itu juga Mentari teringat perintah bosnya.
"Mampus gue–" Mentari menepuk dahinya,-"Tadi bos minta gue buat bikinin minuman untuk calon istrinya," ucapnya panik. Ia langsung berdiri dan mendadak ia duduk kembali karena merasa kakinya masih perih.
Juan yang melihat hal itu pun langsung tanggap. Ia kemudian menawarkan diri untuk membantu membuatkan karena sekalian juga ia ingin membuat kopinya kembali. Mentari sempat menolak karena merasa tidak enak dan tidak ingin merepotkan, tetapi Juan memaksa karena ia sadar Mentari jadi kesulitan seperti ini karena ketidaksengajaan dirinya yang menumpahkan kopi di kaki gadis cantik ini.
__ADS_1
.
.
Mata Mentari tertutup rapat begitu ia membuka pintu ruangan bosnya dan mendapati bosnya serta sang calon istri sedang berciuman. Hatinya sakit namun ia harus bisa kuat mengingat ia sudah memiliki semangat baru di kantor ini, Juan Mahendra.
Zio yang melihat kedatangan Mentari dan melihat mantannya itu menutup mata seraya berbalik badan dengan nampan di tangannya pun langsung menyudahi ciuman panasnya. Bella sedikit merajuk karena ia sedang asyik menikmati bibir Zio dan mendadak langsung dihempas begitu saja.
"Lain kali kalau lu mau masuk ke ruangan bos, ketuk pintu dulu," sungut Bella kepadanya Mentari.
Mentari yang merasa ciuman panas keduanya itu sudah berakhir pun berbalik badan. "Maaf nona, saya salah. Lain kali tidak akan terjadi lagi," ucap Mentari dengan suara lembut, ia baru saja berhasil menguatkan hatinya setelah ia kembali teringat wajah panik Juan tadi.
"Hmmm … lagian lu lama banget. Taruh saja nampannya di atas meja," ujar Bella, nampak sekali wanita cantik itu kesal karena kedatangan Mentari.
Zio sendiri terdiam, ia seolah merasa menjadi kekasih yang baru saja tertangkap basah sedang berselingkuh. Wajah Zio memerah, ia merasa malu terhadap Mentari entah apa sebabnya. Biasanya ia tidak pernah merasa demikian sekalipun banyak yang melihatnya bermesraan seperti tadi.
Mata Zio kini bertumpu pada kaki jenjang Mentari yang terlihat sedikit pincang dan ternyata dia mengenakan sandal jepit.
"Kaki lu kenapa? Kenapa pakai sandal jepit di kantor?" tegur Zio yang akhirnya memiliki alasan untuk berbicara.
Mentari yang baru saja berbalik badan setelah meletakkan nampan tersebut pun menatap Zio. Ia tersenyum ramah tanpa dibuat-buat sehingga Zio menjadi salah tingkah.
"Maaf Pak, tadi tidak sengaja seseorang menumpahkan kopi di kaki saya saat hendak masuk ke lift," jawab Mentari. "Apa bapak masih membutuhkan sesuatu?" tanya Mentari lagi.
Ayolah Zio, jangan buat gue yang lagi cosplay menjadi wonder woman yang anti patah hati ini sia-sia dong.
Bukannya menjawab Zio justru berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekati Mentari, "Sudah diobati? Katakan siapa yang berani menumpahkan kopi di kakimu itu? Apakah masih terasa sakit?"
Mentari sedikit kaget dengan rentetan pertanyaan Zio, ia membalas tatapan Zio dimana pria itu menatap cemas padanya.
Please deh, lu jangan bikin gue baper!
__ADS_1
"Baby, kenapa perhatian sekali sih?!" tegur Bella yang membuat kontak mata antara Zio dan Mentari terputus.
"Saya permisi Pak. Jika anda butuh sesuatu silahkan hubungi saya," ucap Mentari kembali memasang senyuman manis seolah ia baik-baik saja, kemudian menyeret kakinya keluar dari ruangan tersebut sambil menyeka air mata yang dengan tidak sopannya turun ke pipinya.