
"Kita semua melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Jatuh untuk pria yang tidak jatuh untukku.”
Tanggal pernikahan sudah diputuskan, tiga bulan dari sekarang tepat pada tanggal 04 Oktober 2017 Tefan dan Nina naik ke pelaminan dan bersumpah janji di depan penghulu dan para saksi. Aku tahu hari itu akan tiba, namun tidak pernah menyangka bahwa akan secepat itu. Ancaman Papa Tefan tidak main-main, dengan terang-terangan dia menemuiku dan mengatakan bahwa aku sebaiknya mundur karena Tefan tidak akan mungkin lagi bersamaku. Air mata yang keluar sudah tak bisa dihitung lagi, berkali-kali aku jatuh demam karena emosi yang meluap dan tak bisa kutahan.
Aku putuskan untuk kembali ke rumah dengan alasan Mama sakit. Nyatanya akulah yang lebih butuh pertolongan. Kepergianku dari rumah kontrakan menjelang persiapan pernikahan Nina membuat dia sedikit kecewa. Namun aku tak sekuat itu, aku tak bisa menyaksikan orang yang kusayangi menikah dengan sahabatku sendiri. Tefan berusaha menghentikanku namun keputusanku sudah bulat. Tidak mungkin aku berada di tengah-tengah mereka yang tengah berbahagia.
“Sudah waktunya aku melepasmu meski berat Fan.”
“Riana, maafkan aku...”
“Maaf tidak akan pernah cukup untuk menghentikan rasa sakit yang kurasakan Fan.”
“Maaf...”
Genggaman erat tangannya kulepas perlahan, bersama kulepas perasaanku yang koyak. Jika benar ini adalah cinta lantas kenapa cuma aku yang berjuang? Kesalahan tidak bisa kulimpahkan juga pada Tefan karena sejak awal kita sudah melakukan hubungan yang salah. Cintaku telah kalah.
Aku melepasmu.
“Aku berdoa untuk kebahagiaanmu dan Nina Fan. Jangan sakiti dia, sayangi dia seperti kau pernah menyayangiku selama ini.”
“Riana... jangan pergi.” Bujuknya.
“Untuk apa aku tinggal Fan? Aku tak punya tempat, tidak mungkin selama-lamanya kita main kucing-kucingan dari Nina, dari orang tua kamu dan dari semuanya. Aku tidak akan pernah menyerah seandainya kamu juga punya sikap Fan.” Tiba-tiba saja nada bicaraku meninggi menghadapi sikap Tefan yang seperti ini.
“Apa yang harus kulakukan Riana?”
“Kamu laki-laki Fan, pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Jika menikahi Nina adalah yang terbaik maka lakukanlah dan aku akan pergi dari hidup kalian selama-lamanya.”
“Riana kumohon jangan seperti ini...” ujarnya putus asa.
“Lalu aku harus seperti apa Fan? Jawab!!!” Suaraku naik satu oktaf dan membuat darahku bagai mendidih. Tefan kaget melihat responku sebab sebelumnya aku tak pernah seperti ini di depannya.
Aku menangis dan dia memelukku. Seperti yang sering dia lakukan untuk menenangkanku bagai anak kecil yang haus dekapan.
Pelan kubuka pelukannya dan berusaha setegar mungkin mengucapkan selamat tinggal. Bagaimanapun semua harus diakhiri olehku karena akulah yang memulainya.
“Sudah selesai Fan. Kita hanya bisa sampai di tahap ini.”
*
*
__ADS_1
*
Melihat kedatanganku dengan mata kuyu Mama jelas sudah mengerti apa yang terjadi. Begitu aku turun dari mobil dia hanya tersenyum dan membuka lengannya untuk menangkapku dalam pelukannya.
“Menangislah sayang, menangislah sepuas kamu. Tapi cukup hari ini saja Mama melihatmu seperti ini. Besoknya Mama tidak mau melihat kesayangan Mama putus asa karena cinta. Tefan baik, dia mungkin juga mencintai kamu tapi dia bukanlah jodoh yang baik untuk ditakdirkan bersama kamu. Dulu juga Mama mencintai orang lain yang bukan Papa kamu tapi kemudian Mama dan Papa kamu menikah cinta kami terjaga setelah menikah hingga sekarang. Percayalah Tuhan menjanjikan yang terbaik.”
Satu katapun aku tak menyela perkataan Mama, aku hanya ingin damai di peluknya. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka, aku mungkin kembali tapi tidak dalam kondisi terpuruk seperti ini. Untung saja restoran bisa diurus kembali oleh sepupu, jika tidak aku tak tahu lagi harus bagaimana mengurusnya. Tefan dan Nina bergantian menghubungiku, meski begitu satupun tak pernah kuterima. Hingga memutuskan untuk tidak mengaktifkan HP untuk beberapa lama. Aku perlu menenangkan diri untuk sementara, sampai perasaanku kembali merasa lebih baik.
Di rumah Mama juga tak banyak yang bisa kulakukan, hanya makan, tidur, dan nonton TV. Mama sampai bosan melihatnya. Papa baru saja pulang dari luar kota, dia sedikit terkejut melihatku berada di rumah. Namun dibanding rasa terkejut itu, aku tahu dia sangat bahagia melihatku. Sebab tawa bahagianya membahana di seluruh ruang kelurga, aku berangsur berlari menyambut kedatangannya. Aku tak pernah kekurangan kasih sayang sedikitpun dari mereka. Malah aku yang terkadang menganggapnya berlebihan, sudah dewasa begini masih saja sering diperlakukan seperti anak kecil.
“Wah Ma, kita kedatangan tamu jauh nih.” Ujar Papa bercanda.
“Iyah Pa. Sayangnya anak kita satu ini baru ingat pulang kalau hatinya sedang terluka.” Mama bertingkah kayak anak kecil meletin lidahnya ke arahku.
Di rumah kami tak ada rahasia, semua diceritakan secara blak-blakan. Seperti hubungan aku dan Tefan yang sejak lama telah diketahui oleh Papa dan Mama.
“Siapa yang berani membuat hati anak kesayangan Papa ini terluka? Bilang siapa orangnya?”
“Hahh Papa kayak tidak tahu saja.”
“Tefan?”
“Sayang sini Papa peluk.”
Akupun berhambur ke pelukan Papa, kali ini tidak ada airmata lagi. Tapi perasaan yang jauh lebih baik semenjak hari pertama kedatanganku ke rumah ini.
“Kamu baru kenal satu laki-laki saja kok sudah kayak mau kiamat sih?” Ucap Papa mengejek.
“Yah habis gimana Pa, kita udah dekat dari kecil.”
“Ya tapi bukan berarti karena kalian dari kecil sudah sama-sama lantas dewasanya juga harus begitu. Jodoh itu di tangan Tuhan sayang, jangan takut kehabisan jodoh. Anak Papa tidak boleh selemah itu.”
“Siapa bilang aku lemah Pa. Aku cuma nangis sehari ngikutin instruksinya Mama. Selebihnya tidur, makan, nonton dan akhirnya bosan sendiri. Hehe...”
“Kalau begitu akhir pekan nanti kamu harus temenin Papa mancing.”
“Mancing? Wahh... hayukk!”
Mama hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kami berdua. Aku dekat dengan kedua orang tuaku, Mama sama Papa bisa jadi siapa saja, orang tua, sahabat, saudara, apa saja. Meski di umur yang sudah di atas seperempat abad ini, aku masih kerap berlaku manja kepada mereka. Begitu juga sebaliknya, mereka kerap kali memperlakukan aku bak putri kecil yang rentan terluka dan harus segera diberikan pertolongan.
Sorenya kami sekeluarga kumpul di taman belakang, sambil minum teh dan menemani Papa memberi makan burung-burung peliharaannya.
__ADS_1
“Dengar dari Mama, Tefan mau nikah dengan sahabat kamu ya?” Tanya Papa tiba-tiba.
“Iyah.” Jawabku lemas.
“Lemas amat jawabnya. Mau tidak mau kita harus bahas ini sayang, Papa harus menyelamatkan kamu dari rasa berkabung. Mau Papa kasih saran?”
“Apa?”
“Jika dia benar-benar jatuh cinta padamu, maka dia akan mengerti bahwa kamu hanya kewalahan dan kamu perlu sedikit waktu. Selain itu dia akan berjuang untuk kamu, bukannya menyerah pada kepentingan keluarga.”
“Kalimat Papa yang sebelumnya aku ngerti, tapi yang terakhir maksud Papa gimana?”
“Iyah, Papa dengar orang tuanya menikahkan Tefan dengan Putri sahabatnya itu karena ada kepentingan. Papa Nina sudah membantu Papa Tefan dalam membangun perusahaannya. Yah sebagai balas jasa atas apa yang telah dilakukan orang tua Nina. Kasihan mereka.”
“Bagaimana dengan aku Pa?”
“Papa sudah bilang, jangan takut kehabisan jodoh. Jika dia mencintai kamu, dia akan berjuang untuk kamu. Bukan meninggalkan kamu terlepas dari segala alasan yang menghalangi dia untuk merangkulmu.”
“Mereka akan segera menikah.”
“Maka kamu harus belajar melepasnya.”
“Kalau aku tidak bisa Pa?”
“Jalani sampai bisa. Papa tidak mendidik puteri Papa untuk mudah menyerah pada keadaan. Tapi sebaliknya, Papa mengajarkannya untuk tangguh, lawan dan hajar.”
“Apa tindakan aku selama ini pada Nina salah Pa?”
“Nina sahabat kamu yang juga calon isteri Tefan?”
“Iya.”
“Hhh...Persoalan anak muda jaman sekarang semakin rumit saja. Kalau kamu menjaga agar hubungan mereka baik-baik saja, sebaiknya kamu sampai di sini saja sayang. Relakan Tefan bersama Nina. Setelah itu menjauhlah dari kehidupan Tefan selama-lamanya.”
Mendengar ucapan Papa aku hanya menundukkan kepala, Mama mencoba memberiku kekuatan dengan menggenggam erat jemariku. Tak ada yang bisa mengalahkan kuatnya sebuah kekeluargaan. Aku bersyukur lahir dalam keluarga ini. Cinta dari Papa dan Mama adalah kekuatan yang sesungguhnya. Mungkin hubungan yang kujalani bersama Tefan adalah salah meski aku tak menganggap bahwa cintaku juga salah.
*Kita semua melakukan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Jatuh untuk pria yang tidak jatuh untukku. Seperti jarum kompas internal, aku mengarah langsung kepada Mr. False. Mungkin itu adalah takdirku.
**Note: Trimakasih sudah mau baca cerita saya sejauh ini semoga terhibur. Oh iya kasih like, comment dan koinnya dong biar ada pundi-pundi di sana. hihi trimakasih.
salam Author***.
__ADS_1