
"TIDAK ...." teriak Kiano.
"Ayah Kiano sudah tidak ada. Kiano cuma punya Papa Ganteng."
Wajah Kiano berpaling dari Saka, ada emosi dan perasaan sedih di sana. Saka memeluk Kiano erat, namun anak itu menolak sampai berteriak di dalam cafe/restoran tempat mereka makan.
"Lepas ... lepasin Kiano ... Kiano tidak mau dipeluk Om. Kiano cuma punya Papa Ganteng ..."
Tangis Kiano pecah, seketika Tefan mengangkat tubuh Kiano coba menenangkan anak sambungnya itu.
"Ssst ... ada apa sayang? Kenapa Kiano teriak-teriak seperti itu? Di sini banyak orang yang liatin Kiano. Ayo cerita sama papa,"
"Papa ... Kiano nggak mau punya dua Papa. Papa Kiano cuma Papa Ganteng. Bukan yang lain."
Saka lalu tersadar bahwa dia baru saja ditolak oleh anaknya sendiri. Dalam dirinya ada bagian yang sangat hancur begitu Kiano mengucapkan kalimat tersebut. Dia tak kuasa menahan nyeri di dadanya.
"Maafkan ... Papa ..." Kalimat itu terdengar lirih dan menyedihkan. Belum pernah sebelumnya dia menangis di depan banyak orang untuk suatu perkara, baru kali ini air matanya tumpah begitu saja. Bagaimana tidak, anak satu-satunya kepunyaannya tidak mau mengakui dirinya Ayah.
"Bukannya bagus punya dua Papa? Kiano jadi lebih bisa banyak teman bermain, berenang dan ngajarin Kiano banyak hal. Iya kan?"
Kiano terlihat berpikir setelah Tefan mengucapkan kalimat barusan. Namun, reaksi berikutnya adalah Kiano malah memeluk Tefan di lehernya.
"Kiano cuma mau Papa Ganteng ...."
Riana yang sejak tadi diam saja, kini menghampiri Tefan dan juga Kiano. Dia membujuk anaknya agar mau berbicara dengan Saka, papa kandungnya.
Riana menggendong Kiano menjauh dari dua pria yang pernah dan sekarang bersamanya. Dua pria yang sama-sama memiliki cinta yang sama besarnya pada Riana.
"Kiano ... maafkan bunda ya? Bunda dan juga Kiano sama, kita berdua nggak tahu kalau papa masih hidup. Maafin bunda karena selalu meyakinkan Kiano bahwa papa sudah tenang bersama Tuhan di surga-Nya. Dengar Bunda baik-baik, Kiano sayang kan sama Bunda? Kalau Kiano sayang, berarti anak bunda yang ganteng ini mau mendengarkan bundanya. Om yang tadi itu benar adalah Papa Kiano, papa mengalami kecelakaan dan bunda nggak pernah tahu kalau papa ternyata masih hidup. Jadi jangan salah sangka sama Papa. Kalau Kiano sayang sama bunda, maka Kiano akan menemui Papa sekarang dan minta maaf padanya karena sikap Kiano barusan."
__ADS_1
Sejujurnya, Riana agak berkecil hati memberikan pengertian semacam itu pada Kiano. Soalnya umur Kiano masih sangat kecil, pemikiran seperti itu hanya bisa dijangkau oleh umur yang lebih di atas Kiano. Namun, Riana sudah tak memiliki pilihan lain kecuali mengatakannya sekarang.
Kiano menggeret air matanya dan memeluk bundanya sangat erat.
"Kiano sayang sama bunda, Kiano hanya tidak mau bunda menangis lagi. Kalau bunda sedih, Kiano ikut sedih dan Om tadi adalah penyebab kesedihan bunda selama ini kan?"
Lagi, Riana dibuat terheran-heran dengan cara Kiano mengolah pikirannya. Dia mengerti apa yang dikatakan bundanya, sesuatu yang seharusnya belum bisa ditangkap dengan baik oleh anak seusia dia.
"Bunda jangan pernah nangis lagi ya ... Kiano tidak mau bunda sedih."
Riana memeluk Kiano erat, lalu beberapa menit kemudian mereka berdua kembali ke meja makan dan mendapati Saka dan Tefan ngobrol seperti dua orang dewasa yang sebelumnya tak pernah terjadi keributan di antara mereka berdua.
Adem sekali dilihat oleh Riana. Kini tak ada lagi air mata yang menggantung di mata Kiano. Meski masih malu dan sungkan, Kiano tetap menunaikan janjinya pada Riana untuk jadi anak baik di depan ayah kandungnya.
"Maafkan sikap Kiano ... Om."
Saka dan Tefan tersenyum, ada bagian dari hati Saka yang menghangat. Betapa dia sangat bersyukur Riana telah mendidik Kiano dengan sangat baik.
Saka paham bahwa Kiano perlu waktu untuk bisa memanggilnya Papa. Terlebih lagi karena sekarang mereka bukan satu keluarga lagi.
"Fan ... aku titip Kiano ya. Jaga dia dengan baik begitu juga dengan Riana. Aku beruntung karena mereka berdua bersama dengan orang yang tepat."
"Pasti. Aku akan menjaga mereka dengan baik. Kamu juga harus bisa melanjutkan hidup lagi. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang Tuhan kasih."
"Tentu. Riana ... mengenai Mama, aku minta maaf padamu."
"Tidak apa-apa, Mas. Riana sudah melupakan itu semua."
Makan malam itu tetap berlangsung dalam suasana yang canggung namun semua berusaha menerima keadaan yang ada. Saka dengan tenang dan menerima bahwa posisinya kini telah tergantikan oleh Tefan, meski tak bisa dipungkiri bahwa darah yang mengalir dalam tubuh Kiano adalah darahnya.
__ADS_1
Namun, dia tak bisa juga memaksa jika Kiano belum mau memanggilnya Papa. Semua butuh proses, apalagi usia Kiano masih terbilang sangat muda. Sepantasnya hanya kebahagiaan yang dirasakannya bukan kesedihan atau masalah seperti sekarang yang dihadapi oleh orang tuanya.
Saka pamit pada Riana dan Tefan. Salah satu momen yang mungkin takkan dilupakan oleh Saka adalah, ketika dia berjongkok di depan Kiano. Menatap mata anaknya itu dengan penuh cinta yang terpendam. Kasih sayang yang sekiranya sudah tercurah sejak tahun-tahun lalu.
"Sekali lagi ... maafin Om. Kiano jadi anak yang pintar, cerdas dan sehat. Bahagia selalu sayang ..."
"Terimakasih, Om. Eh ... Papa ..."
Seketika Saka berhambur memeluk Kiano, tangisnya pecah, tubuhnya bergetar menahan haru. Untuk pertama kalinya, dia mendengar Kiano memanggilnya Papa. Ternyata tak perlu waktu lama untuk Kiano mengubah keputusannya.
Mungkin Kiano melihat dengan jelas bahwa wajah mereka selintas mirip dan lagi mungkin juga Kiano paham akan perasaan Saka yang sebenarnya.
Kiano ikut menitikkan air mata. Riana dan juga Tefan saling berpelukan, ikut berbahagia dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Tidak menyangka Kiano tidak mengecewakan dirinya. Dia mendengar dengan baik setiap kalimat yang diucapkan bundanya.
"Papa ... harus bahagia juga."
Sekali lagi, Saka tak kuasa menahan kegembiraan yang meletup begitu saja dari dadanya. Dia sangat terharu bahkan hal itu menjadi momen berharga sejak dia akhirnya mengetahui semua yang terjadi selama ini.
Saka mengelus puncak kepala Kiano. Sama seperti yang sering dilakukan Tefan padanya. Sebelum akhirnya dia pergi dengan hati yang dipenuhi kebanggaan akan putra semata wayangnya yang tak sempat dia besarkan.
----------
Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu,
ratapan pedihku telah membuat
berlinang air-mata orang.
Kuseru mereka yang tersayat hatinya
__ADS_1
karena perpisahan. Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini.
- Maulana Jalaludin Rumi