
"Bunda ... pergi sama Om Gak ngajak Kiano." Kiano pura-pura ngambek dan bersidekap tangan ke dada.
Riana baru saja pulang, Tefan tidak mau mampir. Dia ingin kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang, Bunda sama Om Ganteng lagi ada urusan sebentar di luar. Makanya tidak mengajak Kiano karena urusannya untuk orang dewasa saja." Riana menasehati Kiano pelan-pelan agar anak itu mau mengerti.
"Ya sudah. Kalau urusan orang dewasa, Kiano mengalah. Tapi janji, kalau Bunda pergi lagi akan ngajak Kiano ya?"
"Iya. Janji. Kamu sudah makan?"
"Sudah, Bun. Makan sama Kak Nadia."
Riana mengelus puncak kepala Kiano. Lalu anak itu pun segera pergi lagi untuk bermain. "Nad, maaf tadi keluar sebentar. Semua aman kan?"
"Aman, Bu. Walau hari ini belum terlalu ramai namun setidaknya ada pelanggan yang datang."
"Iyah, mungkin orang-orang belum tahu kalau kita sudah mulai buka lagi. Semangat aja terus, Nad. Ke atas dulu ya?"
Riana meninggalkan Nadia sendirian, padahal dia sudah kepo urusan bosnya yang pergi bersama Tefan. Nadia memang selalu heboh jika itu menyangkut Tefan, anak itu seperti pengagum rahasia Tefan. Tapi malu jika disebut fans berat Tefan di depan orangnya.
Telepon Riana berbunyi. Sebuah pesan.
Dasar wanita penggoda, jauhi Tefan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebutnya dariku.
Sebuah SMS teror. Riana tahu siapa pengirimnya. Itu sebabnya dia memilih tak menghiraukan pesan itu.
Ting!
Satu pesan masuk lagi.
Aku orang yang nekat. Bisa saja anakmu yang jadi korbannya.
Riana kali ini mulai geram. Sejak kapan hubungan dia dan Tefan ada sangkut pautnya dengan anaknya, Kiano.
"Jangan pernah melibatkan anakku dalam hal ini. Aku bisa diam jika hanya aku yang kamu ganggu, namun aku bisa saja menggigit jika kamu coba-coba menggunakan anakku!" ucap Riana di telepon dengan nada marah.
"Cih! Perempuan penggoda sepertimu memang pantas diberi pelajaran, jauhi Tefan atau anakmu selanjutnya."
"Berani menyentuh anakku, aku bisa bertaruh nyawa denganmu. Ingat itu!" geram Riana lalu memutuskan teleponnya.
Bisa-bisanya dia menggunakan anakku untuk mengancamku. Jika hal itu terjadi, maka perempuan itu benar-benar sudah bosan hidup dengan berurusan denganku.
Riana mulai tak tenang, dia mulai merencanakan tentang pengamanan Kiano ke depannya. Jangan sampai perempuan itu nekat dan menyakiti Kiano. Riana tak mau lagi kecolongan kali ini.
__ADS_1
Untuk sementara dia tak ingin meminta pertolongan Tefan dulu. Dia mencoba menghadapi wanita ini seorang diri dulu. Riana sudah dibuat kesal olehnya.
***
Malam harinya, Tefan datang lagi ke rumah Riana. Membawa begitu banyak makanan. Orang yang paling senang tentunya adalah Kiano.
"Aasiik ... Om Ganteng datang!" seru Kiano begitu melihat Tefan dari arah tangga.
"Hai, Kiano! Lagi belajar ya?"
"Iyah, Om. Apa itu, Om?"
Kiano tertarik dengan apa yang dibawa oleh Tefan. Buku dan kertasnya dia tinggalkan. Menyerbu ke arah Kiano yang membawa beberapa kantong makanan.
Riana baru saja selesai mandi. Sudah biasa bagi Tefan masuk ke rumah itu begitu saja. Riana berani memberi Tefan kunci cadangan entah untuk alasan apa. Mungkin salah satunya adalah ini, diam-diam memberi ibu anak itu sedikit kejutan.
"Ini buat Kiano, ini buat Bunda dan Om." Tefan mengeluarkan kotak-kotak makanan itu di depan Kiano.
Kiano suka sekali dengan mie goreng, itu sebabnya Tefan khusus membelikan itu untuk Kiano. Riana hanya suka pada martabak telur. Sama seperti Tefan.
Tak lama kemudian, Riana pun ikut bergabung dengan para pria -Tefan dan Kiano- maksudnya.
"Banyak banget makanannya, Fan."
"Enak aja. Udah senang ini segini. Kalau naik lagi, gak tahu deh mesti gimana. Sementara kamu tahu sendiri aku paling gak mau olahraga."
"Tapi lihat badan kamu, kurus itu Ri."
"Biarin. Segini aja gak usah nambah-nambah lagi. O iyah Fan, pernah dengar kabar Nina nggak? Udah lama gak ketemu sama tuh anak, aku kangen banget sama dia."
"Nggak tahu dia di mana sekarang. Sudah lama sekali tak berhubungan dengan Nina." Tefan menjawab sembari menyuap martabak ke dalam mulutnya.
"Kangen sama dia. Pengen sering ngobrol lagi kayak dulu."
Wajah Riana terlihat mendung. Tefan bisa lihat dengan jelas itu.
"Bunda, Tante Nina itu siapa?"
"Mantan isterinya Om Tefan sayang."
"Jadi Om Ganteng duda juga? Sama seperti Bunda ya? Om ... mau kan jadi Papanya Kiano?" Ekspresi lugunya yang semula ceria mendadak berubah sedih.
"Kenapa, Kiano? Kok tiba-tiba tanya itu?" tanya Riana penasaran.
__ADS_1
"Soalnya, di sekolah Kiano sering diejek teman-teman. Katanya Bunda janda dan Kiano anak yang tidak punya Papa. Om, mau ya jadi Papanya Kiano?"
Kiano seakan merengek pada Tefan. Riana mendengar penuturan Kiano agak terkejut. Bahkan di sekolah seperti TK pun bully sudah ada. Riana tidak bisa membiarkan hal itu terus-menerus membebani Kiano. Anaknya mungkin saja akan stres dan sedih karena memikirkan nasibnya tanpa seorang Papa.
"Kiano tidak usah dengerin mereka. Kiano punya Papa kok. Papa Kiano sudah bahagia di surga. Kiano doain Papa dari sini, biar Papa bisa tersenyum melihat Kiano dari kejauhan."
"Kenapa Papa harus tersenyum dari jauh. Kenapa dia tidak datang saja menemui Kiano? Kiano kan kangen Papa, Kiano juga butuh Papa. Harusnya Papa itu temenin Kiano dan Bunda di sini, bukannya mengawasi dari jauh." Kiano sudah pandai protes.
Tidak terasa ucapan-ucapan Kiano itu membuat air mata Riana menetes. Acara makan malam itu pun seketika berubah. Tefan mencoba menghibur Kiano.
Tefan memangku Kiano dan memberinya penghiburan.
"Kiano sayang Papa kan?" Anak itu mengangguk. "Kalau Kiano sayang papa, berarti Kiano mau dong doain Papa."
"Memangnya Papa Kiano tinggalnya di mana?"
"Papa Kiano di sini." Tefan menunjuk dada Kiano.
"Om bercanda ya. Di sini kan ada jantung dan hati Kiano. Masa Papa sembunyi di sini sih?"
Di sela tangisnya, Riana tampak tersenyum karena ucapan Kiano.
"Papa ada di hati Kiano, akan selalu ada di sana. Menjaga hati Kiano agar menjadi anak pertama pintar dan menjadi kebanggaan Bunda. Nah, coba Kiano tutup mata. Rasakan kehadiran Papa di hati Kiano."
Kiano pun menuruti instruksi Tefan. Dia segera menutup matanya. Kemudian Tefan mencium kening anak itu pelan dan dalam. Memeluk Kiano dengan sepenuh hatinya.
"Kiano, sekarang boleh buka mata. Apa yang Kiano rasakan?"
"Seperti ada yang mencium dan memeluk Kiano, Om."
Riana tertawa.
"Nah itu, Papanya Kiano."
Kiano merasa moodnya sudah kembali. Dia tak sedih lagi.
"Om, karena Papa sudah ada di hati Kiano. Mau tidak Om jadi Papa kedua di hati Kiano? Menggantikan Papa yang jauh dan menjaga aku serta Bunda."
Lagi-lagi anak itu terus meminta Tefan untuk menjadi Papanya.
"Jika Bunda mau, Om Tefan akan senang hati menjaga Kiano dan Bunda!" ucap Tefan seraya menyentil ujung hidung Kiano.
"Bunda, mau kan?"
__ADS_1
...