
Baru saja hendak menghubungi Nina sejak kedatangannya minggu lalu dia sudah menghubungi duluan.
“Halo Yan...”
“Yah ada apa Nin?”
“Tefan... Tefan sedang bertengkar hebat dengan Papanya. Sekarang dia pergi begitu saja dan aku takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi aku mendengar Papanya memerintahkan semua anak buahnya untuk menyusul Tefan dan mencari tahu ke mana dia pergi.”
“Kamu di mana sekarang?”
“Aku di rumah orang tua Tefan. Aku baru saja menemui mereka bersama pengacara untuk membicarakan perceraiannya. Tefan bahkan sudah tanda tangan tinggal di diajukan ke pengadilan. Tapi Papa Tefan bersikeras untuk menolak keputusan yang sudah kuambil. Aku sudah bilang tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap bisnisnya tapi dia tetap tidak mau tahu. Dia terus saja menyerang Tefan bahkan memukulinya di depan aku dan Tefan mulai melawan sama kerasnya. Sampai dia meloloskan diri dari kejaran Papanya. Untung saja anak buahnya tidak di sana, jika iya aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mungkin aku akan melaporkannya ke polisi atas tindakannya itu. Apalagi ada pengacaraku juga yang menyaksikannya secara langsung. Bisa kita ketemu Yan?”
“Bisa. Aku juga berencana mau bertemu kamu. Tapi tidak di rumah mertua kamu ya. Kita bertemu di rumah kontrakan lama saja. Masih belum dikontrakin kan?”
“Belum. Kalau begitu aku langsung ke sana ya. Aku tunggu kamu di rumah.”
“Baiklah. Aku juga mau jalan ke sana sekarang.”
Tidak lama setelah ngobrol via telpon dengan Nina aku pun sampai di rumah kontrakan yang dulu. Aku lekas turun dari mobil dan menemui Nina di dalam.
“Sudah ada kabar dari Tefan?” Tanyaku langsung setelah mendapati Nina sedang sibuk menghubungi seseorang yang kuyakin itu adalah Tefan.
“Belum. Telpon aku nggak diangkat-angkat.” Jawabnya semakin cemas.
“Kamu tahu tempat yang sering dia kunjungi dan nggak mungkin ditemuin sama Papanya?”
“Hanya ada satu tempat setahu aku yang sering dia kunjungi. Tapi itu juga sudah ketahuan sama Papanya.”
“Lalu ke mana lagi dong kita harus mencari Tefan?”
__ADS_1
“Tenang Nin.”
“Aku tidak bisa tenang Yan, dia pergi dalam keadaan terluka parah. Dia gak akan bisa nyetir dalam waktu yang lama.”
“Aku tahu Tefan, dia akan baik-baik saja Nin.”
“Tefan yang dulu sama yang sekarang jauh berbeda Yan. Aku pikir juga aku tahu dia, tapi ternyata aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang dia. Kamu mungkin bisa bilang kamu tahu Tefan karena kalian berdua lahir dan besar bersama. Tapi tidak sekarang dengan kondisi yang carut marut seperti ini Yan. Dia jelas-jelas sudah sangat berbeda dari yang kita kenal.”
“Oke. Anggaplah aku gak tahu apa-apa juga tentang Tefan, tapi aku yakin di luar sana dia pasti baik-baik saja Nin.”
Ahh... aku tidak habis pikir dengan emosi yang seperti ini aku malah berdebat dengan Nina soal siapa yang jauh lebih tahu Tefan daripada memikirkan jalan keluarnya. Nina emosi, aku juga emosi jelas tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali saling menyakiti pada akhirnya.
“Aku akan cari dia.” Ucapku sembari berdiri dan hendak pergi.
“Maafin aku Yan yang sudah emosi seperti ini.”
“Tidak apa-apa Nin. Kita berdebat di sini juga tidak akan membawa Tefan pulang. Lebih baik aku mencari dia. Seperti kata kamu, aku harus memperjuangkan dia jika tidak ingin kehilangan dia kedua kali dan selamanya.”
“Apa kamu tidak apa-apa?”
“Jangan tanya lagi. Pergilah Yan. Hanya kamu obatnya, hanya kamu yang dia butuhkan. Cari dia dan jangan biarkan dia terluka lagi oleh keluarganya sendiri.”
“Baiklah. Aku pergi dulu ya. Aku kabari kamu secepatnya jika ada perkembangan.”
“Iyah. Aku akan mengurus Papanya dan anak buahnya itu agar mereka tidak bisa menemukan Tefan lagi. Aku akan melaporkan mereka atas tindakan penganiayaannya tadi di depan mataku.”
“Makasih Nin.”
“Sama-sama Yan. Take care!”
__ADS_1
Mencari Tefan seharian tanpa petunjuk itu rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Cari ke Kawah Putih juga tidak ada, tanya teman-teman dia satu-satu juga mereka tidak tahu dan belum pernah ketemu Tefan lagi katanya.
Aku sudah lelah berkeliling mencari tempat yang kemungkinan akan dikunjungi Tefan. Sampai akhirnya aku kepikiran lagi untuk kembali ke Villa di Kawah Putih. Selain untuk menunggu Tefan kalau suatu waktu dia datang ke sana, juga untuk istirahat sebentar dari kelelahan mencari dia.
Aku sampai Villa sudah sore dan kulihat Bapak tua penjaga Villa sedang memotong rumput di halamannya. Dia sedikit terkejut dengan kedatanganku karena tadi juga aku sudah datang ke mari.
“Ada apa Non? Kok balik lagi?”
“Tidak apa-apa Pak. Aku mau nginap dulu di sini, Tefan tidak ada di mana-mana. Jadi kupikir daripada pulang aku lebih baik menunggu di sini saja.”
“Apa perlu sesuatu?”
“Oh iya ini Pak, tolong cariin makanan ya. Soalnya tadi aku periksa isi kulkas sudah kosong.”
“Baik Non.”
Bapak tua itu berlalu setelah kuberi beberapa lembar uang untuk beli makanan. Dia termasuk orang kepercayaan di Villa ini, dia hanya melakukan tugasnya sebagai penjaga Villa. Lebih dari itu dia tidak mau ikut campur apalagi menyangkut soal urusan yang menyewa Villa. Dia hanya bertanggung jawab untuk Villa bukan untuk urusan penyewanya. Itulah sebabnya beliau sudah sangat kupercayai.
Sebelum beristirahat aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Mendinginkan kepala dan menghilangkan sedikit beban yang melekat. Aku ingin berendam sebentar. Tefan entah di mana, tapi perasaanku masih berkata bahwa dia baik-baik saja. Hanya perlu waktu sendiri dan memperbaiki perasaannya.
Aku yakin dia akan kembali ke sini cepat atau lambat, sebab hanya di sini dan tempat inilah yang akan mengembalikan apa-apa yang pernah dilaluinya. Begitu halnya denganku. Kita berdua memiliki ikatan yang sebagian orang mungkin tidak akan menduga. Aku yakin dia kembali.
Aku berendam di bak mandi sambil mendengarkan musik dari Ipod. Musik-musik relaksasi yang seyogyanya bisa menghalau rasa cemas, dan menenangkan pikiran. Jika semua urusan sudah diatur oleh Tuhan, maka urusan Tefan juga kuserahkan padaNya. Sebab hanya Dia sebaik-baiknya penjaga dan pelindung. Beberapa bulan terakhir adalah bulan-bulan yang penuh cobaan.
Semua masalah terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan berdekatan. Aku bahkan tidak memiliki amunisi untuk sekedar mempersiapkan diri dari segala kemungkinan. Terkadang ketika aku mengatakan bahwa aku sudah lebih siap menghadapi apapun, maka saat itu juga Tuhan mengujiku. Tanpa kusadari aku ditempa dan ditempa yang membuat alur berpikirku jauh lebih dewasa. Tidak lagi gegabah dan memilih jeda untuk mengambil nafas lalu melanjutkan.
Di dunia ini akan selalu ada peperangan, bahkan dalam soal cinta. Seseorang akan berperang dengan apapun jika itu menyangkut cinta. Terlepas dari apapun bentuknya. Kita hanya harus lebih siap, sebelum jatuh ke dasar cinta, kita telah menyiapkan diri untuk rasa sakit. Sebab tidak ada cinta yang tak diuji. Semua akan ada pelajaran dan yang menentukan bukanlah menang atau kalah tapi proses yang kita lewati akan menentukan akan jadi apa kita setelah melewatinya.
Kali ini aku sadar bahwa cinta tidak pernah mengambil apa-apa dari manusia, cinta selalu memberi, persoalannya adalah sanggupkah kita menghadapi dan mempertahankannya. Semua kekuatan berasal dari cinta, kecintaanlah yang membuat manusia mampu melakukan banyak hal tanpa merasa takut. Akupun menyadari bahwa yang kulakukan saat ini jika bukan karena cinta entah apalagi aku harus menyebutnya.
__ADS_1
\*\*\*