Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 33. Bertemu Setelah Bertahun-Tahun


__ADS_3

Saka mengajakku berlibur di Lombok. Entah aku harus menerima atau menolak. Jika kutolak aku tidak mau mengecewakan dia apa lagi dia sudah mmebantuku sejauh ini. Juga tidak ingin mengecewakan orang tua kita yang sudah berharap pada kemajuan hubungan aku dan Saka.


Jika kuterima, ah aku takut harapan mereka kandas dan tidak sesuai ekspektasi mereka selama ini. Aku masih bingung dengan perasaan yang sedang kurasakan sekarang. Di satu sisi aku takut kejadian beberapa tahun silam terulang, di sisi lain aku juga tidak keberatan Saka mendekatiku.


Bagaimana pun aku tidak bisa menolak kharisma yang selalu dipancarkan setiap kali aku melihat atau menatap Saka. Sesuatu dalam diriku berdesir hebat atau menggeliat begitu dia mendekatiku dan menyentuhku.


Aku teringat ciuman dia beberapa waktu lalu, dia berhasil menahanku beberapa detik sampai aku perlahan mendorong tubuhnya. Sisa-sisa bibirnya yang lembut terkadang masih menimbulkan sensasi tersendiri. Kadang aku bereaksi konyol dan di luar dugaan jika mengingat kejadian itu. Seperti senyum-senyum sendiri. Ah aku sudah tidak waras.


Suara ponselku berbunyi di atas dashboard mobil. Aku yang menyetir berusaha meraih ponsel itu dan memelankan laju roda empat yang kukendarai itu.


"Halo!" Sapaku.


"Halo Riana sedang apa?"


Oh suara ini, belakangan suara inilah yang sering kudengar. Begitu intens menghubungiku hingga aku merasa semakin berat jika harus berjauhan. Saka.


"Ya, aku lagi nyetir. Ada apa?"


"Nggak ada. Siang ini ada waktu?"


"Kamu bercanda ya? Bukannya waktu jam makan siangku selalu diambil sama kamu?"


"Ha ha ha...!"


Ah tawa itu semakin enak saja didengar.


"Kalau begitu siang ini aku jemput ya, aku mau ajak kamu ke restoranku."


"Baiklah. Aku tunggu."


Panggilan itu pun aku matikan dan tanpa sadar aku lagi lagi tersenyum sendiri. Ah konyol sekali.


Perlahan mobil yang kukendarai memasuki gerbang toko atau kantor pusat yang sementara dalam pembangunan. Aku datang mengontrol sudah sejauh mana pengerjaan tokok tersebut.


"Pagi Mba!" Sapa Nia yang sudah lebih dulu tiba di sana.


"Pagi Nia. Jadi bagaimana apa satu bulan lagi kantor sekaligus toko pusat kita ini bisa selesai?"


"Kalau menurut kepala proyek sih harusnya selesai sesuai waktu yang ditentukan di awal."


"Syukurlah."

__ADS_1


Aku berkeliling untuk melihat-lihat, ditemani asistenku Nia yang terkadang mengambil alih pekerjaanku begitu aku ada keperluan untuk meninjau toko-toko cabang.


"Mba menurut laporan dari toko-toko cabang omzet kita naik besar bulan ini." Ujar Nia semangat.


"Syukurlah, kalau begitu atur bonus untuk semua karyawan kita yang sudah bekerja keras."


"Baik Mba."


Aku senang mendengar sejauh ini toko-toko cabang berkembang dengan baik. Itu artinya tidak ada yang perlu dirisaukan lagi. Aku memang sering memberi karyawan bonus jika omzet toko naik dengan signifikan. Bagi aku merekalah yang sudah bekerja dengan keras hingga toko tersebut mencapai hasil yang memuaskan.


Berselang beberapa waktu aku mengajak Nia bertemu beberapa klien untuk melakukan transaksi kerjasama. Kali ini aku melibatkan Nia sebab bagaimana pun dia harus bisa mengambil alih tugas ini suatu saat nanti.


Aku percaya pada Nia, dia adalah karyawan yang dari awal ikut aku dan kerjanya selalu bagus. Itu sebabnya aku menjadikan dia asistenku sekarang. Karena selain dapat dipercaya dia juga dapat diandalkan.


"Nia, suatu saat nanti kerjaan bertemu klien ini harus kamu ambil alih. Sudah bukan menjadi tugasku lagi, tapi tetap ada di bawah kontrol dari aku." Begitulah aku memulai pembicaraan itu di mobil saat akan menemui klien.


"Aku sangat tersanjung dengan kepercayaan mba sama aku. Aku akan melakukan tugasku dengan baik."


"Bagus, kamu selalu bisa aku andalkan."


"Mohon bimbingannya Mba."


"Pastinya."


Nia berbicara lirih lalu akhirnya mengusaikan panggilan itu dengan masih menyisakan senyum di bibirnya.


"Ciee...!"


"Apaan sih Mba."


"Dari pacar kamu ya?" Tanyaku antusias.


"Lebih tepatnya tunangan Mba."


"Wah sudah sejauh itu ya? Selamat Nia, kamu jangan-jangan akan mendahului aku lagi nih."


"Sepertinya begitu Mba. He he..."


"Jadi?"


"Iyah, aku akan menikah dua bulan lagi. Mba harus datang."

__ADS_1


"Serius? Dih aku kalah lagi nih. Pantes saja kamu bahagia banget akhir-akhir ini."


Nia hanya tersipu malu. Gemas aku lihat ekspresi dia yang kekanakan itu.


*Menikah. Ah satu kata itu begitu jauh dari jangkauanku. Padahal dulu aku punya cita-cita menikah dan membina rumah tangga. Siapa yang tahu takdir berkata lain dan orang itu malah menikah dengan sahabatku walau pada akhirnya pernikahan mereka tidak berjalan bahagia. Aku jadi menyesal dulu kenapa aku ada di antara mereka.


Mungkin itulah jalan terbaik dari Tuhan. Tefan tidak ditakdirkan untuk Nina atau pun untukku. Yah kita lihat saja nanti takdir apa yang menghampiri ke depannya*.


Tak lama kemudian kita pun sampai di tempat janjian dengan klien. Sebuah cafe yang terbilang cukup bagus dan unik.


Aku masuk ke dalam dan seseorang terlihat melambaikan tangan. Rupanya klien itu telah lebih dulu melihatku sebelum aku menghampirinya.


"Maaf sudah membuatmu menunggu." ucapku pada klien di depanku yang masih seumuran denganku. Kita sudah menjalin kerjasama cukup lama sehingga tidak terlalu kaku dalam memulai pembicaraan hari ini.


"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa menunggu kamu. Ha ha... Just kid," dia benar aku selalu saja membuatnya menunggu. Hihi.


"Kenalin ini asistenku Nia. Ke depannya mungkin kamu akan lebih sering bertemu dia dibanding aku."


"Saya Brenda."


"Nia."


Pembicaraan pun berlangsung seputar brand, produk baru, bahan dan semuanya. Semua terlihat serius satu sama lain. Aku pamit sebentar ke toilet karena tiba-tiba saja aku merasa mules.


Setelah meminta petunjuk waitress mengenai di mana toilet di cafe itu berada, aku pun mengikuti petunjuknya. Karena sudah kebelet langkahku jadi lebih cepat dan terburu-buru. Hingga Bruggh!!! Aku bertabrakan dengan seseorang.


Aku mengelus bahuku yang terasa sakit karena bersenggolan dengan tubuh besar di depanku. Sekilas aku meminta maaf padanya tanpa menoleh karena ingin segera pergi dari situ.


Aku melangkah cepat dan aku baru sadar kalau tanganku ditarik oleh orang itu.


"Riana!" Serunya terkejut.


Aku tidak kalah terkejut. Betapa tidak, orang di depanku ini adalah orang yang begitu kukenali. Meski sekarang postur tubuhnya tampak lebih terisi, wajahnya juga makin bersih, tapi semua itu masih dapat kukenali.


Aku tertegun sesaat mengumpulkan kesadaranku yang saat itu menghilang ke masa lalu.


"Tefan..."


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2