
Tefan sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di depannya, lalu Femi masuk ruangannya begitu saja. Entah di mana Pak Bono sampai wanita ular itu bisa lolo menemui Tefan.
"Hai, Fan ..." Ucapnya manja dan hendak mendekat mengusap bahu Tefan.
Sebelum tangan mulusnya itu menyentuh bahu Tefan, pria itu sudah menepis Tangan Femi dengan sedikit kasar. Namun rupanya wanita ini sepertinya memang tak punya malu, kerjaannya hanya menempel Tefan walau sudah mendapat penolakan berkali-kali. Membuat kesal saja.
"Fan ... kamu tidak begini sebelumnya, perubahan sikap kamu ini karena kehadiran perempuan itu kan?"
Dia protes padahal semua orang juga tahu, tidak ada hubungan diantara mereka. Tefan hanya menganggap Femi adik semata, namun perempuan ini tidak pernah mau menerima hal itu.
"Aku tidak pernah berubah sama sekali, sikapku dari dulu seperti ini. Aku dan Riana sudah saling mengenal sejak lama, jauh sebelum kamu hadir dalam kehidupanku. Kita bertemu juga karena tidak sengaja, semata-mata karena kamu menolongku bukan berarti aku harus menuruti setiap kemauanmu. Fem, sudah cukup. Berhenti mengganggu kehidupan Riana lagi, tahu apa yang kamu lakukan pada usahanya itu benar-benar keterlaluan!" Jelas Tefan dengan berusaha menahan emosinya sejak tadi.
Femi terdiam. Dia cukup kaget, Tefan sudah tahu kalau dialah dalang dibalik pengrusakan toko Riana.
"Kamu menuduh aku??"
"Jika bukan kamu siapa lagi? Tidak ada wanita lain yang bisa melakukan itu pada Riana kecuali kamu. Sekarang mungkin aku belum menemukan bukti apapun, tapi begitu ada bukti maka dia tak segan-segan akan memasukkanmu ke penjara. Jangan pernah berurusan dengan dia lagi, atau aku tidak akan biarkan kamu menemuiku lagi." Tegas Tefan di depan wajah Femi.
Sialan! Wanita itu benar-benar sudah merasuki pikiran Tefan. Berani-beraninya dia menggantikan posisiku di hati Tefan. Walau dia belum mencintaiku, bukan berarti aku bisa melepaskannya untuk wanita lain. Cih ...! Aku tidak akan membiarkan wanita itu bersama Tefan sampai kapanpun. Tidak akan.
"Terserah kamu! Aku tidak peduli. Jika aku tidak bisa bersama kamu, maka siapapun tidak boleh ada di samping kamu tidak terkecuali wanita itu. Jika kamu ingin dia hidup tenang maka jauhi dia!" Femi tak mau kalah, dia malah berbalik mengancam Tefan dan pergi begitu saja.
Mood Tefan seketika hancur, berkas di depannya sudah beterbangan dan bertebaran di lantai akibat dia terlalu emosi. Sekali hempasan saja, semua berkas itu sudah berantakan.
Pak Bono masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa. "Maaf Tuan, perempuan itu entah sudah apa yang diberikannya padaku sampai aku tertidur di depan."
Tefan tak menjawab. Tatapannya sudah jelas-jelas menandakan bahwa dia tengah marah besar.
"Cari bukti apapun mengenai pengrusakan di toko Riana. Aku ingin lihat bagaimana perempuan itu bisa mengelak sekarang." Perintah Tefan tanpa melihat ke arah Pak Bono yang terus menunduk karena merasa bersalah.
"Baik, Pak. Bukti itu akan segera Tuan dapatkan, apapun caranya."
"Pergilah!"
Pak Bono pun keluar. Dia terus menerus memukuli kepalanya karena merasa melakukan hal bodoh.
Bagaimana bisa aku terkecoh olehnya. Perempuan ular itu benar-benar licin bisa lolos begitu saja dariku.
__ADS_1
***
Tefan merasa butuh hiburan. Kepalanya sakit dan seakan mau pecah. Dia keluar dari ruangannya, menuju tempat di mana mobilnya selalu terparkir.
"Tuan, mau ke mana? Sebentar lagi ada meeting."
Tefan tak menghiraukan ucapan Pak Bono, dia meninggalkan area parkir, ban mobilnya berdecit seperti tikus terjepit.
Sesaat setelah mobil dia menghilang, Tefan menghubungi Pak Bono. "Batalkan semua jadwal hari ini."
Belum sempat dijawab Pak Bono, sambungan telepon itu kembali terputus.
Aku tidak ingin semua kembali terulang seperti dulu. Kali ini tidak ada yang boleh menghalangi aku bersama dengan Riana lagi. Sudah cukup pengorbanan yang dulu dia lakukan dan aku menyia-nyiakannya.
Mobil yang dikendarai Tefan terus melaju tanpa peduli dengan apapun. Bannya berdecit panjang di depan toko Riana. Nadia dan Riana yang sedang melayani pelanggan berlari keluar karena terkejut mengira sudah terjadi kecelakaan.
"Astaga Tefan!" Pekik Riana.
"Bu, ada apa dengan Pak Tefan?" tanya Nadia.
"Entahlah! Kamu layani orang di dalam, aku mau lihat dulu." Jawab Riana bergegas ke mobil Tefan.
Tok. Tok. Tok.
Ssrrreet! Kaca mobil bergerak turun. Riana sudah cemas di luar dan Tefan nyengir ke arahnya. Membuat Riana menggeram kesal karena mengira terjadi sesuatu.
"Issh ... nyebelin!"
"Ikut aku sebentar bisa? Temani aku, Riana." Ucap Tefan pelan malah terdengar seperti mengiba.
Riana sampai tak tega melihatnya, walaupun dia agak kesal. "Baiklah."
Riana naik ke mobil dan akhirnya mobil itu pun berangkat. Tefan memegang tangan Riana, dia diam membiarkan tangannya disentuh. Rasa hangat dirasakannya, namun diam tak mau bertanya apapun pada Tefan. Tentang apa yang membuat pria itu sampai berantakan dan terlihat sangat emosional.
"Riana, apapun yang terjadi nanti tolong percaya padaku."
Riana mengernyitkan keningnya tidak tahu dengan apa maksud perkataan Tefan. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu jadi terlihat begitu emosi dan wajahmu sangat berantakan hari ini."
__ADS_1
"Entahlah. Aku hanya banyak pikiran mungkin." Tefan memilih tak jujur pada Riana mengenai Femi yang datang padanya dan mengancamnya.
Tefan sama sekali tidak takut dengan ancaman itu, dia hanya merasa takut jika sesuatu terjadi pada wanita di sampingnya ini.
Tidak mungkin hanya banyak pikiran, dia pasti menyembunyikan sesuatu dariku. Mengapa tidak katakan saja, apa ini ada kaitannya dengan wanita itu?
Riana mencoba menebak-nebak, namun juga tak mau mengambil keputusan sendiri. Dia harus mendengarnya sendiri dari mulut Tefan.
"Baiklah, kutemani kau sampai pikiranmu tenang."
"Terimakasih." Kecup Tefan di punggung tangan Riana.
Akhirnya mereka memutuskan berhenti di salah satu tebing di mana di bawahnya terlihat laut luas dan ombak yang menampar-nampar batu. Buihnya tampak memutih di kejauhan.
Tefan mengajak Riana duduk di kap mobil, melihat pemandangan di kejauhan yang sangat indah dan menenangkan. Angin bertiup sedikit kencang dan memainkan rambut Riana. Mereka duduk di sana beberapa saat tanpa suara, hanya menikmati suasana hening dan suara ombak di kejauhan.
"Sejak kapan Saka meninggal?" Tefan memilih topik yang justru tak pernah dipikirkan oleh Riana akan ditanyakan oleh Tefan.
"Sudah lama sekali. Kiano saat itu masih kecil. Belum tahu apa-apa bahkan belum tahu seperti apa wajah Ayahnya." Jawab Riana setelah diam beberapa menit untuk membenahi perasaannya.
"Kamu pasti sangat mencintainya." Ucap Tefan seraya membuang jauh pandangannya.
"Dia ... adalah pria yang baik, sangat bertanggungjawab. Kehadiran Kiano adalah pelengkap kebahagiaan kita berdua. Hanya saja, petaka itu terjadi dan merenggut semuanya dariku bahkan merenggutnya dari Kiano yang terpaksa tak bisa menikmati kasih sayang seorang Ayah."
"Aku melarikan diri sebenarnya. Melarikan diri ke Bali. Kuharap semua beban dan juga kenangan perih hanya tinggal di sana. Memulai hidup baru bersama Kiano, berdua saja." Lanjut Riana.
Dia melihat ke arah Tefan. "Lantas bagaimana ceritanya kamu sampai ke Bali?"
"Ceritanya panjang. Namun, itu semua bermula dari keisenganku berlibur di Bali. Berkenalan dengan seseorang dan mengajariku banyak hal. Termasuk bisnis resort yang ternyata membawa kehidupanku berubah sangat cepat. Siapa sangka, kita malah bertemu di sini."
"Kau tahu Riana, sebelumnya aku tak pernah tahu tujuanku ada di sini, juga tak pernah tahu kenapa Tuhan sampai menunjukkan jalan ke sini. Namun sekarang aku tahu, kenapa semua itu menjadi seperti kebetulan padahal itu adalah takdir. Karena aku bertemu denganmu di sini Riana, aku jadi tahu tujuan Tuhan mengirimku ke Bali."
Riana tersenyum lirih. Dia sendiri tak menyangka malah bertemu Tefan di sini. Benar seperti kebetulan saja, tapi memang tak pernah ada dibenaknya akan bertemu pria itu di sini.
"Riana, jangan pergi lagi dariku." Tefan tiba-tiba berbalik dan memeluk wanita itu.
Kembali Riana hanya diam. Membiarkan pelukan Tefan menghangatkan tubuhnya dari dingin angin musim kemarau.
__ADS_1
"Aku takut kehilanganmu." Bisik Tefan lirih.
***