
"Fan..., Tefan...!!! Please dengerin aku dulu. Tunggu, Fan!" Kejar Femi saat melihat Tefan turun dari mobilnya dan akan masuk ke dalam Villa miliknya.
Tefan berhenti sebentar. Memberi kesempatan pada Femi untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Baiklah, aku dengarkan kali ini. Sekarang kamu mau apa?"
"Siapa perempuan yang sering kamu temui belakangan ini?" Tembak Femi tanpa basa basi.
"Apa urusannya denganmu?"
"Fan...! Kamu ini pria dewasa, tidakkah kamu sedikit saja tertarik padaku?"
"Femi, jika kamu mengira selama ini aku memiliki perasaan padamu, maka kamu salah. Aku menghormati kamu sebagai perempuan dan menganggap kamu sebagai adik karena kamu pernah menolongku. Tidak lebih."
"Tapi aku cinta sama kamu."
"Dengar, aku tidak punya perasaan apa-apa padamu. Mengenai siapa perempuan yang kutemui, itu bukan urusanmu. Maaf aku gerah, aku mau mandi. Kamu pulang sana!"
"Kamu usir aku?"
Tefan tidak menoleh lagi. Dia terus berjalan masuk ke dalam Villa tanpa menghiraukan Femi. Pak Bono berdiri seraya mempersilakan Femi untuk meninggalkan rumah itu.
Kamu akan membayar apa yang terjadi hari ini, Fan. Jika aku tidak bisa mendapatkan cintamu, maka perempuan itu pun tidak.
________
"Ya, katakan apa yang kamu dapat?" Ucap Femi di telpon, dia sedang menyetir.
"Cek kotak pesan, saya mengirim alamat perempuan itu."
KLIK.
Sambungan telpon terputus. Segera Femi mengecek kotak pesannya. Di sana tertulis sebuah alamat toko aksesoris.
"Oh, jadi perempuan ini punya usaha aksesoris. Mari kita lihat, sehebat apa perempuan ini." Ucap Femi seolah pada dirinya sendiri.
Dia membanting setir untuk memutar arah. Padahal dia ada jadwal pulang ke Jakarta, namun karena ini ada kaitannya dengan Tefan dan perempuan itu. Dia pun rela perjalannya dia batalkan.
Apa yang ada di kepala seorang wanita memang susah ditebak. Ketika memiliki keinginan besar, maka mungkin saja segala cara pun ditempuh. Karakter wanita macam Femi ini sangat banyak, demi rasa egois dan memiliki sampai mengabaikan perasaan orang lain yang harus tersakiti.
Dengan bantuan google map, Femi pun mendapatkan alamat yang dikirim oleh orang suruhannya. Mobil yang dia kendarai berhenti tepat di depan toko Riana.
Seorang karyawan toko menyambut kedatangan Femi.
"Selamat datang di toko RK Aksesoris, ada yang bisa saya bantu?" Ucap karyawan toko itu.
Tidak terlihat Riana di sana.
Femi dengan kesan angkuh, tak menjawab apapun. Dia langsung masuk dan melihat ke sekeliling.
"Tidak buruk. Emm, mana bos kamu?" Tanyanya.
"Nyonya Riana sedang menjemput anaknya, Nona."
"Baiklah, aku akan tunggu sampai dia pulang."
Karyawan toko itu terus memperhatikan Femi yang sepertinya ada niat buruk pada Nyonya dan tokonya. Namun dia sendiri belum bisa memastikan, apakah asumsinya itu benar atau tidak.
Sepertinya dia bukan orang baik, apakah sebaiknya aku mengirim pesan kepada Nyonya?
Toko Riana hari itu belum terlalu ramai karena masih pagi jelang siang. Toko biasanya ramai saat siang jelang sore.
Tidak lama, Riana pun muncul bersama Kiano.
"Sayang, kamu naik ke atas duluan ya. Sepertinya Bunda punya tamu."
__ADS_1
"Iya, Bunda."
Riana tahu kalau ada orang yang mencarinya, kebetulan pesan dari karyawannya sempat dia baca sebelum sampai toko.
"Anda mencari saya?" Ucap Riana formal.
"Tidak usah terlalu formal, lagi pula aku bukanlah calon rekan bisnis kamu. Aku ke sini cuma mau mengingatkan kamu, jauhi Tefan!"
Riana sebetulnya ingin sekali tertawa mendapatkan ancaman seperti itu. Bukan kali ini dia berhadapan dengan wanita arogan yang rasa memilikinya sangat tinggi. Jadi tidak kaget lagilah jika dia mendengar kalimat seperti itu.
"Oh, seperti itu. Ada hubungan apa kalian? Pacar, atau isteri atau apa? Kalau cuma sebatas teman, maaf ancaman kamu tidak berlaku untukku." Ucap Riana santai namun membuat Femi bak terinjak-injak harga dirinya.
"Aku memang bukan pacar atau istirnya, tapi mungkin sebentar lagi itu akan jadi kenyataan."
"Selamat berusaha. Setahuku, Tefan belum bisa move on dari mantannya. Jadi, kemungkinan peluang kamu kecil. Kecuali kamu bisa menghapus kenangan mantannya dari ingatan dia."
Kalimat Riana memukul telak Femi yang tadinya ingin menyombongkan diri itu.
"Aku bisa." Ucapnya ngotot tak mau kalah.
"Ya..., Ya..., Ya..., maaf aku tidak punya waktu meladeni seorang wanita seperti anda. Aku harus kembali melayani pelanggan. Jika tidak ada urusan lagi, pintu ada di sebelah sana!"
Ibu Riana keren sekali. Dia bisa membungkam mulut wanita sombong itu. Senang sekali melihat adegan ini, lihat wajahnya merah padam seperti itu.
Karyawan toko Riana senyum senyum sendiri. Dia berbicara dalam hati, senang melihat bosnya sangat menguasai situasi. Jika itu dia, mungkin saja dia akan terkencing-kencing karena dilabrak seperti itu.
Sepeninggal Femi dari toko, karyawan Riana melompat ke arah Riana.
"Aaaakk, Ibu hebat sekali. Lihat wajahnya sangat lucu. Hahaha."
"Aku kasih tahu kamu ya Nad, orang angkuh kayak wanita tadi memang harus diberi shock terapi biar dia tak bisa menindas kamu sewaktu-waktu. Memang apa yang perlu ditakutkan. Huh..., ada-ada saja. Untung toko masih sepi begini."
"Tapi, Bu. Ibu tidak takut kalau nanti wanita tadi melakukan hal lebih ekstrem?"
"Memangnya apa yang bisa dia lakukan? Kita lihat sajalah nanti. Lagi pula aku mana peduli. Dia hanya cemburu."
"Hahaha, kamu ini ada-ada saja. Cemburu mana bisa punya mata, Nad. Di mana-mana cemburu itu akan membakar dirinya sendiri. Jadi, cobalah cemburu, maka kau sendiri yang akan terbakar oleh panasnya rasa cemburumu itu. Sudah ya, titip toko. Aku mau ke atas dulu, Kiano harus makan dulu."
"Baik, Bu."
Baru saja mau duduk di meja kasir, orang yang selalu dinanti kedatangannya dan selalu sukses bikin jantung Nadia dah dig dug serrr, muncul di ambang pintu toko.
Kacamata hitam, kaos putih polos melekat ketat ke kulit. Celana sport di bawah lutut, santai tapi sanggup membuat wanita mana saja akan berhenti beraktivitas demi menatap bentukan laki-laki macan itu.
Hal itulah yang dialami Nadia untuk beberapa detik.
"Ibu mana?" Tanya Tefan seraya menurunkan kacamata Hitamnya.
"Ah, Ibu...! Ada..., ada di atas, Tuan!" Jawab Nadia gugup.
"Oke. Terimakasih."
Tefan tanpa permisi langsung naik ke lantai atas. Memberi kejutan untuk Kiano dan juga Riana tentunya.
Baru saja menginjakkan kaki di lantai atas, Kiano sudah berteriak lantang dan senang.
"Om Ganteng!!!"
Kiano memeluk Tefan. Seperti seorang ayah yang lama dinantikan kedatangannya oleh anaknya.
"Kiano kangen, Om Ganteng." Ucap Kiano dengan mata berkaca-kaca.
"Loh, kok Kiano nangis? Masa kangen nangis?"
"Karena terlalu kangen, Om. Om, tinggal di sini saja ya?"
__ADS_1
Kata-kata Kiano memang ajaib, sanggup membuat aktivitas Riana yang sedang mencuci piring tiba-tiba terhenti.
"Mana bisa sayang. Om Ganteng ada rumahnya, Om Ganteng juga kerja."
"Kalau gitu, Kiano sama Bunda aja yang tinggal di rumah Om Ganteng."
"Ya, tetap tidak bisa dong sayang. Mana bisa begitu. Kita punya kehidupan, Om Ganteng juga punya kehidupannya sendiri."
"Kenapa gak satuin aja kehidupan Om Ganteng sama kehidupan kita Bunda."
Riana selesai mencuci piring, dia melap tangannya dan menghampiri Kiano.
"Sayang, tidak bisa segampang itu."
"Apa si Bunda, apa-apa tidak bisa." Ungkap Kiano bete.
Tefan hanya tersenyum menatap dua Ibu dan anak itu saling adu argumen.
"Kiano mau tinggal sama, Om?"
"Hmm, Fan, jangan aneh-aneh deh." Kode Riana.
"Mau, Om. Biar Kiano ada teman main setiap harinya."
"Pasti, suatu saat nanti Kiano akan bisa main setiap hari bersama, Om."
"Bener, Om? Janji ya, Om."
Sorotan mata Riana sudah mulai tidak enak, memaksa Tefan harus berhenti mengatakan hal-hal mengenai tinggal bersama pada Kiano.
"Sore ini jalan, yuk!" Ucap Tefan ke Riana.
"Aku sibuk."
"Sibuk apa si, kan sudah ada karyawan."
"Oyah, pacar kamu barusan datang memberi peringatan padaku."
"Pacar? Pacar yang mana?"
"Memangnya kamu punya pacar berapa?"
"Ya enggaklah, aku cuma punya satu, dari dulu juga punya satu. Itu juga kalau sekarang dia mau lagi."
"Hhhh, Tefan..., aku serius."
"Ya, aku juga serius. Mana dari kata-kataku barusan yang tidak serius coba? Gimana, mau ya?"
"Jangan alihkan pembicaraan. Perempuan tadi datang melabrak aku ke toko."
"Astaga, siapa Riana?"
"Ya, mana aku tahu. Kita gak kenalan. Dia datang-datang ke toko dan mengancam segala. Masa pacar sendiri tidak tahu."
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi aku tidak punya perempuan mana pun yang sedang kuanggap pacar atau yang lainnya."
"Kamu tidak ke kantor?"
"Sedang tidak mood, hari ini aku mau di sini saja. Jangan diusir! Jika kamu tak mau diajak jalan-jalan, maka kita di sini saja. Aku juga suka, bisa lebih leluasa menatapmu seperti ini." Tatapan mata Tefan mulai nakal
Bukannya tersanjung, Riana malah melempar bantalan kursi ke wajah Tefan. "Aku mau ke bawah, jaga Kiano!"
SELAMAT MENJADI PAPISISTER YA TEFAN. HAHAHA.
***
__ADS_1
TITIP JEMPOL KALIAN YA , LIKE ATAU KOMEN. Hehe