Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 16. Menjauh


__ADS_3

Hujan sore ini begitu deras, meleleh di kaca jendela apartemen. Semua yang kulihat dari sini bagai berwarna kelabu. Kendaraan yang tumpah ruah di jalan seperti halnya hujan. Seminggu setelah pernikahan Tefan dan Nina aku belum ke mana-mana. Kakiku terpaku di apartemen ini, duniaku hanya sebatas ruangan apartemen. Tidak ada keinginan untuk keluar atau melakukan hal apapun. Rasa galau itu belum pergi, masih setia menemani hari-hari kelamku. Apa yang sedang dilakukan Tefan di sana? Berbahagiakah dia selayaknya doa yang sering kupanjatkan untuknya?


Selama seminggu ini pula Tefan tidak pernah lagi memberi kabar. Hanya ada beberapa pesan dan telpon dari Nina yang kembali kuabaikan. Sampai Hp yang seringkali menjerit-jerit itu diam selamanya karena aku memilih menonaktifkannya. Perasaan ini entah sampai kapan akan terus mendera. Hujan di luar semakin deras, seperti yang diisyaratkan hatiku tentang kesedihan yang tengah kurasakan.


Diantara kita berdua satupun tak ada yang menyukai hujan karena pernah menjebak kami di sebuah gudang. Lalu akhirnya menyadari bahwa seharusnya kita berdua berterimakasih pada hujan yang pernah menahan kami di sana. Sebab saat itulah kali pertama kita berdua tahu ada bunga-bunga yang perlahan tumbuh di hati kami. Untuk yang pertama kalinya juga, Tefan mencium pipiku yang kemudian merona merah karena tak sanggup menahan malu.


Mungkin itulah sebabnya mengapa hujan begitu akrab dengan rindu, sebab jatuhnya membawa setiap kenangan. Bagaimanapun aku tak bisa memungkiri perasaanku pada Tefan, masih begitu besar, sejak pertama hingga saat di mana perpisahan itu terjadi. Barangkali ini adalah masa-masa tersulit yang kualami, di mana aku benar-benar jatuh sejatuh-jatuhnya. Bahkan untuk merangkak rasanya aku tak mampu, perasaan ini sangat membebani.


Aku tidak bisa berada di sini terus, mungkin dengan berada di suatu tempat yang berbeda, ingatanku tentang Tefan tidak akan terlalu sering mengganggu. Apapun akan kulakukan demi melupakan perasaan ini, bila dengan cara menjauh adalah yang terbaik hal itupun akan kulakukan. Apapun. Akhirnya sembari menunggu hujan reda, aku memanfaatkan waktu itu untuk memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper. Aku belum punya tujuan ke mana, mungkin saat di jalan nanti aku bisa menemukan jawabannya.

__ADS_1


Sampai menjelang sore hujan tak juga reda, bahkan seperti tak ada tanda-tanda akan berhenti. Aku sudah selesai packing, aku melihat sekeliling apartemen yang baru saja kutempati. Rasanya tak bisa percaya bahwa aku memang tak cocok tinggal di sini, ada perasaan yang mengharuskan aku untuk pergi. Setidaknya sebagai awal untuk terlepas dari semua masalah yang ada. Restoran yang kupunyai sudah berjalan normal kembali sejak sepupu aku telah menanganinya. Aku tidak cocok di bisnis kuliner, olehnya itu kuserahkan semua urusan restoran padanya.


Akhirnya hujan berhenti tepat pukul enam sore. Mendung masih menggelayut, hujan juga masih tersisa berupa rintik rintik. Aku meraih gagang koper dan menyeretnya keluar apartemen menuju basement. Tempat di mana aku memarkirkan mobilku. Mengenai kepergianku bahkan Mama dan Papa juga tidak tahu apa-apa. Setahu mereka aku sudah berdamai dengan perasaanku sejak aku tinggalkan rumah. Mereka tidak boleh sampai tahu, kali ini aku sendiri yang harus menyelesaikan masalahku. Bagaimanapun aku yang memulai, karena itu aku juga yang harus mencari cara untuk mengakhirinya.


Mobil melaju pelan di tengah jalan yang masih tergenang. Musik Player mengalun pelan, perasaan gamang masih berjelaga. Aku belum memikirkan ke mana harus pergi, hanya menyetir dan mengikuti naluri. Langit sudah semakin gelap, akupun teringat dengan Villa yang sering kukunjungi bersama Tefan di Kawah Putih. Aku memutuskan untuk ke sana saja. Villa itu tidak akan terisi siapa-siapa sebab sesungguhnya Villa itu telah di sewa Tefan selama tiga tahun terakhir ini. Jadi aku dan Tefan bisa masuk begitu saja tanpa perlu izin terlebih dahulu karena kita berdua memiliki kuncinya.


Dulu aku dan Tefan punya visi yang sama, kelak kalau berjodoh akan membangun sebuah Villa di sekitar Kawah Putih. Sebagai tempat untuk melepas segala kepenatan karena aktifitas harian yang melelahkan. Membangun sebuah keluarga dan memiliki anak seperti pasangan kekasih lainnya. Rencana-rencana itu ada bahkan status dia dan Nina sudah jadi tunangan. Kita melupakan sejenak bahwa Tefan sudah dijodohkan dengan orang yang juga sangat dekat denganku.


Jalan ramai malam ini, padat merayap bahkan sempat beberapa kali terjebak macet. Mungkin karena sehabis hujan jadi orang-orang baru mau bergerak ketika hujan berhenti. Rupanya perjalanan ke Kawah Putih malam ini akan sedikit terlambat, apa aku menepi sebentar? Menunggu di jalan selama lima belas menit karena mobil hampir tak berjalan, akhirnya aku memutuskan untuk putar haluan dan cari penginapan yang cocok. Besok pagi baru melanjutkan perjalanan ke Kawah Putih.

__ADS_1


Bahkan untuk putar haluan saja, butuh waktu sepuluh menit. Baru saat ini aku merasa lelah di jalan, aku mencari-cari tempat di mana kira-kira aku lepaskan sejenak penat yang melingkupi tubuhku. Setelah berkeliling mencari, akhirnya dapat juga satu penginapan. Meski sederhana tapi terlihat sangat bersih, pemiliknya juga ramah dan bersahabat.


Tidak butuh waktu lama saat pemiliknya datang membawa kunci dan melihat-lihat, aku memilih kamar yang pemandangan dari jendela tampak indah jika pagi dan sore. Pemandangan gugusan gunung dikejauhan membuat ingin berlama-lama duduk dekat jendela.


Aku memutuskan mandi terlebih dahulu agar badan ini relaks setelah menyetir seharian. Aku menghidupkan pemanas air, mengisi bak lalu berendam di sana selama 30 menit. Cukup lama juga, tapi aku puas karena bisa merasakan air hangat itu memasuki pori-pori kulitku dan membuat persendian sedikit lebih baik.


Sudah jam tujuh malam lewat. Aku memutuskan naik ke tempat tidur, menghidupkan TV dan menonton sebentar. Tapi tak ada tontonan yang bermutu sama sekali, entah benar-benar tak bermutu atau pikiranku yang berlarian ke sana ke mari.


*Mengapa begitu sulit menghalaumu?

__ADS_1


Apa kabarmu sekarang? Bahagiakah kamu dengan statusmu yang baru? semoga kau baik-baik saja bersama Nina. Berbahagialah, karena aku juga menginginkan itu, meski sebagian dari hatiku terasa nyeri*.


***


__ADS_2