Complicated Love #2

Complicated Love #2
Apakah Kamu Ngidam?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Riana sudah bolak-balik kamar mandi. Dia sampai terduduk lemas di tempat tidur saking capeknya dia mondar mandir mual muntah.


Tefan sebagai suami siaga juga ikut panik dan cemas akan kondisi Riana.


"Mau aku bawa ke rumah sakit? Takutnya kamu semakin lemas sayang. Sejak tadi kamu mual muntah, tidak mau makan bahkan minum aja kamu malas. Jangan sampai kamu sakit, Riana." Tefan membujuk Riana tegas. Dia melakukan itu semata-mata karena tidak mau Riana kenapa-kenapa.


"Tuh ... nggu ... aak ... aku ...."


Riana lari lagi ke kamar mandi karena dia tiba-tiba mual. "Owwweeek ...." Lagi-lagi Riana mengeluarkan isi perutnya. Suara air mengalir dari keran sedikit menyamarkan suara Riana yang sedang muntah.


Tefan terpaksa harus menyusul Riana lagi ke kamar mandi untuk memastikan kondisi isterinya baik-baik saja.


"Sayang ... kamu baik-baik saja, kan?"


"Ummm ...."


Tefan lega karena masih mendengar suara Riana. Namun detik berikutnya, suara ribut-ribut benda berjatuhan terdengar dan membuat Tefan yang ada di luar panik.


Dia segera mendorong pintu kamar mandi dan melihat apa yang terjadi. Riana sudah terduduk di lantai dalam keadaan pingsan. Tefan bergegas mengangkat tubuh Riana, membawanya ke tempat tidur.


Suasana pagi itu pun menjadi ramai, Kiano terpaksa tidak pergi ke sekolah karena takut bundanya kenapa-kenapa.


"Papa Ganteng, Bunda kenapa?" Kiano bertanya pada Tefan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia adalah orang pertama yang paling takut dan khawatir jika Riana mengalami sakit atau kejadian buruk lainnya.


Tefan pun menggendong Kiano untuk menenangkannya. "Sayang, bunda hanya kecapekan. Bunda tidak akan apa-apa, sebentar lagi dokter datang dan akan memeriksa kesehatan bunda."


"Benar ya, Pa. Bunda tidak kenapa-kenapa. Kiano tidak mau bunda sakit apalagi bunda tidak mau bicara pada Kiano sekarang. Bunda kenapa, Pa?" Kiano terus bertanya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


Sebagai anak kecil yang masih belum tahu banyak hal, apalagi ini kejadian pertama Riana pingsan tentu saja Kiano cemas dan takut kalau bundanya tidak bangun lagi.


"Jangan cemas sayang, bunda pasti baik-baik saja."


Tak lama kemudian, asisten rumah tangga yang baru saja bekerja di rumah mereka masuk ke kamar mengantar seorang dokter. Dokter tersebut baru saja tiba setelah beberapa menit lalu mendapatkan telepon dari Tefan.


"Tolong isteri saya segera diperiksa, Dok."


"Baiklah, bapak tenang dulu. Biarkan saya bekerja dan melakukan tugas sebagai seorang dokter."


"Om Dokter, selamatkan bunda Kiano ya."


Wajah Kiano yang sedih dan polos itu membuat sang dokter muda tersenyum. Dia gemas melihat Kiano yang begitu perhatian pada bundanya. Sejak tadi Kiano tidak mau lepas dari sisi bundanya. Ingin terus bersama bundanya sampai melarang Tefan untuk membawanya keluar dari kamar.

__ADS_1


Sang dokter pun segera memeriksa kondisi Riana. Beberapa saat semua orang di kamar itu pun menjadi hening. Lalu ketika dokter selesai memeriksa kondisi Riana, semuanya menatap dokter penuh harap.


"Gimana, Dok?" tanya Tefan cepat, wajahnya terlihat tegang.


"Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja. Isteri bapak hanya kecapekan. Biarkan Ibu istirahat dulu sebentar, bisa diberi bubur hangat setelah sadar dari pingsannya. Saya akan resepkan beberapa vitamin untuk mengembalikan stamina ibu."


"Jadi dokter, bunda Kiano tidak apa-apa kan?"


"Tenang saja boy, bunda kamu tidak apa-apa. Hanya perlu istirahat, jadi jaga bunda dengan baik. Jangan nakal dan jangan merepotkan bunda dulu ya?"


"Terimakasih, Om dokter."


Dokter itu pun tersenyum menanggapi kecerdasan Kiano dalam berkomunikasi dengannya. Tefan mengantar dokter tersebut hingga ke depan. Sesaat kemudian, dia ke dapur dan meminta asisten rumah tangganya untuk membuat bubur untuk Riana.


"Bi, tolong buatkan bubur ya."


"Iya, Tuan."


Setelah itu, Tefan kembali ke kamarnya dan melihat kondisi Riana. Dia sempat terdiam cukup lama di ambang pintu. Terpana melihat Kiano yang sedang mengambil kain handuk mirip sapu tangan kemudian menempelkan kain itu di dahi Riana.


Mungkin Kiano mengira kalau bundanya sedang demam. Itu sebabnya dia mengambil kain dan air di wadah kecil. Tefan tersenyum kilas dan menghampiri Kiano.


"Hei, boy! Sedang apa?"


"Good boy! Kamu pintar sekali, bunda pasti sayang dan bangga sama Kiano. Sekarang, kita tunggu bunda siuman ya. Habis itu kita paksa bunda untuk mau makan. Biar bunda nggak sakit lagi."


"Oke, papa!"


***


Tak lama kemudian, Riana pun siuman. Kiano terlihat senang sekali melihat bundanya mengerjapkan mata.


"Bunda ...."


"Sayang, kamu sudah bangun. Gimana perasaan kamu?" tanya Tefan seraya mengelus puncak kepala Riana.


"Tadi aku kenapa? Hei jagoan bunda! Kok kmu tidak sekolah?"


"Bunda pingsan, Kiano panik dan sedih melihat bunda tidak bangun-bangun juga. Makanya Kiano tidak mau sekolah, takut bunda kenapa-kenapa."


"Bunda tidak apa-apa, sayang. Bunda baik-baik saja. Hanya sedikit mual dan muntah."

__ADS_1


"Sayang, kata dokter kamu harus banyak istirahat."


"Padahal aku sudah tidak sering ke toko tapi kok masih dibilang kurang istirahat ya?"


"Turuti saja kata dokter, sayang."


Bertepatan dengan Riana siuman, asisten rumah tangga yang disuruh Tefan untuk membuat bubur pun datang. Dia juga senang melihat majikannya sudah sadar.


"Tuan, Nyonya, buburnya."


"Ah iya, terimakasih Bi. Letakkan di atas meja dulu."


Kiano paling semangat untuk mau menyuapi Riana. "Pa, biar Kiano yang suapi bunda ya?"


"Iya sayang. Tapi tunggu buburnya tidak terlalu panas dulu ya."


Tefan tak hentinya memegang tangan Riana. Sejak tadi dia sudah menahan diri untuk bertanya pada Riana. Dan kali ini, dia punya kesempatan. Dia pun membisikkan hal itu di telinga Riana.


"Sayang, kamu tidak telat datang bulan kan?" Ada senyum di wajah Tefan yang mengembang begitu kalimat pertanyaan itu dia ajukan.


"Aku telat. Tapi baru tiga hari, apa itu mungkin?"


"Semoga saja." Mereka berdua pun kembali tersenyum bersama-sama hingga menuai protes dari Kiano.


"Bunda dan Papa Ganteng kok bisik-bisik?"


"Haha, tidak apa-apa sayang. Bunda dan Papa lagi ngobrolin hal yang belum boleh diketahui Kiano."


"Oh begitu. Bunda, sini biar Kiano suapin bunda."


Tefan pun membantu Kiano untuk mengambil mangkuk bubur dan menyerahkannya pada anak tersebut.


"Aak ... bunda!" ucap Kiano menirukan gerakan membuka mulut.


Riana pun menuruti permintaan anaknya itu. Dia segera membuka mulutnya dan menerima satu suapan sendok bubur dari Kiano.


"Enak nggak, Bunda?"


"Enak kok. Terimakasih ya sayang."


"Sama-sama, Bunda. Sekarang buka mulut lagi, bunda harus makan banyak. Biar tidak sakit lagi."

__ADS_1


Tefan dan Riana tersenyum melihat betapa perhatiannya anak mereka. Sementara di tempat lain, Saka masih dalam kondisi kritis.


__ADS_2