
Pukul 02.00 dini hari.
Aku menggerak-gerakkan mataku, berusaha melihat dengan jelas tempat di mana aku berada. Apakah aku masih berada di kamar besar tempat Tefan menyandraku, atau sudah berada di tempat lain yang aku tidak tahu.
Hal pertama yang kulihat adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Lalu aku memiringkan sedikit kepalaku untuk melihat siapa yang tengah duduk dan memegangi tanganku.
Dari perawakannya, orang ini seperti Saka. Aku mencoba menggerakkan tanganku dan dia terkejut melihatku.
"Syukurlah! Kamu sudah sadar."
"Aku di mana?"
"Di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, makanya langsung aku bawa ke rumah sakit. Gimana keadaan kamu?"
"Kepalaku masih agak pusing."
"Kamu istirhata lagi. Sepertinya kamu kehabisan banyak tenaga."
Mendengar ucapan Tefan, air mataku tiba-tiba saja berurai. Saka menghapusnya dengan kedua tangannya.
"Sudah jangan menangis lagi. Jangan dipikirkan, itu akan membuatmu terbebani. Kamu harus pulihkan kondisi kamu dulu."
Ucap Saka seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku termenung dan air mataku masih terus mengalir. Karena melihat tangisku tak ada tanda-tanda berhenti, Saka berangsur menenangkanku dan menarikku ke dalam pelukannya yang hangat.
Aku menangis di dadanya, sesegukan memegang lengannya.
"Menangislah Riana, tumpahkan semuanya. Tapi kumohon setelah ini jangan pernah menangis lagi. Karena bagiku itu semua terlihat menyakitkan."
"Maaf... Maaf... Maaf!!!"
Hanya kalimat itu yang sanggup keluar dari mulutku sambil menangis.
"Sudah tidak apa-apa. Besok kita kabari Mama dan Papa. Aku belum mengabari mereka kalau kamu sudah ketemu. Maafkan aku yang terlambat menolongmu. Aku merasa sangat tidak berguna sebagai tunangan kamu."
Kami berpelukan cukup lama, hingga air mataku kering dan aku tertidur di pelukan Saka.
***
__ADS_1
"Riana..." Pekik Mama yang baru saja masuk dalam ruangan perawatanku.
"Mama..."
Aku memeluk Mama sangat erat, lalu bergantian memeluk Papa yang juga sudah ada di depanku. Kami semua berpelukan.
Orangtua Saka juga datang, aku merasa tidak enak karena peristiwa ini harusnya tak terjadi. Semua ini karena Tefan dan masa lalu aku dengannya. Apa yang harus kukatakan pada mereka.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Mama.
"Maafkan Riana Ma." Jawabku dengan tangis yang tak bisa kutahan lagi.
"Siapa yang menculik kamu sayang? Apa ini semua ada hubungannya dengan Tefan? Benar? Dia yang menculik kamu sayang?" Pertanyaan Mama mulai menuntut membuatku semakin menangis karena mengingat semua perbuatan Tefan.
"Ma sudah, jangan paksa Riana untuk cerita. Dia masih mengalami trauma karena peristiwa penculikan yang dialamimya. Biarkan dia istirahat dulu." Sergah Saka seakan mengerti apa yang aku rasakan.
"Riana, istirahatlah sayang." pinta Mama Saka.
Aku hanya mengangguk kemudian berbaring di tempat tidur. Saka menggenggam erat tanganku untuk menguatkan. Mama sudah pamit untuk keluar sebentar mencari sarapan. Semua orang belum sempat sarapan karena Saka mengabari mereka masih terlalu pagi. Karena terkejut mereka pun langsung ke rumah sakit.
"Hei, ini pasti berat buat kamu. Tapi jangan pernah merasa sendirian. Aku akan selalu ada untuk kamu. Apapun yang terjadi."
"Trimakasih sayang."
"Jangan cerita ke siapapun tentang perbuatan jahat Tefan terhadapmu. Biar ini menjadi rahasia kita berdua. Aku sendiri yang akan membalaskan ini untukmu."
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku tahu Riana. Dan apa kamu tahu betapa geramnya aku, ingin rasanya kubunuh Tefan saat itu juga. Tapi polisi menahanku untuk melakukannya. Karena itu aku minta polisi untuk segera meringkus dia sebelum aku berubah pikiran. Semalam dokter memeriksa keadaan kamu, dari luar hingga dalam-dalamnya. Aku yang minta. Dokter berkata bahwa ada tindakan kekerasan di alat kelamin kamu. Saat mendengar itu, aku merasa langit runtuh dan emosiku hampir saja meledak. Bagaimana tidak? Dia hampir saja membunuh kamu, tunangan aku. Aku lihat sekujur tubuh kamu memar-memar, banyak luka dan tanda biru di sana. Aku hampir gila membayangkan apa yang sudah Tefan lakukan padamu Riana. Apalagi saat dokter bilang, kamu bisa saja mengalami trauma karena peristiwa ini. Betapa gagalnya Akau menjaga kamu, sementara aku sudah berjanji melakukan itu untukmu."
Saka bercerita seperti orang frustrasi. Aku paham perasannya, dia juga terguncang sama sepertiku. Tefan melakukan kekerasan seksual, memaksaku melayaninya hingga tubuhku tak berdaya sama sekali.
Melihat air mata Saka di pipinya, aku merasa telah berbuat salah karena melibatkan dia dalam hal ini. Dia begitu menyayangiku, aku terlalu mengabaikan ancaman Tefan dan seorang lihat apa yang sudah terjadi?
"Aku yang salah." Ucapku kemudian.
"Tidak. Kamu tidak salah, aku yang tak bisa menjaga kamu."
__ADS_1
Kami menangis berdua di ruang rawat inap itu, menangisi takdir kami yang penuh ironi. Tak lama kemudian seorang perawat masuk bersama seorang dokter.
"Selamat pagi maaf mengganggu kalian sebentar." Ucap perawat itu.
"Tidak apa-apa, silahkan Dok." Jawab Saka saat melihat dokter telah siap-siap mengontrol kesehatan Riana.
"Semuanya sudah kembali normal, Ibu hanya perlu istirahat di sini mungkin kurang lebih dua hari lagi sudah boleh pulang. Jangan lupa minum vitaminnya agar lebih fit dan stamina Ibu cepat kembali, Ibu kehilangan terlalu banyak tenaga."
"Baik Dok, trimakasih."
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter dan perawat itu pun keluar dari ruangan. Bersamaan dengan itu, Mama masuk membawa banyak makanan.
"Mama habis beli makanan, kalian pasti lapar. Ini makanlah."
Saka mengambil makanan itu dan menyuapiku dengan sendok di tangannya. Mama, Papa, orang tua Saka, semuanya berkumpul di satu ruangan untuk sarapan.
Selesai sarapan, orang tua Saka harus pamit karena masih ada yang harus dia urus. Dia hanya berpesan kepada Saka agar mengurus baik-baik Riana dan jangan lupa menyelesaikan urusan di kantor polisi.
"Nak Saka, boleh Om bicara sebentar?" Tanya Papa ke Saka.
"Boleh Om, mari." Jawab Saka mendorong kursi roda Papa keluar ruangan.
Sekarang tinggal aku dan Mama.
"Kamu pasti mengalami hari yang berat sayang. Saat tahu kamu diculik, pikiran Mama tak pernah lepas dari Tefan. Pasti dia yang melakukan itu, kalau bukan dia siapa lagi orangnya? Papa sama anak sama saja kelakuannya. Mama jadi menyesal pernah mendukung hubungan kalian dulu." Terlihat jelas gurat marah di wajah Mama.
"Dia mengurung aku di sebuah rumah, jauh di dalam hutan. Mungkin Villa milik keluarganya, karena hanya hutan yang bisa kulihat dari jendela kamar tempat dia menyekapku."
"Apa tujuan dia menculik kamu?"
"Dia tak suka aku akan menikah dengan Saka. Dia sebelumnya pernah mengancamku, jika aku tak bisa dimilikinya maka siapapun tak berhak atas diriku. Termasuk Saka. Karena itu dia menculikku dan melampiaskan semua kekesalannya padaku."
"Sayang, maafkan Mama dan Papamu. Karena kami kamu jadi mengalami kejadian seperti ini."
"Tidak Ma, tidak ada yang salah. Mungkin sudah jalannya Riana."
***
__ADS_1