
Makan malam kali ini terasa berbeda bagi mereka, duduk menghadap meja makan, Riana sedang menyendoki nasi dan lauk ke piring Tefan dan Kiano. Ini adalah makan malam pertama mereka sebagai suatu keluarga yang utuh.
Bagi pasangan keluarga, makan malam seperti ini adalah waktu paling berharga sebab di luar sana banyak keluarga yang tak dapat melakukannya bersama-sama. Mungkin karena terlalu banyak kesibukan, anak-anak yang sudah beranjak dewasa dan mulai jarang di rumah, jadi sebisa mungkin momen seperti makan malam bersama ini harus dijaga.
"Bunda ... Kiano mau ayam gorengnya. Ayam goreng Bunda adalah yang terkenal. Kiano suka banget."
"Tenang dong sayang, Bunda pasti kasih buat Kiano. Bunda kan tahu Kiano senang banget makan ayam goreng buatan Bunda."
Riana pun mengambilkan satu potong ayam goreng bagian paha lalu diletakkan di piring Kiano. Setelah itu berpindah ke Tefan, Riana melakukannya dengan sepenuh hati.
"Sayang, jangan terlalu banyak. Perutku bisa maju ke depan nih kalau terlalu banyak makan. Sepertinya kamu yang perlu makan porsi banyak deh, soalnya kamu masa segitu-gitu aja gedenya sayang."
"Aku mau diet."
"Jangan diet, aku lebih suka kamu yang montok."
"Hussh ... ngomong sembarangan di depan anak. Nggak boleh!" protes Riana yang langsung memelototi Tefan.
Tefan terkekeh sekaligus mengaku salah, "jangan diet sayang, kamu lebih bagus berisi, biar meluk kamu jadi enak."
"Astaga, udah sana makan. Jangan ngomong yang aneh-aneh lagi."
"Bunda, Papa Ganteng, kata bu guru kalau lagi makan itu nggak boleh sambil ngobrol."
"Nah! Tuh anak kecil aja tahu."
__ADS_1
Tefan hanya bisa nyengir kemudian lanjut makan.
Suasana pun kembali hening, hanya ada suara sendok dan piring yang saling beradu. Setelah adegan hening cipta dan makan malam itu usai, Kiano berdiri lebih dulu dan membawa piringnya ke tempat cucian piring. Anak pintar.
"Bunda, Kiano sudah selesai. Piringnya Kiano taruh di sini ya, Bun."
"Good job sayangku, kamu emang anaknya Bunda yang paling pinter. Terimakasih ya, sayang. Muaachh!" kecup Riana pada puncak kepala Kiano lalu diusapnya. "Sana, main dulu sama Papa."
"Oke, Bunda!"
Riana pun melanjutkan kerjaannya mencuci piring. Sementara Tefan dan Kiano sudah ribut di ruang tamu entah sedang bermain apa. Hanya saja suara mereka terdengar di seluruh penjuru rumah.
***
Lelah bermain, Kiano malah tepar di sofa panjang. Dengan telaten, Tefan mengangkat tubuh Kiano digendong ke kamarnya. Seketika hati Riana menghangat melihat pemandangan itu. Tefan begitu sayang pada Kiano, diperlakukan seperti anak sendiri.
"Selamat tidur jagoannya Bunda, mimpi indah ya sayang." Riana lalu mencium kening Kiano dengan penuh kasih. Diikuti Tefan yang juga mencium kening Kiano.
Mereka pun keluar setelah memastikan Kiano sudah tertidur lelap. Tefan meraih bahu Riana dan membenamkan jemarinya di sana. Menuntun Riana masuk ke kamar mereka.
"Nggak terasa, Kiano sudah mau SD lagi. Anak itu cepat banget gedenya." Riana berbicara seraya merapikan tempat tidur.
"Anak itu aku salut banget sama dia, belum pernah aku sayang sama seorang anak seperti rasa sayang aku ke Kiano. Dia berbeda, memiliki ketertarikan sendiri yang bikin kita selalu nyaman dan ingin dekat terus dengannya."
"Terimakasih sayang, udah sayang dan cinta sama Kiano. Dia pasti bangga punya papa yang selain ganteng juga baik seperti kamu."
__ADS_1
"Tentu saja. Hehe. Sekarang, aku mau jatahku." Tefan mendekat ke Riana seraya mendekapnya.
"Apaan sih? Yang bilang mau ngasih jatah siapa coba?"
"Biar kita cepat kasih Kiano dedek bayi. Kamu nggak mau punya anak dari aku?" tanya Tefan pura-pura ngambek.
"Pikiranmu tuh! Lurusin dikit deh, lagian siapa yang bilang aku gak mau punya anak dari kamu sayang."
"Ya sudah, sini!"
Tefan menarik tubuh Riana semakin dekat ke dalam pelukannya. Mencium belakang leher Riana sampai hembusan nafas Tefan terasa panas di kulit leher Riana. Menimbulkan geletar tersendiri di bagian perut bawah Riana.
Dari sentuhan pelan, lembut menjadi sentuhan yang meminta dan rakus. Riana pasrah membiarkan tubuhnya dijamah hingga membuat dirinya bergetar tak karuan merasakan sensasi sentuhan tangan Tefan.
Semuanya berlangsung dalam ritme pelan, kemudian cepat dan semakin cepat.
"Pelan-pelan, sayang."
Lalu keduanya pun lebur dalam kenikmatan surgawi. Semuanya mengalir begitu saja, menyatukan perasaan yang dulu terpenjara, terkungkung waktu karena kesalahan di masa lalu.
Tefan memperlakukan Riana dengan lembut, seperti sebuah benda yang mudah pecah jika diperlakukan seenaknya.
Hingga mereka sampai di puncak kenikmatan dan keduanya hanya bisa saling tatap dan memeluk. Peluh pun mengalir di setiap pori-pori kulit mereka.
"I love You ...."
__ADS_1
Setiap akhir mereka bercinta, Tefan selalu menutupnya dengan kalimat 'I Love You'.