
Riana menggunakan pakaian pengunjung pasien, sekarang dia sudah berada di sisi ranjang Saka. Lelaki itu terbaring seperti orang tidur. Terdapat selang di bagian tubuh dan wajahnya, suasana menjadi hening dan sunyi kecuali suara dari mesin pembaca detak jantung yang terus berbunyi dan menampilkan layar pergerakan pada kondisi jantung pasien.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat kamu lagi dalam jarak sedekat ini, Mas. Syukurlah, kamu akhirnya selamat dari kecelakaan maut waktu itu. Maafkan aku yang sama sekali tak tahu menahu mengenai kondisi terakhir kamu. Oiyah, Kiano sudah besar sekarang. Nanti setelah kamu sadar, akan kuceritakan padanya bahwa Papanya masih hidup dan persis dirinya."
"Tentu saja sebelumnya kalian sudah bertemu, aku yakin salah satu di antara kalian atau malah kalian berdua merasakan keanehan. Seperti orang yang sudah pernah bertemu sebelumnya, namun tetap saja masih merasa asing pasti. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan Kiano tak tahu perihal Papanya yang jago sekali masak. Pada saatnya nanti, aku akan menceritakan semua itu pada Kiano. Dia pasti bangga padamu."
Riana terus bercerita seorang diri, berusaha menjangkau seluruh alam pikirnya. Menceritakan apapun yang dulu tak sempat dia utarakan pada mantan suaminya itu.
"Jangan pernah sia-siakan Sheril, Mas. Dia perempuan yang baik. Dia menjaga mas dengan sangat-sangat baik. Perhatian yang dia berikan bahkan lebih besar dari ketika kita masih bersama. Dia sangat mencintai kamu. Jadi jika setelah ini, kamu memiliki kesempatan berikutnya untuk hidup lagi, maka jangan pernah menyakitinya."
"Aku yakin, meski kamu tak bangun saat ini tapi kamu masih bisa merasakan kehadiran aku, kehadiran isterimu, dan hal-hal di sekitar kamu. Kamu hanya pergi mengembara, karena itu pulanglah. Banyak yang menunggu kamu pulang, banyak yang sayang padamu."
Sebenarnya, Riana berusaha untuk tak menyentuh Saka. Namun, dokter sempat berkata bahwa pasien akan lebih mudah mendapatkan rangsangan lewat sentuhan. Itu sebabnya, Riana mencoba yang dia bisa.
Tangan Saka dingin sekali, dia menyentuh tangan tersebut lalu pelan berkata, "bangunlah, aku sudah datang. Semua tentang kita biar menjadi kenangan dan kita berdua bersama-sama memulai hidup yang baru dengan pasangan masing-masing."
Di sudut mata Riana menggantung bulir air mata yang sejak tadi coba dia tahan untuk tak jatuh. Setelah mengatakan kalimat tersebut, Riana pun menghapus air mata di sudut matanya itu kemudian keluar dari ruangan ICU seperti tak terjadi apa-apa.
"Terimakasih, Riana."
"Sama-sama. Maaf aku tidak bisa membantu banyak."
"Setidaknya aku dan kamu sudah berusaha. Aku pasrah dengan yang terjadi nanti."
"Kamu yang tabah ya. Suatu saat Saka pasti akan sadar. Kamu hanya perlu menunggu dan bersabar."
"Iyah, sekali lagi terimakasih."
__ADS_1
Riana pulang hatinya menjadi lega. Terlepas dari semua beban yang tadi menghimpit dadanya. Dia juga berdoa semoga Saka diberi kesembuhan dan cepat sadar dari koma.
***
Sheril masuk ke ruang di mana Saka terbaring di sana. Sudah hampir sepuluh hari sejak Saka dinyatakan koma hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda kalau dia akan sadar.
"Kamu sudah bertemu dengannya, kan? Apa kau senang? Aku tidak tahu, apakah setelah kamu sadar dan kamu mengingat semuanya, kamu masih ingin bersamaku atau tidak. Aku ikhlas, apapun keputusan kamu nanti aku bersedia menerima itu semua tanpa menyalahkan siapapun."
"Aku sadar, posisi aku di sini hanyalah bagian dari masa lalu kamu dan menyusup ke celah masa depan kamu lewat amnesia yang kamu alami. Aku salah memanfaatkan situasi, aku terlalu bahagia karena akhirnya dipertemukan lagi dengan kamu setelah apa yang terjadi padaku. Aku ... aku mungkin akan cemburu pada Riana, tapi aku mencoba berada pada posisi Riana. Aku baru tahu cerita yang sebenarnya adalah, kamu tidak ditinggalkan oleh Riana. Dia yang tidak tahu bahwa kamu selamat dari kecelakaan itu. Jika ada orang yang bertanggungjawab atas semua kekacauan ini maka orangnya adalah Mama kamu."
"Tidak ... tidak ... aku tidak asal menuduh mamamu. Mungkin juga karena dia ingin melihat kamu bahagia, oleh karena itu dia membiarkan kamu terus bersamaku dan aku yang terus bersamamu tanpa tahu yang sebenarnya. Aku sudah dibutakan perasaanku sendiri. Tapi sekarang, jika kamu memintaku pergi dari hidupmu sekalipun, aku sudah siap Mas."
Sheril menangis di seraya meletakkan kepalanya di dada Saka. Berharap Saka dapat mendengar atau merasakan apa yang saat ini dirasakan wanita itu.
Tanpa disadari oleh Sheril, salah satu jemari Saka mulai bergerak. Pelan tapi pasti. Kemudian saat Sheril hendak mengangkat kepalanya, dia terkejut dengan apa yang dia lihat. Saka membuka mata dan sedang menatapnya.
"Sebentar, aku panggil dokter."
Saking bahagianya, Sheril cepat keluar dari ruang perawatan Saka dan memanggil suster serta dokter yang sedang berjaga.
"Suster, tolong panggilkan dokter. Suamiku, suamiku membuka matanya ..."
Sang suster pun mengerti, dia segera memanggil dokter yang menangani Saka. Tidak butuh waktu lama sampai dokter itu datang dan memeriksa kondisi Saka.
"Syukurlah ... pasien sudah melewati masa koma. Ini sebuah keajaiban."
Sheril menutup mulutnya yang ternganga, tak percaya dengan vonis dokter. Dia pun terharu bahagia, bercampur menjadi satu. Sheril lekas memeluk tubuh Saka, namun pria itu masih seolah mencerna apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Di mana aku?" tanya Saka begitu Sheril selesai memeluknya.
"Syukurlah, kamu sudah sadar sayang. Aku sangat cemas jika kamu tak bangun lagi."
"She ... Sheril ..." ucap Saka terbata dan kaget.
"Iyah, ini aku Sheril."
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Di mana isteri dan anakku?"
Memori Saka sepertinya kembali ke masa di mana dia mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Bukan di masa yang sekarang atau di masa dia bersama Sheril.
Sheril terpaku. Dia tak menyangka ingatan Saka akan kembali bersamaan dengan kesadarannya dari koma.
"Dia ada ... aku ... aku di sini yang menemani kamu. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Iyah. Sudah berapa lama aku di rumah sakit? Kecelakaan itu ... aku sudah ingat sekarang. Aku ingin segera pulang, aku ingin bertemu Kiano dan Riana."
Saka bergegas mau turun dari ranjangnya, namun segera ditahan oleh dokter.
"Bapak, kondisi bapak masih lemah. Lebih baik Bapak istirahat dulu."
"Tidak bisa dokter, isteri saya harus tahu kalau saya masih hidup. Saya takut dia akan mengira bahwa aku sudah mati. Kumohon lepaskan saya dokter."
Saka terus berusaha agar bisa kabur dari cengkeraman sang dokter. Namun dengan cepat seorang suster menyuntikkan obat bius ke lengan Saka. Hingga pria itu pun kembali lemas dan tertidur.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Saka mengingat diriku, tapi kemungkinan besar dia hanya mengingat aku sebagai mantan pacarnya, bukan sebagai isterinya. Ya Tuhan, bagaimana ini?" ucap Sheril dalam hatinya.
__ADS_1
Disaat kamu mencintai seseorang, maka di sanalah ujian akan cinta itu berada. Oleh karena itu, bersabarlah sebab cinta akan selalu menemukan muaranya.