
Setegak-tegaknya kaki seorang manusia berdiri di muka bumi ini, suatu saat ada masa di mana mereka akan mengalami namanya tersandung, jatuh atau bahkan terperosok. Siapa-siapa yang berhasil untuk berdiri lagi, maka dialah manusia yang paling berharga bagi dirinya sendiri. Belajar akan makna jatuh bangun dirinya dalam mengarungi bahtera hidup ini.
Sama halnya Riana yang menjalani hidup dengan berbagai cobaan, sampai akhirnya dia pun bisa melalui itu semua. Bahkan air mata serta luka bukan lagi jadi alasan dia bertahan, melainkan darah daging yang lahir dari dalam dirinya. Sebuah cinta yang selalu menguatkannya, melalui kehidupan baru yang tumbuh dalam tubuh seorang anak lelaki bernama Kiano.
Kebahagiaan dirinya menjadi seorang ibu, melebihi kebahagiaan ketika dia menjadi seorang isteri. Setiap perempuan akan merasa dirinya lebih utuh ketika dia telah melahirkan seorang anak ke dunia ini. Melahirkan sebuah kehidupan baru bagi seorang anak manusia yang nantinya akan menyelamatkan dirinya di akhirat kelak.
Kehidupan Riana yang jungkir balik tak membuat dirinya lantas menyerah kepada hidup. Melainkan terus berjuang demi satu harapan yang terus ia jaga agar tetap menyala dan bersinar.
Seorang Ibu akan menjadi lebih kuat, demi anak yang akan dia besarkan dengan seluruh kasih sayang yang dimilikinya. Seorang ibu akan melakukan apapun demi sesuatu yang bisa menyenangkan hati anaknya. Meski harus ditempuh dengan air mata dan darah. Seorang ibu akan rela berkorban di atas nama cinta kepada seorang anak.
Berbicara mengenai takdir, mungkin setiap manusia hanya perlu percaya dan yakin bahwa ketetapan Tuhan adalah suatu kebenaran. Tak ada yang bisa memilih bersanding dengan siapa, atau berjodoh dengan siapa, karena Tuhan selalu punya rencanaNya sendiri.
Setelah melalui perjalanan panjag yang berliku, Riana dan Tefan akhirnya bisa bersama. Mungkin itulah salah satu yang bisa disebut takdir. Takdir Tuhan akan sesuatu yang disebut JODOH.
Bagaimanapun kita menghindar, menjauh, atau berlari dan mencari, jika dia adalah jodoh, maka Tuhan akan mempertemukan dengan cara-caranya yang ajaib. Itu sebabnya seorang manusia dilarang untuk berputus asa. Sama halnya, sekalipun kita telah mendekat, mengejar-ngejar seseorang tapi karena dia bukan jodoh yang ditakdirkan untuk kita maka dia akan menjauh juga.
Seperti itulah sebuah kisah perjalanan yang terjadi dan banyak sekali dialami oleh manusia. Tak terkecuali Riana, Tefan dan juga Saka.
***
Riana dan Tefan beserta Kiano telah sampai di rumah. Syukurlah, mereka bisa pulang dengan suasana hati yang gembira. Walau Kiano pada awalnya menolak Saka, namun akhirnya anak itu mau menerimanya juga.
"Sayang, aku bangga padamu. Kamu sudah mengajari Kiano dengan sangat baik. Bagaimana bisa tadi dia berubah pikiran dan mau menerima Saka? Petuah kamu memang ajaib, Sayang." Tutur Tefan sambil meletakkan jaket yang dibawanya masuk kamar.
__ADS_1
"Aku hanya berusaha membuat Kiano memahami situasi ini meski usia dia masih sangat dini. Aku buat bahasa pemahaman dengan sesederhana mungkin agar bisa diterima oleh alam pikiran Kiano. Syukurlah, dia mengerti dan aku dibuat bangga olehnya."
"Kamu memang seorang ibu yang terbaik, Sayang. Sekarang, ayo kita buat anak-anak yang lebih membanggakan lagi." Tefan mulai membujuk dengan rayuan pulau kelapa, eh rayuan maut yang dimilikinya.
Riana tersipu malu, bahkan di usianya yang sudah tak muda lagi dia masih merasa malu-malu ketika kerap digoda oleh Tefan. Suaminya itu berjalan mendekat ke arahnya yang sedang duduk di depan meja rias. Tefan lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Riana. Mencium puncak kepala isterinya itu dan membaui aroma shampo yang sering membuat Tefan tak pernah bosan untuk mengendus aroma rambut milik Riana.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Tefan dengan tatapan yang terpantul di cermin.
Riana mengerutkan keningnya, tapi bukan berarti menolak. Dia hanya ingin bermain-main dengan suaminya itu. Dia pun melepas kedua tangan Tefan yang melilit manja di lehernya. Berdiri dan keluar dari kursi yang mengepung langkahnya.
Sekarang mereka telah berdiri berhadap-hadapan, manik mata Riana yang hitam dan memancarkan keindahan itu selalu berhasil membuat Tefan terbuai.
Tefan memeluk tubuh isterinya, dia selalu tak pernah kehilangan rasa syukur bila sedang memeluk Riana. Wanita yang sangat dicintainya itu. Dia pernah kehilangan Riana dan dia berjanji tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi.
"Tunggu sebentar ..." Riana melepas pelukannya. Berbalik dan berjalan ke lemari pakaian miliknya.
Dengan pelan dia membuka pintu lemari miliknya, alangkah terkejutnya Riana karena melihat beberapa gaun tidur tergantung di sana.
"Apa-apaan ini? Ke mana semua pakaian punyaku yang ada di lemari ini? Kok bisa barang-barang ini ada di lemari aku sih?" tanya Riana keheranan sekaligus panik karena tak mendapati selembar pakaiannya pun di dalam lemari tersebut.
Tefan terkekeh karena sebenarnya itu adalah ulah dia. Sementara Riana tak pernah tahu menahu akan hal itu.
"Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Lihat saja sendiri, apa ini? Baju apa coba ini?" Riana menunjukkan satu pasang baju tidur dengan tampilan yang serba minim dan tembus pandang.
Tefan terkekeh, "itu kan gaun tidur. Khusus aku beli untuk kamu, Sayang. Sejak kita menikah aku belum pernah melihat kamu mengenakan gaun malam. Tubuh kamu akan lebih kelihatan seksi jika mengenakan gaun itu. Hehe."
Riana menarik napas berat dan panjang. Tak habis pikir dengan ide gila suaminya itu. Tapi kalau dipikir-pikir juga, memang benar Riana tak pernah mengenakan gaun semacam itu selama mereka menikah.
"Jadi mesti gue pakai nih?"
"Tentu."
"Tapi nggak perlu sebanyak ini juga, Sayang. Lihat lemariku dipenuhi pakaian nggak cukup kain begini."
"Pakaian kamu kupindahkan ke lemari lain. Jadi pakai gaun itu dan ... dan ..." Tefan mengedipkan matanya nakal. Riana pun bereaksi ogah pada Tefan tapi kemudian dia masuk ke kamar mandi juga untuk mengenakan gaun tersebut.
Setelah keluar dan memakai gaun tersebut, Tefan lagi-lagi takjub melihat setiap lekuk tubuh Riana. Padahal bukan kali pertama itu dia menyentuh tubuh wanita yang kini menjadi isterinya itu.
"Cantik."
"Cantik dari mananya?"
"Sayang, kamu merusak imajinasiku."
Tefan protes yang kemudian langsung menggendong tubuh mungil Riana untuk naik ke tempat tidur. Riana menjerit-jerit geli karena Tefan berkelakuan seperti anak muda yang baru saja akan melaksanakan malam pertamanya.
__ADS_1
Kini tubuh Riana sudah terbaring di atas tempat tidur berukuran besar milik mereka. Dia pasrah ketika Tefan sudah mengunci dirinya di bawah tubuh erotis dan atletis milik suaminya itu.
Satu kecupan mendarat di bibir mungilnya, lalu berubah menjadi ciuman yang hangat, panas dan mulai menuntut. Mereka pun menikmati setiap detik waktu yang ada.