Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Gugup


__ADS_3

Kiano masih memeluk sebatas kaki Tefan yang memang terbilang cukup tinggi itu. Tubuh Kiano masih sebatas paha atas Tefan. Riana masih tertegun di tempatnya, apalagi ketika dia melihat Tefan duduk untuk mensejajarkan dirinya dengan tinggi badan Kiano.


"Hai, jagoan! Mengapa ada di sini?" Tanya Tefan dengan senyum manis yang sejak dulu dimiliknya.


Sudah lama sekali aku tidak pernah melihat dia tersenyum seperti itu. Sejak iblis merasuki diri Tefan, aku tak pernah melihat dia tersenyum semanis sekarang lagi. Huh, apakah ini adalah kesempatan kedua untuknya?


Riana membatin melihat pemandangan yang berlangsung tak jauh darinya, Kiano tampak akrab dan sekarang mereka malah bergandengan menuju meja tempat dimana Riana dan Jen duduk.


Jen berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Tefan yang sangat dia hormati itu. Mereka bersalaman sebentar dan duduk kembali. Riana terlihat menyembunyikan wajahnya, dia bukan tak siap lagi bertemu dengan Tefan tapi lebih tepatnya dia masih gugup dan terasa sangat kaku.


Apalagi jika mengingat terakhir kali mereka bertemu, rasanya tak ada kesan baik antara mereka yang dapat membuat keduanya menjadi akrab.


Jen menyikut lengan Riana, agar Riana mau menyambut kedatangan Tefan dan segera berkenalan.


"Riana", Riana menyebutkan namanya seraya mengulutkan tangannya.


"Tefan." Tefan melakukan hal yang sama.


Kedua tangan itu berjabat tangan dan tangan Riana terasa kaku dan dingin. Dengan cepat Riana menarik tangannya dari genggaman Tefan yang terasa hangat baginya.


"Bunda, jadi ini Om Ganteng yang Kiano sering cerita ke Bunda. Ganteng kan?" Ucap Kiano yang membuyarkan suasana canggung saat itu.


"Iyah, sayang. Ayo kemarilah! Jangan merepotkan orang seperti itu." Ucap Riana tegas pada Kiano yang kini tengah duduk di pangkuan Tefan.


"Bunda..., bolehkah aku duduk sebentar lagi? tiga menit saja bagaimana?" Ucap Kiano dengan wajah merengut tidak ingin turun dari pangkuan Tefan.


Ya Tuhan, apakah sekarang Kiano sedang ingin merasakan bagaimana duduk dipangkuan seorang ayah? Ah Kiano, anakku. Maafkan Bunda.


Jen pun menengahi situasi yang tegang itu dengan kembali ke niat awalnya datang menemui Tefan.


"Maaf Tuan Tefan, aku sengaja membuat janji secara khusus karena ingin meminta bantuan Tuan untuk sesuatu hal." Ucap Jeni sopan. Namun yang membuat Jeni tak mengerti adalah, mengapa Riana memasang wajah tak suka seperti itu.


Ada apa sih ini? Kok aku merasa aku terjebak diantara dua manusia yang tak mau saling bertemu namun akhirnya dipertemukan oleh takdir. Huh, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa Riana sudah bodoh, masa iya dia menolak bekerja di resort sebesar ini dan dengan gaji yang lumayan besar juga.


"Baiklah, katakan apa yang kau inginkan?"


"Temanku, butuh pekerjaan."


"TIDAK! Tidak sama sekali, aku ke sini bukan untuk pekerjaan." Potong Riana cepat.

__ADS_1


Tatapan tak percaya Jen menembus ke dalam jantung Riana.


Apa-apaan kau ini Riana? Bukankah kamu butuh itu untuk sekolah Kiano? Ayolah jangan egois seperti itu.


Seperti itulah isyarat dari raut wajah dan tatapan Jeni kepada Riana. Namun Riana seakan tak peduli dengan semua itu. Baginya, terlalu buruk jika harus meminta bantuan kepada mantan kekasihnya yang pernah mencampakkan dirinya di masa lalu. Apalagi hubungan mereka sebelumnya memang sangatlah buruk.


"Kiano, bisakah kamu menuruti apa kata Bunda?" Lanjut Riana yang menatap tak suka ke arah Kiano yang masih duduk di atas pangkuan Tefan.


"Baiklah, Bun." Ucap Kiano dengan nada rendah dan wajah ditekuk.


Kiano pun turun dari pangkuan Tefan dan duduk di samping Riana.


"Maaf kami pulang dulu!" Ucap Riana tiba-tiba, membuat Jeni benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Riana yang berubah sewaktu-waktu.


Riana sudah beranjak dari kursinya, menggandeng tangan Kiano yang seolah tak mau pergi karena masih melihat ke arah Tefan.


Aku tak peduli jika kamu masih berada di sana Jen. Aku harus pergi apapun reaksi yang akan timbul setelahnya. Biarkan saja kamu akan mengataiku bodoh dan sejenisnya. Tidak mungkin aku terus menerus berada di sana dengan kondisi hati yang tidak baik begitu melihat Tefan. Aku tidak mau terjebak ke lubang yang sama lagi seperti dulu.


"Ah, apa-apaan aku ini. Terjebak bagaimana, sedangkan Tefan duduk diam saja tak bereaksi. Memangnya apa yang sedang kupikirkan?" Rutuk Riana pada dirinya sendiri.


Jeni belum kembali dan Riana masih menunggu di samping mobil Jeni.


"Sayang, tempat kita bukan di sini. Kita tak bisa bergantung pada orang lain. Sini Bunda peluk, Kiano pasti kangen Ayah ya?" Riana memeluk tubuh Kiano yang kini sudah menangis karena sedih.


Maafkan Bunda, sayang. Tapi Bunda tidak bisa membiarkan kamu terus-terusan mengharapkan Tefan seperti itu.


Sementara di tempat tadi masih berlangsung pembicaraan antara Jeni dan Tefan.


"Sebenarnya tujuan kamu datang kemari bersama perempuan tadi apa?" Tanya Tefan yang berpura-pura tak tahu apapun soal Riana.


"Ah itu, Riana membutuhkan pekerjaan karena dia harus memiliki biaya untuk menyekolahkan Kiano. Tahun ini dia harus masuk TK, jika tidak maka dia tak akan melanjutkan sekolah nantinya." Ucap Jen terang-terangan.


"Jadi begitu masalahnya, tapi tampaknya Riana tak ingin bekerja denganku. Lalu dengan cara apa aku harus membantu?"


"Tuan lihat Kiano, betap menggemaskannya anak itu. Tentu Tuan tidak akan membiarkan anak itu sampai tak sekolah. Terlebih lagi, aku melihat keakraban diantara kalian. Jadi, aku pikir tentu Tuan tak akan keberatan untuk membantunya. Namun, mengingat sifat Riana yang keras dan tak mau bergantung pada siapapun. Maka aku rasa, Tuan dapat membantunya dengan cara lain. Sesuatu yang tak perlu diketahui oleh Riana. Maaf, jika aku meminta dan berbicara terlalu banyak, Tuan."


"Tidak apa-apa. Baiklah, aku akan membantunya. Asal dia tak pernah tahu bahwa akulah yang membantunya. Aturlah agar dia mau menerima uangku tanpa harus ketahuan olehnya."


"Emm, aku ada ide Tuan."

__ADS_1


"Apa itu?"


"Riana memiliki satu usaha aksesoris, bagaimana jika Tuan secara tidak langsung membeli aksesoris Riana dalam jumlah yang besar tiap bulannya sebagai souvernir di resort, Tuan. Tapi Riana tak perlu tahu kemana aksesoris itu akan berakhir. Biar aku yang mengurusnya nanti."


"Baiklah. Aku cukup tertarik dengan idemu. Pak Bono, tolong urus semua yang diperlukan Nona ini untuk kerjasama dengan toko aksesoris milik Riana." Titah Tefan pada Pak Bono asistennya.


"Baik, Tuan. Segera akan saya siapkan."


"Woahh..., terimakasih sekali lagi, Tuan. Anda sudah menyelamatkan satu keluarga." Senyum sumringah mengembang di wajah Jeni. Dia senang sekali dapat membantu Riana meski dengan cara seperti itu. Setidaknya bisa menguntungkan juga dua belah pihak.


Dari tatapannya tadi, aku dapat membaca bahwa Tuan Tefan ini menaruh perhatian pada Riana. Meski dia terlihat dingin dan cuek, namun aku merasa ada yang berbeda dari tatapannya ke Riana.


Jeni pun pamit setelah menyepakati sesuatu dengan Tefan. Dia berjalan ke parkiran dan melihat Riana dan Kiano yang sudah bosan menunggunya.


"Hai..., apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Jen.


"Harusnya pertanyaan itu untukmu, Jen. Apa yang sudah kamu lakukan di dalam sana, kenapa bisa lama sekali? Kita berdua sudah capek berdiri dan duduk. Untung pemandangan di sekitar sini cukup bagus, jika tidak aku pasti akan ke sana lagi untuk melabrakmu." Ucap Riana sedikit kesal namun itu tak benar-benar dirasakan oleh Riana.


"Ya, aku baru bertemu lagi dengannya. Tentu aku harus memanfaatkan waktu dengan baik bukan?"


"Isssh, dasar perempuan."


"Memangnya kenapa? Ayo masuk! Mau sampai kapan kita akan berdiri terus di sini dengan cuaca panas. Kiano sayang, ayo masuk!"


"Iyah, Tante! Tan, bolehkah kita mampir sebentar membeli minuman dingin? Aku sangat haus, tadi menunggu Tante lama banget." Ucap Kiano dengan ekspresi wajah yang menggemaskan.


"Iyah, Kiano. Karena hari ini hati Tante cukup senang, maka kita tidak hanya akan minum. Tapi Tante akan mentraktir Kiano dengan beberapa makanan yang Kiano sukai."


"Asyik!" Kiano berseru senang.


Riana hanya menggeleng-gelengkan kepala. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi di dalam sana antara Jen dan Tefan. Huh.


*


*


*


Serius, tidak bisa menulis lebih panjang. hehe. Maafkan aku reader. Jangan lupa like dan komen ya. Vote juga. hehe

__ADS_1


__ADS_2