Complicated Love #2

Complicated Love #2
Kiano Ingin Ikut Masak


__ADS_3

Sesampainya di rumah.


"Sayang, maafin Bunda ya. Bunda bukannya nggak mau kamu ikut sama Oma tadi. Bunda hanya takut kamu tidak bisa kembali lagi ke Bunda."


Air mata Riana tahu-tahu sudah mengalir ke pipinya. Dia sambil memeluk Kiano yang masih kebingungan kenapa bundanya bisa menangis.


"Bunda jangan nangis, Kiano nggak akan ke mana-mana kok. Kiano akan selalu sama bunda, akan jagain bunda. Kiano sayang ... banget sama Bunda."


Kiano membalas pelukan Riana dan menghapus air mata bundanya dengan jari-jarinya yang kecil.


Riana semakin terharu mendengar Kiano sudah bisa bicara seperti layaknya orang dewasa.


"Sebenarnya Oma tadi itu siapa sih, Bun?"


Riana berpikir apakah akan menceritakan mengenai Omanya atau tidak. Tapi Kiano pasti akan bertanya banyak hal dan Riana belum siap untuk itu. Riana juga takut akan mempengaruhi mental Kiano jika tahu kalau sebenarnya papanya masih ada.


Itu sebabnya, Riana memilih untuk mendiskusikan hal itu pada Tefan terlebih dahulu. Kiano masih sangat kecil untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarganya.


"Kiano masuk kamar dulu yuk! Ganti baju dan kita telepon Papa Ganteng biar cepat pulang dan makan siang bareng di rumah."


"Oke, Bunda!"


Untung saja Kiano sudah tak ingat lagi dengan pertanyaannya tadi. Layaknya anak-anak dia akan mudah lupa jika ada hal lain yang lebih menarik. Hal itu bisa cepat mengalihkan pikiran anak-anak, begitu juga dengan Kiano.


Riana segera menelpon Tefan setelah Kiano sudah berlari masuk ke kamarnya dan berganti baju. Untuk urusan itu, Kiano sudah bisa mandiri. Bahkan dia sudah tidak merepotkan Riana untuk soal mandi, pakai seragam dan lain-lain.

__ADS_1


"Fan, aku di rumah sekarang. Kamu bisa pulang buat makan siang di rumah kan?" ucap Riana di telepon.


"Bisa dong sayang, apalagi kalau makan siangnya dimasakin kamu. Tapi kok eh tumben banget jam segini sudah di rumah?"


"Aku habis jemput Kiano di sekolah tadi."


"Lah, kan ada Pak Bono. Pak Bono nggak dateng emang?"


"Dateng. Untung saja ada Pak Bono, kalau nggak aku nggak tahu lagi sama apa yang terjadi nanti."


"Kenapa emang?"


"Mantan mertuaku nekat datang ke sekolah Kiano dan mau mengajaknya ikut bersamanya. Kiano pun cepat menghubungi aku dan akhirnya aku bisa ke sana di anter satpam toko."


"Aku segera pergi dari sana setelah debat panjang sama dia. Aku takut Fan, ke depannya ini mantan mertuaku semakin melakukan hal di luar batas. Dia bisa saja nekat dan menculik Kiano kan?"


"Jangan berpikiran seperti itu sayang, nanti kamu malah terbebani dan jadi pikiran. Baiklah, aku pulang sekarang ya biar kamu bisa tenang sedikit. Tunggu aku di rumah sayang."


Sambungan telepon terputus. Riana menemui Kiano di kamarnya, anak itu sudah ganti pakaian dan sekarang dia malah sedang asyik menggambar di atas tempat tidurnya.


"Sayang, lagi gambar ya?" tanya Riana mendekati Kiano.


"Iyah, Bunda. Lihat deh, ini Bunda, ini Papa Ganteng, nah yang di tengah ini Kiano bunda. Sedang dipegangin sama Bunda dan Papa Ganteng. Kiano senang banget, akhirnya tangan satunya Kiano bisa digenggam seperti ini. Terus gambar di samping Kiano udah nggak kosong. Soalnya sudah ada Papa Tefan yang menggenggam tangan Kiano. Bagus kan, Bunda?"


Jika Kiano sudah seperti ini, ibu mana coba yang tidak meleleh mendengar penjelasan anak semata wayangnya yang begitu bahagia karena punya papa?

__ADS_1


Apalagi gambar tersebut jelas menggambarkan bahwa Kiano memiliki keluarga lengkap sekarang.


"Besok, Kiano mau pamerin ke teman-teman. Biar mereka tahu kalau Kiano juga punya Papa sekarang. Mereka kan suka ngejek Kiano, kalau Kiano ini nggak punya papa."


Tambah deraslah mengalir air mata Riana. Tidak menyangka jika selama ini anaknya sudah banyak mendapat Bullyan karena tidak punya papa. Dan Kiano nggak pernah cerita soal teman-teman yang mengejek dia.


Salut sama Kiano yang bisa menjaga agar bundanya nggak sedih karena omongan miring orang-orang atau teman-temannya. .


"Kamu anak hebat, kamu adalah anak kebanggaan Bunda. Bunda sayang banget sama Kiano."


"Kiano juga sayang banget sama Bunda."


"Kiano lanjutin aja gambarnya, Bunda mau masak dulu buat makan siang sama Papa Ganteng."


"Oyah? Bunda, Kiano mau ikutan masak boleh?"


Seketika Riana membeku. Apa jangan-jangan Kiano mewarisi bakat alamiah Saka? Saka kan suka memasak, dia seorang chef dan Kiano memang cukup sering meminta pada Riana untuk ikut diperbolehkan memasak.


"Memangnya Kiano bisa?"


"Bisalah kalo diajarin, Bunda. Hhee."


Kiano nyengir dan Riana malah senang. Dia pun mengajak Kiano ke dapur dan mereka masak bersama-sama. Suasana dapur pun seketika jadi ramai karena mereka malah banyak bermain sambil motong-motongin sayur.


Ini kali pertama Riana mengizinkan Kiano masuk dapur dan memasak bersamanya. Riana ingin tahu sejauh mana Kiano menyukai masak memasak dan urusan dapur. Jika dia antusias maka bisa jadi benar bahwa dia mewarisi bakat ayahnya yang jago masak.

__ADS_1


__ADS_2