
Tefan merasakan ada yang berbeda dari suara Riana saat dia menelepon istrinya itu.
"Ada apa? Kamu sedang kesal ya?"
"Iyah. Kamu sudah sampai di kantor?"
"Sudah. Ceritakan padaku, sayang. Siapa yang sudah membuat suasana hati isteriku tercinta ini memburuk pagi ini?"
"Orang tua Saka." Riana terdiam kemudian menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Dia datang lagi ke toko. Pagi ini dia sudah menunggu aku di depan toko. Membuatku kesal karena dia terus meminta agar aku memberikannya waktu bersama Kiano. Dia tidak pernah memikirkan perasaan aku sama sekali sebagai Ibunya."
"Apa perlu aku mengirim Pak Bono untuk menunggu Kiano selesai sekolah?"
"Tidak berlebihan?"
"Sayang, ini untuk keselamatan Kiano dan juga kenyamanan kamu. Kalian berdua adalah orang yang paling berharga buat aku. Aku tidak mau orang lain sampai membuat kalian merasa tidak nyaman. Lagi pula itu tidak berlebihan. Jika mantan mertua kamu nekat mengambil Kiano bagaimana?"
"Baiklah. Pak Bono tidak keberatan kan?"
"Tidak ada yang berat Riana. Pak Bono orang yang paling setia dengan pekerjaannya selagi itu masih ada hubungannya denganku. Tidak usah khawatir, sayang. Kalau begitu, aku hubungi Pak Bono dulu."
"Terimakasih, sayang."
"Sama-sama. Sun jangan?"
"Jangan. Hahaha."
__ADS_1
"Muaachh ...."
Riana akhirnya bisa tersenyum setelah tadi pagi dia begitu kesal pada mantan mertuanya.
Dia bisa kembali ke toko dengan hati yang tenang. Nadia tersenyum padanya begitu melihat Riana turun dari tangga lantai atas.
"Bu, apa sudah mendingan?"
"Sudah. Lumayan ramai ya hari ini, apa ada kesulitan, Nad?"
"Tidak ada, Bu. Semoga saja makin ramai nantinya. Biar bisa buka cabang lagi di tempat lain." Nadia begitu antusias dengan rencananya itu.
"Amiin."
Seorang pelanggan datang pada Nadia dan bertanya, "Ibu isterinya Pak Tefan, kan? Ah, senang sekali bisa bertemu di sini. Suatu kesempatan langka."
Riana tersenyum, tidak menyangka ada yang mengenalinya sebagai isteri Tefan. Secara pernikahan mereka digelar tertutup dan hampir tidak ada yang tahu. Kecuali keluarga dekat dan kolega penting dari perusahaan properti kenalan Tefan.
"Iya, Bu. Kenalin, saya Riana." Riana pun mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh ibu-ibu tadi.
"Senang sekali bertemu Ibu. Ngomong-ngomong ini toko Ibu?"
"Seperti itulah, Bu. Sedang mencari apa?"
"Kebetulan saya akan pulang kampung, ingin bawa oleh-oleh untuk sanak saudara di kampung."
__ADS_1
"Ibu ingin yang seperti apa? Biar nanti saya bisa tunjukkan ke Ibu mana yang kira-kira cocok."
"Kalau Ibu yang memilih tentu saja itu adalah yang terbaik. Pilihkan untuk saya sekitar 10 set, Bu."
"Baiklah, tunggu sebentar ya Bu."
Riana pun mencarikan perhiasan yang kemungkinan ibu tersebut sukai. Dibantu Nadia, Riana akhirnya mendapatkan sepuluh set perhiasan itu.
"Tidak salah lagi, pilihan Ibu memang luar biasa. Sederhana namun cantik. Elegan. Saya menyukainya."
Riana dan Nadia saling tatap kemudian bertukar senyum karena berhasil menemukan perhiasan sesuai selera ibu itu.
"Pak Tefan pasti beruntung dan bahagia punya isteri seperti Anda. Sudah cantik, punya usaha sendiri, saya sangat kagum pada Anda. Pak Tefan juga orang yang sangat baik, suami saya adalah salah satu karyawannya dan kami tidak pernah kekurangan apapun. Pak Tefan selalu mensejahterakan bawahannya, walau tidak secara langsung tapi semuanya yakin bahwa itu adalah atas perintah Pak Tefan. Semua orang mengaguminya, tak terkecuali saya yang benar-benar kagum. Kalian adalah pasangan yang cocok, semoga segera mendapatkan momongan ya."
"Terimakasih, Bu."
Perasaan Riana seketika menghangat, sejak dulu dia percaya Tefan orang baik. Sangat baik. Hanya dulu sempat mendapat pengaruh jelek dari papanya yang gila harta dan selalu merendahkan Riana.
Sekarang Riana semakin yakin, walau dulu Tefan pernah jahat padanya namun sekarang dia sudah berubah menjadi lebih baik.
Tidak peduli apapun ke depan, Riana akan selalu yakin bahwa Tefan adalah pria baik dan ditakdirkan untuknya.
^^^***Karena tidak ada manusia yang jahat selamanya, selalu ada kesempatan untuk menjadi baik. ^^^
^^^--Author*** ^^^
__ADS_1