
"Aku pikir ini akan mudah, bahwa mencintai saja telah cukup....”
“Aku harus pergi sekarang...” Ucap Tefan dengan kepala tertunduk di sudut tempat tidur.
“Ada apa?” Tanyaku mendekat padanya.
“Papa tahu aku sedang bersama kamu. Dia marah besar dan memaksa agar aku pulang sekarang juga. Kalau tidak dia akan membocorkan semuanya kepada Nina.”
“Ta--tapi bagaimana bisa dia tahu Fan?”
“Papa sudah menyelidiki banyak hal tentang hubungan kita Riana.” Ucap Tefan dengan ekspresi sendu.
Aku tidak pernah memikirkan hal sejauh itu, orang tua Tefan apalagi Papanya sangat serius dengan ucapannya. Bahkan ia sudah menyewa orang untuk menyelidiki aku dan Tefan. Lalu apa selanjutnya?
Aku ikut terduduk di sampingnya. Sepertinya memang benar, malam tadi memanglah malam terakhir yang kuhabiskan berdua dengannya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Haruskah aku dan dia menyerah? Sebab Papa Tefan mungkin juga tidak akan mau menyerah untuk hubungan kami. Aku mendadak pusing. Aku tak bisa berpikir jernih lagi, air mataku merembes perlahan ke pipi. Ini takkan mudah lagi.
“Baiklah, kamu harus pergi secepatnya.” ucapku menahan agar airmataku tak jatuh lebih banyak lagi. Bagaimana pun aku harus siap dengan setiap kenyataan yang akan hadir antara hubungan aku dan Tefan.
“Kamu tidak apa-apa? Apa tidak sebaiknya kita pulang bersama saja?”
“Aku baik-baik saja Fan. Lagipula aku juga bawa mobil, aku masih mau di sini beberapa saat. Sore nanti aku pulang, sudah sana beresin barang kamu. Aku akan mengantar kamu ke depan.” Aku berusaha kuat, meski itu tidak mudah.
Aku tahu hati Tefan juga berat untuk pergi, mau bagaimana lagi, dia memang harus pergi. Waktu kecil aku pernah melihat dia dipukuli papanya hanya karena aku bermain dengannya. Sekarang entah apa yang akan dilakukan papanya sebab kita berdua tidak hanya bermain tapi lebih dari itu. Harus ada yang mengalah walau bukan berarti menyerah.
“Hati-hati di jalan Fan. Kabari kalau sudah sampai.”
“Iyah, kamu juga hati-hati di sini dan jangan lupa sore nanti untuk pulang.”
Aku menganggukkan kepala ke arahnya, dia maju satu langkah dan mencium keningku begitu lama.
“I love you...”
__ADS_1
Aku tersenyum ke arahnya, kalimat tersebut walaupun hanya sebuah kalimat, tapi aku merasa hatiku menjadi hangat kembali.
“Aku tahu.” Jawabku.
Tefan pergi dan aku bagai merasa kosong kembali. Kuputuskan untuk berkeliling Kawah Putih sebentar, sekedar olahraga dan menikmati indahnya pemandangan di sini. Karena bukan akhir pekan, pengunjung yang datang dan menginap di sini tidak terlalu ramai. Justru karena keheningan inilah yang kucintai, aku tidak suka tempat-tempat yang terlalu ramai di kunjungi orang. Aku tidak pernah datang ke Kawah Putih di akhir pekan, selalu mengambil jadwal kunjungan di tengah minggu.
Aku bertemu beberapa orang di sekitar sini, bertukar senyum lalu melanjutkan kembali jalan-jalannya. Sekitar satu jam berkeliling aku kembali ke Villa. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi aku juga belum mau pulang. Aku menyalakan TV di tengah ruangan, memindahkan chanel dari chanel satu ke chanel lainnya. Tidak ada yang begitu menarik perhatianku. Pagi-pagi begini suguhannya hanyalah berita dari Selebriti-selebriti, ada yang menikah, ada yang baru lahiran dan ada juga yang mengurus proses cerainya. Apa hanya itu yang pantas diberitakan dari seorang Selebriti? Hhhh... membosankan.
Tak lama kemudian, ada telpon dari Nina.
“Lagi di mana Yan?”
“Aku Riana, bukan Rian ataupun Yan.” Jawabku sebal.
“Sensitif amat sih Neng? Kamu lagi di mana? Kenapa tiba-tiba menghilang sih? Kayak Ninja saja.”
“Aku tidak hilang Kare. Aku hanya ada sedikit kerjaan yang perlu dibereskan dan aku minta maaf karena lupa memberitahu kamu.”
“Lagi pula sore nanti aku sudah pulang kok.”
“Emm... aku mau undang kamu nanti malam.”
“Ke mana?”
“Acara makan malam keluarga bersama keluarga besarnya Tefan.”
“Keluarga kamu memang tidak bisa temenin? Kok bisa?”
“Suudzon deh, keluarga aku juga datang. Tapi aku juga mau ngajak kamu karena kamu juga sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.”
“E...e... gimana ya?” Jawabku sedikit ragu, karena terus terang aku agak kaget menerima ajakan itu.
__ADS_1
“Ayolah Yan... please...!!!”
“Aku masih ada kerjaan lain Kare. Maaf yah...”
“Yan... kamu kok jahat banget sih. Aku gugup soalnya, kalau ada kamu mungkin rasa gugupku akan sedikit berkurang.”
“...”
“Yan...”
“Yan... kamu masih di sana kan?”
“Eh... iya iya, aku masih di sini kok. Ya sudah, tunggu aku di rumah yah.”
“Yeiyy... makasih Riana...! Muachhhh....”
“Kalau ada maunya aja, aku dipanggil Riana. Oke deh, tunggu yak.”
Aku bergeming sembari menimang-nimang HP yang tengah kupegang. Perasaan bimbang, takut, bingung, semua bercampur aduk jadi satu. Bagaimanakah perasaan Tefan begitu melihatku datang bersama Riana? Bagaimana hatiku yang bahkan hanya untuk sekedar membayangkannya saja sudah berdegup kencang tidak seperti biasanya? Bagaimana dengan orang tua Tefan yang setengah mati membenciku. Aku sudah terlanjur pada Nina, tidak mungkin mengecewakan dia hanya karena perasaan takut dan bingung yang sesaat mengelabui pikiranku.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah memang aku harus ke sana? Menit berikutnya sebuah pesan masuk dari benda persegi panjang yang disebut berteknologi canggih itu. Dari Tefan yang mengabarkan kalau dia sudah sampai di rumahnya. Dia juga memintaku untuk tidak khawatir pada apa yang akan dilakukan Papanya nanti. Aku ingin memberitahu tentang permintaan Nina untuk menemaninya makan malam keluarga, tapi aku mengurungkannya. Sebab Tefan sudah pasti tidak akan mengizinkan apapun alasannya.
Aku putuskan untuk pulang saat itu juga demi memenuhi janji yang sudah kuberikan pada Nina. Sepanjang perjalanan hatiku tak pernah tenang, pikiranku terus saja menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti malam. Sejujurnya aku segan untuk bertemu orang tua Tefan lagi, tapi mau gimana lagi. Aku terjebak. Tembang yang mengalun dari Music Player juga tak cukup membuat hatiku merasa tenang. Itulah sebabnya mengapa aku melambatkan laju mobil sepelan mungkin.
Bertemu Nina berarti aku harus menjadi orang lain, orang yang sepenuhnya mendukung hubungan dia dan Tefan. Bila hati bisa menangis, maka aku telah melakukannya beribu-ribu kali karena harus menahan perasaanku. Permainan ini sungguh konyol, membuat frustrasi dan aku terpaksa bersikap biasa-biasa saja seolah-olah tak terjadi apa-apa. Aku butuh mama, tapi bila aku memberitahu mama seperti apa hubungan aku dan Tefan, dia juga akan kembali menyerangku dengan seabrek argumennya. Apa tak ada satupun yang mendukung aku dan Tefan? Mengapa semua orang tak bisa melihat apa yang terjadi? Tak bisa melihat cinta yang tumbuh begitu hebat diantara kami. Mengapa?
Tak usah bertanya apa yang sedang terjadi padaku saat ini, air mata itu jatuh lagi. Minggu ini aku begitu banyak menangis, inikah aku yang sebenarnya? Yang rapuh seperti tak bisa berbuat apapun? Di mana Riana yang siap menghadapi apapun yang hendak mengalahkan cintanya? Di mana Riana yang selalu percaya pada kekuatan cinta? Di mana Riana yang kebal terhadap rasa sakit? Argh....
*Aku pikir ini akan mudah, bahwa mencintai saja telah cukup ternyata banyak hal yang belum kuketahui. Tentang rahasia Tuhan yang belum terbuka seutuhnya, apakah aku akan menyerah atau tetap berpura-pura tak terjadi apa-apa sementara hatiku menangis diam-diam? Selamatkan aku dari perasaan ini Tuhan?
**Hai semuanya, tetap dukung dan kasih masukan atas novel ini ya, karena tanpa kalian para pembaca, Novel ini tidak akan ada artinya. semangat! Jangan lupa kasih like, jadi in favorit dan beri Tip ya hehe... trimakasih***.
__ADS_1