
Saka tiba di rumahnya. Disambut aroma masakan yang menusuk hidung dan menggugah selera.
"Ummm ... baunya enak sekali," seru Saka dari luar sembari membuka jasnya dan meletakkannya di sofa.
"Papa Ganteng sudah pulang ...! Yeiyy ...."
Kiano gembira sekali menyambut kedatangan Tefan pulang dari kantor. Tefan langsung mengangkat tubuh Kiano dan menggendongnya ke dapur menemui Riana.
"Bunda ... Papa Ganteng pulang."
"Hei sayang, sudah pulang?" tanya Riana.
"Sudah. Lagi masak apa?"
"Memanfaatkan bahan masakan yang ada saja di kulkas. Ini lagi bikin sup ayam kesukaan kamu. Tunggu sebentar ya, aku angkat dulu terus kita makan siang sama-sama."
Kiano turun dari gendongan Tefan, duduk di kursi sambil menunggu bundanya selesai memasak. Beberapa menit kemudian, makanan sudah tersaji di meja makan.
"Bunda ... Kiano sennnaaaaanggg banget."
"Kenapa sayang?"
"Soalnya makan siang Kiano sudah bisa lengkap. Ada Bunda ada Papa Ganteng. Boleh kan Kiano mengabadikan momen ini? Papa, pinjam handphone."
Tingkah tengil Kiano ini serentak membuat Riana dan Tefan tersenyum. Kiano ini tipikal anak yang senang mengabadikan momen terindah dalam hidupnya.
Cekrekk!!
"Ada-ada saja, mana ada orang makan pakai foto segala."
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang, Kiano lagi senang. Tidak susah hanya foto saja."
"Cheessee ...." lanjut Kiano.
Ekspresi tak sengaja mereka terlihat lucu di kamera. Kiano cekikikan sendiri melihat foto-foto bundanya dan Papa Ganteng.
"Udah yuk, makan dulu. Sebelum makan kita berdoa ya. Papa yang pimpin doa," ucap Riana.
Prosesi makan siang ala keluarga Riana dan Tefan pun berlangsung. Tak hentinya Kiano berkicau saking senangnya. Padahal sudah diingatkan untuk tidak banyak bicara saat makan.
***
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi pagi, sayang?" tanya Tefan begitu mereka sudah ada di kamar.
"Mantan mertuaku ngotot pengen bawa Kiano. Aku nggak maulah, meski itu hanya sehari. Tetap saja menurutku dia nggak punya hak untuk itu." Riana menjelaskan dengan nada berapi-api. Masih terbawa suasana kejadian tadi pagi.
"Sayang duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik. Oke!"
"Sshhttt ... sudah tenang dulu sayang. Aku ngerti gimana perasaan kamu. Pasti berat banget melepas Kiano. Apalagi sampai mantan mertuamu itu melakukan hal di luar batasannya. Ya, mungkin saja dia sudah menyesali perbuatannya dulu sama kamu dan Kiano. Makanya ingin memperbaikinya dengan cara membuat Kiano senang."
"Tapi nggak gitu caranya sayang, dia itu bisa saja membahayakan Kiano. Ini memang cuma ketakutan aku saja, tapi tidak ada salahnya mengantisipasi itu. Aku lebih baik harus bertengkar di awal daripada ketika sudah kejadian dan aku harus kehilangan Kiano. Itu tidak akan kubiarkan."
Riana memalingkan wajahnya pada Tefan, padahal maksud Tefan sebenarnya baik. Dia ingin meluruskan arah pikiran Riana agar tidak dipenuhi hal-hal negatif semua tentang mantan mertuanya itu.
Namun sepertinya, Riana masih sangat kesal. Itu sebabnya apapun yang dikatakan Tefan padanya saat ini tidak akan memiliki pengaruh yang berarti.
"Ya sudah, sekarang aku peluk kayak gini aja. Biar kamu nggak marah lagi, nggak kesal-kesal lagi. Besok kita cari tahu jalan keluarnya seperti apa agar semuanya sama-sama enak."
Tefan menangkup tubuh Riana dan menariknya ke dalam pelukannya. Riana yang sejak tadi masih dipenuhi amarah kini mulai mencair. Apalagi saat Tefan baru saja menciumnya, seperti ada sengatan listrik yang mengejutkannya.
__ADS_1
Bibir Tefan yang sejak tadi bermain di bibirnya, membuat Riana mau tak mau membalas ciuman Tefan. *******-******* kecil pun dilakukannya, hingga akhirnya mereka saling memasuki satu sama lain dan napas yang tadi biasa saja kini mulai memburu. Terasa panas, berat dan sesak.
“Rasanya tidak pernah aku melihat mata sewarna matamu. Sangat memabukkan, Riana." Puji Tefan disela ciuman mereka yang beruntun dan dalam.
"Kau terlalu sering memujiku, Fan. Sampai aku tidak bisa membedakan mana pujian sesungguhnya dan mana yang bualan."
"Kau masih menganggapku seperti itu?" Tefan dengan cepat mendorong tubuh Riana hingga terlentang di tempat tidur.
"Tidak, hanya saja kau memang terlalu sering memujiku seperti itu. Namun, aku sangat yakin bahwa kau sudah berubah. Kau banyak berubah, Fan. Kau lebih dewasa sekarang dan aku menyukainya."
"Terimakasih, sayang ...."
Tefan menyapu leher Riana yang jenjang dengan sentuhan bibirnya. Membuat Riana semakin mendesah panjang. Perlahan turun hingga mencapai puncak dada Riana. Merupakan tempat favorit Tefan yang tak akan bisa dilepaskannya dengan begitu mudah.
Satu persatu pakaian mereka terlepas dan terhempas ke lantai. Bersentuhan dengan dinginnya lantai marmer karena suhu kamar mereka yang diakibatkan oleh alat pendingin.
Tefan meneruskan gerakannya, bergerirlya di setiap lekuk tubuh Riana. Bermain di tempat-tempat yang mampu membuat Riana seperti terbang dan melayang.
Napas mereka yang berat dan panas saling menyatu seiring dengan sentuhan demi sentuhan yang mendarat di permukaan kulit Riana. Wanita itu kemudian mencengkram rambut Tefan dengan sangt keras karena tak sanggup menahan kenikmatan yang baru saja diberikan oleh Tefan.
Sepasang suami isteri itu terus bergulat di atas tempat tidur.
"Aku ingin kamu segera hamil, Riana. Aku ingin menyaksikan anakku tumbuh dengan sehat dan ceria."
Riana tersenyum dan menerima seluruh pemberian Tefan yang tumpah ke dalam rahimnya. Riana memeluk leher Tefan dan segera menciumnya.
"Terimakasih, Riana ...."
"Kamu luar biasa sayang. Semoga harapan kita segera terpenuhi dan Kiano segera memiliki adik."
__ADS_1
Tefan mencium kening Riana dan membiarkan isterinya itu memeluk tubuhnya yang berkeringat.