Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 20. Diburu Bagai Buronan


__ADS_3

Selesai berendam, membilas badan dan berpakaian, akupun ke ruang tengah. Di meja sudah ada beberapa kantongan. Mungkin itu belanjaan Pak Tua yang tadi kuminta membeli makanan. Baru saja bokongku menyentuh kulit sofa, lampu tiba-tiba padam. Aku kaget bukan main. Aku selalu takut gelap. Aku meraba-raba mencari sesuatu tapi begitu aku melangkah aku selalu saja menabrak. Akhirnya kuputuskan untuk diam di sofa sambil menunggu lampunya menyala kembali.


Kudengar gagang pintu seperti digerakin, suaranya terdengar jelas. Akupun semakin gugup dan cemas.


“Pak. Itu Bapak bukan? Tolong buat lampunya menyala lagi Pak, aku takut gelap.”


Tidak ada suara.


“Pak...”


Suara jegrekan gagang pintu tak terdengar lagi. Aku merasa seram seketika.


“Pak...”


Masih tak ada suara.


Akkhh... tidak aku bisa saja mati berdiri karena ketakutan di sini. Kenapa lampunya harus padam segala. Keringat dingin sudah mulai keluar dari pori-pori kulitku, jantungku memompa lebih cepat. Perasaan jadi tidak karu-karuan, kalau bukan Pak Tua yang gejrekin gagang pintunya terus siapa? Tidak mungkin ada orang lain yang bisa masuk. Terus makanan di meja semua dari mana datangnya kalau bukan dari Pak Tua.


Terdengar suara pintu berderit, aku meringkuk ketakutan di sudut sofa. Tidak bisa berpikir lagi, ternyata benar ketakutan adalah kelemahan terbesar manusia. Rasa takut akan menindas dan melemahkan manusia. Seperti yang kualami sekarang, bayangan-bayangan tentang pembunuhan sadis di sebuah Villa seperti film-film horor yang pernah kutonton terus saja berseliweran. Membuat nyaliku semakin ciut dan bulu kuduk meranggas tak beraturan.


Kalau malam ini aku meninggal di tangan hantu, tidak apa-apa, asal tidak mati konyol di tangan anak buah Papa Tefan. Aku melenguh lemah tak berdaya, nafasku tak beraturan, naik turun seperti pompa.


Aku mendengar derap langkah berjalan semakin dekat, saat itulah aku hendak pingsan. Tapi aku seperti mendapat kekuatan kembali dan berteriak sekeras mungkin. Tak berapa lama teriakanku tenggelam oleh bekapan sebuah tangan besar dan memberangus mulutku. Mataku meski membelalak tetap saja aku tidak bisa melihat apa-apa. Jadi kupilih untuk menutup mata jika sewaktu-waktu orang itu menebas leherku. Aku pasrah.


Ada yang aneh, tangan besar yang kusangka akan menebas leherku itu tiba-tiba saja melunak dan menjatuhkan tangannya dari mulutku. Lalu kedua lengan membekapku ke dalam pelukannya. Aku masih shock dan tidak mampu berpikir jernih. Apa lagi ini? Pikirku.


Beberapa menit kemudian sebuah cahaya api menyala di depanku. Dengan pelan dan masih diselimuti perasaan takut, aku membuka mata. Orang yang kini mendekapku adalah Tefan, wajahnya meski samar-samar tertimpa cahaya tapi aku tahu itu dia. Tidak ada lagi pria yang menatapku seperti sekarang selain dia.


“Tefan...”


“Maaf sudah membuatmu ketakutan.”


“Kamu di sini?” Aku balas mendekapnya dan malah menangis tersedu-sedu di pelukannya.


“Ssssttt.... sudah kamu jangan nangis. Kamu tenang yah, aku tahu kamu takut gelap. Makanya aku datang ke sini, tadi aku ketemu Pak Tua dan ngasih tahu kamu ada di sini. Jadi aku tidak berpikir lama lagi dan langsung ke Villa tapi aku juga masih perlu hati-hati takut kalau ternyata yang ada di Villa ini tidak hanya kamu tapi juga Papa dan anak buahnya. Aku perlu memastikan.”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu khawatir soal Papa kamu dan anak buahnya. Dia sudah diurus oleh Nina. Nina melaporkannya ke kantor polisi.”


“Syukurlah...”


Tefan memelukku lebih erat mencium keningku dengan sepenuh rasa.


“Aku takut akan kehilangan kamu lagi. Maaf soal Nina.” Lanjut Tefan tenang.


“Aku tidak akan pergi lagi.”


“Iyah. Jangan pergi lagi. Aku tidak tahu bagaimana aku menjalani hidup aku tanpa kamu. Aku tidak akan bisa tenang bila kamu tak di sisiku. Duniaku hanya dipenuhi kamu, Papa sudah keterlaluan. Aku senang sekarang dia sudah mendapatkan pelajaran atas perbuatannya.”


“Jadi kita akan berdiri begini saja?”


“Maksud kamu?”


“Iyah. Masa iya berdiri terus seperti ini. Aku takut gelap.”


“Kamu tidak perlu takut, selama ada aku, aku akan jadi cahaya buat kamu.”


Aku menikmati sentuhannya dan perlahan dia mengangkat daguku lalu melumat bibirku. Kecupan demi kecupan mencumbu wajahku saat gairah telah menguasai, rupanya semesta punya kehendak lain. Lampu menyala kembali dan gerakan kami tiba-tiba berhenti seperti remote yang ketika menekan tombol pause. Menyadari hal itu, kami hanya bisa saling tertawa. Aku rebah di dada bidang Tefan.


Seperti yang pernah kuceritakan di awal, Kawah Putih adalah awal dan akhir. Tapi awal dan akhir apa bedanya? Bisa saja ini bukanlah akhir tapi malah baru awal. Awal yang baik bagiku dan Tefan. Serupa apakah cinta? Kini aku tahu jawabannya. Aku sudah berhenti mencarinya, sebab terkadang kita lelah mencari sementara jawabannya justru ada di sekitar kita.


Jika ada hal bodoh yang pernah kita lakukan, bisa jadi itu cinta. Jika ada tindakan melampaui kemampuan, bisa jadi itu cinta. Seseorang pernah berkata padaku, bahwa cinta itu sederhana, pemikiran manusialah yang membuatnya rumit. Tapi menurutku bukan cinta namanya kalau tak rumit. Sebab kita hidup dengan pikiran-pikiran masing-masing.


Hingga pagi merangkak meninggi, dari balik jendela cahayanya jatuh menimpa tubuhku yang sedang dipeluk Tefan dengan erat. Seperti takut, aku akan pergi lagi. Aku hanya tersenyum, sembari meniti wajahnya yang tampak tirus. Ia kurusan sekarang, gurat lelah juga terpancar di sana. Membuat aku miris melihatnya, selama beberapa bulan terakhir ia seperti menanggung terlalu banyak penderitaan.


*Maafkan aku..


Aku janji apapun yang terjadi, kita akan bersama.


Melawannya bersama-sama*.


Belum puas memandangi wajahnya ponselku berdering nyaring. Aku sedikit kaget dan mulai mencari keberadaan ponsel tersebut.

__ADS_1


Dari layar ponsel tertera nama Nina.


"Halo..."


Suaraku agak parau menjawab telponnya.


"Yan.... Gawat!" Nada bicara Nina sangat khawatir.


"Gawat kenapa Nin? Ada apa?"


"Kamu sudah ketemu Tefan?"


"Iyah. Aku ketemu dia semalam di Villa."


"Baguslah. Sekarang kalian harus pergi."


"Tapi kenapa?"


"Sebaiknya kalian cepat."


"Iya tapi ada apa? Ada hal genting apa?"


Aku semakin mencecar Nina dengan pertanyaan karena memberikan informasi yang setengah-setengah.


"Cepat Yan. Sebelum terlambat, Papa Tefan ke sana bersama rombongan anak buahnya. kalian harus cepat."


Bagai disengat kilatan petir, aku pun mematikan ponsel setelah berterimakasih pada Nina yang sudah memberikan informasi jika aku dan Tefan sedang diburu oleh Papa Tefan.


"Fan... Kita harus pergi."


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2