Complicated Love #2

Complicated Love #2
Raka Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Semua orang sedang cemas di depan ruang ICU, Raka sedang dirawat oleh tim medis secara intensif. Sheril tak berhenti gelisah, dia takut terjadi apa-apa pada suaminya.


Shena dan Sheila segera mengajak mamanya ke tempat sepi. Sepertinya mereka akan menginterogasi mamanya karena setahu mereka hanya Mamanya yang bersama Raka saat mereka pergi.


"Ma, sebenarnya apa yang terjadi pada Mas Saka?" Shena masih sering kali memanggil nama asli Saka ketimbang memangil nama Raka.


"Maafin Mama, Mama tidak bermaksud melukai Mas-mu. Mama hanya bicara padanya tentang anak dan mantan isterinya. Memberitahu Saka kalau dia sudah pernah menikah sebelum dirinya kecelakaan." Mamanya menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.


Shena tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Dia tak percaya ibunya akan mengatakan semua itu pada Saka.


"Mama tahu kan, Mas Saka belum saatnya tahu semua itu. Dia masih dalam proses menuju ke sana. Ingatannya masih rapuh, jika dipaksakan akan berdampak buruk pada kondisi otaknya. Mama bisa membunuh Mas Saka kalau seperti itu caranya." Shena nyaris berteriak di depan Mamanya. Dia tak habis pikir mamanya memiliki pemikiran pendek seperti itu.


"Mama hanya ingin dia mengambil kembali Kiano dari Riana ...."


"Ma ... Astaga ...! Mama tuh nggak bisa memaksakan kehendak seperti itu. Mama tahu tidak, seberapa berdosanya kita pada mereka dulu? Mengusir mereka, Mama masih ingat? Kiano masih kecil saat itu, di mana hati nurani Mama?"


Shena terus mencecar mamanya, sementara Sheila hanya bisa menenangkan Mamanya yang saat itu sudah menangis tersedu.


"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Mas Saka, siapa yang mau tanggung jawab? Mama ... sadar nggak sih dulu kita hampir saja kehilangan Mas Saka untuk selama-lamanya. Sekarang justru malah Mama yang mengantarkan Mas Saka pada kematian itu sendiri."


"Shena, sudah! Mama sudah mengakuinya, kamu tidak perlu marah berlebihan seperti itu." Sheila berusaha mengendalikan suasana.


Shena kemudian pergi meninggalkan mereka berdua dan kembali ke depan ruangan ICU. Di sana Sheril masih menunggu dalam cemas, sudah dua jam Saka di dalam dan belum juga ada kabar dari tim medis yang menanganinya.


"Mba, tenang dulu ya. Mas Raka pasti baik-baik saja. Jangan terlalu cemas."

__ADS_1


Sheril hanya mengangguk, Shena mencoba menenangkan kakak iparnya itu dengan memberikan bahunya untuk bersandar. Sejak tadi mata Sheril sudah memerah akibat air mata yang terus mengalir.


***


Sekitar empat jam Saka mendapatkan perawatan intensif, sampai akhirnya dokter keluar dan mengabarkan pada mereka mengenai kondisi Saka.


"Bagaimana, Dok?"


"Pasien baru saja menjalani operasi di bagian kepala. Terpaksa kami harus mengambil tindakan tersebut, karena pasien mengalami penggumpalan cairan di daerah kepala. Apakah pasien mengalami benturan sebelumnya? Ataukah pasien sempat memaksa mengingat sesuatu dari masa lalunya?"


Sheril menengok ke arah Shena, kemudian berganti pada Sheila dan Mama mertuanya. Shena menatap Mamanya sedikit tajam, seperti mengatakan bahwa Mama harus jujur pada dokter.


"Tadi, kami sedang ngobrol dan dia tiba-tiba mengalami sakit kepala saat hendak mengingat sesuatu. Kemudian dia jatuh tak sadarkan diri." Kondisinya memang seperti itu, tapi tidak semuanya benar. Karena sesungguhnya mamanyalah yang memaksa Saka untuk mengingat masa lalunya.


Tidak mungkin juga Mamanya mengatakan yang sebenarnya, karena jika Sheril tahu maka dia bisa saja mengamuk padanya. Sheril sangat mencintai Saka, jika dia tahu Mama mertuanya memaksa Saka mengingat masa lalunya maka posisi Sheril akan terancam.


"Apa kami sudah bisa menemuinya, Dok?" tanya Mama Saka.


"Hanya satu orang yang boleh masuk. Silakan salah satu dari kalian memilih yang akan masuk."


"Sa ..."


"Aku isterinya, Dok. Biar aku saja yang menemani suamiku di dalam." Sheril memotong dengan cepat ucapan Mama mertuanya.


"Ma, maaf ... tapi biarkan Sheril yang menemani Mas Raka."

__ADS_1


"Iyah, Mba. Biar Mba saja dulu, aku dan Mama sebaiknya pulang dulu. Nanti ke sini lagi, jadi apakah kita harus menambah waktu lebih lama di Bali?" tanya Shena.


"Kalau Mama, Shena dan Sheila ingin balik lebih dulu ke Jakarta tidak masalah. Biar Sheril yang merawat Mas Raka di sini sampai sembuh."


"Tidak! Biarkan Mama tetap di Bali. Mama tidak mau terjadi apa-apa pada anak Mama."


"Mba, biar kami bawa Mama pulang dulu ya?"


Shena bergerak cepat untuk menarik mamanya pergi dari rumah sakit. Shena sudah sangat muak pada sikap mamanya yang mau menang sendiri.


***


Di dalam ruangan ICU, Sheril sedang mengusap wajah suaminya.


"Apa yang sedang kamu ingat? Apa kamu ingat tentang mantan isteri kamu?"


"Harusnya, kamu tidak usah mengingatnya lagi. Ke mana dia saat kamu terbaring rapuh dan hampir meninggal seorang diri di rumah sakit. Raka, aku tidak akan pernah rela jika kamu kembali lagi padanya."


"Jika bisa, mungkin lebih baik aku bilang pada dokter untuk menghapus seluruh ingatanmu di masa lalu. Biar hanya aku yang kamu ingat, ada di hati kamu, dan selalu bersamamu."


"Aku pernah salah meninggalkan kamu. Sekarang, aku tidak mau kesalahan itu terulang lagi. Aku menyesali yang pernah terjadi, karena itu biarkan hanya aku yang ada di hatimu. Bukan mantan isteri yang sudah menyia-nyiakan dirimu."


Sheril terus berbicara pada Saka yang terbaring belum sadarkan diri. Alat-alat medis menempel hampir di sekujur tubuhnya. Bagian kepala Saka mendapat perban, mungkin bekas jahitan habis operasi.


Dengan lembut, dia menggenggam tangan suaminya. Kemudian mencium tangan itu dan berdoa semoga ketika Saka sudah bangun, ingatannya tentang masa lalunya sudah tak ada lagi.

__ADS_1


__ADS_2