
Sore itu, di sebuah tempat dengan angin pantai yang sejuk. Seorang anak laki-laki tampak gembira bermain pasir. Membuat istana dari pasir dan ketika ombak datang menyapu istananya, dia pun tergelak dan menjadi sedih. Seorang perempuan duduk tak jauh dari anak itu bermain.
Sudah bertahun-tahun sejak perisitiwa nahas itu. Kau menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada satupun kabar berita darimu, hingga akhirnya aku terpuruk dalam kesedihan mendalam. Untuk kesekian kali merasakan kehilangan dan itu sangat menyakitkan. Aku memilih menjauh dari semuanya, pergi ke tempat terpencil di salah satu desa di Bali. Dan, di sinilah aku sekarang.
Perempuan itu adalah Riana. Entah bagaimana ceritanya, hingga dia terdampar di salah satu desa di Bali. Dan anak kecil yang sedang asyik berlarian di pesisir pantai itu adalah Kiano. Anak semata wayangnya dari hubungan pernikahan dengan Saka.
Saka. Menyebut nama itu, sama seperti menggali luka bagi Riana. Serasa baru sebentar dia menikmati kebahagiaan namun harus merelakan hidupnya digerogoti kesedihan lagi dan lagi.
Bertahun-tahun dia terlunta-lunta di Bali. Ibunya meninggal selang tak seberapa lama dari ayahnya waktu itu. Kemudian hidupnya mulai berantakan saat kecelakaan menimpa Saka, suaminya. Usahanya perlahan tak terurus. Pelan tapi pasti, semua usahanya ambruk dan bangkrut. Tak ada yang bisa dia selamatkan.
Orang tua Saka, menyalahkan dirinya atas kepergian Saka yang tak terkonfirmasi di mana. Mengenai kecelakaan itu, akan diceritakan di salah satu bagian khusus.
Riana berjalan mendekati anaknya yang sedang bermain pasir. Dia membantu Kiano membuat istana megah.
"Ini istana buat Bunda, agar kita bisa hidup dengan bahagia dalam sebuah istana yang besar. Agar Bunda, tidak perlu capek-capek lagi kerja cari uang untuk sekolah Kiano."
"Memangnya Kiano dapat uang dari mana bisa bangun istana megah seperti ini?"
"Uangnya dari seorang yang kaya raya. Nanti Bunda ketemu sama dia, terus nikah deh."
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir polosnya. Anak-anak selalu memiliki imajinasi yang kadang tak terjangkau orang dewasa. Riana tersenyum mendapati anaknya berbicara seperti itu.
"Itu hanya ada di negeri dongeng. Mana bisa begitu sayang?"
"Bisa kok. Kiano percaya."
"Ya sudah, Kiano cepat gede saja, biar bisa bikinin bunda sebuah istana yang megah."
"Tentu dong, Bunda. Semua uang Kiano nanti kan buat Bunda."
"Hehe..., anak yang pintar."
Riana mengusap-usap kepala Kiano. Kemudian mencium puncak kepala anaknya itu. Tidak terasa, anaknya Kiano sudah berusia hampir enam tahun. Itu artinya, lima tahun sudah kepergian Saka darinya.
Bukan pergi. Tepatnya menghilang. Ah, atau ada nama lain untuk menyebut peristiwa itu. Rasanya baru kemarin, hati Riana masih seringkali nyeri memikirkan hal itu.
Hidup Janda bukanlah suatu pilihan. Meski status itu kerap menimbulkan kesan miring dari orang-orang. Riana masih duduk melamun, ketika anaknya bermain bola dan menendang bola itu tepat mengenai punggung seseorang.
Dari jauh terdengar suara lembut Kiano berbicara dengan orang itu.
"Maaf, Om. Kiano tidak sengaja. Apa Om kesakitan? Mananya yang sakit? Apa perlu ke dokter? Tapi Kiano tidak punya uang." Begitulah kalimat pertanyaan yang keluar dari bibir kecil Kiano. Membuat orang yang terkena bola tergelak dan tersenyum dengan kepolisan Kiano.
Kiano merengut menyadari kalau Om itu mau ke dokter bagaimana? Kiano tidak punya uang. Bunda pasti sedih. Begitulah pemikiran Kiano kecil. Dia tertunduk menuggu jawaban dari orang itu.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" Lelaki itu bertanya.
"Kiano, Om."
"Kiano, dengar Om. Om tidak apa-apa. Tidak perlu ke dokter karena tidak ada yang sakit. Bola seringan ini tidak mungkin melukai Om, jadi Kiano tidak perlu khawatir ya."
"Benar, Om?" Mata Kiano berbinar, dia terlihat senang mendengar penjelasan lelaki itu.
"Benar. Kiano bersama siapa?"
"Tuh!" Tunjuk Kiano pada Bundanya. "Itu di sana, dia Bunda Kiano yang paling hebat." Tuturnya senang membanggakan bundanya.
"Kalau begitu, Kiano jangan main jauh-jauh dari Bunda. Nanti bundanya sedih."
"Terimakasih, Om."
Kiano segera berlari meninggalkan lelaki itu, kaki-kaki kecilnya membekas di pasir pantai. Dia menyongsong bundanya yang sudah memanggilnya dari kejauhan.
"Bunda..."
"Kiano dari mana?"
"Tadi Kiano ketemu Om baik deh Bun, Kiano mengenai Om itu bola. Tapi Om itu tidak marah pada Kiano."
"Iyah, Bun. Sini deh, Bun..." Kiano meminta Bundanya mendekat untuk dibisiki sesuatu.
"Om-nya, cakep deh Bun. Hehe." Bisik Kiano.
Riana tergelak dari tempatnya. Wajahnya antara masam dan terkejut senang, karena anaknya tiba-tiba saja bisa tahu mana yang cakep mana yang tidak.
"Terus kalau cakep, kenapa?"
"Ya siapa tahu bisa jadi Papa baru Kiano. Hehe."
Ya Tuhan, anakku polos sekali. Betapa ingin dia memiliki seorang Papa. Maafkan Bunda sayang...
Riana terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia mengajak putranya untuk pulang.
"Pulang yuk! Perut kamu pasti sudah lapar."
"Iyah, Bun. Ayok!"
Di tengah perjalanan dengan jalan kaki, tangan Riana ditarik-tarik oleh Kiano.
__ADS_1
"Bunda, Bunda..."
"Apa sayang?"
"Lihat..."
Kiano menunjuk seorang laki-laki yang tengah duduk makan di restoran pinggiran pantai. Tadinya Riana pikir, Kiano menunjuk ingin makan di restoran itu.
"Jangan di situ. Bunda mana punya uang. Di sana mahal Kiano."
"Bunda ih, Kiano tahu di situ mahal. Bukan itu Bunda."
"Lalu apa?"
"Lihat deh Bun, Om yang duduk di pojokan itu!" Riana mengikuti jari telunjuk anaknya untuk melihat siapa yang dia maksud.
Riana kembali terdiam. Dia seperti melihat seseorang yang dia kenal.
Tidak mungkin. Itu tidak mungkin dia. Jika pun itu dia, mengapa bisa ada di sini? Dan..., dia terlihat berbeda sekali dengan perawakan dia beberapa tahun silam. Apa pria itu yang dimaksud Kiano?
Riana pura-pura tidak melihat. Dengan cepat dia mengalihkan perhatian Kiano. Dalam perjalanan pulang, tidak bisa dia pungkiri kalau dia masih memikirkan apa yang baru saja dilihatnya.
Seperti Dejavu, itulah yang dia rasakan. Melihat sosok itu, membuat dia kembali mengingat peristiwa beberapa tahun silam. Pertemuan dia dengan seseorang yang mengisi hidupnya dengan kebahagiaan, juga menjadi gerbang hancurnya hidup dia kala itu.
Jika benar apa yang dilihatnya tadi, lalu mungkinkah itu semua hanya kebetulan? Ataukah Tuhan punya rencana lain untuk hidupnya. Saat dia fokus menata hidupnya, mengapa harus kembali terbang jauh ke masa lalu. Meski dia berusaha menyangkal, namun pria tadi benar-benar mirip dengan seseorang yang datang dari masa lalunya.
"Bunda..." Lamunannya buyar begitu saja saat Kiano memanggil namanya.
"Ya sayang?"
"Bunda kenapa diam saja? Bunda memikirkan betapa cakepnya Om tadi ya? Kiano tidak salah kan? Sudah pasti dia akan jadi Papa Kiano nanti."
"Hush!!! Kiano sudah!"
Riana tiba-tiba saja berteriak di depan anaknya. Membuat Kiano terkejut dan seketika bersedih. Dia tak menyangka, bundanya akan semarah itu.
Kiano berlari ke kamar. Meninggalkan Bundanya yang diliputi rasa bersalah karena baru saja membentak Kiano.
*Maafkan Bunda sayang...
___________
Terimakasih jika kalian masih setia membaca CL Musim Kedua. Maaf karena up nya agak lama. Berhubung, ada hal yang tak bisa saya ceritakan di sini. Hehe terimakasih sekali lagi. Jangan lupa tinggalkan like, komen sebanyak-banyaknya ya*.
__ADS_1